Kemenag RI 2019:Hanya milik Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Allah Maha Meliputi segala sesuatu. Prof. Quraish Shihab:Dan milik Allah apa yang di
langit dan yang di bumi, dan adalah
Allah Maha Meliputi segala sesuatu. Prof. HAMKA:Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan di bumi. Dan adalah Allah itu Maha Meliputi segala sesuatu.
Lafazh lillahi (لله) artinya : milik Allah. Huruf maa (م) artinya : apa, atau bisa juga dimaknai menjadi : apapun. Huruf fi (في) yang artinya "yang ada di atau yang ada pada. Lafazh as-samawati (السماوات) adalah bentuk jamak dari kata as-sama’ (السماء) berarti langit.
Maka langit yang disebut dalam bentuk jamak ini kemudian menimbulkan pertanyaan: apakah maknanya menjadi "langit yang banyak jumlahnya", ataukah maksudnya adalah "langit yang luas ukurannya"?
Selain itu, muncul juga pertanyaan tentang kerajaan apa yang ada di langit yang banyak atau langit yang luas tersebut. Jawabannya tentu bukan kerajaan manusia, melainkan kerajaan makhluk ghaib, yang bisa jadi merupakan kerajaan para malaikat, jin, atau makhluk lain yang menghuninya.
Sebagian kalangan penggemar cerita fiksi luar angkasa mencoba mengaitkan ayat ini dengan isyarat tentang adanya kehidupan makhluk cerdas (extraterrestrial) di luar angkasa. Mereka seolah-olah berusaha menunjukkan bahwa Al-Quran mengakui adanya alien dengan segala kemajuan teknologinya.
Padahal, secara ilmiah, hingga hari ini masih terlalu dini untuk memperkirakan adanya kehidupan makhluk cerdas di luar bumi. Bahkan, untuk makhluk hidup yang paling sederhana sekalipun, hal itu masih merupakan asumsi dan spekulasi. Belum ada bukti pasti tentang keberadaan makhluk cerdas di luar angkasa. Meskipun ada beberapa laporan tentang penampakan UFO atau benda terbang aneh lainnya yang tidak dapat dijelaskan, hingga saat ini tidak ada bukti yang dapat diverifikasi secara ilmiah.
Kesimpulannya, asumsi tentang kemungkinan adanya makhluk cerdas di luar angkasa didasarkan pada bukti dan teori ilmiah yang ada, namun sampai saat ini belum ada bukti pasti yang dapat diandalkan.
وَمَا فِي الْأَرْضِ
Kata al-ardhi (الارض) artinya bisa "tanah" atau "bumi", tergantung konteksnya. Kadang dalam satu ayat, lebih pas diterjemahkan menjadi "tanah", seperti pada ayat berikut:
Musa berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah." (QS. Al-Baqarah: 71)
Menerjemahkan ayat di atas tidak pas jika sapi digunakan untuk membajak bumi; yang lebih tepat adalah membajak tanah atau sawah. Namun, kadang lebih tepat jika diterjemahkan menjadi "bumi" dalam arti sebuah benda raksasa yang berputar pada porosnya di ruang angkasa, sembari juga bergerak mengelilingi matahari.
Namun, penerjemahan sebagai planet bumi adalah penerjemahan yang hanya cocok di masa kini saja. Adapun sepanjang sejarah, lebih tepat diterjemahkan menjadi "tanah" atau "negeri".
Lepas dari perbedaan penerjemahannya, yang jelas penyebutannya berbentuk tunggal, sehingga pengertiannya pasti tidak banyak, hanya satu saja. Dan tidak keliru jika dimaknai sebagai isyarat bahwa luasnya lebih kecil daripada luasnya langit.
وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُحِيطًا
Kata wakanallahu (وَكَانَ اللَّهُ) artinya : Dan adalah Allah. Kata kaana (كَانَ) menunjukkan keadaan yang berlangsung atau kontinu di masa lampau dan berlanjut hingga sekarang. Dalam konteks ini, menunjukkan bahwa pengawasan Allah selalu ada, tidak terbatas waktu.
Kata bi-kulli-syai-in (اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ) artinya : dengan segala sesuatu. Kata muhitha (مُحِيطًا) artinya : Maha Meliputi. Kata ini berasal dari akar kata (حاط) yang berarti mengelilingi, menyertai, atau memelihara.
Dalam konteks ini, dikatakan bahwa Allah itu Maha Mengawasi berarti Allah tidak hanya mengetahui tetapi juga mengelilingi atau meliputi segala perbuatan yang mereka lakukan.
Sebagai pendekatan untuk bisa lebih terasa nyata apa yang dimaksud dengan pengetahuan Allah SWT itu meliputi segala sesuatu, mari kita membayangkan teknologi kamera 360 derajat pada mobil, yang dikenal dengan sebutan sistem kamera surround view atau 360-degree camera system.
Cara kerjanya menggunakan beberapa kamera, biasanya 4 buah yang dipasang di sekitar mobil, seperti di depan, belakang, dan di kedua sisi spion samping. Dengan empat kamera ini kemudian komputer memprosesnya dengan menggunakan perangkat lunak di dalam sistem kendaraan sehingga dapat memberikan tampilan visual 360 derajat di sekitar kendaraan. Dengan proses stitching ini, meski jumlah kamera tidak sampai 360 buah, namun ada semacam kesan yang bisa menampilkan citra 3 dimensi posisi mobil.
Bayangkan jika seandainya jumlah kameranya ditambah jadi 350 buah, maka gambar yang dihasilkan tidak hanya mencakup keseluruhan area 360 derajat, tetapi juga memiliki detail yang sangat tajam, hingga mampu menampilkan objek kecil seperti retakan di jalan atau tekstur dinding.
Apalagi jika dilengkapi dengan lima buah drone yang terus terbang mengikuti gerak mobil, plus dengan CCTV yang ada dijalan. Bayangkan seperti apa akurasi hasilnya. Pengemudi atau sistem otonom dapat melihat kombinasi detail mikro di sekitar mobil dan makro yaitu pada lingkungan luas, menciptakan visibilitas hampir sempurna tanpa celah buta.
Drone yang terbang di atas mobil dapat memetakan jalan secara real-time, termasuk kondisi lalu lintas, rambu-rambu, dan marka jalan.
Dengan bantuan CCTV, informasi tentang kemacetan, area rawan kecelakaan, atau jalan alternatif dapat langsung diperoleh dan diproses. Mobil dapat menavigasi dengan presisi, menghindari potensi hambatan bahkan sebelum mendekati lokasi masalah.
Jika sistem yang sudah canggih itu ditambahkan dengan radar dan pencitraan satelit, maka kemampuan dan akurasi mobil akan mencapai tingkat yang benar-benar revolusioner. Radar menggunakan gelombang elektromagnetik untuk mendeteksi objek, mengukur jarak, kecepatan, dan arah pergerakan. Sedangkan satelit memberikan pandangan luas dan data real-time yang mencakup wilayah besar, termasuk area yang tidak terlihat langsung oleh kamera atau drone.