| ◀ | Jilid : 18 Juz : 9 | Al-A'raf : 197 | ▶ |
وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَكُمْ وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ
Kemenag RI 2019: Berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri.| TAFSIR AL-MAHFUZH |
Berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri.
وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ
Makna walladziina (وَالَّذِينَ) adalah: dan orang-orang yang atau dan apa-apa yang. Makna tad'uuna (تَدْعُونَ) adalah: kamu seru atau kamu sembah. Makna min duunihii (مِنْ دُونِهِ) adalah: selain Dia atau dari selain-Nya.
Ibnu Abbas meriwayatkan bagaimana dahulu kaum musyrikin menyebut nama berhala-berhala mereka ketika sedang melakuan tawaf di sekeliling Ka’bah.
لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، إِلَّا شَرِيكًا هُوَ لَكَ، تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ
Aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, kecuali satu sekutu yang Engkau miliki, Engkau menguasainya dan apa-apa yang ia kuasai.
Selain itu kaum musyrikin sering kali melantunkan lafazh dengan nada berirama saat melakukan tawaf atau ritual penyembahan:
وَاللَّاتِ وَالْعُزَّى، وَمَنَاةَ الثَّالِثَةِ الأُخْرَى، فَإِنَّهُنَّ الْغَرَانِيقُ الْعُلَى، وَإِنَّ شَفَاعَتَهُنَّ لَتُرْتَجَى
Demi Al-Lata dan Al-Uzza, serta Manat yang ketiga yang lain, sesungguhnya mereka adalah burung-burung putih yang tinggi (kiasan untuk kedudukan berhala yang tinggi di sisi Allah), dan sesungguhnya syafaat mereka sangatlah diharapkan.
لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَكُمْ
Makna laa yastathii'uuna (لَا يَسْتَطِيعُونَ) adalah: mereka tidak mampu atau tidak kuasa. Makna nashrakum (نَصْرَكُمْ) adalah: menolongmu atau memberikan pertolongan kepadamu.
Penggalan ini jika kita pahami lewat suasana kebatinan bangsa Arab di masa turunnya, kita akan mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang maksud diturunkannya. Kata kuncinya adalah nashr (نصر) alias pertolongan. Buat kita yang hidup di zaman sekarang, boleh jadi istilah ini tidak terlalu banyak bermakna. Namun buat kehidupan liar ala gurun di negeri Arab pada masa itu, kata nashr (نصر) ini jadi amat berarti.
Di tengah kerasnya kehidupan gurun pasir Jazirah Arab pada masa pra-Islam, tidak ada otoritas pusat maupun sistem peradilan yang bisa melindungi nyawa dan harta benda. Satu-satunya jaminan keselamatan bagi seorang individu adalah pembelaan dari sukunya dan kekuatan aliansi yang ia miliki. Dalam struktur sosial yang sangat rawan peperangan antarkabilah ini, kata nashr (نصر) atau pertolongan bukanlah sekadar bantuan ringan, melainkan bermakna pembelaan militer, perlindungan fisik, dan pertaruhan nyata antara hidup atau mati.
Ketergantungan absolut pada kekuatan aliansi dan pembelaan ini secara otomatis terbawa ke dalam sistem teologi mereka. Kaum musyrik Mekah menempatkan berhala-berhala besar bukan sebatas simbol spiritual yang pasif, melainkan sebagai sekutu terkuat di alam gaib yang diharapkan mampu memberikan nashr secara nyata.
Mereka melakukan ritual, menyembelih kurban, dan memuji berhala-berhala tersebut dengan satu harapan utama: agar patung-patung itu turun tangan membela mereka saat kampungnya diserang, mendatangkan kemenangan mutlak di medan perang, dan melindungi rute kafilah dagang mereka dari ancaman perampokan.
Karena itulah, ketika Al-Quran menghantam mereka dengan kalimat laa yastathii'uuna nashrakum (لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَكُمْ), pesan yang jatuh ke telinga mereka terasa sangat telak dan menguliti rasa aman yang selama ini mereka bangun. Al-Quran tidak sekadar mencela berhala itu, tetapi langsung menyerang fungsi paling krusial yang diharapkan oleh bangsa Arab dari sesembahannya.
Ayat ini menyadarkan mereka bahwa sistem jaminan keamanan gaib yang selama ini mereka andalkan untuk bertahan hidup di tengah kebuasan gurun hanyalah sebuah ilusi kosong. Jangankan memberikan intervensi kekuatan militer atau menolak bala dari luar, benda-benda mati itu pada hakikatnya sama sekali tidak memiliki daya sekecil apa pun untuk menolong para penyembahnya.
وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ
Penggalan yang jadi penutup ayat ini merupakan pukulan pamungkas yang meruntuhkan sisa-sisa ilusi ketuhanan berhala di mata para penyembahnya. Makna wa laa (وَلَا) adalah: dan tidak pula. Makna anfusahum (أَنْفُسَهُمْ) adalah: diri mereka sendiri. Maksudnya berhala-berhala yang disembah itu. Sedangkan makna yanshurun (يَنْصُرُونَ) adalah: menolong atau membela.
Jika digabungkan, penggalan ini menyuarakan sebuah fakta yang sangat telak: dan berhala-berhala yang disembah itu jelas tidak mampu menolong diri mereka sendiri. Jika menolong diri sendiri saja pun tidak mampu, apatah lagi dengan menolong para penyembahnya.
Patung-patung yang mereka puja, agungkan, dan mereka beri sesajen itu hanya bisa diam membatu tanpa daya ketika ada burung yang hinggap dan membuang kotoran di atas kepalanya, atau ketika ada hewan liar yang mengencinginya. Berhala-berhala tersebut juga tidak bisa menghindar, memberikan perlawanan, apalagi membalas dendam ketika ada seseorang yang datang membawa kapak untuk menghancurkan tubuh mereka hingga berkeping-keping.