| ◀ | Jilid : 4 Juz : 2 | Al-Baqarah : 251 | ▶ |
فَهَزَمُوهُمْ بِإِذْنِ اللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُودُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ
Kemenag RI 2019: Mereka (tentara Talut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan Daud membunuh Jalut. Kemudian, Allah menganugerahinya (Daud) kerajaan dan hikmah (kenabian); Dia (juga) mengajarinya apa yang Dia kehendaki. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. Akan tetapi, Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan-Nya) atas seluruh alam.| TAFSIR AL-MAHFUZH | REFERENSI KITAB TAFSIR |
...
Ayat ke-251 ini memang lanjutan dari ayat sebelumnya, yaitu ayat ke-250. Namun beberapa mufassir menuliskan dalam kitab mereka bahwa ada bagian-bagian yang seperti dilewati begitu saja, sehingga terasa hilang. Seolah-olah ayat ke-251 ini loncat begitu saja dan ada kalimat tertentu yang skip.
Bacalah apa yang ditulis oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari terkait hal ini adalah bahwa ada bagian kalimat yang ditinggalkan, mungkin karena dianggap sudah mafhum. Pada ayat sebelumnya Allah SWT berfirman :
وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
Ketika mereka maju melawan Jalut dan bala tentaranya, mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kukuhkanlah langkah kami, dan menangkanlah kami atas kaum yang kafir.”
Seharusnya ada kalimat lain yang menjelaskan apa yang terjadi setelah mereka berdoa. Misalnya kalimat berikut ini :
فاستجاب لهم ربهم فأفرغ عليهم صبره وثبت أقدامهم، ونصرهم على القوم الكافرين
Maka Tuhan mereka menerima doa mereka, lalu mereka pun dilimpahkan dengan kesabaran serta dikukuhkan langkahnya, lalu mereka pun dimenangkan atas kaum yang kafir.
Setelah kalimat di atas, barulah cocok kalau ada ayat ke-251, yaitu :
فَهَزَمُوهُمْ بِإِذْنِ اللَّهِ
Maka mereka pun menang atas izin Allah.
(فَهَزَمُوهُمْ بِإِذْنِ اللَّهِ)
Lafazh hazamu (هَزَمُو) adalah fi’il madhi, dimana pelakunya banyak, yaitu pasukan Thalut. Asalnya dalam bentuk asli adalah (هَزَمَ - يَهْزِمُ), seara umumnya diterjemahkan menjadi : “mengalahkan”. Sebenarnya makna aslinya secara bahasa adalah al-kasr (لكسر) yaitu pecah atau hancur, seperti batu yang hancur atau tulang yang hancur. Sufyan bin Uyainah menyebut sumur zamzam dengan hazmatu jibril (هَزْمَةُ جبريل) yang maknanya dihancurkan (diinjak) oleh Jibril sehingga airnya lancar mengalir keluar.
Sehingga tidak keliru kalau diterjemahkan menjadi : “Maka pasukan Thalut pun berhasil menghancurkan bala tentara Jalut”.
Dhamir hum (هُمْ) yang menempel pada fi’il madhi itu adalah objek atau maf’ul bihi, artinya mereka, yaitu pasukan Jalut.
Lafazh bi-idznillah (بِإِذْنِ اللَّهِ) artinya : atas izin Allah. Maksudnya bahwa kemenangan mereka itu sebenarnya mustahil dan diluar logika peperangan manapun. Namun karena atas izin Allah, segala yang mustahil bisa saja menjadi kenyataan.
Tentang bagaimana bisa berhasil memenangkan perang dengan jumlah perbandingan pasukan yang sangat tidak seimbang itu, tentu itu urusan Allah SWT. Orang bilang istilahnya adalah faktor x yang posisinya di luar kuasa manusia.
وَقَتَلَ دَاوُودُ جَالُوتَ
Lafazh qatala (قَتَلَ) artinya membunuh. Maksudnya di dalam perang yang berkecamuk itu Nabi Daud alaihissalam yang masih berusia belia dan sebenarnya bukan termasuk prajurit resmi, ternyata berhasil membunuh pimpinan pasukan perang yang luar biasa kuat, yaitu Jalut. Tentu hal semacam ini tidak disangka-sangka sebelumnya.
Al-Qurthubi menuliskan bahwa yang sebenarnya menjadi bagian dari pasukan adalah 7 orang kakak Nabi Daud. Beliau delapan bersaudara dan menjadi anak paling kecil. Dan karena masih kecil, maka tidak diikutkan dalam peperangan melawan Jalut.
