Kemenag RI 2019:Mereka bergembira dengan karunia yang Allah anugerahkan kepadanya dan bergirang hati atas (keadaan) orang-orang yang berada di belakang yang belum menyusul mereka, ) yaitu bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. Prof. Quraish Shihab:
Mereka bergembira disebabkan karunia Allah yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka. Dan mereka benar-benar bergirang hati terhadap orang-orang yang (masih) tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut menimpa mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Prof. HAMKA:
Mereka bersuka cita dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari kurnia-Nya, dan mereka pun girang akan orang-orang yang di belakang mereka, karena tidak ada ketakutan atas mereka, dan tidak pula mereka akan merasa duka cita.
Lafazh farihina (فَرِحِينَ) artinya : mereka bergembira atau mereka bersuka cita. Kata bima (بِمَا) artinya : atas apa yang. Kata aataa-humullah (آتَاهُمُ اللَّهُ) artinya : Allah berikan. Kata min fadhlihi (مِنْ فَضْلِهِ) dari eutamaannya, maksudnya adalah rezeki.
Lafazh wa (وَ) huruf athaf yang menyambungkan kata sebelumnya dan sudahnya. Kata yastabsyiruna (يَسْتَبْشِرُونَ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari’ yang artinya : mendapatkan kabar gembira. Kata ini juga berasal dari akar (ب ش ر) yang artinya kabar gembira, sebagaimana firman Allah :
وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. (QS. Al-Baqarah : 223)
Kata (استبشر) terbentuk dari wazan (استفعل) yang memiliki makna meminta atau mendapatkan sesuatu. Maka kata (استبشر) menunjukkan seseorang yang menerima kabar baik dan kemudian merasakan kegembiraan. Kata turunan lainnya dari akar ini adalah بشرى (kabar gembira), بشير (pemberi kabar gembira), تبشير (memberikan kabar gembira), dan مبشر (orang yang membawa kabar gembira).
Kata billadzina (بِالَّذِينَ) artinya : dengan mereka yang atau orang-orang. Kata lamyalhaqubihim (لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ) artinya : yang belum bertemu atau bergabung dengan mereka. Kata minkhalfihim (خَلْفِهِمْ مِنْ) artinya : di belakang mereka.
Maksudnya mereka sering mendapatkan kabar gembira akan datangnya teman-teman, saudara, keluarga atau sesama pejuang yang segera akan datang dan bergabung dengan mereka, sebagaimana kita dapat kabar gembira akan kedatangan teman lama yang terpisah sekian tahun.
Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Quran Al-Azhim meriwayatkan beberapa perkataan ulama, di antaranya apa yang disampaikan oleh As-Suddi. Intinya mereka yang mati syahid mendapatkan kebahagiaan dengan cara diberikan kitab yang isinya berita kedatangan teman sesama mujahidin yang akan segera menyusul mereka.
أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Lafazh an-la (أَلَّا) artinya : janganlah ada. Kata khaufun (خَوْفٌ) artinya : rasa takut. Kata ‘alaihim (عَلَيْهِمْ) artinya pada mereka. Kata wa laahum (وَلَا هُمْ) artinya : dan tidaklah mereka. Kata yahzanun (يَحْزَنُونَ) artinya : bersedih hati.
Kata khauf (خوف) berarti kondisi hati tidak tenang terkait dengan perkara di masa datang. Sebagian mufassir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tidak merasa takut adalah bahwa orang-orang beriman tidak akan menyaksikan huru-hara hari kiamat yang amat menakutkan.
Sebagian yang lain mengatakan bahwa mereka tidak merasa takut akan ancaman siksa di akhirat, karena sejak awal sudah mendapatkan kepastian tidak akan diadzab karena keimanan mereka. Dan keadaan ini terkonfirmasi dengan ayat lainnya :
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS. Fushshilat : 30)
Ibnu Abbas mengomentari ayat ini sebagai berikut :
Mereka itu tidak sesat di dunia dan tidak kesusahan di akhirat.
Kata khauf, khasyyah dan taqwa memiliki kedekatan makna, namun tidak sama. Khasy-yah lebih tinggi tingkatannya dari khauf atau ketakutan yang sangat. Khasyyah adalah rasa takut karena kebesaran dan keagungan sesuatu yang ditokohkan, walaupun yang takut adalah juga yang kuat.
Sedangkan khauf terjadi karena lemahnya mental orang yang takut walaupun yang ditakuti adalah sesuatu yang sepele.
Menurut Ibnul Qayyim, orang yang mengalami khauf, merespon dengan lari dan menjauh dari obyek yang ditakuti, sedangkan orang yang mengalami khasyyah bereaksi dengan pengetahuan dan mendekat kepada obyek takut.
Seperti orang awam dan dokter, reaksi orang awam terhadap penyakit adalah lari dari penyakit, dan reaksi dokter mendekati penyakit dengan penelitian dan percobaan dengan menggunakan obat-obatan.
Lafazh yahzanun (يَحْزَنُون) dari akar kata (حَزِنَ - يَحْزَنُ) yang berarti sedih dan lawan dari bahagia. Sedih adalah kondisi hati tidak tenang berkaitan dengan perkara di masa lampau.
Kata khauf (takut) disebut secara beriringan dengan sedih dalam bentuk negatif sebanyak 16 kali, dan kesemuanya menjelaskan keadaan orang-orang mukmin yang beramal saleh di surga. Mereka tidak lagi merasa takut dan sedih seperti yang mereka alami di dunia.
Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, bila Allah berjanji menghilangkan perasaan sedih dan takut dari orang sebagai balasan melakukan suatu perbuatan, maka janji ini menunjukkan legalitas perbuatan tersebut yang berkisar antara hukum wajib dan sunnah.