Rumah Fiqih Indonesia
Al-Baqarah 2 : 263
Tafsir Al-Mahfuzh Jilid 5 Juz 3 [2] Al-Baqarah : 263 (قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا)
[2] AL-BAQARAH : 263

قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى ۗ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ

Kemenag RI 2019

Perkataan yang baik dan pemberian maaf itu lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.

Prof. Quraish Shihab

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya, lagi Maha Penyantun.

Prof. HAMKA

Suatu kata-kata yang patut dan menutup ( rahasia) lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan menyakiti; dan Allah adalah Mahakaya, lagi Mahasabar.

TAFSIR AL-MAHFUZH

Lihat Referensi Kitab →
...

Ayat ke-263 ini masih terkait erat dengan ayat sebelumnya yaitu ayat ke-262. Hubungannya adalah kebalikan dari ayat sebelumnya.

Kalau di ayat sebelumnya Allah SWT menegur mereka yang bersedekah namun diiringi dengan sikap mengungkit-ungkit pemberian serta tindakan menyakiti pihak yang diberi sedekah, maka di ayat ke-263 ini dibandingkan dengan sikap dan tindakan yang seharusnya dilakukan, yaitu meski hanya sekedar perkataan, tetapi harus perkataan yang baik serta pemberian maaf lebih baik untuk dikerjakan.

خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى

Lafazh khairun (خَيْرٌ) artinya : lebih baik, sedangkan lafazh min shadaqatin (صَدَقَةٍ) artinya : dari pada sedekah. Sedangkan lafazh yatba’uha  (يَتْبَعُهَا) artinya mengikuti atau mengiringi. Sedangkan makna adza (أَذًى) menyakiti perasaan yang menerima.

وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ

Lafazh ghani (غنيّ) berarti kaya atau mampu. Dalam konteks Allah SAW artinya bahwa Dia tidak membutuhkan apa pun dari makhluk-Nya. Karena segala sesuatu adalah milik-Nya.

Sedangkan lafazh halim (حليم) berebeda-beda para ulama dalam menerjemahkannya. Kemenag RI dan Quraish Shihab  menerjemahkannya menjadi Maha Penyantun, sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi Tuhan yang sabar, karena tidak tergesa-gesa ketika menghukum makhluk-Nya yang berdosa. Dia memberi mereka kesempatan untuk bertobat dan kembali kepada-Nya.

Ayat ini mengandung dua makna penting, yaitu:

Pertama : makna keimanan, yaitu ayat ini mengingatkan kita bahwa Allah adalah Dzat yang Mahakaya dan Maha Penyantun. Dia tidak membutuhkan apa pun dari makhluk-Nya. Dia selalu sabar dalam menghukum mereka yang berdosa.

Kedua : makna akhlak, bahwa ayat ini juga mengajarkan kita untuk menjadi orang yang kaya hati dan penyayang. Kita tidak boleh sombong atau angkuh karena harta yang kita miliki. Kita juga harus sabar dan pemaaf terhadap orang lain, terutama orang yang bersalah kepada kita.

Contoh penerapannya bahwa kita tidak boleh sombong karena harta yang kita miliki. Kita harus ingat bahwa harta tersebut adalah titipan dari Allah, dan kita harus menggunakannya dengan sebaik-baiknya.

Di sisi lain kita juga harus sabar dan pemaaf terhadap orang lain, terutama orang yang bersalah kepada kita. Kita harus ingat bahwa Allah juga Maha Penyantun, dan Dia selalu memberi kesempatan kepada orang lain untuk bertobat.

SOAL LATIHAN
  1. Jelaskan hubungan antara ayat ke-263 dengan ayat sebelumnya (ayat ke-262) dan bagaimana kebalikannya tercermin dalam konteks sedekah!
  2. Apa yang dimaksud dengan "qaulun ma'rufun" dalam ayat ke-263, dan mengapa perkataan yang baik menjadi penting dalam konteks sedekah?
  3. Bagaimana beberapa ulama memahami dan menjelaskan makna dari "maghfirah" (ampunan) dalam konteks ayat ke-263?
  4. Jelaskan penafsiran yang diberikan oleh Al-Mawardi mengenai "maghfirah" dan bagaimana hal tersebut berkaitan dengan memberi sedekah!
  5. Apa pesan moral atau ajaran yang dapat diambil dari ayat ke-263, terutama dalam hal sikap terhadap kekayaan, memberi sedekah, dan sifat Allah yang kaya dan penyantun?
🔐 Login Admin