Manaqiban dan haul merupakan tradisi pembacaan biografi dan keutamaan para wali, orang-orang sholeh, ulama-ulama besar, yang menjadi panutan umat. Dalam acara tersebut biasanya berisi pembacaan fatihah, tawasul, dzikir, pembacaan Quran, sedekah dan jamuan kepada para yang hadir.
Ada manaqiban khusus di tanah air untuk ulama-ulama seperti syaikh Abdul Qadir Jailani, Tuan Guru Muhammad bin Abdul Karim Al Samman, Kyai Cholil Bangkalan, dan lain sebagainya. Hal ini digelar untuk mengingat kesolehan mereka, menghayati dan meneladani perjalanan hidup, bakti, dan dakwah mereka untuk umat.
Ironisnya, agenda haul ini masih juga dicap sebagai amaliyah yang tak ada gunanya dan selalu mendapat label bid’ah oleh beberapa orang.
1. Pendapat Para Ulama Terkait Manaqiban dan Haul
Para menyarankan untuk mengenang sejarah hidup orang-orang shaleh supaya menjadi motivasi untuk kita bisa berbakti dan berbuat seperti mereka. Imam Sufyan bin Uyainah dan Syaikh Ibnu Taimiyah juga punya statemen khusus terkait anjuran manaqiban dan haul.
a. Al Imam Sufyan bin Uyainah (198 H)
Imam Uyainah yang merupakan salah satu guru dari Imam Ahmad bin Hanbal ini mengungkapkan hal menakjubkan terkait mengenang ulama sebagaimana berikut:
عند ذكر الصالحين تنزل الرحمة
“Ketika orang-orang Shaleh dikenang, maka Rahmat Allah akan turun[1]”.
Manaqiban adalah metode untuk mengenang kesolehan seseorang dan perjalanan hidupnya, semoga apa yang diungkap oleh Sufyan bin Uyainah adalah fadilah yang bisa memberi manfaat untuk semua yang mengamalkannya. Sekali lagi manaqiban bukanlah masuk dalam kategori ibadah seperti yang dituduhkan, karena dia hanyalah semata-mata rutinitas tahunan membaca sejarah, dan tidak juga dihukumi wajib untuk dikerjakan.
b. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H)
Ibnu Taimiyah juga memiliki pandangan khusus terkait mengenang orang shaleh, dimana dalam kitab As- Shafadiyah beliau mengatakan bahwa mengenang kebaikan orang akan membuat hati tentram:
والكمال لا يحصل إلا بالعلم والقدرة والإرادة التي أصلها المحبة وحيث كان الإنسان يلتذ بالعلم فلا بد أن تكون هناك محبة لما يلتذ به. فتارة يكون المعلوم محبوبا يلتذ بعلمه وذكره كما يلتذ المؤمنون بمعرفة الله وذكره بل ويلتذون بذكر الأنبياء والصالحين ولهذا يقال عند ذكر الصالحين تنزل الرحمة بما يحصل في النفوس من الحركة إلى محبة الخير والرغبة فيه والفرح به والسرور واللذة
”kesempurnaan diri tidak akan tercapai tanpa pengetahuan, kemampuan, dan kemauan yang sumbernya adalah cinta. Ketika seseorang merasa nikmat dengan pengetahuan, maka sudah barang tentu di sana ada rasa cinta terhadap apa yang dinikmatinya. Adakalanya apa yang ia ketahui, ia cintai, terasa lezat dengan menyebutnya berulang. Sebagaimana orang-orang yang beriman merasa nikmat dengan makrifat kepada Allah dan berdzikir kepadaNya. Bahkan orang-orang yang beriman merasa nikmat dengan menyebut (mengenang) para nabi dan orang-orang shaleh, oleh karena itu ada slogan “ketika orang-orang shaleh dikenang, maka rahmat Allah akan turun”, dengan bangkitnya jiwa dan hati seseorang untuk mencintai kebaikan dan merasa senang dan nyaman melakukannya[2]”
Kesimpulannya adalah bahwa dengan melakukan manaqib maka kecintaan akan hadir, ketenangan hati akan muncul, dan dengan itu rahmat Allah diharapkan turun untuk yang melakukannya. jadi ya boleh aja menggelarnya.
[1] Al Hafidz Abu Nuaim. Hilyatul Auliya. 7/285
[2] Ibnu Taimiyah. As-Shafadiyyah. Maktabah Ibnu Taimiyah, Mesir. 1406 H. hal 2/269