Kemenag RI 2019:Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya, mereka itu hidup dan dianugerahi rezeki di sisi Tuhannya. ) Prof. Quraish Shihab:
Janganlah sekali-kali engkau (siapapun engkau) mengira (bahwa) orang-orang yang gugur di jalan Allah adalah orang-orang mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhan Pemelihara mereka dengan dianugerahi rezeki
Prof. HAMKA:
Sekali-kali janganlah engkau mengira bahwa orang-orang yang terbunuh pada jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup. Di sisi Tuhan, mereka diberi rezeki.
Ayat ke-169 oleh para ulama dikatakan sebagai jawaban atas cemooh kalangan munafikin Madinah atas korban-korban yang gugur sebagai syuhada’ dalam Perang Uhud. Para munafikin itu menuduh bahwa mereka mati sia-sia dan mati konyol, karena terlalu ceroboh dalam berperang. Maka Allah SWT membela kedudukan para korban yang gugur dengan disebutkan mereka itu tidak mati, tetapi semua masih hidup di sisi Allah.
Sebenarnya ungkapan seperti ini juga pernah disampaikan sebelumnya dalam surat Al-Baqarah ayat 154.
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS. Al-Baqarah : 154)
Maka boleh dibilang ayat 154 surat Al-Baqarah ini merupakan kembaran dari ayat ke-168 surat Ali Imrah yang sedang kita bahas ini. Hanya bedanya, kalau yang Al-Baqarah terkait dengan korban di Perang Badar, sedangkan ayat ini terkait korban pada Perang Uhud.
Al-Qurtubi dalam tafsir Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran[1] meriwayatkan perkataan Ibnu Abbas terkait dengan mereka yang mati di jalan itu ternyata hidup di sisi Allah. Dari Ibnu Abbas berkata, bahwa Nabi SAW bersabda,"Ketika saudara-saudaramu terbunuh di Uhud, Allah menempatkan roh-roh mereka di dalam burung-burung hijau yang berkeliling di sungai-sungai surga, memakan buah-buahannya, dan berlindung di lentera-lentera emas yang tergantung di bawah naungan Arasy. Ketika mereka merasakan nikmatnya makanan, minuman, dan tempat tinggal mereka, mereka berkata, 'Siapa yang akan menyampaikan kepada saudara-saudara kami bahwa kami hidup di surga dan diberikan rezeki agar mereka tidak malas dalam jihad dan tidak mundur dalam peperangan?' Maka Allah berfirman, 'Aku akan menyampaikan untuk kalian.' Maka Allah menurunkan ayat, 'Dan janganlah kamu mengira orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati; tetapi mereka hidup (di sisi Tuhannya) dengan mendapat rezeki.' sampai akhir ayat."
[1] Al-Qurthubi (w. 681 H), Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M)
Lafazh wa la (وَلَا) artinya : dan janganlah. Kata tahsaban-na (تَحْسَبَنَّ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari, yang dibagian akhirnya ketambahan huruf nun, berfungsi memberikan penekanan. Sehingga maknanya menurut Kemenag RI menjadi : “Jangan sekali-kali kamu mengira”. Sedangkan terjemahan Prof. Quraish Shihab adalah,”Janganlah sekali-kali engkau (siapapun engkau) mengira”. Adapun terjemahan Buya HAMKA adalah :”Sekali-kali janganlah engkau mengira”.
Kata alladzina (الَّذِينَ) artinya : mereka orang-orang yang. Lafazh qutilu (قُتِلُوا) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il madhi mabni majhul, artinya : mereka terbunuh. Kata fi sabilillah (فِي سَبِيلِ اللَّهِ) artinya : di jalan Allah. Kata amwata (أَمْوَاتًا) adalah bentuk jamak dari bentuk tunggalnya mauta (مَوْتاً) artinya : orang-orang mati.
Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[1] menuliskan bahwa ungkapan ini boleh jadi bersifat majazi namun juga bisa bersifat hakiki. Dikatakan majazi, karena secara teknis, mereka yang mati syahid itu memang mati dalam arti secara bilogis, mereka tidak bernafas, tidak makan minum, tidak bisa berbicara, diam terbujur, bahkan jasad mereka dishalatkan dikuburkan.
Adapun yang dibilang hidup tidak lain adalah ruh atau jiwa mereka yang berada di sisi Allah SWT. Dalam hal ini dikatakan bahwa kematian agar peristiwa terpisahnya roh dari tubuh biologis...
Lafazh bal (بَلْ) artinya : akan tetapi. Kata ahya’un (أَحْيَاءٌ) adalah bentuk jamak dari bentuk tunggalnya hayyun (حَيٌّ) yang artinya orang yang hidup. Kata inda (عِنْدَ). rabbihim (رَبِّهِمْ). yurzaqun (يُرْزَقُونَ).
Terkait dengan ungkapan bahwa mereka itu tidak mati tetapi mereka hidup, memang jadi diskusi yang menarik. Kalau dikatakan mereka itu tidak mati tapi hidup di sisi Allah SWT, bukankah maksudnya mereka hidup di alam barzakh? Ataukah mereka belum masuk alam barzakh? Dan apakah itu artinya mereka masih ada di alam dunia ini, namun mungkin di dimensi yang berbeda? Inti pertanyaannya adalah : Apakah mereka yang ‘hidup di sisi Allah’ itu masih ada di dunia ini atau sudah berpindah di alam barzakh?
Nampaknya ada dua pendapat yang berkembang di tengah perdebatan para ulama, rinciannya sebagai berikut :
Pendapat Pertama
Pendapat pertama menyebutkan bahwa mereka tidak mati dan masih berada di alam dunia ini. Namun posisinya bukan di bumi melainkan di ‘atas langit’ atau di dimensi lain yang berbeda.
Contoh yang seperti itu misalnya Nabi Isa ‘alaihissalam yang disebut-sebut masih hidup hingga saat ini di sisi Allah dan belum wafat. Lalu nanti di hari akhir akan turun ke bumi lagi bukan bangkit dari alam barzakh. Walaupun sebenarnya ‘kematian’ Nabi Isa sendiri pun juga jadi bahan perdebatan ulama. Karena ada dua ayat yang berbeda terkait hal ini. Di satu ayat Allah SWT menegaskan bahwa Nabi Isa diangkat kepada-Nya.
(Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku. (QS. Ali Imran : 55)
Pendapat Kedua
Pendapat kedua mengatakan sebenarnya mereka sudah mati dalam arti sudah meninggalkan dunia yang fana ini dan sekarang berada di alam barzakh. Hanya saja untuk memuliakan mereka, disebutlah bahwa mereka itu ‘masih hidup’.
Namun ini hanya ungkapan yang bersifat metafora atau majaz saja. Atau setidaknya mereka dianggap seperti masih hidup, karena masih bisa menyaksikan dan mendengar apa-apa yang kita ucapkan.
Dan pada hakikatnya semua orang yang mati meninggalkan alam dunia ini, pada dasarnya mereka itu tidak lenyap dan juga tidak musnah begitu saja. Yang punya konsep macam itu adalah kaum musyrikin Mekkah.
Mereka berkata: "Apakah betul, apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan? (QS. Al-Mukminun : 82)
Dalam konsep rukun iman kita, iman kepada hari akhir itu mencakup juga iman kepada adanya alam barzakh. Konsepnya adalah orang yang disebut mati itu pada dasarnya hanya berpindah saja, dari alam dunia ini masuk ke alam lain yaitu alam barzakh.
Yang mereka rasakan mereka tetap hidup, di alam barzakh. Bahkan sebenarnya yang hidup di alam barzakh juga tidak hanya sebatas mereka yang wafat di jalan Allah SWT. Tetapi termasuk juga mereka yang mati biasa, bahkan mereka yang mati sebagai orang kafir pun, mereka tetap hidup di alam barzakh. Bedanya yang kafir-kafir itu hidupnya disiksa di alam kubur.