Kemenag RI 2019:Sesungguhnya aku ingin engkau kembali (kepada-Nya) dengan (membawa) dosa (karena membunuh)-ku dan dosamu (sebelum itu) sehingga engkau akan termasuk penghuni neraka. Itulah balasan bagi orang-orang yang zalim.” Prof. Quraish Shihab:Sesungguhnya aku ingin supaya
engkau kembali dengan (membawa) dosa (pembunuhan terhadap)-ku
dan dosamu sendiri, sehingga menyebabkan engkau menjadi penghuni
neraka, dan yang demikian itulah balasan bagi orang-orang zalim.” Prof. HAMKA:Sesungguhnya aku mau engkau pikul dosaku dan dosamu, lalu engkau jadi ahli neraka, dan demikian itulah balasan bagi orang-orang yang zalim.
Ayat ke-29 ini merupakan jawaban dari Habil, yaitu anak Adam yang diancam akan dibunuh oleh saudaranya, Qabil.
Sebagian ulama mengatakan bahwa kalimat ini bagian dari nasehat yang disampaikan kepada saudaranya, agar menghentikan niat untuk membunuh sesama saudara sendiri. Caranya dengan nada ancaman, bahwa dirinya berkeinginan bahwa bila Qabil benar-benar membunuhnya, maka Qabil akan mati dengan membawa dosa karena membunuh dirinya, selain juga membawa dosa-dosa sendiri sebelum melakukan pembunuhan.
Dengan dosa yang banyak dan besar itu, maka Qabil terancam masuk ke dalam kategori orang yang akan penghuni neraka. Semua itu adalah balasan bagi orang-orang yang zalim.
إِنِّي أُرِيدُ أَنْ تَبُوءَ بِإِثْمِي وَإِثْمِكَ
Kata inni uridu (إِنِّي) artinya : sesungguhnya Aku ingin. Kata antabuu’a (أَنْ تَبُوءَ) terdiri dari huruf an(أَنْ) berarti bahwa, sedangkan kata (تَبُوءَ) secara makna asal berarti : kamu kembali. Kata bi-itsmi (بِإِثْمِي) artinya : dengan dosaku. Kata wa itsmika (وَإِثْمِكَ) artinya : dan dosa kamu.
Ada yang berpendapat bahwa ungkapan ini dijadikan alasan oleh Habil kenapa dia tidak melawan atau membela diri dari ancaman pembunuhan, yaitu karena Habil memang ingin agar saudaranya itu mati dengan menanggung dosa dan masuk neraka.
Namun kebanyakan ulama memahaminya tidak demikian. Menurut mereka, kalimat ini diucapkan Habil dalam rangka menasehati saudaranya agar mengurungkan niatnya untuk membunuh. Kalau tidak maka Qabil terancam nantinya akan menghadap Allah dengan membawa banyak dosa. Bukan hanya dosa-dosa dia seorang, tetapi juga menanggung dosa-dosa Habil sebagai pihak yang dia bunuh.
Kalau hanya mengandalkan terjemah harfiyah ini, boleh jadi kita akan mengatakan bahwa diantara resiko membunuh nyawa orang lain adalah bahwa si pembunuh di akhirat nanti akan menanggung dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh korban yang terbunuh.
Namun para ulama mengatakan bahwa makna penggalan ayat ini tidak demikian. Sebab pada dasarnya seseorang yang berdosa hanya menanggung dosanya sendiri dan tidak menanggung dosa orang lain, sebagaimana firman Allah SWT berfirman :
ولا تَزِرُ وازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرى
Dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. (QS. Fathir : 18)
Lalu para ulama seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Mas'ud radhiyallahuanhuma, juga Al-Hasan dan Qatadah menjelaskan bahwa pada teks ayat Al-Quran itu ada kata yang mahzduf, yaitu kata qatli (قَتْلِي) yang artinya : pembunuhanku.
تَبُوءَ بِإِثْم(قَتْلِي) وَإِثْمِكَ
Maknanya adalah : Kamumemikul dosa (karena membunuhku) dan dosamu sendiri.
