Kemenag RI 2019:Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu (Nabi Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya. Kami telah mewahyukan pula kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya‘qub dan keturunan(-nya), Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Kami telah memberikan (Kitab) Zabur kepada Daud. Prof. Quraish Shihab:Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu (Nabi Muhammad saw.) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan para nabi yang sesudahnya. Kami telah mewahyukan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucu mereka, serta kepada ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami telah menganugerahkan kepada Daud (Kitab) Zabur. Prof. HAMKA:Sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada engkau sebagaimana yang telah Kami wahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya. Dan telah Kami wahyukan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, anak cucu mereka, Isa, Ayub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan telah Kami berikan kepada Dawud kitab Zabur.
Secara tegas Allah SWT menyebutkan sebelas orang nabi di ayat ini, yaitu : [1] Nabi Nuh, [2] Nabi Ibrahim, [3] Nabi Ismail, [4] Nabi Ishaq, [5] Nabi Ya‘qub, [6] Nabi Isa, [7] Nabi Ayyub, [8] Nabi Yunus, [9] Nabi Harun, [10] Nabi Sulaiman, dan [11] Nabi Daud.
Urutan nama mereka tentu saja tidak berdasarkan masa kehidupan, khususnya setelah menyebut Nabi Isa alaihissalam, ternyata balik lagi menyebutkan para nabi yang hidupnya sebelum masa kenabian Beliau.
إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ
Kata inna (إِنَّ) artinya : sungguh Kami, atau sesungguhnya Kami. Banyak ulama yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘Kami’ tidak lain adalah Allah SWT sendirian. Seringkali Allah SWT membahasakan diri-Nya dengan sebutan Kami, walaupun semua sepakat bukan berarti menunjukkan jumlah yang banyak. Al-Qurtubi menuliskan dalam tafsir[1] bahwa penggunakan kata : Kami itu sebagai bentuk pengagungan dan penyanjungan diri.
Di dalam tafsir Al-Munir[2], Dr. Wahbah Az-Zuhaili juga menguatkan pandangan ini, bahwa tujuannya untuk pengagungan.
وَإِذْ قُلْنا للتعظيم بصيغة الجمع
Kata ‘Ketika Kami katakan’ digunakan dengan kata jamak atau plural sebagai bentuk takzim,”
Namun ada sebagian kalangan menyebutkan bahwa ketika Allah SWT menyebut kata ‘Kami’, maksudnya bukan hanya Allah SWT semata, melainkan pada saat itu Allah SWT memang ikut melibatkan juga beberapa makhluk-Nya, yang dalam hal ini para malaikat. Setidaknya proses turunnya wahyu itu terjadi melalui perantara pena, lauh, dan Malaikat Jibril.
Kata awhaina (أَوْحَيْنَا) artinya : Kami wahyukan. Kata ilaika (إِلَيْكَ) artinya : kepada Kamu. Dalam hal ini yang maksudnya adalah Nabi Muhammad SAW.
Umumnya kalau Al-Quran menyebut Allah mewahyukan kepada seorang nabi, maka yang dimaksud tentunya wahyu kenabian. Walaupun sebenarnya kata wahyu sendiri tidak otomatis bermakna kenabian. Al-Jauhari dalam kitab Ash-Shihah menuliskan bahwa kata wahyu punya banyak makna :
الوَحْيُ: الكتابُ والإشارةُ، والكِتَابَةُ، والرِسَّالةُ، والإِلْهامُ، والكَلامُ الخَفِيُّ، وكُلُّ ما أَلقيتَهُ إلى غَيْرِكَ
Wahyu bisa bermakna kitab, isyarat, tulisan, risalah, ilham, perkataan yang samar dan segala apa yang kamu sampaikan kepada orang lain.
Al-Quran dalam beberapa kesempatan juga menggunakan kata wahyu yang tidak terkait dengan wahyu kenabian. Misalnya pada ayat berikut ini, wahyu artinya bukan kenabian tetapi berbisik.
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain. (QS. Al-Anam : 112)
Kadang juga bisa bermakna bahwa Allah SWT memberi ilham, yaitu kepada para hawariyyun, murid-murid dan pengikut Nabi Isa alaihissalam. Dan mereka jelas bukan nabi.
Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: "Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku". Mereka menjawab: Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)". (QS. Al-Maidah : 111)
Begitu juga kepada ibunda Nabi Musa, Allah SWT juga memberi ‘wahyu’. Namun para ulama sepakat maksudnya bukan wahyu kenabian, melainkan petunjuk berupa : ilham.
إِذْ أَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّكَ مَا يُوحَىٰ
Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, (QS. Thaha : 38)
Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, (QS. Al-Qashash : 7)
Allah SWT juga ‘mewayhukan’ kepada hewan yaitu lebah untuk membuat rumah madu. Mungkin bahasa yang lebih dekat dengan kita adalah Allah SWT memberi insting hewani dan naluri untuk membuat sarang.
Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, “Buatlah sarang-sarang di pegunungan, pepohonan, dan bangunan yang dibuat oleh manusia. (QS. An-Nahl : 68)
Namun begitu, kata awhayna (أَوْحَيْنَا) dalam konteks ayat yang sedang kita bicarakan ini tentunya adalah wahyu kenabian. Bahwa Allah SWT menurunkan wahyu kenabian kepada diri Muhammad SAW, sebagaimana yang juga telah Allah SWT jadikan para nabi sebelumnya.
كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ
Kata kama (َمَا) artinya sebagaimana. Kata awhayna (أَوْحَيْنَا إِلَىٰ) artinya : Kami wahyukan kepada, dalam arti wahyu kenabian. Kata nuhin (ُوحٍ) artinya : Nabi Nuh alaihissalam.
Nabi Nuh (Noah) disebutkan 43 kali dalam Al-Quran. Kisahnya banyak dijelaskan dalam berbagai surah, seperti Surah Nuh, Surah Hud, dan Surah Al-A'raf. Bahkan nama Beliau diabadikan menjadi nama salah satu surat Al-Quran, yaitu surat ke-71 : Surat Nuh.
Nabi Nuh alaihisalam adalah salah satu nabi paling legendaris dalam tradisi Islam, Kristen, dan Yahudi. Sosok Beliau diperkirakan hidup sekitaran tahun 3000-2500 SM. Jika kita mengambil tahun 2500 SM sebagai patokan, maka jarak waktu antara masa kehidupan Nuh dan kenabian Muhammad SAW adalah sekitar 3.100tahun. Sedangkan jarak waktu dari masa Nuh hingga sekarang adalah sekitar 4.500-an tahun.
Nabi Nuh alaihisalam hidup di era yang sangat kuno, bahkan sebelum peradaban besar seperti Mesir Kuno dan Mesopotamia mencapai puncaknya.
Nabi Nuh diutus kepada kaumnya di Mesopotamia, wilayah yang kini menjadi Irak modern. Kaumnya dikenal sebagai penyembah berhala yang keras kepala dan menolak ajaran monoteisme yang dibawa Nuh. Mereka hidup dalam kemaksiatan dan kejahatan, sehingga Allah memutuskan untuk mengirim azab berupa banjir besar. Nuh diperintahkan untuk membangun bahtera besar sebagai persiapan menyelamatkan orang-orang beriman dan hewan-hewan.
Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (QS. Hud : 37)
Tantangan terbesar Nuh adalah menghadapi ejekan dan penolakan kaumnya saat ia membangun bahtera di tengah daratan. Selama bertahun-tahun, Nuh berdakwah dengan sabar, tetapi hanya sedikit yang mau mengikutinya.
Kisah uniknya adalah bagaimana Nuh dan pengikutnya yang setia selamat dari banjir besar yang menghancurkan seluruh kaumnya yang kafir. Banjir tersebut menjadi simbol pembersihan dunia dari kejahatan dan kekafiran.
Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. (QS. Al-Araf : 64)
Situs yang diyakini sebagai makam Nuh berada di Kota Nakhchivan, Azerbaijan, atau di Lebanon, menjadi tempat ziarah bagi banyak orang.
وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ
Kata wa-nabiyyin (وَالنَّبِيِّينَ) artinya : dan para nabi. Kata mim ba’dihi (مِنْ بَعْدِهِ) artinya : yang sesudahnya.