Ketika mendengar berita bahwa perang berkecamuk, Daud mendapat ide untuk ikut mendatangi lokasi perang dengan niat hanya ingin menonton jalannya adu fisik. Ada riwayat lain yang menyebutkan bahwa ayahnya Nabi Daud yaitu Isya memerintahkannya pergi melihat situasi, karena sudah lama sekali tidak mendengar kabar anak-anaknya.
Di tengah jalan, atas izin Allah, ada batu yang bisa berbicara kepada Nabi Daud.
يَا دَاوُدُ خُذْنِي فَبِي تَقْتُلُ جَالُوتَ
Wahai Daud, ambillah aku. Dengan Aku ini kamu bisa membunuh Jalut.
Ternyata yang bisa berbicara bukan hanya satu batu itu saja, ada dua batu lagi yang juga meminta agar dipungut untuk dijadikan senjata pembunuh Jalut. Maka tiga batu itu dipungut dan dibawa oleh Daud ke medan laga.
Di lokasi perang, Jalut keluar dari barisannya untuk menantang tentara Bani Israel untuk duel satu lawan satu, sebagaimana yang kita kenal dengan istilah mubarazah. Namun tidak ada satu pun dari pasukan Thalut yang berani menjawab tantangannya. Karena tidak ada yang menjawab, maka Raja Thalut pun berinisiatif untuk membuka sayembara dengan hadiah yang menarik kepada pasukannya. Thalut berkata :
Siapa yang berhasil membunuh Jalut, dia akan mendapatkan setengah dari kerajaanku dan juga akan dinikahkan dengan putri-putriku.
Tentu tawaran ini begitu menggiurkan, namun tetap saja masih banyak yang berhitung, sebab lawannya adalah Jalut, orang yang tidak terkalahkan.
Saat itulah seorang Nabi Daud maju ke depan. Dia hanyalah seorang pemuda yang biasa-biasa saja, bukan prajurit perang pula. Dan dalam kesehariannya dia hanyalah seorang anak gembala yang mengurusi domba-domba. Pekerjaan mengurus ternak dianggap pekerjaan yang paling rendah, karena tidak membutuhkan kemampuan khusus.
Tapi hanya dia satu-satunya yang berani menghadapi tantangan Jalut, sekaligus juga menerima tawaran sayembara dari Thalut. Maka Daud berteriak lantang kepada Thalut, 'Aku akan membunuh Jalut.' Thalut terheran-heran melihat keadaan Daud yang tidak ada tampang sebagai prajurit. Dan diriwayatkan secara perawakan, Daud itu kecil, pendek, kurus dan kurang menarik.
Maka Thalut pun tersenyum sambil melihat Daud lalu bertanya,”Apakah kamu punya pengalaman untuk membunuh?”. Daud menjawab,“Ya, pernah”. Thalut bertanya lagi,”Membunuh siapa?”. Daud menjawab,”Saya pernah membunuh serigala yang menyerang kawanan dombaku. Srigala itu Aku lempari batu sampai lemah dan akhirnya saya penggal kepalanya”.
Thalut berkata,”Tapi serigala adalah musuh yang lemah. Pernahkah kamu menguji dirimu dalam hal lain?'”
Daud menjawab,”Ya, Saya juga pernah membunuh singa yang menyerang domba-domba saya. Saya memukulnya dan Saya tarik kumis dan jenggotnya, sampai saya berhasil merobek-robek mulutnya.”
Thalut berkata,”Baiklah, singa adalah musuh yang lebih kuat. Aku punya tameng yang hanya cocok untuk orang yang mampu membunuh Jalut.”
Bukan hanya tameng yang diberikan oleh Thalut, bahkan Thalut pun memberikan kuda dan senjata miliknya kepada Daud. Daud pun menerimanya, dinaikinya kuda milik Thalut sambil menghunuskan pedang dan tameng lalu melangkah ke arah Jalut.
Namun belum sampai ke tujuan, tiba-tiba Daud turun dari kuda itu, sehingga banyak orang yang mengiranya dia telah ketakutan menghadapi Jalut. Padahal Daud justru melangkah dengan kedua kakinya mendekati posisi Jalut.
Begitu melihat Daud berjalan kaki mendekati dirinya, tertawalah Jalut karena melihat postur Daud yang kecil, pendek dan lugu. Jalut berkata kepadanya,”Kamu anak kecil berani-beraninya melawan saya?”. Daud menjawab,”Ya”. Jalut berkata lagi,”Seperti kamu keluar untuk melawan anjing?”. Daud menjawab,”Ya, tetapi kamu lebih hina daripada anjing”.
