Kemenag RI 2019:Katakanlah (wahai orang-orang yang beriman), “Kami beriman kepada Allah, pada apa yang diturunkan kepada kami, pada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya‘qub dan keturunannya, pada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa, serta pada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan (hanya) kepada-Nya kami berserah diri.” Prof. Quraish Shihab:Katakanlah (Hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma‘il, Ishaq, Ya‘qub dan anak cucu-(nya), dan apa yang diberikan (kepada) Musa dan ‘Isa serta apa yang diberikan (kepada) para nabi dari Tuhan Pemelihara mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami kepada-Nya adalah orang-orang Muslim (tunduk patuh dan berserah diri kepada Allah swt.). Prof. HAMKA:Katakanlah oleh kamu, "Kami percaya kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim dan lsma`il dan lshaq dan Ya`kub dan anak-cucu, dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa dan apa yang diberikan kepada nabi-nabi daripada Tuhan mereka; tidaklah kami membeda-bedakan di antara seseorang pun dari mereka, dan kami kepada-Nya semua menyerah diri."
Lafazh quuluu (قُولُوا) adalah fi’il amr yang merupakan perintah kepada Nabi Muhammad SAW dan juga kaum muslimin. Perintahnya adalah untuk berkata atau lebih tepatnya untuk menjawab pernyataan orang-orang yahudi dan nasrani yang pada ayat sebelumnya meminta Nabi SAW dan para shahabat mengikuti agama mereka. Maka jawaban dari Allah SWT berupa perintah untuk ‘membalas’ perkataan mereka.
Lafazh aamannaa billah (آمَنَّا بِاللَّهِ) maknanya : “kami beriman kepada Allah”. Inilah konten kata-kata yang Allah SWT perintahkan agar Nabi SAW dan kaum muslimin katakan kepada Yahudi dan Nasrani. Maka jangan suruh kami masuk agama kalian, toh kami sudah beriman kepada Allah SWT.
Dan lafazh wa maa unzila ilaina (وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا) secara harfiyah artinya : “dan pada apa yang diturunkan kepada kami”. Meski pun tidak disebutkan kitab apa yang diturunkan kepada kita, namun semua sepakat bahwa yang dimaksud tidak lain adalah kitab suci Al-Quran Al-Karim.
Dasarnya adalah dhamirna (نأ) pada kata ilaina yang maknanya kepada kami. Dan yang dimaksud kami adalah Nabi Muhammad SAW dan para shahabat. Dengan demikian, kitab apa yang turun khusus kepada Nabi Muhammad SAW, otomatis kita bisa menerkanya.
Di sisi lain keimanan kepada Al-Quran inilah batasan penting yang membedakan imannya orang Yahudi dan Nasrani dengan imannya Nabi Muhammad SAW. Mereka dianggap sebagai orang yang tidak beriman lantaran keingkaran mereka terhadap kitab suci Al-Quran.
وَمَا أُنْزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ
Lafazh wa maa unzila ilaa (وَمَا أُنْزِلَ إِلَىٰ) makna : “dan apa yang diturunkan kepada”. Sedangkan lafazh ilaa ibrahim (إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ) artinya kepada Nabi Ibrahim alaihissalam.