Ada begitu banyak nabi sesudah Nabi Nuh ‘alaihissalam. Kalau memperhatikan redaksinya, bahwa setelah penggalan ini kemudian Allah SWT menyebut Nabi Ibrahim, maka terbetik di kepala kita bahwa ada banyak nabi yang hidupnya di antara masa kenabian Nuh dan Ibrahim.
Para sejarawan mencoba mendata dan membuat perkiraan, meski akhirnya tidak disepakati, bahwa ada Nabi Hud yang diutus kepada kaum ‘Ad. Juga ada Nabi Saleh yang diutus kepada kaum Tsamud. Lalu ada Nabi Idris, meskipun ada pendapat yang menyebutkan bahwa beliau hidup sebelum Nabi Nuh, tetapi ada juga yang menyebutkan setelahnya.
Sebagian peneliti ada yang berkesimpulan bahwa jarak antara Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim diperkirakan sekitar 1.000 hingga 2.600 tahun. Perbedaan ini muncul karena sumber-sumber sejarah dan tafsir memiliki pendapat yang beragam.
Namun, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, disebutkan bahwa jarak antara Nuh dan Ibrahim adalah sekitar 1.000 tahun.
Wahai Rasulullah, apakah Adam seorang nabi?" Beliau menjawab: "Ya, dia adalah nabi yang diajak bicara (oleh Allah)." Orang itu bertanya lagi: "Berapa jarak antara Adam dan Nuh?" Beliau menjawab: "Sepuluh abad." Orang itu bertanya lagi: "Berapa jarak antara Nuh dan Ibrahim?" Beliau menjawab: "Sepuluh abad." (HR. Ibnu Hibban)
وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ
Nabi Ibrahim, atau Abraham, disebutkan 69 kali dalam Al-Quran. Beliau termasuk salah satu nabi yang paling sering disebutkan, dan kisahnya banyak dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah, Surah Ibrahim, dan Surah Al-An'am. Bahkan nama Beliau menjadi salah satu nama surat dalam Al-Quran, yaitu surat ke-14 : Surat Ibrahim.
Beliau adalah sosok sentral dalam tiga agama besar: Islam, Kristen, dan Yahudi. Diperkirakan hidup sekitar 2000-1800 SM. Jika kita mengambil tahun 1800 SM sebagai patokan, maka jarak waktu antara masa kehidupan Nabi Ibrahim dan kenabian Muhammad SAW adalah sekitar 2.400 tahun.
Sedangkan jarak waktu dari masa Nabi Ibrahim hingga sekarang adalah sekitar 3.800-an tahun. Nabi Ibrahim hidup di era ketika peradaban Mesopotamia dan Mesir Kuno sedang berkembang pesat.
Nabi Ibrahim lahir di Ur, Mesopotamia, atau Irak di masa modern, kemudian berpindah ke Haran dan akhirnya menetap di Kanaan, yaitu di Palestina atau Israel modern. Kaumnya adalah penyembah berhala, dan Ibrahim diutus untuk mengajak mereka kembali kepada ajaran tauhid. Tantangan terbesarnya adalah menghadapi Raja Namrud yang mengaku sebagai tuhan dan menentang ajaran Ibrahim.
Kisah Ibrahim yang paling terkenal adalah ujian pengorbanan putranya, Ismail (dalam Islam) atau Ishaq (dalam Yahudi dan Kristen). Ujian ini menunjukkan kesetiaan dan ketakwaan Ibrahim kepada Allah. Mukjizatnya yang terkenal adalah selamat dari api yang dinyalakan oleh Raja Namrud. Api tersebut berubah menjadi dingin dan menyelamatkan Ibrahim, menjadi bukti kekuasaan Allah.
Ibrahim juga dikenal sebagai pembangun Ka'bah di Mekah bersama putranya, Ismail. Ka'bah menjadi pusat ibadah umat Islam hingga saat ini. Kaum Ibrahim tidak dihancurkan secara langsung, tetapi Ibrahim meninggalkan mereka untuk menyebarkan ajaran tauhid ke tempat lain. Makam Ibrahim diyakini berada di Gua Makhpela, Hebron, Palestina, bersama istrinya, Sarah, dan beberapa keturunannya.
Kisah Ibrahim mengajarkan pentingnya keteguhan iman dan kesediaan untuk berkorban demi Allah. Ia menjadi teladan bagi umat beragama dalam menghadapi ujian hidup. Warisannya terus hidup melalui ajaran monoteisme yang dibawanya.