Jalut marah dan mengancam,”Hari ini aku akan jadikan bangkai tubuhmu jadi santapan burung-burung pemakan bangkai dan binatang buas”.
Kemudian mereka berdua bersiap-siap untuk berduel. Jalut mendekati Daud dengan maksud mengambilnya dengan lembut, tetapi Daud memasukkan tangannya ke dalam saku mengambil batu yang sudah dibawanya. Daud memasangkan batu itu pada ketapelnya sambil membaca :
بِاسْمِ إِلَهِ إِبْرَاهِيم
Dengan nama Tuhannya Nabi IBrahim
Segera diambilnya batu kedua pada ketapelnya dengan membaca :
بِاسْمِ إِلَهِ إسْحَاق
Dengan nama Tuhannya Nabi Ishaq
Setelah itu diambilnya batu ketiga pada ketapelnya sambil membaca :
بِاسْمِ إِلَهِ يَعْقُوب
Dengan nama Tuhannya Nabi Ya’qub
Ketiga nama nabi itu tidak lain adalah para leluhur Bani Israil, yaitu Nabi Ibrahim, lalu puteranya Nabi Ishaq, lalu puteranya Nabi Ya’qub. Dan Nabi Ya’qub itulah yang bernama : Israil. Sedangkan Nabi Daud sendiri adalah keturunan dari salah satu putera pertama Nabi Ya’qub yaitu Yahudza.
Ketiga batu itu kemudian menjadi satu kekuatan yang saling menguatkan. Bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan ketiga batu itu berubah menjadi satu batu dengan tiga kekuatan.
Alat yang digunakan oleh Daud untuk melempar batu banyak disebut dengan ketapel. Ini adalah terjemahan bebas dari miqla’ (مِقْلَاع). Sebenarnya ini perlu sedikit diluruskan, karena meskipun bisa diterjemahkan sebagai ketapel, sebenarnya bentuknya tidak seperti ketapel yang umumnya kita kenal di negeri kita.
Ketapel yang digunakan oleh Nabi Daud itu sebenarnya lebih tepat disebut slingshot atau lebih dikenal dengan sebutan shepperd sling. Barangkali karena di masa lalu merupakan senjata tradisional anak gembala untuk mengusir srigala. Sayangnya benda semacam itu tidak ada di negeri kita, wajar kaalu juga tidak ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia.
Gambar sebelah kiri itu ketapel yang biasa kita kenal di Indonesia. Sedangkan gambar sebelah kanan adalah slingshot atau shepperd sling. Bentuknya berbeda dengan ketapel kita, semacam tali yang bisa menampung batu.
Cara menggunakannya pun berbeda, caranya yaitu batu itu diputar-putar (swing) dengan cepat berkali-kali hingga sampai pada kecepatan putaran tertentu (rpm), kemudian dilepas ke arah sasaran. Maka batu itu akan meluncur dengan sangat kuat dan kecepatan yang amat tinggi.
Ilustrasinya seperti gambar berikut ini :
Ketiga batu itupun melesat dengan pesatnya, terdengar desingan ketiga batu itu menembus udara, dan mendarat mengenai Jalut di bagian keningnya, atau ada yang bilang matanya, atau setidaknya bagian yang paling lemah dari Jalut.
Karena raja Jalut ini memakai baju besi, maka sukar sekali ditembus badannya dengan batu. Karena itu Dawud dengan kepandaiannya membidik lobang diantara dua matanya sebagai sasarannya, ternyata lemparan beliau tepat mengenai sasaran sehingga raja Jalut rubuh seketika karena dahinya ditembus oleh peluru batu itu.
Maka tubuh Jalut pun limbung sebentar dan sempoyongan, sampai akhirnya tumbang tepat di depan Daud. Kesempatan itu pun tidak disia-siakan sedetik pun, segera Daud mencabut pedangnya dan mengayunkannya tepat di leher Jalut.
Segera darah merah segar Jalut bermuncratan kesana kemari dari urat-urat nadi di leher Jalut. Memang bagian leher adalah titik paling derasnya aliran darah. Bukankah kalau kita menyembelih hewan pun dibagian leher itulah tempatnya?