Allah SWT tidak menyebutkan apa nama kitab yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim. Dan memang tidak ada informasi tentang nama sebuah kitab. Yang ada hanyalah informasi dari Al-Quran sendiri di dua ayat lain tentang adanya shuhuf Ibrahim, yaitu :
Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (QS. An-Najm : 37)
Kebanyakan kitab tafsir tidak menceritakan apa nama kitab yang turun kepada Nabi Ibrahim, namun Thahir Ibnu Asyur dalam At-Tahrir wa At-Tanwir menuliskan bahwa kitab yang turun kepada Nabi Ibrahim hanya sedikit sekali terwariskannya. Jumlahnya hanya sepuluh shuhuf yang seukuran sepuluh lembar kertas dengan teks kuno. Satu lembar itu cukup untuk sekira empat ayat Al-Quran. Sehingga bisa kita jumlahkan seluruh shuhuf Ibrahim itu semuanya hanya sekira 40-an ayat Al-Quran saja.[1]
Ibnu Asyur juga menduga bahwa semua isi shuhuf Ibrahim itu sudah termuat di dalam Al-Quran juga. Ringkasan isinya terdapat pada ayat yang sudah kita lewatkan sebelumnya yaitu :
Lafazh wa ismaila wa ishaqa (وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ) maksudnya adalah Nabi Ismail dan Nabi Ishak, yang mana keduanya anak kandung Nabi Ibrahim alaihissalam, meskipun masing-masing lahir dari dua ibu yang berbeda. Keduanya adalah nabi dan masing-masing mendapat kitab suci dari Allah SWT.
Sebenarnya anak Nabi Ibrahim itu bukan hanya mereka berdua saja, sebenarnya masih ada lagi enam orang anak Nabi Ibrahim, sehingga jumlah anak Nabi Ibrahim semuanya jadi delapan orang. Masing-masing lahir dari tiga istri yang berbda. Nabi Ismail itu anak pertama Nabi Ibrahim justru lahir dari istri keduanya yang bernama Hajar. Namun Ismail lahir lebih dulu dari Ishak yang merupakan anak dari istri pertama, Sarah.
Setelah Sarah wafat, Nabi Ibrahim kemudian menikah lagi dengan istri ketiga yang bernama Ketura. Dari Ketura inilah lahir anak-anak berikutnya yang bernama Zimran, Yoksan, Medan, Midian, Isybak dan Suah.[1]
Namun yang mendapat wahyu dan kitab suci serta menjadi nabi utusan Allah SWT hanya Ismail dan Ishak saja, adik-adik mereka tidak termasuk.
Meskipun keduanya disebut menerima kitab suci, namun apa namanya dan seperti apa gambarannya, tidak ada satupun keterangan yang termuat di dalam Al-Quran atau pun hadits nabawi.
Lafazh wa ya’quba (وَيَعْقُوبَ) maksudnya adalah Nabi Ya’qub alaihissalam. Beliau adalah anak Nabi Ishak dan cucu Nabi Ibrahim. Sebagaimana yang sudah dijelaskan dalam tafsir ayat-ayat sebelumnya, Nabi Ya’qub inilah yang nantinya menjadi ayah dari Bani Israil, karena nama lain Beliau adalah Israil.
Sebagai seorang nabi, Beliau pun juga menerima wahyu samawi dan menerima kitab suci. Sayangnya lagi, kita tidak mendapat penjelasan tentang apa nama kitabnya dan seperti apa gambarannya.
Adapun lafazh al-asbath (الْأَسْبَاطِ) adalah bentuk jamak dari as-sibtu (السِبْطٌ) yang secara harfiyah artinya tatabu’ (التَّتَابُعُ) alias silih berganti. Ada juga yang mengatakan asalnya dari kata as-sabatu (السَّبَطُ) yang artinya pohon.
Ada sebagian kalangan ulama seperti Abu Al-Aliyah, Qatadah dan Ar-Rabi’, mengatakan bahwa yang dimaksud dengan asbat adalah dua belas orang anak-anak Nabi Ya’qub alahissalam. Masing-masing melahirkan lagi cucu generasi berikutnya. Kalau menggunakan pendapat ini, maka mereka itu pada dasarnya adalah Bani Israil.
