Kemenag RI 2019:Apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama kaum yang zalim itu.” Prof. Quraish Shihab:Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: “Tuhan Pemelihara kami, janganlah Engkau jadikan (tempatkan) kami bersama kaum yang zalim.” Prof. HAMKA:Dan apabila dipalingkan pemandangan mereka ke pihak ahli neraka, mereka berkata, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama-sama kaum yang zalim.”
Maka spontan mereka memohon dengan sangat agar jangan dimasukkan ke dalam neraka dan jangan dikumpulkan dengan para penghuninya.
وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَارُهُمْ
Kata wa idza (وَإِذَا) artinya : dan apabila. Huruf wawu (وَ) berfungsi sebagai penghubung, sedangkan idza (إِذَا) menunjukkan kondisi atau peristiwa yang akan terjadi.
Kata shurrifat (صُرِفَتْ) artinya : dialihkan atau dipalingkan. Kata ini asalnya dari akar kata (ص ر ف) yang makna dasarnya adalah memalingkan, mengubah arah, atau mengalihkan sesuatu dari satu keadaan ke keadaan lain. Dari akar kata ini juga lahir istilah ilmu sharaf dan tashrif, yaitu ilmu yang khusus membidangi perubahan bentuk kata dan pengalihan bentuk kata dari satu keadaan ke keadaan lain untuk melahirkan makna yang berbeda-beda.
Kata shurrifat (صُرِفَتْ) di ayat ini berbentuk kata kerja pasif yang menunjukkan bahwa pengalihan itu terjadi atas mereka, bukan dilakukan oleh mereka sendiri.
Kata absharuhum (أَبْصَارُهُمْ) artinya : artinya: pandangan-pandangan mereka atau penglihatan mereka. Kata ini merupakan bentuk jamak dari bentuk tunggalnya yaitu (بَصَر). Sedangkan dhamir hum (هُمْ) berarti mereka, yaitu para lelaki yang ada di posisi perbatasan antara surga dan neraka.
تِلْقَاءَ أَصْحَابِ النَّارِ
Kata tilqa’a (تِلْقَاءَ) artinya : ke arah, menghadap, atau berhadapan dengan. Ibnul Jauzi dalam tafsir Zadul Masir fi Ilmi At-Tafsir[1] menyebutkan bahwa kata tilqa’a (تِلْقَاءَ) berarti arah pertemuan, yaitu arah yang saling berhadapan. Abu ‘Ubaidah mengatakan bahwa maksudnya adalah berhadapan langsung dengan mereka.
Al-Alusi dalam tafsir Ruh Al-Ma'ani [2] menuliskan bahwa kata tilqa’a (تِلْقَاءَ) ini pada asalnya merupakan mashdar, dan tidak ada mashdar lain yang mengikuti wazan (تِفْعَال) dengan kasrah pada huruf ta’ selain kata ini dan juga kata (تِبْيانٍ) dan juga kata (زِلْزالٍ). Kemudian kata ini digunakan sebagai zharfu makan dengan makna arah pertemuan dan saling berhadapan.
Kata ini juga digunakan dalam kisah Nabi Musa ’alaihissalam yang melarikan diri dari Mesir bergerak menuju negeri Madyan. Allah SWT berfirman :
Dan tatkala ia menghadap kejurusan negeri Mad-yan ia berdoa (lagi): "Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar". (QS. Al-Qashash : 22)
Kata ashabin-nari (أَصْحَابِ النَّارِ) artinya : para penghuni neraka. Meski Allah SWT menyebutkan antara neraka dan surga ada hijab alias pemisah, namun justru ketika mereka berada pada posisi hijab itulah makanya pandangan mereka bisa melihat ke dua arah, yaitu arah ke surga dan arah ke neraka.
Ketika pandangan mereka diarahkan oleh Allah SWT ke dalam isi neraka, maka nampaklah para penghuni neraka yang sedang disiksa dengan berbagai macam siksaan.
Kata qalu (قَالُوا) artinya: mereka berkata, yaitu begitu pandangan mereka diarahkan ke arah para penghuni neraka. Dengan sekali melihat saja mereka langsung tahu betapa amat sangat sengsaranya nasib para penghuni neraka. Maka spontan merekapun minta perlindungan kepada Allah SWT.
Kata rabbana (رَبَّنَا) artinya: wahai Tuhan kami. Permintaan laa taj’alna (لا تَجْعَلْنَا) artinya: Janganlah Engkau menjadikan kami. Kata ma’a (مَعَ) artinya: bersama. Kata al-qaumi (الْقَوْمِ) artinya: kaum atau golongan. Kata azh-zhalimin (الظَّالِمِينَ) artinya: orang-orang yang zalim.
Al-Qurthubi menuliskan dalam Al-Jami' li Ahkam Al-Quran[3] bahwa mereka memohon kepada Allah agar Dia tidak menjadikan mereka bersama golongan itu, padahal mereka telah mengetahui bahwa Allah memang tidak akan menjadikan mereka bersama mereka. Maka permohonan ini adalah dalam rangka merendahkan diri.
Sebagaimana para penghuni surga berkata: “Wahai Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami,” dan mereka juga mengucapkan: “Segala puji bagi Allah,” sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Yang Mahamulia dan Mahatinggi. Dan bagi mereka dalam hal itu terdapat kenikmatan.
Menarik juga disini kenapa mereka menyebut para penghuni surga dengan sifat zalim (القوم الظالمين) dan bukan dengan keadaan mereka saat itu berupa azab dan buruknya kondisi.
Al-Alusi dalam tafsir Ruh Al-Ma'ani[4] menuliskan bahwa hal yang paling ditakuti menurut mereka bukanlah azab itu sendiri semata, melainkan apa yang mengantarkan kepada azab tersebut, yaitu kezaliman.
Sebagian ulama berpendapat bahwa kata-kata ini bukan berupa doa melainkan sekadar pengagungan terhadap dahsyatnya keadaan orang-orang zalim.