إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا
Sesungguhnya orang-orang yang kufur kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan bermaksud membeda-bedakan ) antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya dengan mengatakan, “Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain),” serta bermaksud mengambil jalan tengah antara itu (keimanan atau kekufuran),
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan para rasul-Nya, serta bermaksud memisahkan antara keimanan kepada Allah dan keimanan kepada para rasul-Nya dengan mengatakan, “Kami beriman kepada sebagian, dan kami kafir terhadap sebagian,” serta bermaksud mengambil jalan tengah di antara yang demikian itu,
Sesungguhnya orang-orang yang kufur kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan mereka hendak memisah-misahkan antara Allah dan rasul-rasul-Nya, seraya berkata, "Kami percaya kepada sebagian, dan kami kufur terhadap sebagian lainnya," serta mereka ingin mengambil jalan tengah di antara (keimanan dan kekufuran) itu.
TAFSIR AL-MAHFUZH
Lihat Referensi Kitab →Bahwa adanya orang-orang munafik di Madinah sebenarnya juga tidak bisa terlepas dari keberadaan orang-orang Yahudi juga. Mereka inilah kutub yang sangat kuat menarik orang-orang munafik sehingga berbolak-balik hati mereka. Seandainya kalangan Yahudi di Madinah tidak punya kekuatan magnet yang kuat, pastinya orang-orang munafik tidak akan eksis dan muncul.
Kalau diibaratkan dengan proses fisika, orang munafik berada di tengah-tengah dua magnet besar, yaitu kaum muslimin dan kelompok Yahudi.
Namun kalau kita membaca ayat ini secara utuh, kita akan merasakan bahwa apa yang tertuang dalam ayat semua belum menjadi jumlah mufidah atau kalimat yang lengkap. Baru berhenti pada mubtada’ saja, sedangkan khabarnya baru muncul pada ayat sesudahnya.
Kata innalladzina (إِنَّ الَّذِينَ) artinya : sesungguhnya orang-orang yang. Kata yakfuruna (يَكْفُرُونَ) artinya : kufur atau ingkar. Kata billahi (بِاللَّهِ) artinya : kepada Allah. Kata wa rusulihi (وَرُسُلِهِ) artinya : dan rasul-rasul-Nya.
Orang-orang Yahudi adalah orang yang ingkar kepada Allah dan para rasul yang Allah SWT utus. Setidaknya secara implementasi di lapangan mereka disebut sebagai orang yang mengingkari perintah Allah sekaligus mendustakan para rasul yang sudah Allah SWT utus.
Sebenarnya inti dasar orang-orang Yahudi justru di titik yang paling nadir ini. Sebab sepanjang sejarah, dari semua peradaban besar dunia yang luar biasa kemajuannya, ternyata Allah SWT hanya mengutus para nabi dan rasul di kalangan orang-orang Yahudi saja.
Nama para nabi dan rasul itu rata-rata adalah nama-nama Yahudi. Setidaknya nama-nama nabi dan rasul yang disebutkan dalam Al-Quran. Nyaris mereka itu adalah tokoh-tokoh besar yang merupakan nenek moyang dan asal muasal bangsa Yahudi.
Ketika semua peradaban umat manusia kala itu tidak mengenal kenabian yang diutus dari sisi Allah SWT, maka yahudi lah yang selalu mengklaim bahwa mereka adalah umat yang terpilih, karena hanya dari kalangan yahudi saja para nabi dan rasul itu berasal. Kemana-mana mereka berdiaspora, maka jualan mereka adalah bahwa mereka adalah bangsa yang punya hubungan langsung dengan tuhan, karena banyak dari keturuan yahudi yang jadi nabi dan rasul.
Namun justru di akhir zaman, tepat ketika mereka sudah sebelumnya mengadang-gadang kedatangan nabi dan rasul terakhir, yaitu Nabi Muhammad SAW, justru ayat-ayat yang turun dari langit malah menceritakan keburukan mereka sepanjang sejarah.
Yang paling parah Al-Quran malah menyebutkan bahwa di balik sikap beragama yang tunjukkan kepada khalayak umat manusia, ternyata dalam kenyataann mereka lah justru orang-orang yang ingkar kepada Allah SWT mendustakan para nabi dan rasul.
Maka kisah perjalanan orang-orang yahudi memang sangat ironis dan benar-benar di luar dugaan. Bagaimana mungkin bangsa yang paling banyak punya nabi dan rasul, justru di dalam Al-Quran ditetapkan sebagai bangsa yang paling rajin ingkar kepada Allah dan tidak mengakui kenabian, baik nabi Muhammad SAW atau bahkan ingkar juga kepada nabi-nabi dari kalangan mereka sendiri di masa lalu.
Bahkan Al-Quran menceritakan dengan secara apa adanya, bahwa setiap kali ada nabi yang diutus di tengah mereka, selalunya mereka ingin bunuh.
أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَىٰ أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ
Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? (QS. Al-Baqarah : 87)
قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنْبِيَاءَ اللَّهِ مِنْ قَبْلُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Katakanlah: "Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?" (QS. Al-Baqarah : 91)
Bahkan Al-Quran menegaskan bahwa Yahudi-lah yang berkeinginan untuk membunuh Nabi Isa alaihissalam.
وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ
dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, (QS. An-Nisa : 157)
Mereka adalah orang-orang yang menolak ajaran Nabi Isa dan merasa terancam oleh dakwahnya. Nabi Isa datang untuk memperbaiki ajaran Taurat yang telah diselewengkan oleh sebagian Bani Israil pada saat itu. Dalam hal ini ternyata mereka bekerjasama dengan otoritas Romawi.
Berdasarkan literatur sejarah di luar Al-Quran, seperti Perjanjian Baru, disebutkan bahwa otoritas Yahudi memprovokasi kekuasaan Romawi yang menguasai wilayah Palestina untuk menangkap dan menyalib Nabi Isa.
Namun, keyakinan umat Islam berdasarkan Al-Quran adalah bahwa Nabi Isa tidak berhasil mereka bunuh atau salib. Sebab Allah SWT telah mengangkatnya ke langit, dan orang yang disalib adalah seseorang yang diserupakan dengan Nabi Isa.
Sedangkan yang berhasil mereka bunuh adalah Nabi Zakaria alaihissalam. Beliau mereka bunuh di dalam Baitul Maqdis, Yerusalem, saat sedang berada di dalam kuil, karena menolak memberikan informasi tentang keberadaan putranya, yaitu Nabi Yahya, kepada orang-orang yang mengejar beliau.
Ada sementara kalangan yang mengatakan bahwa salah satu yang melatar-belakangi Nabi Isa meminta hawariyyun untuk pasang badan menjaga keselamatan dirinya, karena sebelumnya Nabi Zakaria telah mati terbunuh oleh orang-orang Yahudi.
Dalam versi lain, terdapat riwayat yang mengatakan bahwa Zakaria terbunuh di tangga altar saat dia menyembunyikan putranya dari pemburu-pemburu yang ingin membunuhnya.
Kata wa yuriduna (وَيُرِيدُونَ) artinya : dan ingin atau mereka bermaksud. Kata an yufarriqu (أَنْ يُفَرِّقُوا) artinya : membeda-bedakan. Kata bainallahi (بَيْنَ اللَّهِ) artinya antara keimanan kepada Allah. Kata wa rusulihi (وَرُسُلِهِ) artinya : dan rasul-rasul-Nya.
Penggalan ini punya pengertian yang sedikit berbeda dengan penggalan sebelumnya. Kalau pada penggalan sebelumnya diceritakan tentang sekte Yahudi yang ingkar kepada Allah dan kepada para nabi, maka di penggalan ini mereka adalah sekte yang memisahkan antara Allah SWT dengan para nabi.
Kata wa yaquluna (وَيَقُولُونَ) artinya : dengan mengatakan. Kata nu’minu (نُؤْمِنُ) artinya : Kami beriman. Kata bi-ba’dhin (بِبَعْضٍ) artinya : kepada sebagian. Kata wa nakfuru (وَنَكْفُرُ) artinya : dan kami mengingkari. Kata bi ba’dhin (بِبَعْضٍ) artinya : pada sebagian (yang lain),”
Penggalan yang ini menceritakan sebagian sekte mereka yang memisahkan antara satu nabi dengan nabi yang lain. Maksudnya beriman hanya kepada nabi-nabi tertentu, seperti Nabi Musa, Daud, Sulaiman, tetapi mereka ingkar kepada nabi-nabi yang lain, seperti Nabi Isa, Yahya, Zakaria dan tentu saja ingkar kepada Nabi Muhammad SAW.
Al-Quran melarang orang hanya beriman kepada sebagian nabi tetapi ingkar kepada nabi yang lain. Allah SWT menegaskan dalam Al-Quran :
قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma´il, Ishaq, Ya´qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (QS. Al-Baqarah : 136)
Ayat ini punya kembaran lainnya yaitu dalam surat Al-Baqarah ayat 284 dan surat Ali Imran ayat 84. Intinya tidak boleh beriman hanya kepada sebagian rasul dan ingkar kepada sebagian yang lain. Semua rasul harus sama-sama diimani dan dicintai.
Kata wa yuriduna (وَيُرِيدُونَ) artinya : dan mereka menginginkan, atau mereka bermaksud. Kata an yattakhidzu (أَنْ يَتَّخِذُوا) artinya : untuk mengambil . Kata baina dzalika (بَيْنَ ذَٰلِكَ) artinya : antara itu. Kata sabila (سَبِيلًا) artinya : jalan, atau bisa juga dimaknai menjadi jalan tengah.
Maksudnya jalan yang di tengah dalam artian bukan jalan keimanan tapi juga bukan jalan atau kekufuran.