Kemenag RI 2019:Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka (para rasul), kelak Allah akan memberikan pahala kepada mereka. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Prof. Quraish Shihab:Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya serta tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahala mereka. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Pengasih. Prof. HAMKA:Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, serta tidak memisah-misahkan di antara seorang pun dari mereka, akan diberikan kepada mereka ganjaran mereka. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Buah dari keimanan yang seperti itu nanti di akhirat akan mendapatkan balasan dari Allah serta mendapatkan ampunan dan kasih sayangnya.
وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ
Kata walladzina (والَّذِينَ) artinya : dan orang-orang yang. Kata amanu (آمَنُوا) artinya beriman. Lawan dari kufur atau ingkar. Kata billahi (بِاللَّهِ) artinya : kepada Allah. Kata wa rusulihi (وَرُسُلِهِ) artinya : dan rasul-rasul-Nya.
Jumlah nabi dan secara keseluruhan yang namanya secara eksplisit disebut di dalam Al-Quran ada 25 orang. Sebanyak18 orang di antara mereka statusnya sebagai rasul, yang nama-nama mereka disebutkan secara utuh dalam surat Al-An’am mulai dari ayat 83 hingga ayat 86.
83. Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
84. Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Ya´qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Dari Abu Dzar, dia berkata: "Wahai Rasulullah, berapa jumlah nabi?" Beliau menjawab: "Seratus dua puluh ribu." Aku bertanya lagi: "Berapa jumlah rasul dari mereka?" Beliau menjawab: "Tiga ratus tiga belas orang." Aku bertanya lagi: "Siapakah yang jadi nabi pertama?" Beliau menjawab: "Adam 'alaihis-salam."
وَلَمْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ
Kata wa lam (وَلَمْ) artinya : dan tidak. Kata yufarriqu (يُفَرِّقُوا) artinya : membeda-bedakan. Kata baina ahadin (بَيْنَ أحَدِ) artinya antara keimanan kepada Allah. Kata minhum (مِنْهُمْ) artinya : di antara mereka.
Rukun iman itu ada enam perkara. Yang paling utama adalah iman kepada Allah SWT. Berikutnya yang langsung terkait dengan status keimanan adalah harus beriman juga kepada para malaikat, kitab-kitab suci yang Allah SWT turunkan, iman kepada para rasul-Nya, hari akhir serta qadha’ dan qadar dari Allah. Sebagian rukun iman itu sudah tertuang dalam ayat-ayat akhir surat Al-Baqarah :
Masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata,) “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” (QS. Al-Baqarah : 285)
Meski pada ayat ini nampaknya Allah SWT hanya menyebutkan bahwa orang beriman itu harus beriman kepada Allah dan rasul-rasul saja, bukan berarti kepada yang lain tidak harus beriman. Hanya saja, terkait dengan konteksnya, yang lagi jadi kasus bagi kelompok Yahudi Madinah kala itu adalah mereka mengaku beriman kepada Allah dan rasul, ternyata keimanan mereka kepada para rasul itu cacat fisik.
Pasalnya karena mereka hanya mau beriman kepada rasul tertentu saja, sedangkan kepada para rasul yang lain, justru mereka menolak untuk mengimaninya.
أُولَٰئِكَ سَوْفَ يُؤْتِيهِمْ أُجُورَهُمْ
Kata ulaaika (أُولَٰئِكَ) adalah ismul-isyarah alias kata tunjuk menunjukkan orang banyak. Yang dimaksud tidak lain adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya serta tidak membeda-bedakan di antara mereka.
Kata saufa (سَوْفَ) artinya : kelak. Menunjukkan waktu yang akan datang dalam rentang jarak yang lumayan jauh. Para ulama mengatakan bahwa kata saufa disini bermakna nanti setelah hari kiamat, yaitu di akhirat.
Kata yu’ti-him (يُؤْتِيهِمْ) artinya : Dia memberikan. Kata ujurahum (أُجُورَهُمْ) artinya : pahala-pahala mereka. Hal itu sejalan dengan ayat lain yang menyatakan bahwa pahala-pahala itu memang akan Allah SWT tunaikan nanti di hari kiamat.
Hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. (QS. Ali Imran : 185)
Namun demikian, bukan berarti orang-orang yang beramal shalih tidak akan mendapatkan kebaikan di dunia. Sebab yang dimaksud dengan yu’ti-him (يُؤْتِيهِمْ) bukan sekedar ‘memberikan pahala’, melainkan menyempurnakan pemberian balasan secara sepenuhnya. Berarti kalau untuk balasan yang sifatnya duniawi tetap akan menerima, meski tidak atau belum sepenuhnya.
Ibaratnya untuk di dunia ini memang sudah sebagian balasan pahala kebaikan sudah diberikan, namun baru hanya mendapatkan bonus-bonus kecil saja, belum balasan yang sesungguhnya dalam arti yang sempurna.
Demikian juga setelah kematian di alam barzakh, sebenarnya buat orang-orang yang shalih dan calon-calon penghuni surga pasca kiamat terjadi nanti, merekapun sudah mendapatkan berbagai kenikmatan yang merupakan muqaddimah. Maka sudah benar ketika Nabi SAW bersabda :
Kubur itu bisa menjadi taman dari taman-taman surga, atau menjadi lubang dari lubang-lubang neraka. (HR. Ath-Thabarani)
وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Lafazh wa kaanallahu (وَكَانَ اللَّهُ) artinya : dan adalah Allah itu. Kata kana (كَانَ) artinya : adalah, namun tersisip di dalamnya makna bahwa keadaan seperti itu sudah eksisting sejak masa lalu. Bisa saja kalau mau diterjemahkan menjadi : sudah sejak dulu.
Lafazh ghafuran rahima (غَفُورًا رَحِيمًا) artinya : Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kalau dikaitkan dengan konteks ayatnya, maka ungkapan bahwa Allah SWT Maha Pengampun, maksudnya bahwa beberapa dari para shahabat boleh jadi ada yang punya udzur yang syar’i, tetapi tidak bisa ikut karena terhalang. Padahal niatnya memang ingin ikut dalam jihad.
Sedangkan Maha Penyayang yang disebutkan bersama dengan penyebutan Maha Pengampun, maksudnya karena tindakan Allah SWT tidak menghukum kesalahan dan malah memilih untuk mengampuni, disebabkan karena pada dasarnya Allah SWT ingin menunjukkan bahwa diri-Nya adalah Tuhan yang Maha kasih sayang. Pelanggaran dan kesalahan hamba tidak harus selalu dibalas dengan amarah dan murka. Tetapi bisa saja diampuni, karena Allah SWT memang Tuhan Yang Maha Pengasih.