Kemenag RI 2019:merekalah orang-orang kafir yang sebenarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir azab yang menghinakan. Prof. Quraish Shihab:mereka itulah orang-orang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir azab yang menghinakan. Prof. HAMKA:Itulah orang-orang yang sebenarnya kafir. Dan Kami telah sediakan bagi orang-orang yang kafir itu azab yang menghinakan.
Ayat ini menegaskan bahwa orang-orang Yahudi itu kafir dalam arti yang sesugguhnya. Sebab kekafiran mereka itu jelas, yaitu mereka memilah-milah para nabi dan rasul utusan Allah. Sebagian mereka imani dan ikuti, namun sebagian lagi mereka ingkari.
Buah dari kekafiran mereka adalah mereka akan disiksa di dalam neraka dengan siksaan yang menghinakan, yaitu siksaan yang bersifat abadi tanpa akhir.
...
Ayat ini menegaskan bahwa orang-orang Yahudi itu kafir dalam arti yang sesugguhnya. Sebab kekafiran mereka itu jelas, yaitu mereka memilah-milah para nabi dan rasul utusan Allah. Sebagian mereka imani dan ikuti, namun sebagian lagi mereka ingkari.
Buah dari kekafiran mereka adalah mereka akan disiksa di dalam neraka dengan siksaan yang menghinakan, yaitu siksaan yang bersifat abadi tanpa akhir.
أُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا
Kata ulaaika (أُولَٰئِكَ) dalam bahasa Arab disebut dengan ismul-isyarah atau kata tunjuk, yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang jauh. Dalam struktur kalimat, posisinya menjadi mubtada’ atau subjek dalam kalimat nominal.
Kata hum (هُمُ) sebenarnya adalah kata ganti atau disebut juga dengan dhamir yang artinya mereka. Yang dimaksud adalah orang-orang kafir yang sifatnya disebutkan pada ayat sebelum ini, yaitu : ingkar kepada Allah dan hanya beriman kepada sebagian dari rasul-Nya. Beriman hanya kepada sebagian rasul lalu mengingkari rasul yang lain.
Kata al-kafiruna (الْكَافِرُونَ) artinya : orang-orang kafir. Lawan dari orang-orang yang beriman. Dalam hal ini kekafiran mereka itu merupakan vonis resmi langsung dari Allah SWT.
Dan kalau ditelaah lebih jauh ke ayat sebelumnya, dikatakan mereka itu kafir bukan berarti mengingkari seluruh nabi dan rasul, tetapi karena membeda-membedakan antara satu nabi dengan nabi yang lain. Mereka berimannya hanya pada sebagian nabi, sementara mereka ingkari nabi lain yang tidak sesuai dengan selera mereka.
Orang-orang Yahudi hanya beriman kepada nabi tertentu seperti Nabi Ibrahim, Nabi Ishak, Nabi Ya’qub, Nabi Yusuf, Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Daud, Nabi Sulaiman dan nabi tertentu lainnya. Namun mereka ingkari kenabian Isa alaihissalam dan kenabian Muhammad SAW.
Sebaliknya orang nasrani pun sama saja, mereka hanya iman kepada Nabi Isa, Nabi Zakaria dan Nabi Yahya. Namun mereka ingkar kepada kenabian Musa dan kenabian Muhammad SAW.
Kata haqqan (حَقًّا) artinya : benar-benar. Sebagian kalangan mengatakan bahwa kata haqqan (حَقًّا) di ayat ini maksudnya adalah bahwa mereka itu adalah orang-orang kafir yang sebenarnya. Bisa juga dikatakan kafir tulen, kafir original, kafir organik dan kafir official. Seperti kita mengatakan,”Zaid itu benar-benar saudaramu”.
Namun ada juga pandangan yang berbeda menyebutkan bahwa kata haqqan (حَقًّا) itu sifatnya merupakan ta’kid atau penguatan. Seperti seorang berkata,”Zaid itu saudaramu, ya benar”.
أُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا
Kata ulaaika (أُولَٰئِكَ) dalam bahasa Arab disebut dengan ismul-isyarah atau kata tunjuk, yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang jauh. Dalam struktur kalimat, posisinya menjadi mubtada’ atau subjek dalam kalimat nominal.
Kata hum (هُمُ) sebenarnya adalah kata ganti atau disebut juga dengan dhamir yang artinya mereka. Yang dimaksud adalah orang-orang kafir yang sifatnya disebutkan pada ayat sebelum ini, yaitu : ingkar kepada Allah dan hanya beriman kepada sebagian dari rasul-Nya. Beriman hanya kepada sebagian rasul lalu mengingkari rasul yang lain.
Kata al-kafiruna (الْكَافِرُونَ) artinya : orang-orang kafir. Lawan dari orang-orang yang beriman. Dalam hal ini kekafiran mereka itu merupakan vonis resmi langsung dari Allah SWT.
