Ayat ke-263 ini masih terkait erat dengan ayat sebelumnya yaitu ayat ke-262. Hubungannya adalah kebalikan dari ayat sebelumnya.
Kalau di ayat sebelumnya Allah SWT menegur mereka yang bersedekah namun diiringi dengan sikap mengungkit-ungkit pemberian serta tindakan menyakiti pihak yang diberi sedekah, maka di ayat ke-263 ini dibandingkan dengan sikap dan tindakan yang seharusnya dilakukan, yaitu meski hanya sekedar perkataan, tetapi harus perkataan yang baik serta pemberian maaf lebih baik untuk dikerjakan.
Lafazh khairun (خَيْرٌ) artinya : lebih baik, sedangkan lafazh min shadaqatin (صَدَقَةٍ) artinya : dari pada sedekah. Sedangkan lafazh yatba’uha (يَتْبَعُهَا) artinya mengikuti atau mengiringi. Sedangkan makna adza (أَذًى) menyakiti perasaan yang menerima.
Lafazh ghani (غنيّ) berarti kaya atau mampu. Dalam konteks Allah SAW artinya bahwa Dia tidak membutuhkan apa pun dari makhluk-Nya. Karena segala sesuatu adalah milik-Nya.
Sedangkan lafazh halim (حليم) berebeda-beda para ulama dalam menerjemahkannya. Kemenag RI dan Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi Maha Penyantun, sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi Tuhan yang sabar, karena tidak tergesa-gesa ketika menghukum makhluk-Nya yang berdosa. Dia memberi mereka kesempatan untuk bertobat dan kembali kepada-Nya.
Ayat ini mengandung dua makna penting, yaitu:
Pertama : makna keimanan, yaitu ayat ini mengingatkan kita bahwa Allah adalah Dzat yang Mahakaya dan Maha Penyantun. Dia tidak membutuhkan apa pun dari makhluk-Nya. Dia selalu sabar dalam menghukum mereka yang berdosa.
Kedua : makna akhlak, bahwa ayat ini juga mengajarkan kita untuk menjadi orang yang kaya hati dan penyayang. Kita tidak boleh sombong atau angkuh karena harta yang kita miliki. Kita juga harus sabar dan pemaaf terhadap orang lain, terutama orang yang bersalah kepada kita.
Contoh penerapannya bahwa kita tidak boleh sombong karena harta yang kita miliki. Kita harus ingat bahwa harta tersebut adalah titipan dari Allah, dan kita harus menggunakannya dengan sebaik-baiknya.
Di sisi lain kita juga harus sabar dan pemaaf terhadap orang lain, terutama orang yang bersalah kepada kita. Kita harus ingat bahwa Allah juga Maha Penyantun, dan Dia selalu memberi kesempatan kepada orang lain untuk bertobat.