Ada versi yang lain menyebutkan bahwa batu itu meski kecil dan hanya kerikil, namun sangat keras dan melesat dengan amat sangat cepat dan mendarat tepat di bagian kening Jalut.
Terkena lemparan batu dengan kecepatan tinggi dapat mengakibatkan cedera otak. Bahkan jika kulit atau tengkorak tidak terlihat rusak, tekanan dari lemparan batu dapat memengaruhi otak dan menyebabkan cedera otak traumatis (TBI). Akibatnya sudah bisa dipastikan gegar otak yang akut. Wajar kalau disebutkan Jalut langsung tersungkur begitu terkena batu ketapel Daud.
Saat ambruk itulah kesempatan yang tidak disia-siakan. Segera pedangnya menebas leher Jalut.
Namun bagaimana kita di hari ini bisa memahami bahwa seorang yang disebut-sebut punya fisik yang sangat kuat, bahkan tingginya beberapa meter, kok bisa ambruk hanya terkenal batu ketapel anak tanggung?
Ada beberapa kemungkinan. Boleh jadi kerikil yang dilemparkan oleh Daud mengenai mata atau hidung Jalut. Titik-titik ini sangat sensitif dan mudah terluka, sehingga jika terkena benda keras, dapat menyebabkan pendarahan hebat dan bahkan kematian.
Disebutkan bahwa batu kerikil itu mengenai kening Jalut. Kening adalah bagian kepala yang sangat sensitif, dan jika terkena benda keras, dapat menyebabkan pendarahan hebat dan bahkan patah tulang.
Kemungkinan lain adalah bahwa batu kerikil yang dilemparkan oleh Daud memiliki kecepatan dan kekuatan yang tinggi. Ketapel Daud adalah senjata yang sangat akurat dan dapat melontarkan batu kerikil dengan kecepatan hingga 100 km/jam. Dengan kecepatan dan kekuatan yang tinggi, batu kerikil tersebut dapat menyebabkan kerusakan yang serius pada kepala Jalut, bahkan jika tidak mengenai titik vital.
Kemungkinan lain adalah bahwa Jalut telah kehilangan keseimbangannya saat maju mendekati Daud. Hal ini mungkin disebabkan oleh faktor-faktor seperti kelelahan, kepanikan, atau serangan spiritual dari Allah SWT.
Daud adalah seorang pemuda yang kecil dan lemah. Jalut adalah seorang raksasa yang kuat dan bersenjatakan pedang yang besar. Jika Jalut maju mendekati Daud, ia pasti akan merasa percaya diri dan tidak akan takut. Namun, jika Jalut kehilangan keseimbangannya, ia akan menjadi sasaran yang mudah bagi Daud.
Kemungkinan ini juga didukung oleh fakta bahwa Jalut telah lama menantang umat Bani Israil untuk berperang. Ia mungkin merasa bahwa ia tidak akan pernah dikalahkan, sehingga ia menjadi sombong dan tidak waspada.
Secara keseluruhan, tidak ada penjelasan yang pasti tentang bagaimana Jalut bisa jatuh tersungkur hanya dengan ketapel Daud. Namun, ketiga kemungkinan penjelasan tersebut dapat dianggap masuk akal.
Sosok Nabi Daud
Kisah tentang Nabi Daud alaihissalam ada dalam beberapa versi, yaitu versi Islam dan versi Kristen. Dalam versi Islam, Nabi Daud adalah salah satu nabi yang wajib diimani dan diyakini. Sedangkan dalam versi Kristen, sosok Nabi Daud lebih menonjol sisi kerajaannya. Mereka lebih akrab menyebutnya sebagai King David atau Raja Daud.
Di dalam Al-Quran Allah SWT menyebutkan bahwa Nabi Daud itu adalah seorang yang sangat taat kepada Allah SWT, sebagaimana ayat berikut :
وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ ۚ نِعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ
Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya), (QS. Shad : 30)
Kepada Beliau Allah SWT menurunkan kitab suci yaitu Zabur, sebagaimana firman Allah SWT :
وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا
Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (QS. An-Nisa : 163)
Selain itu Allah SWT juga memberi Daud banyak mukjizat yang unik dan menarik, di antaranya seperti yang disebutkan dalam ayat berikut ini :
وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ
Kami tundukkan bersama Daud gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. (QS. Al-Anbiya : 79)
Di antara salah satu kemampuan yang Allah SWT berikan kepada NAbi Daud adalah bahwa Beliau bisa melunakkan besi.
وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ
Kami telah melunakkan besi untuknya, (QS. Saba : 10)
Dan dengan kemampuannya itu, Nabi Daud alaihissalam menjadi seorang pandai besi yang handal. Salah satu karyanya adalah bisa menciptakan baju besi yang amat berguna untuk digunakan dalam peperangan pada masanya.
وَعَلَّمْنَاهُ صَنْعَةَ لَبُوسٍ لَكُمْ لِتُحْصِنَكُمْ مِنْ بَأْسِكُمْ
Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu. (QS. Al-Anbiya : 80)
Maka wajar kalau disebutkan bahwa Nabi Daud adalah salah satu nabi yang juga seorang raja yang punya kekuatan yang luar biasa, khususnya di bidang teknologi yang modern untuk ukuran zamannya. Allah SWT secara khusus menyebutkan dalam ayat berikut :
وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُودَ ذَا الْأَيْدِ
Sebutlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan. (QS. Shad : 17)
Nabi Daud alaihissalam memang telah diangkat oleh Allah SWT sebagai khalifah, yaitu penguasa atau lebih tepatnya menjadi raja. Khususnya buat Bani Israil namun rupanya kerajaannya mencakup yang lainnya juga.
يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ
Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil. (QS. Shad : 26)
Syariat Nabi Daud Untuk Umat Muhammad SAW
Satu hal yang unik bahwa ada beberapa syariat ibadah yang Allah SWT turunkan kepada Nabi Daud alaihissalam pada masanya dulu, ternyata juga diperintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk menjalankannya juga.
Di antaranya adalah shalat dan puasa, walaupun jatuhnya bukan shalat fardhu melainkan shalat sunnah, begitu juga puasanya bukan puasa fardhu melainkan puasa sunnah. Dasarnya adalah lafazh hadits berikut ini :
أَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلامُ وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ : وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْل وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَيَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا
"Shalat (sunnah) yang paling dicintai oleh Allah adalah shalat (seperti) Nabi Daud as. Dan puasa (sunnah) yang paling dicintai Allah adalah puasa (seperti) Nabi Daud alaihissalam. Beliau tidur separuh malam, lalu shalat 1/3-nya dan tidur 1/6-nya lagi. Beliau puasa sehari dan berbuka sehari." (HR. Bukhari)
صُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمًا فَذَلِكَ صِيَامُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلامُ وَهُوَ أَفْضَل الصِّيَامِ
Berpuasa sehari dan berbukalah sehari, itu adalah puasanya Nabi Daud alaihissama yang merupakan puasa paling utama. (HR. Bukhari)
وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ
Lafazh aataahullah (آتَاهُ اللَّهُ) artinya : Allah SWT memberikan kepadanya. Lafazh al-mulka (الْمُلْكَ) artinya kerajaan. Sedangkan al-hikmah (الْحِكْمَةَ) punya banyak makna di dalam Al-Quran, namun khusus untuk ayat ini, al-hikmah yang dimaksud adalah sebagai kenabian.
Dan pemberian seperti ini hampir tidak pernah diberikan kepada hamba-hamba Allah SWT yang lain, bahkan hanya beliau saja seorang yang menjadi raja sekaligus juga menjadi nabi.
Dari sisi kerajaan pun bisa dikatakan Nabi Daud adalah raja pertama di kalangan Bani Israil, yang berhasil mempersatukan seluruh bangsa Yahudi di bawah satu kerajaan yang kuat.
Kerajaan Nabi Daud sendiri dalam sejarah termasuk adalah salah satu kerajaan yang sangat dihormati dalam sejarah Islam. Nabi Daud dianggap sebagai salah satu nabi dan raja terbesar dalam sejarah Islam. Berikut beberapa aspek kebesaran dan kekuatan kerajaan Nabi Daud alaihissalam:
1. Kemahkotaan
Nabi Daud diangkat sebagai raja oleh Allah SWT dan diberi kemahkotaan yang istimewa. Allah memilihnya sebagai raja atas Bani Israel dan memberikan kekuasaan serta hikmah kepadanya.
2. Kebijaksanaan
Salah satu ciri khas Nabi Daud adalah kebijaksanaan dan hikmahnya. Allah memberinya pengetahuan dan kebijakan yang luar biasa, sehingga ia mampu menjalankan pemerintahan dengan adil dan bijaksana.
3. Kemampuan Militer
Nabi Daud juga dikenal sebagai seorang yang sangat berani dan kuat dalam peperangan. Ia memimpin pasukan Bani Israel dalam pertempuran melawan musuh-musuh mereka, termasuk melawan Jalut (Goliath), yang dikenal sebagai raksasa yang menakutkan.