وَإِسْمَاعِيلَ
Nabi Ismail (Ishmael) adalah putra Ibrahim dari istrinya, Hajar, dan diperkirakan hidup sekitar 1900-1800 SM. Ia dibesarkan di Mekah, Arab, di tengah gurun yang tandus. Tantangan terbesarnya adalah menghadapi kesulitan hidup bersama ibunya setelah ditinggalkan oleh Ibrahim. Saat itu, Hajar dan Ismail kehabisan air, dan Hajar berlari bolak-balik antara bukit Safa dan Marwah mencari pertolongan.
Mukjizat yang menyertai Ismail adalah munculnya mata air Zamzam, yang menyelamatkan mereka dari kehausan. Mata air ini menjadi sumber kehidupan bagi banyak orang hingga saat ini. Ismail dikenal sebagai nenek moyang bangsa Arab dan membantu ayahnya, Ibrahim, membangun Ka'bah. Kaumnya tidak dihancurkan, tetapi berkembang menjadi suku-suku Arab yang besar.
Kisah Ismail juga mencakup ujian pengorbanan oleh ayahnya, Ibrahim. Meskipun hampir dikorbankan, Ismail menunjukkan ketakwaan dan kesediaannya untuk taat kepada Allah. Kisah ini menjadi simbol pengorbanan dan keteguhan iman. Makam Ismail diyakini berada di dekat Ka'bah, Mekah, menjadi tempat ziarah bagi umat Islam.
Ismail meninggalkan warisan spiritual yang besar melalui perannya dalam pembangunan Ka'bah dan keturunannya yang menjadi bangsa Arab. Kisahnya menginspirasi banyak orang untuk tetap sabar dan taat dalam menghadapi ujian hidup.
وَإِسْحَاقَ
Nabi Ishaq, atau Isaac, disebutkan 12 kali dalam Al-Quran. Beliau adalah putra Ibrahim dari istrinya, Sarah, dan diperkirakan hidup sekitar 1800-1700 SM. Ia tinggal di Kanaan (Palestina/Israel modern) dan menjadi nenek moyang Bani Israel. Kelahirannya adalah mukjizat karena Sarah sudah tua dan sebelumnya mandul. Kelahiran Ishaq menjadi bukti kekuasaan Allah dan janji-Nya kepada Ibrahim.
Tantangan terbesar Ishaq adalah ujian pengorbanan oleh ayahnya, Ibrahim. Meskipun hampir dikorbankan, Allah menggantinya dengan seekor domba, menunjukkan bahwa pengorbanan sejati adalah ketakwaan dan kesetiaan. Ishaq hidup dengan damai dan menjadi penghubung antara Ibrahim dan keturunannya. Ia menikah dengan Ribka dan memiliki dua putra, Esau dan Ya‘qub.
Kaum Ishaq tidak dihancurkan, tetapi berkembang menjadi Bani Israel. Ishaq dikenal sebagai sosok yang sabar dan taat kepada Allah. Makamnya diyakini berada di Gua Makhpela, Hebron, bersama ayahnya, Ibrahim, dan keluarganya. Kisah Ishaq mengajarkan pentingnya kepercayaan kepada janji Allah dan kesediaan untuk berkorban demi-Nya.
وَيَعْقُوبَ
Nabi Ya‘qub, atau Jacob, disebutkan 16 kali dalam Al-Quran. Ia sering disebutkan bersama anak-anaknya, terutama Yusuf, dalam kisah keluarga Bani Israel.
Beliau adalah cucu Ibrahim dan putra Ishaq. Diperkirakan hidup sekitar 1700-1600 SM, ia tinggal di Kanaan dan kemudian pindah ke Mesir. Ya‘qub dikenal sebagai ayah dari 12 suku Israel, yang menjadi cikal bakal Bani Israel. Tantangan terbesarnya adalah persaingan dengan saudaranya, Esau, dan tipu daya pamannya, Laban.
Mukjizat Ya‘qub adalah mimpi tentang tangga ke surga, yang menjadi simbol hubungan antara manusia dan Allah. Ia juga bergulat dengan malaikat hingga namanya diubah menjadi Israel, yang berarti "orang yang berjuang dengan Allah." Kaumnya tidak dihancurkan, tetapi berkembang menjadi Bani Israel yang besar.
