Lafazh tilka (تِلْكَ) artinya itu atau itulah. Sebuah kata tunjuk untuk munattats, karena memang yang ditunjuk atau diarahkan bderupa ayat-ayat yang statusnya muannats. Dan ayat-ayat yang dimaksud adalah ayat-ayat yang sudah diturunkan sebelumnya.
Sebenarnya kata ayat di dalam Al-Quran punya banyak makna, namun yang dimaksud dengan ayat di penggalan ini tidak lain maksudnya adalah kalamullah alias perkataan atau firman Allah SWT, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW di abad ke-7 masehi.
Namun ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat adalah mukjizat atau keunikan-keunikan yang diceritakan di dalam ayat-ayat tersebut. Memang ayat-ayat tersebut isinya banyak menceritakan kisah yang terjadi pada abad ke-10 sebelum masehi, yaitu kisah bagaimaan akhirnay Bani Israil bisa memiliki kerajaan yang besar dan kuat.
Kalau kita evaluasi kembali ayat-ayat yang sudah berlalu, maka ringkasannya sebagai berikut :
§ Allah menghidupkan orang mati : rangkaian ayat-ayat yang dimaksud dimulai sejak ayat ke-243, yaitu ketika Allah SWT menceritakan kisah orang-orang yang dimatikan secara bersama-sama, lalu Allah SWT hidupkan kembali.
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ اللَّهُ مُوتُوا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ
§ Dipilihnya Thalut Menjadi Raja : Ayat lainnya adalah bagaimana Allah SWT memilih Thalut menjadi raja di tengah Bani Israil, padahal ia sebelumnya dia hanyalah seorang pemabuk atau penyamak kulit hewan, bukan dari kalangan pemimpin kerajaan.
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا
§ Thalut Menguji Kesabaran Tentaranya
Ada juga episode dimana Thalut menguji kesabaran tentaranya dengan cara dilarang minum air dari sungai, padahal mereka dalam keadaan kehausan. Yang lulus hanya sedikit.
فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُمْ بِنَهَرٍ
§ Pasukan Thalut Menang & Daud Membunuh Jalut
Allah SWT memberikan kemenangan kepada Bani Israil di bawah kepemimpinan Thalut. Padahal secara hitung-hitungan kekuatan, pasukannya kalah jauh dari segi jumlah dibandingkan pasukan Jalut.
Namun demikian, Jalut bisa dibunuh oleh seorang anak gembala bernama Daud, yang kemudian merontokkan kekuatan seluruh pasukan.
فَهَزَمُوهُمْ بِإِذْنِ اللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُودُ جَالُوتَ
§ Daud Menjadi Raja dan Nabi
Akhirnya Allah SWT mengangkat Nabi Daud alaihissalam menjadi raja sekaligus juga menjadi nabi utusan-Nya
وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ
Boleh jadi bangsa Arab sendiri malah tidak mengerti kisah-kisah tersebut, karena mereka memang bukan termasuk Bani Israil. Namun dengan dimasukkannya kisah-kisah Bani Israil ke dalam Al-Quran, kisah mereka jadi jadi dikenal bukan hanya oleh bangsa Arab, tetapi oleh semua bangsa di dunia, hingga berabad-abad kemudian. Seolah kisah-kisah Bani Israil itu menjadi kisah yang abadi, karena diabadikan di dalam Al-Quran yang mulia.
Semua kisah itu Allah SWT bacakan dengan benar, yaitu tidak dibelokkan atau selewengkan. Berbeda dengan kisah yang diriwayatkan oleh Bani Israil sendiri yang terkadang banyak bermasalah dari segi periwayatannya. Sedangkan yang diceritakan di Al-Quran, meski tidak terlalu detail namun kebenarannya dipastikan valid 100 persen.
Tentang kisah-kisah yang diriwayatkan oleh Bani Israil atas kisah-kisah yang terjadi pada leluhur mereka, sering disebut dengan istilah : tafsir israiliyat. Kisah-kisah ini bersumber dari literatur ahli kitab, kebanyakan dari orang-orang Yahudi atau orang Islam yang sebelumnya memeluk agama Yahudi.
Meskipun tidak semua kisah israiliyat salah, kita perlu memeriksa apakah kisah tersebut bertentangan dengan Al-Quran atau hadits Nabi Muhammad SAW. Jika bertentangan, maka kisah israiliyat tersebut tidak bisa diterima. Kita juga perlu memperhatikan aspek aqidah dalam menilai kebenaran kisah israiliyat.
Jika kisah tersebut bertentangan dengan aqidah Islam, maka kisah tersebut bohong dan tidak bisa diterima. Kita juga perlu memahami bahwa ada perbedaan dalam kitab-kitab tafsir yang mencantumkan keterangan dari sumber-sumber ahli kitab.
Beberapa kitab tafsir hanya menghimpun data tanpa membedakan mana yang benar dan mana yang mitos, sementara kitab tafsir yang lebih maju telah melakukan penelitian dan memilah kisah-kisah yang sesuai dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, kita perlu berhati-hati dan memilih tafsir israiliyat yang telah dikaji dan diteliti ulang.
Beberapa ulama membolehkan meriwayatkan kisah israiliyat untuk tujuan istisyhad, sementara yang lain membagi israiliyat menjadi tiga bagian: yang boleh diriwayatkan, yang harus ditolak, dan yang tidak perlu dibenarkan atau didustakan.
Di sisi lain ada juga ulama yang membolehkan cerita israiliyat dalam tafsir Al-Quran selama tidak bertentangan dengan nash. Namun, israiliyat dapat menghalangi umat Islam dalam menemukan petunjuk Al-Quran. Oleh karena itu, kita perlu bijak dalam memahami dan menggunakan tafsir israiliyat.