ููููุงุฏูููฐ ุฃูุตูุญูุงุจู ุงููุฃูุนูุฑูุงูู ุฑูุฌูุงููุง ููุนูุฑููููููููู ู ุจูุณููู ูุงููู ู ููุงูููุง ู ูุง ุฃูุบูููููฐ ุนูููููู ู ุฌูู ูุนูููู ู ููู ูุง ููููุชูู ู ุชูุณูุชูููุจูุฑูููู
Orang-orang di atas tempat yang tertinggi (al-aโr?f) menyeru orang-orang yang mereka kenal dengan tanda-tanda (khusus) sambil berkata, โTidak ada manfaatnya bagimu (harta) yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan.
Dan mereka yang di atas Aโraf menyeru beberapa laki-laki (beberapa orang dari penghuni neraka) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tanda (khusus) mereka, (dengan) mengatakan: โTidak berguna untuk kamu apa yang kamu kumpulkan (di dunia berupa kekayaan atau kelompok) dan apa saja yang selalu kamu sombongkan.
Dan menyeru penghuni benteng tinggi itu kepada orang-orang laki-laki yang mereka kenal dari tanda mereka masing-masing, mereka berkata, โBukankah tidak berfaedah kepada kamu apa yang kamu kumpul-kumpulkan itu dan apa yang telah kamu besar-besarkan?โ
TAFSIR AL-MAHFUZH
Lihat Referensi Kitab →Rupanya para penghuni neraka itu bisa dikenali lewat tanda-tanda khusus yang ada pada diri mereka.
Adapun ucapan yang disampaikan kepada para penghuni neraka itu adalah : “Tidak ada manfaatnya bagimu (harta) yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan”.
Lafazh wa nada (ููููุงุฏูููฐ) artinya: dan mereka menyeru atau memanggil dengan suara. Huruf wawu (ูู) berfungsi sebagai penghubung dengan peristiwa sebelumnya, sedangkan kata nada (ููุงุฏูููฐ) berasal dari akar kata (ู ุฏ ู) yang bermakna memanggil dengan suara yang terdengar.
Mereka yang memanggil adalah para ashabul a’raf (ุฃูุตูุญูุงุจู ุงููุฃูุนูุฑูุงูู). Kata ashabul (ุฃูุตูุญูุงุจู) artinya: para penghuni atau orang-orang yang memiliki dan menempati. Kata ini menunjukkan kebersamaan yang menetap, bukan sekadar kehadiran sesaat, sehingga memberi kesan bahwa mereka memang berada dan dikenal sebagai kelompok tertentu.
Kata al-a‘raf (ุงููุฃูุนูุฑูุงูู) artinya: tempat-tempat yang tinggi atau pembatas yang meninggi. Kata ini berasal dari akar kata (ุน ุฑ ู) yang bermakna tinggi dan tampak, serta berkaitan dengan makna mengenali. Penyebutan al-a‘raf menunjukkan posisi yang memungkinkan mereka melihat dan mengenali kedua golongan, baik penghuni surga maupun penghuni neraka.
Kata rijalan (ุฑูุฌูุงููุง) artinya: orang-orang laki-laki. Pengulangan penyebutan laki-laki di sini menegaskan bahwa yang diseru adalah individu-individu tertentu, bukan sekadar kelompok anonim, sehingga ada unsur pengenalan personal.
Kata ya‘rifuna-hum (ููุนูุฑููููููููู ู) artinya: mereka mengenali mereka. Kata ini berasal dari akar kata (ุน ุฑ ู) yang bermakna mengetahui, mengenali, atau membedakan dengan jelas. Bentuk fi‘il mudhฤri‘ menunjukkan pengenalan yang sedang dan terus berlangsung. Dhamir hum (ููู ู) kembali kepada orang-orang yang diseru, menandakan adanya hubungan pengenalan dua arah: yang menyeru dan yang dikenali.
