Kemenag RI 2019:Orang-orang di atas tempat yang tertinggi (al-a‘r?f) menyeru orang-orang yang mereka kenal dengan tanda-tanda (khusus) sambil berkata, “Tidak ada manfaatnya bagimu (harta) yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan. Prof. Quraish Shihab:Dan mereka yang di atas A‘raf menyeru beberapa laki-laki (beberapa orang dari penghuni neraka) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tanda (khusus) mereka, (dengan) mengatakan: “Tidak berguna untuk kamu apa yang kamu kumpulkan (di dunia berupa kekayaan atau kelompok) dan apa saja yang selalu kamu sombongkan. Prof. HAMKA:Dan menyeru penghuni benteng tinggi itu kepada orang-orang laki-laki yang mereka kenal dari tanda mereka masing-masing, mereka berkata, “Bukankah tidak berfaedah kepada kamu apa yang kamu kumpul-kumpulkan itu dan apa yang telah kamu besar-besarkan?”
Rupanya para penghuni neraka itu bisa dikenali lewat tanda-tanda khusus yang ada pada diri mereka.
Adapun ucapan yang disampaikan kepada para penghuni neraka itu adalah : “Tidak ada manfaatnya bagimu (harta) yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan”.
وَنَادَىٰ أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ
Lafazh wa nada (وَنَادَىٰ) artinya: dan mereka menyeru atau memanggil dengan suara. Huruf wawu (وَ) berfungsi sebagai penghubung dengan peristiwa sebelumnya, sedangkan kata nada (نَادَىٰ) berasal dari akar kata (ن د و) yang bermakna memanggil dengan suara yang terdengar.
Mereka yang memanggil adalah para ashabul a’raf (أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ). Kata ashabul (أَصْحَابُ) artinya: para penghuni atau orang-orang yang memiliki dan menempati. Kata ini menunjukkan kebersamaan yang menetap, bukan sekadar kehadiran sesaat, sehingga memberi kesan bahwa mereka memang berada dan dikenal sebagai kelompok tertentu.
Kata al-a‘raf (الْأَعْرَافِ) artinya: tempat-tempat yang tinggi atau pembatas yang meninggi. Kata ini berasal dari akar kata (ع ر ف) yang bermakna tinggi dan tampak, serta berkaitan dengan makna mengenali. Penyebutan al-a‘raf menunjukkan posisi yang memungkinkan mereka melihat dan mengenali kedua golongan, baik penghuni surga maupun penghuni neraka.
رِجَالًا يَعْرِفُونَهُمْ بِسِيمَاهُمْ
Kata rijalan (رِجَالًا) artinya: orang-orang laki-laki. Pengulangan penyebutan laki-laki di sini menegaskan bahwa yang diseru adalah individu-individu tertentu, bukan sekadar kelompok anonim, sehingga ada unsur pengenalan personal.
Kata ya‘rifuna-hum (يَعْرِفُونَهُمْ) artinya: mereka mengenali mereka. Kata ini berasal dari akar kata (ع ر ف) yang bermakna mengetahui, mengenali, atau membedakan dengan jelas. Bentuk fi‘il mudhāri‘ menunjukkan pengenalan yang sedang dan terus berlangsung. Dhamir hum (هُمْ) kembali kepada orang-orang yang diseru, menandakan adanya hubungan pengenalan dua arah: yang menyeru dan yang dikenali.
Kata bi simahum (بِسِيمَاهُمْ) artinya: dengan tanda-tanda mereka. Huruf ba’ (بِ) menunjukkan alat atau sebab, yaitu cara pengenalan itu terjadi. Kata sima (سيما) berasal dari akar kata (و س م) yang bermakna tanda atau ciri yang tampak, baik pada wajah, sikap, maupun keadaan. Dhamir hum (هُمْ) menunjukkan bahwa tanda-tanda itu melekat pada diri mereka sendiri.
قَالُوا مَا أَغْنَىٰ عَنْكُمْ جَمْعُكُمْ
Kata qalu (قَالُوا) artinya: mereka berkata. Ucapan ini disampaikan oleh para penghuni al-A‘rāf secara kolektif kepada pihak yang mereka seru.
Lafazh ma aghna (مَا أَغْنَىٰ) artinya: tidak memberi manfaat, atau tidak memberi kecukupan, atau tidak menolak bahaya. Kata aghna (أَغْنَىٰ) sendiri berasal dari akar kata (غ ن ي) yang bermakna cukup, kaya, atau tidak membutuhkan. Dalam konteks ini, ia digunakan untuk meniadakan adanya manfaat atau pertolongan.
Kata ‘ankum (عَنْكُمْ) artinya secara harfiyah memang : dari kalian. Namun ketika dikaitkan dengan kata maa aghna sebelumnya menjadi maa aghana ankum (مَا أَغْنَىٰ عَنْكُمْ) maka maknanya menjadi : ’tidak memberi manfaat apa pun bagi kalian’ atau ’tidak mampu menolak sedikit pun dari kalian’, yakni tidak dapat menyingkirkan atau menjauhkan kalian dari azab dan kebinasaan.
Kata jam‘ukum (جَمْعُكُمْ) artinya: kumpulan kalian atau apa yang dahulu kalian kumpulkan. Kata jam‘ berasal dari akar kata (ج م ع) yang bermakna menghimpun atau mengumpulkan, baik berupa harta, pengikut, kekuatan, maupun jumlah. Dhamir kum (كُمْ) kembali menunjuk kepada mereka.
Rangkaian makna penggalan ini adalah: Mereka berkata: tidak ada manfaat sedikit pun bagi kalian dari apa yang dahulu kalian kumpulkan.
وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ
Lafazh wa ma (وَمَا) artinya: dan tidak atau dan bukan. Huruf wawu (وَ) berfungsi sebagai penghubung dengan pernyataan sebelumnya, sedangkan huruf maa (مَا) berfungsi sebagai penafian.
Kata kuntum (كُنْتُمْ) artinya: kalian dahulu adalah atau kalian dulu. Kata ini berasal dari fi‘il kana (كَانَ) yang menunjukkan keadaan di masa lalu. Bentuk kuntum mengisyaratkan kebiasaan atau sikap yang terus-menerus mereka miliki ketika di dunia.
Kata tastakbirun (تَسْتَكْبِرُونَ) artinya: kalian menyombongkan diri atau berlaku sombong. Kata ini berasal dari akar kata (ك ب ر) yang bermakna besar. Bentuk istif‘al (استفعال) pada kata ini menunjukkan sikap menganggap diri besar, tinggi, atau lebih mulia dari yang lain, bukan sekadar menjadi besar secara hakiki.
Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[1] menuliskan bahwa yang dimaksud adalah kesombongan mereka untuk menerima kebenaran dan kesombongan mereka terhadap orang-orang yang berada di atas kebenaran.
Namun ada pula bacaan qira’at yang berbeda, yaitu dibaca tastaktsirun (تَسْتَكْثِرُونَ) dari kata katsrah (كَثْرَةِ) yang artinya : banyak.
Dan ini menunjukkan adanya rasa puas bercampur celaan dari para penghuni al-A‘raf atas tertimpanya hukuman kepada orang-orang yang diajak bicara itu, serta adanya celaan yang sangat besar yang menimpa mereka akibat ucapan ini. Kemudian mereka menambahkan celaan itu lebih jauh lagi.