Kemenag RI 2019:Tanyakanlah kepada Bani Israil, “Berapa banyak bukti nyata (kebenaran) yang telah Kami anugerahkan kepada mereka?” Siapa yang menukar nikmat Allah (dengan kekufuran) setelah (nikmat itu) datang kepadanya, sesungguhnya Allah Maha Keras hukuman-Nya. Prof. Quraish Shihab:Tanyakanlah kepada Bani Israil: “Berapa banyak tanda-tanda (kebenaran) yang nyata yang telah Kami anugerahkan kepada mereka?” Barangsiapa menukar nikmat Allah setelah datang (nikmat itu) kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras pembalasan- (Nya). Prof. HAMKA:Tanyakanlah kepada Bani lsrail berapakah sudah Kami berikan kepada mereka keterangan yang nyata? Dan barangsiapa yang mengganti nikmat Allah sesudah datang kepadanya maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya.
Ayat ke-211 ini kembali lagi membicarakan perilaku Bani Israil yang telah bertemu kenikmatan yaitu berkesempatan bertemu dengan Nabi Muhammad SAW yang membawa agama terakhir yaitu agama Islam.
Inilah yang selama ini mereka cari dan tunggu-tunggu, namun begitu bertemu langsung dengan sang nabi, mereka malah tidak mau memeluk agama yang dibawanya. Oleh karena itu Allah SWT mengancam mereka akan mendapat siksa yang keras.
سَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ
Lafazh sal (سَلْ) asalnya dari is’al (اِسْأَل), bentuk madhi dan mudhari’-nya adalah (سَأَلَ - يَسْأَلُ). Namun kalau kita perhatikan, lafazh sal (سَلْ) itu alif di awal dan hamzah di tengahnya dibuang alias mahzhuf. Di dalam Al-Quran ada juga ayat lain yang mirip yaitu :
سَلْهُمْ أَيُّهُمْ بِذلِكَ زَعِيمٌ
Tanyakanlah kepada mereka: "Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?" (QS. Al-Qalam : 40)
Namun ada juga yang dihilangkan hanya hamzah di awal saja, seperti dua ayat berikut :
وَسْئَلِ الْقَرْيَةَ
Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada disitu (QS. Yusuf : 82)
وَسْئَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ
Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. (QS. An-Nisa : 32)
Namun semua itu hanya perbedaan lafazh saja, sedangkan makanya sama saja. dan artinya : “bertanyalah” atau “tanyakanlah”.
Walaupun ini sebuah perintah untuk bertanya, namun pertanyaan yang dimaksud tidak memerlukan jawaban, karena sifatnya taubkih (تَوْبِيْخ) atau bertanya untuk mengungkapkan keburukan pihak yang ditanya.
Lafazh bani (بني) adalah bentuk jamak dari ibnu (ابن) yang asalnya dari kata banun (بنون) atau banin (بنين), lalu dibuang huruf nun (ن) karena disambungkan dengan kata berikutnya sehingga menjadi bani (بَنِي) yang maknanya adalah : anak-anak atau keturunan.
Lafazh israil (إسرائيل) bukan bahasa Arab melainkan bahasa Ibrani. Dan yang disebut israil sendiri adalah nama lain dari Nabi Ya'qub bin Ishak bin Ibrahim alaihimussalam. Menurut Ibnu Abbas, dalam bahasa Ibrani, nama Israil itu terdiri dari 'isra' yang bermakna hamba dan 'il' yang maksudnya adalah Allah, sehingga makna Israil adalah hamba Allah.
Nabi Ya'qub punya 12 anak laki-laki dan salah satunya adalah Nabi Yusuf alaihissalam. Az-Zamakhsyari dalam Tafsir Al-Kasysyaf menyebutkan bahwa anak Nabi Ya'qub itu ada 12 orang laki-laki dari beberapa istri.
Dari istri pertama yang bernama Laya, Nabi Ya'qub mendapat 6 anak laki-laki. Laya adalah sepupu Nabi Ya'qub yang merupakan puteri dari bibinya. Nama mereka adalah : [1] Yahudza, [2] Rubail, [3] Syam'un, [4] Lawi, [5] Bazalun, [6] Yasyjar. Dari dua orang budak wanita masing-masing bernama Zulfah dan Balhah, ada 4 anak yaitu [7] Daan, [8] Naftali, [9] Jaad, [10] Asyir. Ketika Laya wafat, Nabi Ya'qub menikahi saudari wanitanya bernama Rahil dan mendapat 2 anak yang bernama [11] Yusuf dan [12] Bunyamin.
Nabi Ya'qub terkenal sebagai hamba Allah yang amat saleh, sabar, dan tawakal. Maka Allah memanggil anak cucu nya dalam permulaan ayat ini dengan sebutan "Bani Israil" untuk mengingatkan kepada mereka agar mereka mencontoh leluhur mereka itu dalam hal keimanan, ketaatan, kesalehan, ketakwaan dan kesabaran serta sifat-sifat lain yang terpuji.