Ya‘qub meninggalkan warisan spiritual yang besar melalui keturunannya, yang menjadi pemimpin Bani Israel. Makamnya diyakini berada di Gua Makhpela, Hebron, bersama keluarganya. Kisah Ya‘qub mengajarkan pentingnya keteguhan dan perjuangan dalam menghadapi ujian hidup.
وَالْأَسْبَاطِ
Lafazh al-asbath (الْأَسْبَاطِ) adalah bentuk jamak dari as-sibtu (السِبْطٌ) yang secara harfiyah artinya tatabu’ (التَّتَابُعُ) alias silih berganti. Ada juga yang mengatakan asalnya dari kata as-sabatu (السَّبَطُ) yang artinya pohon. Kemenag RI menerjemahkannya menjadi : anak keturunannya.
Ada sebagian kalangan ulama seperti Abu Al-Aliyah, Qatadah dan Ar-Rabi’, mengatakan bahwa yang dimaksud dengan asbat adalah dua belas orang anak-anak Nabi Ya’qub alahissalam. Masing-masing melahirkan lagi cucu generasi berikutnya. Kalau menggunakan pendapat ini, maka mereka itu pada dasarnya adalah Bani Israil.
Dengan menggunakan pendapat ini, maka yang dimaksud asbat adalah nabi-nabi dari kalangan Bani Israil. Dan jumlah mereka cukup banyak, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Ibnu Abbas berikut :
Semua nabi itu termasuk keturunan Bani Israil, kecuali hanya sepuluh yang bukan, yaitu Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, Ibrahim, Luth, Ishak, Ya’qub, Ismail dan Muhammad SAW. (HR. Al-Bukhari)
Tentang kedua belas kelompok mereka, juga disebutkan dalam kisah Al-Quran terkait rombongan Nabi Musa ketika menyeberang Laut Merah
Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu!". Maka memancarlah dari padanya duabelas mata air. (QS. Al-Araf : 160)
وَعِيسَىٰ
Nabi Isa, atau Yesus, disebutkan 25 kali dalam Al-Quran. Ia dihormati sebagai nabi dan utusan Allah, dan kisahnya banyak dijelaskan dalam Surah Maryam, Surah Al-Imran, dan Surah Al-Ma'idah.
Beliau adalah nabi utama dalam agama Kristen dan dihormati dalam Islam sebagai utusan Allah. Beliau lahir di Betlehem dan dibesarkan di Nazaret, Palestina, diutus kepada Bani Israel untuk menyampaikan ajaran kasih sayang, keadilan, dan ketakwaan kepada Allah. Tantangan terbesarnya adalah penentangan dari kaum Yahudi dan penguasa Romawi, yang merasa terancam oleh ajaran dan pengaruhnya.
Mukjizat Nabi Isa sangat banyak dan luar biasa. Bisa menyembuhkan orang sakit, menghidupkan orang mati, menciptakan burung dari tanah liat, dan berbicara saat masih bayi.
Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah. (QS. Ali Imran : 49)
Mukjizat-mukjizat ini menjadi bukti kerasulannya dan kekuasaan Allah. Dalam Islam, Isa diangkat ke surga tanpa mengalami kematian, sedangkan dalam Kristen, ia disalib dan bangkit pada hari ketiga. Perbedaan ini menjadi salah satu poin teologis yang unik antara kedua agama.
Kisah unik Isa adalah bagaimana ia membawa pesan perdamaian dan pengampunan di tengah konflik politik dan agama pada zamannya. Ia mengajarkan untuk mencintai musuh dan berbuat baik kepada semua orang. Kaumnya, Bani Israel, tidak dihancurkan, tetapi ajaran Isa menjadi dasar agama Kristen yang menyebar ke seluruh dunia.
Tidak ada makam fisik Isa karena dalam Islam, sebab semua agama sepakat beliau diangkat ke surga. Dalam Kristen, kuburannya diyakini kosong karena ada kebangkitannya.