Kata bi simahum (ุจูุณููู ูุงููู ู) artinya: dengan tanda-tanda mereka. Huruf ba’ (ุจู) menunjukkan alat atau sebab, yaitu cara pengenalan itu terjadi. Kata sima (ุณูู ุง) berasal dari akar kata (ู ุณ ู ) yang bermakna tanda atau ciri yang tampak, baik pada wajah, sikap, maupun keadaan. Dhamir hum (ููู ู) menunjukkan bahwa tanda-tanda itu melekat pada diri mereka sendiri.
Kata qalu (ููุงูููุง) artinya: mereka berkata. Ucapan ini disampaikan oleh para penghuni al-A‘rฤf secara kolektif kepada pihak yang mereka seru.
Lafazh ma aghna (ู ูุง ุฃูุบูููููฐ) artinya: tidak memberi manfaat, atau tidak memberi kecukupan, atau tidak menolak bahaya. Kata aghna (ุฃูุบูููููฐ) sendiri berasal dari akar kata (ุบ ู ู) yang bermakna cukup, kaya, atau tidak membutuhkan. Dalam konteks ini, ia digunakan untuk meniadakan adanya manfaat atau pertolongan.
Kata ‘ankum (ุนูููููู ู) artinya secara harfiyah memang : dari kalian. Namun ketika dikaitkan dengan kata maa aghna sebelumnya menjadi maa aghana ankum (ู ูุง ุฃูุบูููููฐ ุนูููููู ู) maka maknanya menjadi : ’tidak memberi manfaat apa pun bagi kalian’ atau ’tidak mampu menolak sedikit pun dari kalian’, yakni tidak dapat menyingkirkan atau menjauhkan kalian dari azab dan kebinasaan.
Kata jam‘ukum (ุฌูู ูุนูููู ู) artinya: kumpulan kalian atau apa yang dahulu kalian kumpulkan. Kata jam‘ berasal dari akar kata (ุฌ ู ุน) yang bermakna menghimpun atau mengumpulkan, baik berupa harta, pengikut, kekuatan, maupun jumlah. Dhamir kum (ููู ู) kembali menunjuk kepada mereka.
Rangkaian makna penggalan ini adalah: Mereka berkata: tidak ada manfaat sedikit pun bagi kalian dari apa yang dahulu kalian kumpulkan.
Lafazh wa ma (ููู ูุง) artinya: dan tidak atau dan bukan. Huruf wawu (ูู) berfungsi sebagai penghubung dengan pernyataan sebelumnya, sedangkan huruf maa (ู ูุง) berfungsi sebagai penafian.
Kata kuntum (ููููุชูู ู) artinya: kalian dahulu adalah atau kalian dulu. Kata ini berasal dari fi‘il kana (ููุงูู) yang menunjukkan keadaan di masa lalu. Bentuk kuntum mengisyaratkan kebiasaan atau sikap yang terus-menerus mereka miliki ketika di dunia.
Kata tastakbirun (ุชูุณูุชูููุจูุฑูููู) artinya: kalian menyombongkan diri atau berlaku sombong. Kata ini berasal dari akar kata (ู ุจ ุฑ) yang bermakna besar. Bentuk istif‘al (ุงุณุชูุนุงู) pada kata ini menunjukkan sikap menganggap diri besar, tinggi, atau lebih mulia dari yang lain, bukan sekadar menjadi besar secara hakiki.
Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[1] menuliskan bahwa yang dimaksud adalah kesombongan mereka untuk menerima kebenaran dan kesombongan mereka terhadap orang-orang yang berada di atas kebenaran.
Namun ada pula bacaan qira’at yang berbeda, yaitu dibaca tastaktsirun (ุชูุณูุชูููุซูุฑูููู) dari kata katsrah (ููุซูุฑูุฉู) yang artinya : banyak.
Dan ini menunjukkan adanya rasa puas bercampur celaan dari para penghuni al-A‘raf atas tertimpanya hukuman kepada orang-orang yang diajak bicara itu, serta adanya celaan yang sangat besar yang menimpa mereka akibat ucapan ini. Kemudian mereka menambahkan celaan itu lebih jauh lagi.
[1] Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H), Mafatih Al-Ghaib, (Beirut, Daru Ihya’ At-Turats Al-Arabi, Cet. 3, 1420 H)