Dalam pertempuran melawan Jalut, Nabi Daud dengan sejataannya yang sederhana berhasil mengalahkan musuh yang jauh lebih besar dan kuat.
4. Keberhasilan Ekonomi
Nabi Daud juga berhasil mengembangkan perekonomian kerajaannya. Dia memimpin Bani Israel dalam mengelola sumber daya alam dan pertanian, sehingga menciptakan kemakmuran bagi rakyatnya.
5. Kekuatan Spiritual
Selain keberhasilan dunia, Nabi Daud juga dikenal karena kekuatan spiritualnya. Dia adalah seorang penyair yang mengungkapkan cinta dan ketundukan kepada Allah melalui Mazmur (Zabur), yang dikenal sebagai kitab suci dalam tradisi Yahudi dan Kristen.
6. Keadilan
Nabi Daud adalah sosok yang sangat adil. Dia dikenal karena mendengarkan keluhan rakyatnya dan menjalankan keadilan dengan tegas. Kisah tentang keadilannya terkenal dalam kisah Nabi Daud dan dua orang pembaca yang datang padanya.
Kerajaan Nabi Daud adalah salah satu kerajaan yang menjadi contoh dalam sejarah Islam tentang bagaimana seorang pemimpin harus berperilaku dengan keadilan, kebijaksanaan, dan iman kepada Allah. Keberhasilan Nabi Daud dalam berbagai aspek kehidupan memperlihatkan bahwa keberhasilan dunia dan kesalehan spiritual dapat bersatu dalam pemerintahan yang adil dan bijaksana.
Antara Daud dan Thalut
Kisah yang lebih sering kita dengar sejak kecil adalah kepahlawanan Daud yang mampu mengalahkan Jalut. Namun kisah tentang bagaimana hubungan antara Daud dan Thalut sendiri nyaris kurang mendapatkan perhatian. Padahal di banyak kitab tafsir termuat kisah selanjutnya yang justru malah jadi prahara dan tidak enak didengar.
Disebutkan bahwa pada awalnya Thalut sangat bangga karena bisa mengalahkan pasukan Jalut. Namun kemudian agak menyesal, karena terlanjur menjanjikan bahwa siapa yang bisa mengalahkan Jalut maka akan dinikahkan dengan puterinya serta akan diberikan separuh dari kerajaannya.
Disitulah akhirnya Thalut jadi ingkar janji. Dari yang awalnya berjanji, kemudian dia menjilat lagi ludahnya sendiri. Puterinya memang dinikahkan dengan Daud, tapi kalau urusan berbagi kerajaan, ternyata Thalut tidak mau menyerahkan. Yang dilakukan justru bikin rencana untuk membunuh Daud. Thalut merasa kalah pamor dari Daud, karena memang semua orang mengelu-elukannya.
Rencana Thalut mau membunuh menantunya sendiri akhirnya terdengar juga oleh puterinya yang sudah jadi istri Daud. Maka dia sampaikan rencana jahat ayahnya itu kepada suaminya. Daudpun membuat strategi tersendiri.
Kemudian Daud bersembunyi di bawah tempat tidur dan mengintip. Di tengah malam, Thalut datang dan bertanya kepada puterinya, "Di mana suamimu?"
Sang istri menjawab, "Dia sedang tidur di tempat tidurnya." Lalu, dia mengayunkan pedangnya dan menghantam cawan anggur yang ada di tempat tidur Daud. Ketika dia melihat bau anggur yang tumpah, Thalut berkata, "Semoga Allah merahmati Daud, dia telah minum banyak anggur," dan dia pergi. Ketika pagi tiba, Talut menyadari bahwa dia tidak melakukan apapun terhadap Daud.
Thalut berkata, "Seorang pria datang kepada saya dan meminta agar saya tidak membiarkannya selama dia membalaskan dendamnya. Dia menegaskan perlindungannya dengan berbagai cara dan menutup pintunya."
Kemudian, Daud pergi pada malam berikutnya, ketika matahari terbenam dan pintu-pintu telah ditutup, dan bersembunyi di dekat tempat tidur Talut. Dia meletakkan anak panah di sekitar tempat tidur Thalut: satu di sebelah kepala, satu di sebelah kaki, satu di samping kanan, dan satu di samping kiri. Kemudian Daud keluar. Ketika Thalut terbangun di pagi hari, dia melihat anak panah-panah tersebut dan berkata, "Semoga Allah merahmati Daud; dia lebih baik dariku. Dia berhasil mendapatkan anak panah-panah ini dan berlindung dariku. Jika dia benar-benar ingin membunuhku, dia bisa meletakkan anak panah ini di tenggorokanku. Saya tidak akan merasa aman."
