Kemenag RI 2019:Ketika mereka maju melawan Jalut dan bala tentaranya, mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kukuhkanlah langkah kami, dan menangkanlah kami atas kaum yang kafir.” Prof. Quraish Shihab:Ketika mereka menghadapi Jalut dan bala tentaranya, mereka (Thalut dan balatentaranya) berdoa: “Tuhan Pemelihara kami! Tuangkanlah kesabaran atas (diri) kami, dan kokohkanlah kaki (dan jiwa) kami dan menangkanlah kami terhadap orang-orang kafir.” Prof. HAMKA:Dan tatkala mereka berhadap-hadapan dengan Jalut dan tentaranya itu berkatalah mereka, "Ya, Tuhan kami! Tumpahkanlah kepada kami kesabaran dan teguhkanlah kaki kami, dan tolonglah kami di dalam menghadapi kaum yang kafir.
Lafazh barazu (بَرَزُوا) adalah fi’il madhi namun diterjemahkan secara berbeda-beda dalam tiga versi terjemahan di atas.
Kemenag RI menerjemahkannya menjadi : “maju melawan”. Prof. Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi : “menghadapi”. Sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : “berhadap-hadapan”.
Untuk mengetahui makna suatu kata di dalam Al-Quran, salah satu metodenya adalah dengan melakukan komparasi atau perbandingan antara kata-kata yang sama di beberapa ayat yang berbeda.
Kata baraza (بَرَزَ) ini ternyata muncul di beberapa ayat yang berbeda. Pertama, terdapat pada ayat 154 dari surat Ali Imran berikut ini :
Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh. (QS. Ali Imran : 154)
Disini artinya tampil keluar dalam arti menampakkan diri, seperti yang diungkapkan dalam ayat ini.
Sedangkan bila dimaknai berhadapan atau menghadap, juga ada ayat yang menyebutkannya, yaitu nanti di padang Mahsyar orang-orang akan menghadap ke hadirat Allah SWT.
وَبَرَزُوا لِلَّهِ جَمِيعًا
Dan mereka semuanya berkumpul menghadap ke hadirat Allah. (QS. Ibrahim : 21)
Dalam tradisi perang di masa lalu, ada mubarazah (مُبَارَزَة), yaitu duel satu lawan satu antara wakil dari kedua pasukan yang akan segera bertempur. Mereka saling berhadapan untuk saling membunuh.
Ini merupakan tradisi dan kebiasaan perang di masa lalu, yaitu dilakuan sebelum peperangan dimulai. Maka diawali terlebih dahulu menontot jago dari masing-masing pasukan akan berduel sampai mati. Dan memang duel itu ditonton oleh masing-masing dari kedua pasukan.
لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ
Menurut Alkitab, Goliath atau Jalut adalah seorang prajurit Filistin yang sangat besar dan kuat. Dalam Kitab 1 Samuel 17:4-7 (Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama Kristen bahwa perlengkapan pertempuran mereka dilengkapi dengan baju zirah yang sangat berat, yang terbuat dari besi dan berat sekitar 5.000 siklus (sekitar 58 kg). Dia juga membawa tombak berat yang panjangnya sekitar enam hasta (sekitar 2,75 meter).
Selain ukurannya yang besar dan perlengkapan yang kuat, Goliath adalah prajurit yang berpengalaman dan sangat terlatih. Dia adalah juara perang Filistin dan dikenal sebagai prajurit yang sangat kuat.
Perang antara Jalut (Goliath dalam bahasa Inggris) dan Thalut (Saul dalam bahasa Inggris) terjadi di Lembah Elah (Valley of Elah) yang terletak di Israel modern, sekitar 16 mil barat daya Yerusalem. Lembah Elah adalah sebuah lembah yang penting dalam sejarah Israel karena banyak peristiwa Alkitab terjadi di sana, termasuk pertempuran antara Daud dan Goliath yang juga terjadi di lembah ini.
Bangsa Filistin
Bangsa Filistin adalah suatu kelompok etnis yang mendiami wilayah pesisir tenggara Laut Tengah, yang sekarang merupakan wilayah Israel dan Palestina modern. Bangsa Filistin memiliki sejarah yang panjang dan kompleks, dan mereka memiliki kerajaan-kerajaan mereka sendiri di masa lalu.
Sejarah bangsa Filistin mencakup beberapa kerajaan utama, seperti:
1. Kerajaan Gath: Salah satu kerajaan Filistin yang paling dikenal adalah Gath. Kota ini disebutkan dalam berbagai sumber sejarah, termasuk dalam Alkitab. Gath adalah kota penting di wilayah Filistin dan memiliki sejarah yang panjang dalam perlawanan melawan bangsa Israel.
2. Kerajaan Ashdod: Ashdod adalah kota pelabuhan yang penting di pesisir Filistin. Kota ini juga memiliki kerajaan sendiri dalam sejarah Filistin dan merupakan salah satu kota utama di wilayah tersebut.
3. Kerajaan Ekron: Ekron adalah salah satu dari lima kota utama Filistin yang disebutkan dalam Alkitab. Kota ini juga memiliki kerajaan sendiri dan memiliki peran penting dalam sejarah bangsa Filistin.
4. Kerajaan Gaza: Gaza adalah kota yang terkenal dalam sejarah Filistin dan merupakan salah satu kota terbesar dan paling penting di wilayah tersebut. Gaza memiliki peran penting dalam interaksi dengan bangsa Israel.
Bangsa Filistin sering kali berada dalam konflik dengan bangsa Israel dalam sejarah kuno. Salah satu tokoh terkenal dari konflik ini adalah raksasa Goliath (dalam bahasa Ibrani, Golyat), yang merupakan prajurit dari Gath. Goliath terkenal karena pertempurannya melawan nabi Daud, yang kemudian menjadi raja Israel. Pertempuran ini menjadi bagian dari cerita terkenal dalam Alkitab di mana Daud menggunakan batu melawan Goliath dan berhasil mengalahkannya.