وَأَيُّوبَ
Nabi Ayyub, atau Job, disebutkan namanya 4 kali dalam Al-Quran. Kisah kesabarannya dijelaskan dalam Surah Al-Anbiya’ dan Surah Shad.
dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang". (QS. Al-Anbiya : 83)
Beliau adalah simbol kesabaran dalam tiga agama besar: Islam, Kristen, dan Yahudi. Diperkirakan hidup sekitar 1600-1500 SM. Jika kita mengambil tahun 1500 SM sebagai patokan, maka jarak waktu antara masa kehidupan Ayyub dan kenabian Muhammad SAW adalah sekitar 2.100 tahun. Sedangkan jarak waktu dari masa Ayyub hingga sekarang adalah sekitar 3.500-an tahun. Ayyub hidup di era ketika peradaban Mesir Kuno mencapai puncaknya.
Nabi Ayyub tinggal di daerah Edom (Yordania modern). Beliau dikenal sebagai orang yang kaya raya, sehat, dan memiliki keluarga yang bahagia. Namun, Allah mengujinya dengan kehilangan harta, keluarga, dan kesehatan untuk menguji kesabarannya.
Tantangan terbesar Ayyub adalah menghadapi penderitaan fisik dan emosional yang luar biasa. Beliau pernah kehilangan segalanya, termasuk anak-anaknya, dan menderita penyakit kulit yang parah. Meskipun demikian, Ayyub tetap sabar dan tidak pernah mengeluh kepada Allah. Kisahnya menjadi contoh ketabahan dalam menghadapi ujian hidup.
Mukjizat Ayyub adalah pemulihan kehidupannya setelah ujian tersebut. Allah mengembalikan kesehatannya, memberinya kekayaan yang lebih besar, dan keluarga yang baru. Kisah ini mengajarkan bahwa kesabaran dan ketakwaan akan membawa kebahagiaan di akhir penderitaan.
وَيُونُسَ
Nabi Yunus, atau Jonah, disebutkan namanya 4 kali dalam Al-Quran. Kisahnya juga dikaitkan dengan Surah Yunus dan Surah Ash-Shaffat, di mana ia dikenal sebagai "Zun-Nun" (orang yang memiliki ikan).
Beliau adalah nabi yang diutus ke kota Nineveh (Irak modern) sekitar 800-700 SM. Jika kita mengambil tahun 700 SM sebagai patokan, maka jarak waktu antara masa kehidupan Yunus dan kenabian Muhammad SAW adalah sekitar 1.300 tahun. Sedangkan jarak waktu dari masa Yunus hingga sekarang sekitar 2.700-an tahun. Yunus hidup di era ketika kerajaan Asyur berkuasa di Mesopotamia.
Kaumnya adalah penduduk Nineveh yang dikenal sebagai penyembah berhala dan hidup dalam kemaksiatan. Tantangan terbesar Yunus adalah lari dari tugasnya sebagai nabi karena takut menghadapi kaumnya yang keras kepala.
Akibat lari dari tugasnya, Yunus ditelan oleh ikan besar dan berada di dalam perutnya selama tiga hari tiga malam. Ini menjadi momen introspeksi baginya, dan ia memohon ampun kepada Allah. Mukjizatnya adalah selamat setelah ikan tersebut memuntahkannya ke darat. Yunus akhirnya menyampaikan peringatan kepada kaumnya, dan mereka bertaubat sehingga tidak dihancurkan.
Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya). (QS. Al-Qalam : 48)
Kisah unik Yunus adalah bagaimana kaumnya, yang awalnya keras kepala, akhirnya bertaubat setelah mendengar peringatannya. Ini menunjukkan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah untuk mengubah hati manusia. Kaumnya selamat dari azab karena taubat mereka.
Makam Yunus diyakini berada di Mosul, Irak, meskipun situs tersebut sempat dirusak oleh kelompok ekstremis. Kisah Yunus mengajarkan pentingnya taubat dan keteguhan dalam menjalankan tugas, meskipun terlihat sulit.
وَهَارُونَ
Nabi Harun (Aaron) disebutkan namanya 20 kali dalam Al-Quran. Beliau adalah saudara Musa dan diperkirakan hidup sekitar 1400-1300 SM. Jika kita mengambil tahun 1300 SM sebagai patokan, maka jarak waktu antara masa kehidupan Harun dan kenabian Muhammad SAW adalah sekitar 1.900 tahun. Sedangkan jarak waktu dari masa Harun hingga sekarang sekitar 3.300-an tahun. Harun hidup di era ketika Bani Israel keluar dari Mesir dan menuju Tanah Kanaan.