Hal ini disebabkan karena pada waktu turunnya Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad saw, tampak gejala-gejala bahwa tingkah laku Bani Israil itu sudah melampaui batas, dan jauh menyimpang dari ajaran dan sifat-sifat nenek moyang mereka, terutama sikap mereka terhadap Al-Qur'an yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.
Mereka tidak mau beriman bahwa Al-Qur'an itu adalah wahyu Allah, bahkan mereka mendustakan kenabian dan kerasulan Muhammad saw. Seharusnya merekalah yang paling dahulu beriman kepada Nabi Muhammad saw, sebab berita tentang kedatangannya telah disebutkan lebih dahulu dalam kitab suci mereka, yaitu Taurat.
Di masa kenabian Muhammad, seringkali orang-orang Yahudi disapa dengan sapaan yang membuat mereka bangga, karena disebut-sebut sebagai anak cucu keturunan para nabi. Dan pada dasarnya yang disebut dengan Bani Israil adalah pemeluk agama Yahudi.
Ketika Nabi SAW hijrah ke Medinah, tempat itu sudah banyak dihuni orang-orang Yahudi yang sejak lama menetap di . Madinah, karena mereka membaca dalam kitab suci mereka bahwa nabi yang terakhir akan segera muncul
كَمْ آتَيْنَاهُمْ مِنْ آيَةٍ بَيِّنَةٍ
Lafazh kam (كَمْ) artinya berapa, namun tujuannya bukan untuk bertanya yang memerlukan jawaban, melainkan untuk menunjukkan begitu banyaknya.
Lafazh atainahum (آتَيْنَاهُمْ) merupakan fi’il madhi yang menujukkan masa lampau dan maknanya adalah : “Telah Kami berikan kepada mereka”. Yang dimaksud dengan mereka adalah Bani Israil.
Lafazh ayatin (آيَةٍ) secara bahasa berarti tanda. Di beberapa ayat Al-Quran memang Allah SWT banyak menyebutkan tanda-tanda kekuasaannya menggunakan istilah ayat dalam banyak firman-Nya. Salah satunya dalam ayat berikut :
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Isra : 1)
Kadang ayat juga bisa bermakna bagian dari Al-Quran, yaitu
Membacakan kepadamu ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab dan hikmah. (QS. Al-Baqarah : 151)
Namun nampaknya yang dimaksud ayat di ayat ini lebih dekat kepada bukti-bukti kekuasaan Allah,
Lafazh bayyinah (بَيِّنَة) maknanya bukti, namun bisa juga diterjemahkan menjadi : “barang bukti”, sebagaimana yang dikenal dalam dunia persidangan. Dan memang juga disebutkan dalam hadits nabi :
Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu bahwa Nabi SAW bersabda,”Bukti-bukti harus dimiliki oleh penuntut dan sumpah harus dimiliki oleh tertuduh”. (HR. Al-Baihaqi)[1]
Sedangkan yang dimaksud dengan bukti-bukti disini adalah mukjizat yang menyertai Nabi Musa alaihissalam. Dan di dalam ayat lain, bayyinat itu disebut juga dengan sembilan tanda :
Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata ". (QS. Al-Isra : 101)
Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran menuliskan bahwa yang dimaksud dengan sembilan tanda itu adalah :[2]
1. Tongkat (العصى) : mukjizat tongkat Musa yang bisa berubah jadi ular, atau bisa untuk memukul laut sehingga terbelah, serta pernah digunakan memukul batu sehingga memancar air untuk minum 12 anak suku Bani Israil.
2. Terjadinya musim kemarau yang panjang (السنين).
3. Tangan (اليد) Nabi Musa yang berubah jadi putih menyala
4. Darah (الدم) yang muncul dimana-mana sebagai ganti air
5. Angin topan (الطوفان).
6. Belalang (الجراد) yang menyerbu dalam jumlah tak terhitung
7. Kutu (القمل) bermunculan dimana-mana
8. Katak (الضفدع) bermunculan dimana-mana
9. Terbelahnya laut (البحر) saat dikejar pasukan Firaun.
Lafazh yubaddil (يُبَدِّلْ) artinya menukar, sedangkan nikmatallah (نِعْمَةَ اللَّهِ) secara bahasa bermakna : kenikmatan yang Allah SWT berikan.
Kenikmatan dari Allah SWT itu terlalu luas, baik yang bersifat materil ataupun moril, baik yang fisik atau non fisik. Lantas nikmat yang manakah yang dimaksud di penggalan ayat ini?
Ibnu Jarir Ath-Thabari menjelaskan bahwa nikmat yang dimaksud adalah nikmat mendapatkan agama Islam lengkap dengan segala syariat yang terbaru dan terupdate.[1]
Dengan demikian yang dimaksud dengan menukar nikmat Allah adalah melepaskan agama Islam dengan tetap berada di dalam agama sebelumnya.
Makna ungkapan min badi maa jaathu (مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُ) adalah : setelah kenikmatan itu mendatanginya, maksudnya setelah diberi kesempatan untuk hidup bertemu langsung dengan Nabi Muhammad SAW yang telah diberitakan di dalam semua kitab suci samawi sebelumnya.