Jadi Qabil tidak menanggung semua dosa Habil, tetapi menanggung dosa khususnya karena telah membunuhnya. Hal itu sejalan dengan hadits riwayat Abu Hurairah terkait dengan orang yang bangkrut alias muflis.
Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada Hari Kiamat dengan membawa (pahala) shalat, puasa, dan zakat, tetapi dia juga datang dengan (dosa) telah mencaci orang ini, menuduh orang ini, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang ini. (HR. Muslim)
فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
Kata fatakuna (فَتَكُونَ) artinya : maka kamu akan menjadi. Kata min artinya (مِنْ) dari atau sebagian dari. Kata ashabun-nar (أَصْحَابِ النَّارِ) artinya : penduduk atau penghuni neraka.
Ayat ini menyatakan bahwa ancaman buat orang yang membunuh nyawa manusia, nanti di akhirat akan menjadi penghuni neraka secara abadi dan terus berlangsung tanpa akhir. Hal itu juga diperkuat dengan pernyataan Nabi SAW dalam hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim. Keduanya sama-sama menshahihkan hadits berikut ini :
"Barang siapa yang membunuh seorang jiwa yang memiliki perjanjian (dengan Muslim), ia tidak akan mencium bau surga, padahal bau surga itu tercium sejauh perjalanan empat puluh tahun." (HR. Bukhari dan Muslim)
وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ
Kata wa dzalika (وَذَٰلِكَ) artiya : dan itu. Yang dimaksud tidak lain adalah seseorang mati lalu masuk ke dalam neraka.
Kata jaza’u (جَزَاءُ) artinya : balasan. Bahwa segala apa yang manusia lakukan di muka bumi ketika masih dalam kehidupan yang nyata, semua ada balasannya. Baik perbuatan itu merupakan bentuk kebaikan ataupun bentuk keburukan.
Kalaupun balasan itu tidak sempat diterima di dunia, maka pastinya akan diterima di akhirat. Dan berapa banyak balasan amal itu yang ditangguhkan, bukan diterima di dunia, melainkan di akhirat.
Maka dosa membunuh nyawa manusia, adalah dosa yang jika tidak dibalas di dunia, maka akan dapat balasan di akhirat, yaitu pelakunya akan menjadi penghuni neraka.
Kata azh-zhalimin (الظَّالِمِينَ) artinya : orang-orang yang zhalim. Kezaliman itu bisa saja dilakukan oleh orang yang tidak beriman, namun tidak tertutup kemungkinan bahwa orang yang sudah beriman pun bisa-bisa saja untuk berlaku zalim.
Maka orang yang menghuni neraka itu tidak hanya sebatas mereka yang kafir dan ingkar serta tidak beriman dalam arti mengingkari ketuhanan Allah SWT, tetapi mereka yang sebenarnya masuk kategori beriman pun bisa saja melakukan kezaliman.
Bukankah Iblis itu mengakui bahwa Allah SWT adalah Tuhan Pencipta alam dan pencipta dirinya? Kurang beriman apa si iblis itu kepada Allah. Bahkan Iblis pun berdoa dalam artinya meminta kepada Allah, setidaknya dia meminta agar dipanjangkan usianya sampai hari kiamat.
Dan uniknya, doa seorang pembangkang macam Iblis durjana itu kok ya Allah SWT terima? Padahal niatnya minta dipanjangkan usia demi untuk menyesatkan umat manusia.
Namun Iblis tetap meminta kepada Allah SWT, dalam arti dia berdoa. Dan doa itu sebenarnya adalah ibadah, punya nilai pahala sendiri di sisi Allah.
Namun lepas dari orang yang mengakui bertuhan kepada Allah, juga beribadah dalam arti berdoa meminta kepada-Nya, kalau dia berbuat zalim kepada orang lain, maka dia juga akan ditempatkan di dalam neraka bersama mereka yang ingkar kepada ketuhanan Allah.
Maka sudah benar penggalan yang jadi penutup ayat ini menyebutkan bahwa hal ini sebagai balasan bagi orang yang zalim, bukan sekedar balasan bagi orang yang kafir.