Dengan menggunakan pendapat ini, maka yang dimaksud asbat adalah nabi-nabi dari kalangan Bani Israil. Dan jumlah mereka cukup banyak, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Ibnu Abbas berikut :
Semua nabi itu termasuk keturunan Bani Israil, kecuali hanya sepuluh yang bukan, yaitu Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, Ibrahim, Luth, Ishak, Ya’qub, Ismail dan Muhammad SAW. (HR. Al-Bukhari)
Tentang kedua belas kelompok mereka, juga disebutkan dalam kisah Al-Quran terkait rombongan Nabi Musa ketika menyeberang Laut Merah
Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu!". Maka memancarlah dari padanya duabelas mata air. (QS. Al-Araf : 160)
Lafazh wamaa uutiya (وَمَا أُوتِيَ) maknanya : “dan apa-apa yang diberikan”, sedangkan lafazh an-nabiyyun (النَّبِيُّونَ) maknanya adalah : “para nabi”. Lalu lafazh min rabbihim (مِنْ رَبِّهِمْ) artinya : “dari tuhanmu”.
Tentang jumlah para nabi dan rasul disebutkan dalam sebuah riwayat dari Abu Dzar sebagai berikut :
قلت: يا رسول الله، كم الأنبياء؟ قال: «مائة ألف وأربعة وعشرون ألفا» قلت: يا رسول الله، كم الرسل منهم؟ قال: «ثلثمائة وثلاثة عشر
Aku bertanya,”Ya Rasulullah, berapa jumlah para nabi?”. Beliau SAW menjawab,”Seratus dua puluh empat ribu orang”. Aku bertanya lagi,”Berapa orang yang menjadi rasul?”. Beliau SAW menjawab,”Tiga ratus tiga belas orang”.[1]
Dengan jumlah sebanyak itu tentu saja kita tidak mungkin mengenalnya satu per satu. Namun setidaknya ada dua puluh lima orang nabi dan rasul yang namanya tercantum secara eksplisit di dalam Al-Quran. Dan untuk itu ada perintahnya untuk mengenali mereka itu, sebagaimana atsar berikut :
Ajari anak-anakmu nama para nabi yang disebutkan di dalam Al-Quran, agar mereka bisa juga beriman kepada mereka. Jangan dikira cukup hanya beriman kepada Nabi Muhamamd SAW saja tanpa beriman juga para nabi seluruhnya.
[1] Dr. Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir, jilid 6 hal. 35
لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ
Lafazh la nufarriq (لَا نُفَرِّقُ) maknanya adalah : “tidak membeda-bedakan”, dan lafazh baina ahadin minhum (بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ) maknanya adalah : “di antara satu dengan yang lain di antara mereka”.
Yang dimaksud dengan tidak membeda-bedakan adalah mengimani kenabian mereka dan menghormatinya sebagai utusan Allah SWT. Dan ini berbeda dengan konsep Yahudi yang membeda-bedakan satu nabi dengan nabi yang lain. Dalam hal ini mereka beriman hanya kepada nabi yang masih satu jalur darah dan keturunan dengan mereka, sedangkan Nabi Muhammad SAW tidak mereka imani. Bahkan kalangan Yahudi juga tidak mau mengimani Nabi Ismail dan juga Nabi Isa ‘alaihissalam.
Setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. (QS. Al-Maidah : 70)
Begitu juga nasrani, mereka memang mengimani banyak nabi, namun giliran kepada Nabi Muhammad SAW, mereka pun tidak mau mengimani. padahal baik Yahudi ataupun Nasrani sama-sama tahu bahwa di akhir zaman Allah SWT akan mengutus seorang nabi terakhir yaitu Muhammad SAW.
Padahal Nabi Isa alaihissalam sendiri pun sudah menjelaskan dengan rinci akan datangnya nabi akhir zaman
Dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad". (QS. Ash-Shaf : 6)
Padahal semua umat yang diberi kitab pasti sudah tahu akan kedatangan nabi terakhir, bahkan digambarkan mereka sangat kenal ciri-ciri Nabi Muhamamd SAW sebagaimana mereka mengenal anak mereka sendiri. Perhatikan bagaimana Al-Quran menggambarkan hal itu :
Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah). (QS. Al-Anam : 20)