Kemenag RI 2019:Tidak ada yang mereka tunggu-tunggu (pada hari Kiamat), kecuali kedatangan Allah dalam naungan awan bersama malaikat (untuk melakukan perhitungan), sedangkan perkara (mereka) telah diputuskan. Kepada Allahlah segala perkara dikembalikan. Prof. Quraish Shihab:Apakah yang mereka nantikan hanya Allah yang datang bersama para malaikat (pada Hari Kiamat) dalam naungan awan? (Jelas bukan itu yang mereka nantikan j. Dan putuskanlah urusan. Dan hanya kepada Allah dikembalikan semua urusan. Prof. HAMKA:Tiadalah yang mereka tunggu kecuali bahwa datang kepada mereka itu (siksa) Allah di dalam gumpalan awan bersama Malaikat, padahal perkara telah diputuskan dan kepada Allah akan kembali segala perkara.
Terus terang ayat ke-210 ini amat sangat sulit dipahami maknanya, karena terlalu tinggi dan dalam cara Allah SWT mengungkapkannya. Diperlukan banyak kitab tafsir untuk saling diperbandingkan agar bisa menerka apa maksud sebenarnya kandungan ayat ini.
Yang jelas ayat ini masih sangat erat terkait dengan ayat-208 dan 209 sebelumnya, yaitu masih membicarakan orang yang tidak masuk Islam secara kaffah dan mengikuti langkah setan, serta diancam bahwa Allah SWT Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Hanya saja nampaknya para mufassir klasik dan modern pun seperti juga berbeda-benda ketika memberikan penjelasan, sehingga kita pun jadi perlu berpikir panjang untuk menangkap pesan yang tertuang di dalamnya.
Penulis mulai dari Tafsir Al-Misbah karya Prof. Dr. Quraish Shihab, yang menggambarkan bahwa pada intinya orang yang kafir yang tidak menerima Islam secara keseluruhan itu akan dihukum di akhirat. Namun gaya bahasa yang Allah SWT gunakan cukup unik, yaitu dengan mengatakan tidak ada yang mereka tunggu kecuali hanya adzab berupa awan gelap membawa siksaan. Terjemahan yang dituliskan adalah :
Apakah yang mereka nantikan hanya Allah yang datang bersama para malaikat (pada Hari Kiamat) dalam naungan awan? (Jelas bukan itu yang mereka nantikan).[1]
Sementara dalam kitab tafsir lain, sebut saja Fakhruddin Ar-Razi, justru yang diangkat masalah aqidah, karena ayat ini menyebutkan Allah SWT mendatangi mereka dalam bentuk awan gelap bersama para malaikat. Secara panjang lebar isi kitab tafsirnya membahas tentang perdebatan akademis antar berbagai kelompok aliran aqidah.
Muqatil bin Sulaiman[2] dalam tafsirnya mengatakan bahwa ayat ini menjadi dalil bahwa kita di dalam surga nanti akan bisa melihat wujud Allah SWT dengan mata kita. Menurutnya hal ini merupakan bentuk kenikmatan ukhrawi yang tidak bisa dilakukan selama kita masih di dunia. Pendapat bisa melihat Allah SWT ini juga dikuatkan dengan ayat lainnya, yaitu :
إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
Kepada Tuhannyalah mereka melihat. (QS. Al-Qiyamah : 23)
Dan versi lain lagi mengaitkan awan gelap itu dengan sejarah yang pernah dialami oleh Bani Israil di masa lalu ketika tersesat di gurun pasir Sinai.
Lafazh hal (هَلْ) adalah salah satu alat bertanya yang artinya : apakah, sedangkan makna lafazh yanzhurun (يَنْظُرُونَ) dari asalnya (نَظَرَ - يَنْظُرُ) yang secara makna harfiyah adalah : mereka melihat.
Sedangkan yang dimaksud dengan mereka tidak lain adalah orang-orang yang sudah disebutkan dalam ayat-208 dan 209, yaitu mereka yang tidak masuk Islam secara menyeluruh dan ikut dengan langkah-langkah setan. Sehingga maknanya : “apakah mereka itu melihat?”.
Sebagian ulama menyebutkan bahwa pada dasarnya dari ungkapan ini ada kata-kata yang tidak disebutkan secara lahiriyah namun ada dalam benak, yaitu : pilihan yang lain. Sehingga pertanyaan ini menjadi : “Apakah mereka melihat pilihan lain?” Jawabannya tidak ada yang mereka lihat, kecuali akan disiksa oleh Allah SWT.
إِلَّا أَنْ يَأْتِيَهُمُ اللَّهُ
Lafahz illa (إِلَّا) artinya kecuali, maksudnya tidak ada pilihan apapun yang mereka lihat, kecuali hanya ini, yaitu Allah SWT mendatangi mereka. Ungkapannya adalah (يَأْتِيَهُمُ اللَّهُ).
Dan pada lafazh inilah yang kemudian memancing Fakhiruddin Ar-Razi untuk membahas secara panjang lebar perdebatan para ulama akidah terkait apakah datangnya Allah SWT ini bersifat hakiki atau majazi. Rasanya kita tidak perlu terlalu dalam terjebak dalam perdebatan para ahli kalam sebagaimana yang diceritakan oleh Fakhruddin Ar-Razi.
Banyak ulama yang berhati-hati kalau sudah bicara tentang tindakan Allah SWT seperti datang, pergi, turun dan seterusnya. Mereka hanya mengatakan bahwa hanya Allah SWT saja yang tahu.