Bangsa Filistin memiliki budaya, bahasa, dan agama mereka sendiri, dan mereka juga memiliki pengaruh dari berbagai peradaban yang berinteraksi dengan mereka. Sejarah bangsa Filistin sangat kompleks, dan mereka memiliki peran yang signifikan dalam kisah-kisah Alkitab serta sejarah wilayah pesisir tenggara Laut Tengah.
Catatan penting untuk diingat bahwa di kala itu yang muslim itu adalah bangsa Israil, sedang bangsa Filistine dalam konteks itu bangsa kafir.
قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا
Lafazh qaaluu (قَالُوا) artinya : mereka berkata. Maksudnya mereka berdoa dan memohon kepada Allah SWT. Ini merupakan bentuk kekukatan mental yang dimiliki oleh prajurit Thalut, bahwa dalam kondisi apapun mereka selalu menjalin kontak batin dengan Allah SWT.
Lafazh rabbana (رَبَّنَا) artinya : wahai Tuhan kami. Ini adalah bentuk etika yang paling baik ketika berdoa, yaitu mulai dengan menyapa : wahai Tuhan kami.
Lafazh afrigh ‘alaina (أَفْرِغْ عَلَيْنَا) adalah fi’il amr dari asalnya (أَفْرَغَ - يُفْرِغُ) secara bahasa artinya limpahkanlah. Sementara Prof. Quraish Shihah menerjemahkan menjadi : “Tuangkanlah”, lalu Buya HAMKA menerjemakannya menjadi : “Tumpahkanlah”. Ini adalah permohonan agar diberikan dalam jumlah yang banyak dan besar.
Lafazh shabran (صَبْرًا) artinya kesabaran. Sabar dalam menghadapi musuh dalam konteks perang adalah konsep ketahanan, keteguhan hati, dan kemampuan untuk menjalani pertempuran dengan ketenangan dan keberanian tanpa kehilangan kendali emosi. Ini adalah sifat yang penting dalam konteks perang, terutama ketika pasukan dihadapkan pada situasi yang penuh tekanan dan risiko.
Dalam perang, sabar dapat mencakup hal-hal berikut:
1. Ketahanan fisik: Pasukan harus memiliki ketahanan fisik yang kuat untuk menahan kondisi fisik yang keras di medan perang. Mereka mungkin harus berjalan jauh, bertahan dalam kondisi cuaca ekstrem, dan menghadapi kelelahan fisik. Sabar fisik ini penting untuk mempertahankan daya tahan selama pertempuran.
2. Ketahanan mental: Sabar mental adalah kemampuan untuk tetap tenang dan fokus saat terjadi pertempuran sengit dan adanya tekanan tinggi. Ini termasuk kemampuan untuk tidak panik, mengendalikan rasa takut, dan tetap fokus pada tugas dan strategi yang telah ditetapkan.
3. Kesabaran strategis: Dalam perang, kadang-kadang diperlukan kesabaran dalam merencanakan dan mengeksekusi strategi. Pasukan harus mampu menunggu saat yang tepat untuk melancarkan serangan atau mengambil tindakan tertentu, bahkan jika itu memerlukan penundaan.
4. Keteguhan moral: Pasukan harus tetap memiliki motivasi dan semangat tinggi, bahkan dalam situasi yang sulit. Sabar moral adalah kemampuan untuk tetap setia pada tujuan dan nilai-nilai yang diperjuangkan selama perang, tanpa terpengaruh oleh tekanan atau taktik musuh.
Dalam konteks perang, sabar adalah sifat yang membantu pasukan untuk menjalani pertempuran dengan kepala dingin dan keberanian, dan untuk tetap fokus pada tujuan mereka tanpa kehilangan kendali emosi. Ini adalah sifat yang penting dalam memastikan kesuksesan dalam berbagai aspek perang, termasuk taktik, strategi, dan moral pasukan.
وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا
Lafazh tsabbit (ثَبِّتْ) artinya kokohkan, sedangkan lafazh aqdamana (أَقْدَامَنَا) adalah bentuk jama’ dari qadam (قَدَم) yaitu kaki.
Dalam bahasa Arab selain qadam, kaki disebut juga dengan rijlun (رِجْلٌ). Perbedaannya kalau disebut qadam maksudnya kaki bagian bawah, sedangkan rijl (رِجْلٌ) itu artinya kaki secara umum.
Namun menurut para ulama permintaan agar kaki mereka dikokohkan merupakan bentuk metafora dan bukan makna hakiki. Ini untuk membedakan dengan turunnya hujan pada saat perang Badar, yang salah satu tujuannya agar kaki mereka bisa menjejak di pasir dengan mudah. Sebab bila berjalan di atas pasir, tentu akan sulit sekali berjalan.
Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu). (QS. Al-Anfal : 11)
Lafazh wanshurna (وَانْصُرْنَا) adalah fi’il amr dari asalnya (نَصَرَ – يَنْصُرُ) yang artinya : tolonglah kami atau berikanlah pertolongan kepada kami.
Lafazh al-qaumil kafirin (الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ). Pertolongan yang dimintakan kepada Allah itu jelas, yaitu ketika lawannya adalah orang kafir. Yang jadi masalah di masa kita sekarang ini, kebanyakannya peperangan yang terjadi justru antar sesama muslim.
Sehingga doa yang dipanjatkan akan menjadi tidak cocok, karena doanya dikhususkan buat perang dimana lawannya adalah orang kafir saja.