Pada pertemuan berikutnya, Daud datang dan Thalut tidak bisa membunuhnya. Namun, Allah mengangkat tabir yang menyelimutinya dan membiarkan Daud masuk ke gua tempat Thalut bersembunyi. Ketika Thalut melihat Daud dalam gua, dia berkata, "Di mana istrimu?"
Daud menjawab, "Dia sedang tidur di tempat tidur kami."
Thalut bertanya, "Apakah engkau mau membunuhku?"
Daud menjawab, "Saya tidak akan membunuh Anda. Saya hanya ingin tahu apakah Anda tahu di mana saya bisa meminta pengampunan."
Wanita itu, yang tahu nama Allah yang paling agung, berbicara dan berkata, "Tidak ada yang dapat memberi tahu Anda tentang pengampunan, tetapi apakah Anda tahu di mana kuburan nabi?"
Daud pergi bersamanya ke kuburan Samuel, dan dia berdoa dan berdoa. Setelah itu, dia menangis dan memohon ampunan. Ketika Allah menerima tobatnya, Thalut merasa menyesal atas niat jahatnya.
Setiap malam, Talut pergi ke makam-makam dan menangis sambil berteriak, "Aku bersumpah demi Allah, hamba Allah, aku tahu bahwa aku bisa mendapatkan ampunan. Tolong, beritahu aku."
Suatu malam, seseorang yang telah meninggal memberikan jawaban kepada Thalut. Daud memohon ampunan dan mengampuni Talut.
Thalut merasa sangat menyesal atas apa yang akan dia lakukan terhadap Daud dan meratapinya. Akhirnya, mereka semua menerima Daud sebagai raja mereka, dan dia memerintah selama empat puluh tahun. Setelah kemenangan Daud atas Jalut, pemimpin dan nabi besar orang Israel.
وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ
Lafazh ‘allamahu (عَلَّمَهُ) artinya : Dan Allah mengajarkannya, atau memberinya ilmu. Lafazh mimma yasya’ (مِمَّا يَشَاءُ) artinya apa saja yang Allah SWT kehendaki. Boleh jadi penggalan ini membuktikan bahwa Nabi Daud alaihissalam punya banyak kemampuan dalam mempelajari suatu ilmu. Orang sekarang mengatakan dia seorang yang multi-talenta sekaligus seorang pembelajar yang cepat alias fast learner.
Dalam catatan Penulis, Nabi Daud selain seorang yang ahli ibadah, dikenal dengan shalat malamnya serta puasanya yang berselang-seling setiap hari, Beliau juga seorang raja dan hakim yang sangat adil.
Di samping itu Beliau dikaruniai kemampun untuk melunakkan besi. Boleh jadi ini bahasa kiasan, karena sifat besi itu tidak lunak. Namun beliau seorang pandai besi yang berpengalaman, sehingga mampu membuat berbagai macam perkakas untuk menopang kehidupan, termasuk juga pandai membuat senjata serta alat-alat kebutuhan dalam peperangan.
Riwayat yang lain menyebutkan bahwa Nabi Daud juga seorang seniman, beliau banyak menggubah puisi dan syair serta bersuara merdu ketika melantunkan kitab suci Zabur yang Allah SWT turunkan kepadanya.
Mufasir lain menyebutkan bahwa Nabi Daud juga diberikan pemahaman khusus tentang tumbuh-tumbuhan dan tumbuhan obat-obatan. Ini membantu dia dalam pengobatan dan perawatan kesehatan.
Dan yang paling unik ternyata Beliau juga diberikan kemampuan untuk memahami bahasa burung. Ini memungkinkannya untuk mendengarkan percakapan burung-burung dan mendapatkan petunjuk atau informasi dari mereka. Dan kalau kita temukan kisah Nabi Sulaiman bisa berbicara dengan burung Hud-hud, sangat boleh jadi kemampuan itu diturunkan dari sang ayah yaitu Nabi Daud alaihissalam.
Penggambaran Sosok Daud Versi Luar Islam
Nabi Daud adalah tokoh agama yang sangat dihormati dalam agama-agama Abrahamik, termasuk Islam, Kristen, dan Yudaisme. Beliau dikenal sebagai raja yang bijaksana, penyair, dan pahlawan dalam banyak narasi agama ini.