Dan kalau ditelaah lebih jauh ke ayat sebelumnya, dikatakan mereka itu kafir bukan berarti mengingkari seluruh nabi dan rasul, tetapi karena membeda-membedakan antara satu nabi dengan nabi yang lain. Mereka berimannya hanya pada sebagian nabi, sementara mereka ingkari nabi lain yang tidak sesuai dengan selera mereka.
Orang-orang Yahudi hanya beriman kepada nabi tertentu seperti Nabi Ibrahim, Nabi Ishak, Nabi Ya’qub, Nabi Yusuf, Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Daud, Nabi Sulaiman dan nabi tertentu lainnya. Namun mereka ingkari kenabian Isa alaihissalam dan kenabian Muhammad SAW.
Sebaliknya orang nasrani pun sama saja, mereka hanya iman kepada Nabi Isa, Nabi Zakaria dan Nabi Yahya. Namun mereka ingkar kepada kenabian Musa dan kenabian Muhammad SAW.
Kata haqqan (حَقًّا) artinya : benar-benar. Sebagian kalangan mengatakan bahwa kata haqqan (حَقًّا) di ayat ini maksudnya adalah bahwa mereka itu adalah orang-orang kafir yang sebenarnya. Bisa juga dikatakan kafir tulen, kafir original, kafir organik dan kafir official. Seperti kita mengatakan,”Zaid itu benar-benar saudaramu”.
Namun ada juga pandangan yang berbeda menyebutkan bahwa kata haqqan (حَقًّا) itu sifatnya merupakan ta’kid atau penguatan. Seperti seorang berkata,”Zaid itu saudaramu, ya benar”.
وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا
Lafazh wa a'tadna (أَعْتَدْنَا) artinya: dan Kami telah siapkan. Para ulama mengatakan bahwa neraka sudah ada, namun sampai nanti kiamat dan hisab, belum ada penghuninya. Diungkapkannya neraka sebagai tempat yang sudah disiapkan, secara psikologis lumayan intimidatif, khususnya bagi mereka yang tidak mau beriman.
Semangat dari ayat ini nampaknya seimbang dengan semangat dari ayat lain yang senada, misalnya :
Lindungilah dirimu dari api neraka yang disediakan bagi orang-orang kafir.
Lafazh lil-kafirina (لِلْكَافِرِينَ) artinya: buat orang-orang kafir. Dalam hal ini maksudnya adalah orang-orang yahudi, dimana mereka termasuk kategori orang kafir yang sebenar-benarnya. Hal itu lantaran mereka hanya percaya kepada sebagian nabi tapi ingkar kepada sebagain nabi yang lain. Khususnya ingkar kepada kenabian Muhammad SAW, sebagai nabi yang Allah SWT utus menjadi penutup risalah semua nabi dan rasul sebelumnya.
Ayat ini turun sebagai ancaman buat orang-orang kafir, yang dalam hal ini khususnya orang-orang Yahudi Madinah. Kali ini Allah SWT tidak setengah-setengah lagi ketika menyebut mereka orang kafir.
Kata 'adzaban (عَذَابًا) artinya: siksaan. Bentuk siksaan dalam neraka ada banyak macamnya. Tapi umumnya siksaan itu dalam bentuk pembakaran dengan api yang menyala. Siksa neraka memang seringkali digambarkan dengan api karena api adalah simbol universal dari penderitaan, kehancuran, dan penghukuman yang mendalam.
Luka bakar memang menjadi salah satu jenis luka yang paling menyakitkan, baik secara fisik maupun psikologis. Dalam konteks siksa neraka, pembakaran dengan api dipilih untuk menggambarkan rasa sakit yang sangat intens, penderitaan yang total, dan azab yang terus-menerus. Hal ini juga untuk memberikan peringatan kepada manusia agar lebih berhati-hati dalam perbuatannya di dunia.
Kata muhinan (مُهِينًا) artinya: yang menghinakan. Dalam kitab tafsir klasik kita temukan bahwa siksa yang menghinakan itu hanya dijatuhkan kepada orang-orang kafir saja, sedangkan orang Islam yang masuk neraka, kalau pun disiksa, namun bukan termasuk siksa yang muhin.
Ada juga ulama yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘siksa yang menghinakan’ itu adalah siksa yang akan terus berlangsung untuk selama-lamanya, tidak berhenti dan terus menerus menimpa orang yang disiksa di dalam neraka. Berarti yang disiksa itu pastinya orang-orang kafir, karena memang demikian nasib orang yang matinya dalam keadaan kafir, mereka memang abadi hidup di dalam neraka.
Kalau disebutkan siksa yang menghinakan, maka yang terbersit di benak kita bahwa ternyata siksa neraka itu tidak hanya didominasi dengan siksaan secara fisik saja, tetapi ada juga siksaan yang sifatnya psikologis, yaitu siksaan yang menghina atau merendahkan kedudukan seseorang.
