Kemenag RI 2019:(Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari hadirat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi. Prof. Quraish Shihab:
Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling, sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (anugerah).
Prof. HAMKA:
Wahai, Tuhan kami! Janganlah Engkau sesatkan hati kami sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kiranya kepada kami rahmat langsung dari Engkau. Sesungguhnya, Engkau adalah pemberi karunia.
Orang yang telah rasikh ilmunya, artinya telah mendalam, telah berurat, telah dianugerahi Allah segala kunci-kunci ilmu. Maka, menurut kebiasaannya, apabila orang yang telah amat mendalam ilmunya, mengakuilah dia akan kekurangannya. Salah satu bentuk pengakuannya adalah lafazh doa berikut ini.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا
Lafazh rabbana (رَبَّنَا) adalah sapaan yang menjadi pembukaan dari doa. Maknanya adalah : “wahai Tuhan kami”.
Sapaan kepada Tuhan ini disampaikan dalam bentuk jamak, yaitu Tuhan kami. Pesannya bahwa doa ini tidak hanya dipanjatkan sendiri, melainkan dipanjatkan oleh banyak orang, bahkan dipanjatkan secara bersama-sama.
Lafazh laa tuzigh (لَاتُزِغْ) adalah fi'il nahyi, namun tidak tepat kalau dimaknai sebagai perintah atau larangan, karena ini merupakan ungkapan dari seorang hamba kepada Tuhannya, maka yang lebih tepat disebut dengan doa atau permohonan. Maknanya: “janganlah Engkau palingkan”.
Di surat Ash-Shaf disebutkan dua kata yaitu zaagha (زَاغَ) yang maknanya berpaling, dan azagha (أَزَاغَ) yang artinya memalingkan.
فَلَمَّا زَاغُوْا أَزَاغَ اللّٰهُ قُلُوْبَهُمْ
Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka. (QS. Ash-Shaf : 5)
Sedangkan makna qulubana (قُلُوْبَنَا) adalah bentuk jamak dari bentuk tunggalnya yaitu qalb (قَلْبٌ). Asal katanya dari (قَلَبَ) yang artinya berbolak-balik. Disebutkan bahwa Allah SWT membolak-balikkan antara siang dan malam.
يُقَلِّبُ اللّٰهُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ
Allah mempergantikan malam dan siang. (QS. An-Nur : 44)
Orang yang membolak-balikkan kedua tanggannya juga menggunakan lafazh yuqallibu.
فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ
Lalu ia membolak-balikkan kedua tangannya. (QS. Al-Kahfi : 42)
بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
Lafazh ba’da (بَعْدُ) maknanya : setelah. Sedangkan ungkapan idz hadaitana (إِذْهَدَيْتَنَا) maknanya : “ketika Engkau telah beri petunjuk kepada kami”.
Penggalan doa ini sejalan dengan doa Nabi SAW dalam hadits berikut ini.
Wahai Tuhan yang membolak-balik hati, tetapkan hati ini dalam agamamu”.
Ada shahabat yang bertanya kepada Nabi SAW, kenapa kita sudah mendapatkan hidayah Islam dan memeluknya dengan erat, tetapi doanya masih seperti itu, apakah memang orang-orang yang sudah mendapatkan hidayah kemudian dia berbalik dan tersesat? Nabi SAW kemudian menjawab:
Tidak lah ada hati kecuali terletak di antara jemari Allah Yang Maha Rahman. Bila Dia berkehendak, maka hati itu diluruskan dan bila Dia berkehendak, maka hati itu dipalingkan.
Di dalam riwayat yang lain lagi disebutkan bahwa Nabi SAW berdoa dengan lafazh berikut:
Wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati. Tetapkanlah hati kami dalam agama-Mu.
Kalau melihat beberapa teks doa yang Nabi SAW panjatkan di atas, kita bisa merasakan bahwa memang demikian lah Allah SWT telah tunjukkan betapa banyak kaum yang dulunya beriman, kemudian lama-lama mereka ingkar dan berpaling, lalu mereka dimusnahkan di dunia dan disiksa di akhirat.
Boleh jadi Nabi SAW merasa takut apabila umatnya nantinya sendiri mengalami kisah-kisah tragis sebagaimana yang pernah menimpa umat terdahulu. Sebagaimana bunyi ayat berikut ini :
Tidakkah mereka mengetahui berapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. (QS. Yasin : 31)
وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً
Lafazh wa-hab lana (وَهَبْلَنَا) bermakna : berikanlah atau anugerahkanlah kepada kami. Asalnya dari (وَهَبَ) yang bermakna hibah. Hibah adalah pemberian yang tidak mengharuskan adanya balasan atau imbalan. Hibah juga bisa bermakna hadiah. Maka permintaan ini seperti seseorang minta dihadiahkan.
Makna min ladun-ka (مِنْلَدُنْكَ) artinya : dari sisi-Mu atau dari hadirat-Mu. Sedangkan makna rahmatan (رَحْمَةً) artinya rahmat. Sebenarnya maknanya adalah kasih sayang.
Ini adalah permintaan yang unik sekali. Pertama, permintaan ini bukan sekedar permintaan, tetapi minta diberikan hadiah. Kedua, yang dimintakan bukan juga hal-hal yang bersifat materi keduniaan, melainkan justru kasih sayang dari Allah SWT.
Kalau yang diberikan adalah kasih sayang, maka itu adalah pemberian yang tidak ada batasannya lagi. Tidak ada tepinya, tidak ada limitnya. Ini adalah permintaan yang terbesar yang tidak ada bandingannya.
إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
Lafazh innaka (إِنَّكَ) artinya sesungguhnya Engkau. Sedangkan makna antal-wahhab (اَنْتَالْوَهَّابُ) bisa diartikan menjadi : memang Engkau adalah Tuhan Yang Maha Memberi.
Ayat ini ditutup dengan penggalan yang cukup unik, yaitu pujian kepada Allah SWT bahwa Dia adalah Tuhan yang memang Maha Pemberi.
Seolah kita mengatakan bahwa sebagai Tuhan Yang Maha Pemberi itu pastilah tidak akan menolak permintaan. Sebab kalau menolak, maka nama-Nya sebagai Tuhan Maha Pemberi akan kehilangan makna.