Namun dalam beberapa cerita di luar tradisi Islam, ada beberapa versi yang menggambarkan keburukannya. Penting untuk dicatat bahwa pandangan ini mungkin berasal dari tradisi atau cerita populer dan tidak mencerminkan pandangan resmi dari agama yang menghormatinya.
Beberapa versi yang kurang menguntungkan tentang Nabi Daud melibatkan:
1. Kasus dengan Batsyeba: Cerita tentang Nabi Daud yang berdosa dengan Batsyeba, istri Uria Hethit, adalah salah satu yang paling terkenal. Dalam cerita ini, Nabi Daud jatuh cinta kepada Batsyeba dan melakukan perselingkuhan dengannya, yang mengarah pada kehamilan Batsyeba. Nabi Daud kemudian merencanakan kematian Uria dalam pertempuran untuk menghilangkan jejak dosanya. Kehadiran kisah ini telah dianggap sebagai contoh kelemahan moral Nabi Daud.
2. Pemusnahan keluarga Nabal: Dalam salah satu cerita dalam Perjanjian Lama, Nabi Daud meminta bantuan dari seorang kaya bernama Nabal. Ketika permintaannya ditolak, Nabi Daud mengancam untuk memusnahkan seluruh keluarga Nabal sebagai balasan. Meskipun akhirnya dia dihentikan oleh Abigail, istri Nabal, tindakan ancaman tersebut bisa dianggap sebagai tindakan kejam.
Penting untuk diingat bahwa banyak cerita di dalam Perjanjian Lama juga mencatat tindakan penyesalan dan tobat Nabi Daud atas perbuatannya yang buruk. Dalam tradisi agama Abrahamik, Nabi Daud dikenang sebagai seorang yang mengakui dosanya, bertobat kepada Allah, dan menerima pengampunan-Nya.
Namun, persepsi tentang Nabi Daud dapat berbeda-beda tergantung pada tradisi keagamaan dan interpretasi budaya yang digunakan. Beberapa versi di luar Islam mungkin lebih vokal tentang sisi buruk dari cerita-cerita ini daripada tradisi Islam yang lebih berfokus pada pengampunan dan tobat Nabi Daud.
Sedangkan buat kita kaum muslimin, kita meyakini bahwa para nabi itu ma’shum, yaitu dilindungi oleh Allah SWT dari melakukan kemaksiatan atau hal-hal yang dilarang syariat. Maka kalau digambarkan bahwa Nabi Daud itu melakukan kejahatan, sikap kita tegas yaitu menolak tuduhan keji seperti itu dan membersihkan nama baik seorang nabi.
Walaupun kita sudah punya nabi sendiri, yaitu Nabi Muhammad SAW, namun hati kita tidak terima kalau ada orang yang menghina dan membunuh karakter sosok para nabi mulia utusan Allah.
وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ
Seandainya Allah tidak menolak keganasan sebagian manusia dengan sebagian yang lain, rusaklah bumi ini.
Dan seandainya Allah tidak menolak orang-orang jahat dan zalim dengan orang-orang yang berbuat kebajikan niscaya kejahatan itu akan tambah merajalela dan menghancurkan orang-orang yang baik. Tetapi Allah sengaja mengatur benteng-benteng pertahanan itu karena Allah mempunyai karunia yang dianugerahkan kepada semesta.
Prof. Dr. Quraish Shihab menuliskan tentang tafsir penggalan ini sebagai berikut :
Jika demikian, orang-orang yang beriman harus selalu tampil menghadapi para perusak. Hidup adalah pertarungan antara kebenaran dan kebatilan, dan bila tidak ada yang tampil menghadapi kebatilan dan menghentikan kezaliman, bumi tempat tinggal manusia akan diliputi oleh kekejaman dan penganiayaan. Ini karena bila kezaliman tidak dihadapi, ia akan meningkat dan meningkat sehingga pada akhirnya dunia ini binasa.[1]
[1] Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Quran (Tangerang, PT. Lentera Hati, 2017), jilid 1 hal. 650
وَلَٰكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ
Akan tetapi Allah mempunyai karunia yang dilimpahkan-Nya atas seluruh alam.
Dan karunia itu adalah setiap ada penguasa yang zalim, Allah SWT datangkan lawannya yang setimpal, sehingga keadaan menjadi berimbang.
SOAL LATIHAN