Al-Qadhi Abu Ya’la meriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hambal mengatakan bahwa yang datang itu bukan Allah SWT, melainkan ketentuan dan perintah-Nya. Demikian sebagaimana dikutipkan oleh Ibnul Jauzi dalam Tafsir Zadul Muyassar fi Ilmi At-Tafsir.[1]
Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang dan kalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu, (QS. Al-Furqan : 45)
Namun Kemenag RI dan Prof. Dr. Quriash Shihab menerjemahkannya menjadi naungan. Naungan itu maksudnya tempat bernaung dari teriknya sinar matahari (ما يُسْتَظَلُّ به من الشمس). Makna seperti itu bisa kita temukan di dalam ayat lain :
وَظِلٍّ مَمْدُودٍ
dan naungan yang terbentang luas, (QS. Al-Waqiah : 30)
Namun ada juga yang memaknainya sebagai lapisan-lapisan, sebagaimana juga digunakan dalam surat Az-Zumar berikut ini dimana ada istilah zhulalun minan-nar (ظُلَلٌ مِنَ النَّارِ).
Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku. (QS. Az-Zumar : 16)
Buya HAMKA menerjemahkan (ظُلَلٍ مِنَ الْغَمَامِ) menjadi gumpalan awan. Namun dalam tafsirnya Beliau menjelaskan lebih jauh bahwa yang dimaksud adalah gumpalan awan yang menyelimuti seseorang dari kebenaran.
Sedangkan makna ghamam (الْغَمَامِ) adalah awan. Biasanya datangnya awan itu merupakan bentuk kabar gembira, karena mengandung tetes air hujan yang akan menyuburkan tanah, memberi minum hewan dan manusia, serta dari air hujan itulah kehidupan bisa tumbuh dan berkembang.
Namun penggambaran awan di ayat ini justru bersifat anomali dan tidak biasanya, karena justru awan yang dimaksud awan yang sifatnya menghancurkan serta mematikan, bahkan merupakah bentuk tehnik mengazab. Lantas apa hikmah dibalik penggunaan siksaan berkedok awan?
Para ulama mengatakan bahwa di balik itu ada maksud untuk menambah keras bentuk siksaan, yaitu apa yang awalnya dikira sebagai kebaikan, ternyata isinya justru keburukan. Hal itu akan menambah penderitaan dan kesengsaraan, setidaknya sebagai tekanan psikologis. Hal yang tidak disangka dan tidak diduga sebelumnya. Kurang lebih seperti apa yang diungkapkan dalam ayat lain, yaitu :
وبَدا لَهم مِنَ اللَّهِ ما لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ
Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. (QS. Az-Zumar : 47)
Namun ada juga ulama yang mengatakan bahwa ayat ini merupakan penggambaran datangnya hari kimat. Dan memang salah satu cirinya kiamat kubra turunnya awan dari langit.
Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang. (QS. Al-Furqan : 25)
وَالْمَلَائِكَةُ
Lafazh malaikat dalam penggalan ayat ini dimaknai secara berbeda oleh para ulama. Sebagian mengatakan malaikat dalam hal ini sebagai yang menurunkan awan putih itu. Namun pendapat lain mengatakan bahwa malaikat itu yang akan menyiksa mereka.
Lafazh qudhiya (قُضِيَ) artinya telah ditetapkan atau diputuskan, sedangkan lafazh al-amru (الْأَمْرُ) artinya adalah urusan atau perkara. Maksudnya bahwa orang-orang yang membangkang itu akan diadzab di neraka sudah menjadi urusan dan perkara yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT.
Ada yang berpendapat bahwa ungkapan qudhiyal-amr (قُضِيَ الْأَمْرُ) merupakan dalil bahwa semua yang terjadi dalam kehidupan ini merupakan takdir Allah SWT yang tidak bisa dihindari kepastian terjadinya, bahkan meskipun kita berusaha untuk menghindari taqdir itu.
Sebab di balik semua ini adalah Allah SWT yang bersifat al-jabbar (الجَبَّار) yang maknanya Allah SWT itu Maha Memaksakan semua kehendak-Nya. Sedangkan kita sebagai manusia tidak punya kekuasaan sedikit pun untuk mengubah apa-apa yang telah Allah SWT paksakan sebagai taqdir.
Dalam sejarah umat Islam, pernah ada pemahaman semacam itu yang disebut dengan paham Jabariyah yang meyakini bahwa takdir Allah adalah mutlak dan menentukan segala sesuatu, termasuk tindakan manusia. Mereka menganggap bahwa manusia tidak memiliki kehendak bebas yang signifikan, karena segala sesuatu telah ditetapkan oleh Allah sejak awal. Dalam pandangan mereka, kita ini hanya wayang yang tunduk pada takdir Allah, dan mereka tidak memiliki kontrol penuh atas tindakan mereka. Di antara tokohnya yang terkenal adalah Jahm ibn Safwan
Sedangkan yang menjadi antitesisnya adalah kelompok Qadariyah yang menyakini bahwa manusia punya wewenang sepenuhnya untuk mengubah apa-apa yang telah Allah SWT takdirkan. Dalam keyakinan mereka bahwa takdir Allah tidak mutlak, tetapi lebih seperti pengetahuan Allah tentang apa yang akan terjadi, sementara manusia memiliki peran dalam membuat keputusan dan bertanggung jawab atas tindakan mereka.
Qadariyah mengklaim bahwa manusia memiliki kontrol sebagian atas tindakan mereka, meskipun Allah tetap mengetahui hasil akhirnya.
Sedangkan lafazh turj’aul-umur (تُرْجَعُ الْأُمُورُ) diartikan menjadi : tempat kembalinya segala urusan. Maksudnya apapun yang terjadi, semua itu kembali lagi merupakan keputusan dan ketetapan Allah SWT.