Dan memang begitulah, terkadang ada orang yang masih bisa tahan kalau disiksa secara fisik, namun belum tentu dia kuat disiksa secara psikologis. Boleh jadi siksaan secara psikologis dan sifatnya menghina atau merendahkan adalah dengan diperlihatkan kondisinya di hadapan orang-orang yang pernah dahulu dia hina dan dia rendahkan.
Kalau kita rajin membaca dan menelusuri ayat-ayat Al-Quran, penggunaan istilah siksa yang menghinakan itu ternyata cukup banyak juga terulang-ulang di dalamnya.
وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُهِينٌ
Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan. (QS. Al-Baqarah : 90)
وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا
Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan. (QS. An-Nisa : 37)
Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, maka bagi mereka azab yang menghinakan. (QS. Al-Hajj : 57)
وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُهِينٌ
Dan bagi orang-orang kafir ada siksa yang menghinakan. (QS. Al-Mujadilah : 5)
وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا
Lafazh wa a'tadna (أَعْتَدْنَا) artinya: dan Kami telah siapkan. Para ulama mengatakan bahwa neraka sudah ada, namun sampai nanti kiamat dan hisab, belum ada penghuninya. Diungkapkannya neraka sebagai tempat yang sudah disiapkan, secara psikologis lumayan intimidatif, khususnya bagi mereka yang tidak mau beriman.
Semangat dari ayat ini nampaknya seimbang dengan semangat dari ayat lain yang senada, misalnya :
Lindungilah dirimu dari api neraka yang disediakan bagi orang-orang kafir.
Lafazh lil-kafirina (لِلْكَافِرِينَ) artinya: buat orang-orang kafir. Dalam hal ini maksudnya adalah orang-orang yahudi, dimana mereka termasuk kategori orang kafir yang sebenar-benarnya. Hal itu lantaran mereka hanya percaya kepada sebagian nabi tapi ingkar kepada sebagain nabi yang lain. Khususnya ingkar kepada kenabian Muhammad SAW, sebagai nabi yang Allah SWT utus menjadi penutup risalah semua nabi dan rasul sebelumnya.
Ayat ini turun sebagai ancaman buat orang-orang kafir, yang dalam hal ini khususnya orang-orang Yahudi Madinah. Kali ini Allah SWT tidak setengah-setengah lagi ketika menyebut mereka orang kafir.
Kata 'adzaban (عَذَابًا) artinya: siksaan. Bentuk siksaan dalam neraka ada banyak macamnya. Tapi umumnya siksaan itu dalam bentuk pembakaran dengan api yang menyala. Siksa neraka memang seringkali digambarkan dengan api karena api adalah simbol universal dari penderitaan, kehancuran, dan penghukuman yang mendalam.
Luka bakar memang menjadi salah satu jenis luka yang paling menyakitkan, baik secara fisik maupun psikologis. Dalam konteks siksa neraka, pembakaran dengan api dipilih untuk menggambarkan rasa sakit yang sangat intens, penderitaan yang total, dan azab yang terus-menerus. Hal ini juga untuk memberikan peringatan kepada manusia agar lebih berhati-hati dalam perbuatannya di dunia.
Kata muhinan (مُهِينًا) artinya: yang menghinakan. Dalam kitab tafsir klasik kita temukan bahwa siksa yang menghinakan itu hanya dijatuhkan kepada orang-orang kafir saja, sedangkan orang Islam yang masuk neraka, kalau pun disiksa, namun bukan termasuk siksa yang muhin.
Ada juga ulama yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘siksa yang menghinakan’ itu adalah siksa yang akan terus berlangsung untuk selama-lamanya, tidak berhenti dan terus menerus menimpa orang yang disiksa di dalam neraka. Berarti yang disiksa itu pastinya orang-orang kafir, karena memang demikian nasib orang yang matinya dalam keadaan kafir, mereka memang abadi hidup di dalam neraka.
Kalau disebutkan siksa yang menghinakan, maka yang terbersit di benak kita bahwa ternyata siksa neraka itu tidak hanya didominasi dengan siksaan secara fisik saja, tetapi ada juga siksaan yang sifatnya psikologis, yaitu siksaan yang menghina atau merendahkan kedudukan seseorang.
Dan memang begitulah, terkadang ada orang yang masih bisa tahan kalau disiksa secara fisik, namun belum tentu dia kuat disiksa secara psikologis. Boleh jadi siksaan secara psikologis dan sifatnya menghina atau merendahkan adalah dengan diperlihatkan kondisinya di hadapan orang-orang yang pernah dahulu dia hina dan dia rendahkan.
Kalau kita rajin membaca dan menelusuri ayat-ayat Al-Quran, penggunaan istilah siksa yang menghinakan itu ternyata cukup banyak juga terulang-ulang di dalamnya.
وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُهِينٌ
Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan. (QS. Al-Baqarah : 90)
وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا
Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan. (QS. An-Nisa : 37)