Kemenag RI 2019:Kebaikan apa pun yang mereka kerjakan, mereka tidak akan dihalangi dari (pahala)-nya. Allah Maha Mengetahui orang-orang bertakwa. Prof. Quraish Shihab:
Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dikufuri (senantiasa disyukuri dan diberi ganjaran); dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa
Prof. HAMKA:
Kebaikan apa pun yang mereka kerjakan, sekali-kali tidaklah akan dihilangkan pahalanya dari mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.
Ayat ke-115 dari surat Ali Imran ini masih sambungan dari ayat-ayat sebelumnya, yaitu masih membicarakan karakteristik orang yahudi di masa nabi yang termasuk orang yang beriman dan shalih.
Dikatakan bahwa apapun kebaikan yang mereka lakukan, maka tidak diingkari dalam arti mendapatkan pahala dan balasan dari Allah SWT. Ini sebagai pertanda bahwa mereka itu pada hakikatnya mereka adalah orang muslim, sebab amal-amal mereka diterima oleh Allah SWT. Sedangkan ciri orang kafir itu adalah bahwa amal-amal mereka tidak diterima oleh Allah SWT.
Mereka itu adalah orang-orang yang bertaqwa di sisi Allah SWT. Boleh jadi tidak ada yang menganggapnya demikian, tetapi Allah SWT lebih tahu tentang ketaqwaan mereka.
وَمَا يَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ
Makna wa ma yaf’alu (وَمَا يَفْعَلُوا) adalah apapun yang mereka kerjakan, sedangkan makna min khairin (مِنْ خَيْر) adalah dari berbagai macam kebaikan.
Amal khair itu bisa saja termasuk di dalamnya ritual peribadatan, seperti shalat, puasa, dan dzikir mengingat Allah. Dan kita tahu bahwa Allah SWT telah memerintahkan banyak jenis ibadah kepada mereka, yang mana secara umum, beban mereka malah jauh lebih banyak dan lebih berat.
Sedangkan amal-amal khair itu bisa juga termasuk kerja-kerja di luar peribadatan, namun termasuk amal khair, seperti membantu fakir miskin, menolong orang yang sakit, melindungi anak yatim, termasuk juga berbuat baik kepada mereka yang lemah.
فَلَنْ يُكْفَرُوهُ
Kata fa-lan (فَلَنْ) artinya : maka tidak. Adapun kata yukfaruhu (يُكْفَرُوهُ) maknanya : dikafirkan.
Namun tentu saja bukan itu makna yang diinginkan, tetapi justru makna asli secara bahasa adalah as-satru (السَّتْرُ) yaitu : penutupan. Dalam bahasa Arab, kain yang menutupi disebut dengan sitar (السِّتَار) atau satir (السَّاتر).
Maksudnya meskipun mereka ahli kitab, termasuk berdarah Yahudi, namun karena mereka masuk Islam, termasuk kelompok yang beriman kepada Allah, hari akhir, beramar makruf nahyi munkar dan berlomba-lomba dalam kebaikan, maka semua amal mereka itu tidak tertutup. Maksudnya amal mereka itu berbuah pahala di sisi Allah, yang akan mereka rasakan nanti di akhirat yaitu di dalam surga-Nya.
Dan ini merupakan kebalikan dari orang-orang Yahudi ahli kitab yang tidak beriman kepada Nabi Muhammad SAW, mereka itu digolongkan sebagai orang kafir, dimana amal-amal mereka tidak diterima oleh Allah SWT, sebagaimana firman-Nya :
Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. (QS. An-Nur : 39)
وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالْمُتَّقِينَ
Kata wallahu alimun (وَاللَّهُ عَلِيمٌ) artinya : dan Allah Maha Mengetahui, sedangkan makna bil-muttaqin (بِالْمُتَّقِينَ) artinya : dengan orang-orang yang bertaqwa.
Boleh jadi orang-orang Yahudi itu kala itu tidak dianggap sebagai orang yang bertaqwa dalam pandangan manusia, khususnya oleh sesama orang Yahudi yang tidak beriman kepada Allah SWT.
Namun di sisi Allah SWT, ternyata mereka justru orang-orang yang bertaqwa. Maka disebutlah bahwa Allah SWT lebih tahu tentang mereka dalam hal ketaqwaan.