Dan memang demikian lah yang terjadi. Cukup lama orang-orang Yahudi menunggu-nunggu datangnya Nabi Muhammad SAW. Semua ciri tentang diri nabi terakhir itu sudah mereka ketahui, bahkan ciri-ciri para shahabat yang punya tanda bekas sujud di akhirat pun termaktub dalam kitab Taurat dan Injil.
Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil. (QS. Al-Fath : 29)
Bahkan keberadaan orang-orang Yahudi di Madinah pada awalnya justru karena ingin segera bertemu dengan nabi terakhir yang dijanjikan. Sebegitu yakinnya mereka dengan akan datangnya rasul terakhir, sampai mereka pun berhasil meyakinkan orang-orang Arab asli penduduk Madinah untuk ikut percaya juga.
Ini tentu saja sangat anomali, sebab tidak ada kamusnya bagi bangsa Arab untuk mempercayai kenabian dan kitab suci samawi. Mengingat tidak pernah ada kisah kenabian di tanah Arab sebelumnya. Mereka tidak kenal legenda para nabi, kecuali sebagai cerita dari negeri asing di seberang sana.
Kalau pun mereka mengenal leluhur mereka Nabi Ibrahim dan Ismail, lebih sebagai tokoh suci yang mendekatkan mereka kepada Allah. Namun bahwa Nabi Ibrahim itu mendapatkan wahyu apalagi kitab suci, sama sekali tidak pernah ada bukti yang kongkrit. Dan pada kenyataannya yang mendapatkan kitab suci hanya nab-nabi di kalangan Bani Israil, yaitu Musa mendapat Taurat, Daud mendapat Zabur dan Isa mendapat Injil. Sedangkan Nabi Ibrahim sekedar mendapatkan beberapa lembar yang disebut dengan suhuf.
Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa (QS. Al-Ala : 18-19)
Bagi seluruh bangsa Arab di masa itu, Allah itu ada di langit. Tapi mereka tidak bisa terima kalau Allah berfirman dengan mengutus malaikat membawa firman-Nya itu untuk diberikan kepada manusia pilihan yang disebut dengan nabi itu merupakan lelucon yang ditertawakan.
Apalagi ternyata yang disebut sebagai nabi utusan Allah itu justru seorang manusia biasa, yang makan, minum, beristri, beranak, berdagang dan berjalan di pasar. Buat mereka konsep semacam itu menggelikan dan jadi lucu-lucuan.
Dan mereka berkata: "Mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia?, (QS. Al-Furqan : 7)
Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu maha Melihat. (QS. Al-Furqan : 20)
Adanya kehidupan setelah kematian dan negeri akhirat bagi mereka adalah dongeng serta mitos yang tidak masuk akal sama sekali.
Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): "Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan dibangkitkan". (QS. Al-Anam : 29)
Akan tetapi khusus untuk bangsa Arab di Madinah, ternyata berbeda. Mereka benar-benar percaya tentang adanya kenabian dan kitab suci samawi. Mereka pun mau diperintah untuk mencari sosok nabi terakhir di Mekkah dan mengajaknya pindah ke Madinah.
Bahwa orang-orang Yahudi sudah mendapatkan kesempatan bertemu langsung dengan sosok nabi terakhir yang termaktub dalam kitab suci mereka adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri. Bahkan mereka berhasil mengajak pindah sang nabi ke Madinah untuk hidup bersama dan membangun masyarakat.
Tapi ketika kemudian mereka malah tidak mau memeluk agama Islam dan enggan mengikuti apa yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, maka itulah yang disebut dengan : “menukar kenikmatan setelah berhasil menemukannya”.
Ibaratnya ada orang kehausan di gurun pasir membutuhkan air, tetapi begitu air ditemukan, tapi dia malah ogah minum air itu. Ini jelas aneh, tidka masuk dan juga sekaligus tidak normal.
Maka wajar kalau mereka diancam untuk dijatuh hukuman yang berat, yaitu syadidul ‘iqab (شَدِيدُ الْعِقَابِ).
فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Ungkapan bahwa sesungguhnya Allah itu sangat keras siksanya menggambarkan bahwa mereka itu nanti di akhirat akan dimasukkan ke dalam neraka dan tidak keluar lagi, karena terhitung matinya sebagai orang kafir.
Memang orang yahudi itu ada yang tahu ancaman di akhirat bila meningkari nabi maka akan dimasukkan ke dalam neraka. Akan tetapi mereka coba cari pembenaran dengan mengatakan kalau pun masuk neraka, hanya beberapa hari saja, setelah itu pasti akan dikeluarkan lagi. Itu sebagaimana yang kita baca dari ayat berikut :
Hal itu adalah karena mereka mengaku: "Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung". (QS. Ali Imran : 24)
Dan penggalan terakhir yang menjadi penutup ayat ini dengan tegas menyebutkan bahwa mereka akan berhadapan dengan Allah SWT yang amat keras siksanya.
Sayangnya dari kebanyakan kalangan Bani Israil di Madinah yang sempat bertemu dengan Nabi SAW, hanya beberapa orang saja yang benar-benar masuk Islam dan menjadi orang-orang yang beriman.