Ia tinggal di Mesir dan padang gurun Sinai, membantu Musa memimpin Bani Israel keluar dari perbudakan Fir'aun. Untuk itu ada doa dan permintaan Nabi Musa agar diberi wazir yaitu saudaranya sendiri Nabi Harun.
Dan sesungguhnya kami telah memberikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa dan Kami telah menjadikan Harun saudaranya, menyertai dia sebagai wazir (pembantu). (QS. Al-Furqan : 35)
Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan". (QS. Al-Araf : 142)
Makamnya diyakini berada di Gunung Hor, Yordania, menjadi tempat ziarah bagi umat Yahudi dan Muslim.
وَسُلَيْمَانَ
Nabi Sulaiman, atau Solomon, disebutkan 17 kali dalam Al-Quran. Kisah kebijaksanaannya dan kekuasaannya atas jin dan hewan dijelaskan dalam Surah Al-Anbiya, Surah An-Naml, dan Surah Saba.
Beliau adalah raja bijaksana yang hidup sekitar 1000-900 SM di Yerusalem. Jika kita mengambil tahun 900 SM sebagai patokan, maka jarak waktu antara masa kehidupan Sulaiman dan kenabian Muhammad SAW adalah sekitar 1.500 tahun. Sedangkan jarak waktu dari masa Sulaiman hingga zaman kita sekarang adalah sekitar 2.900-an tahun. Sulaiman hidup di era keemasan kerajaan Israel, ketika Bait Suci di Yerusalem dibangun.
Ia adalah putra Daud dan dikenal karena kebijaksanaannya dalam memimpin Bani Israel. Mukjizat Sulaiman termasuk kemampuan berbicara dengan hewan, mengendalikan angin, dan memerintah jin.
maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan kamilah yang melakukannya. (QS. Al-Anbiya : 79)
Ia membangun Bait Suci di Yerusalem, yang menjadi pusat ibadah Bani Israel. Kisah uniknya adalah bagaimana ia memenangkan hati Ratu Bilqis dan mengajaknya untuk menyembah Allah.
Tantangan terbesarnya adalah menghadapi Ratu Bilqis dari Saba (Yaman modern) dan kaumnya yang menyembah matahari. Maka Nabi Sulaiman mengirim surat kepada Ratu Balqis untuk masuk Islam dan tunduk di bawah kerajaannya.
Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. An-Naml : 30)
Kaum Sulaiman hidup dalam kemakmuran selama pemerintahannya, tetapi setelah wafat, kerajaannya terpecah. Makam Sulaiman diyakini berada di Yerusalem, menjadi simbol kebijaksanaan dan keadilan.
وَآتَيْنَا دَاوُودَا
Nabi Daud, atau David, namanya disebutkan 16 kali dalam Al-Quran. Kisahnya sebagai raja dan nabi, serta kemampuannya melunakkan besi, dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah, Surah Saba, dan Surah Shad.
Beliau adalah raja dan nabi yang hidup sekitar 1040-970 SM di Yerusalem. Ia dikenal karena mengalahkan Jalut (Goliath) dengan ketapel, menjadi simbol keberanian dan kepercayaan kepada Allah.
Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. (QS. Al-Baqarah : 251)
Ia juga dikenal sebagai penulis Mazmur, yang menjadi bagian dari kitab suci Yahudi dan Kristen. Meskipun pernah melakukan kesalahan, Daud bertobat dan tetap menjadi pemimpin yang dihormati. Kepada Beliau Allah SWT menurunkan kitab suci yaitu Zabur, sebagaimana firman Allah SWT :
وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا
Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (QS. An-Nisa : 163)
Di dalam Al-Quran Allah SWT menyebutkan bahwa Nabi Daud itu adalah seorang yang sangat taat kepada Allah SWT, sebagaimana ayat berikut :
Kami tundukkan bersama Daud gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. (QS. Al-Anbiya : 79)
Mukjizat Daud adalah kemampuannya melunakkan besi dengan tangannya dan menciptakan baju besi yang kuat.
وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ
Kami telah melunakkan besi untuknya, (QS. Saba : 10)
Dan dengan kemampuannya itu, Nabi Daud alaihissalam menjadi seorang pandai besi yang handal. Salah satu karyanya adalah bisa menciptakan baju besi yang amat berguna untuk digunakan dalam peperangan pada masanya.
Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu. (QS. Al-Anbiya : 80)
Maka wajar kalau disebutkan bahwa Nabi Daud adalah salah satu nabi yang juga seorang raja yang punya kekuatan yang luar biasa, khususnya di bidang teknologi yang modern untuk ukuran zamannya. Allah SWT secara khusus menyebutkan dalam ayat berikut :
وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُودَ ذَا الْأَيْدِ
Sebutlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan. (QS. Shad : 17)
Nabi Daud alaihissalam memang telah diangkat oleh Allah SWT sebagai khalifah, yaitu penguasa atau lebih tepatnya menjadi raja. Khususnya buat Bani Israil namun rupanya kerajaannya mencakup yang lainnya juga.
Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil. (QS. Shad : 26)
زَبُورًا
Dalam Al-Quran, kata Zabur disebutkan 3 kali yaitu surat An-Nisa ayat 163, surat Al-Isra ayat 55 dan surat Al-Anbiya ayat 105. Dari ketiga ayat ini, Al-Quran menegaskan bahwa Zabur adalah kitab suci yang diberikan kepada Nabi Daud sebagai bagian dari wahyu Allah.
Penyebutan Zabur dalam Al-Quran juga menunjukkan penghormatan terhadap kitab-kitab suci sebelumnya, meskipun Al-Quran diyakini sebagai kitab terakhir dan penyempurna.
Dalam Islam, Zabur diyakini sebagai salah satu dari empat kitab suci utama yang diturunkan kepada para nabi, selain Taurat, Injil, dan Al-Quran. Zabur berisi kumpulan nyanyian, doa, dan pujian kepada Allah, yang dikenal sebagai Mazmur dalam tradisi Yahudi dan Kristen. Kitab ini ditulis dalam bahasa Ibrani dan berfokus pada aspek spiritual, seperti pengabdian, penyesalan, dan pengharapan kepada Allah.
Zabur tidak berisi hukum atau syariat baru, melainkan lebih bersifat petunjuk spiritual dan penguatan iman. Dalam Al-Quran, Zabur disebutkan sebagai kitab yang diberikan kepada Nabi Daud sebagai anugerah dan petunjuk dari Allah.
Dibandingkan dengan Taurat, Zabur bersifat spiritual dan puitis, sedangkan Taurat lebih bersifat legalistik dan normatif. Dibandingkan dengan Injil, Zabur lebih fokus pada doa dan pujian, sedangkan Injil menekankan ajaran moral dan spiritual yang lebih luas.
Ringkasan Perbandingan
Aspek
Zabur
Taurat
Injil
Al-Quran
Nabi Penerima
Nabi Daud
Nabi Musa
Nabi Isa
Nabi Muhammad SAW
Bahasa
Ibrani
Ibrani
Aramaik (asli)
Arab
Isi Utama
Nyanyian, doa, pujian
Hukum dan syariat
Ajaran moral dan spiritual
Petunjuk lengkap kehidupan
Fokus
Spiritual dan puitis
Legalistik dan normatif
Moral dan kabar gembira
Universal dan komprehensif
Status
Kitab suci untuk Nabi Daud
Kitab suci untuk Bani Israel
Kitab suci untuk kaum Nabi Isa
Kitab suci terakhir dan final
Kitab Zabur, Taurat, Injil, dan Al-Quran memiliki peran dan fokus yang berbeda, tetapi semuanya berasal dari sumber yang sama, yaitu Allah. Zabur lebih bersifat spiritual dan puitis, Taurat menekankan hukum dan syariat, Injil fokus pada ajaran moral dan kabar gembira, sedangkan Al-Quran merupakan kitab penyempurna yang mencakup semua aspek kehidupan. Dalam Islam, Al-Quran diyakini sebagai kitab yang terjaga keasliannya dan menjadi pedoman utama bagi umat manusia.
[1] Al-Qurthubi (w. 681 H), Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M)