Kemenag RI 2019:Telah sempurna kalimat Tuhanmu (Al-Qur’an) dengan (mengandung) kebenaran dan keadilan. Tidak ada (seorang pun) yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Prof. Quraish Shihab:Dan telah sempurnalah kalimat Tuhan Pemeliharamu (al-Qur’an) dalam keadaan benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui. Prof. HAMKA:Dan telah sempurna kalimat Tuhan engkau, dalam keadaan benar dan adil. Sekali-kali, tidak ada pengganti dari kalimat-kalimat-Nya. Dan, Dia adalah Maha Mendengar lagi Mengetahui.
Tidak ada satu pun makhluk yang mampu mengubah, menambah, atau mengurangi firman Allah, karena ia bersumber dari Zat Yang Maha Sempurna, Maha Mendengar, dan Maha Mengetahui.
Ayat ini juga menjadi penguat bagi Nabi SAW dan umatnya agar teguh memegang wahyu ilahi, tanpa ragu terhadap keabsahan dan ketetapan hukum-hukumnya di tengah tantangan manusia yang sering mencoba menggantinya dengan hukum buatan sendiri.
وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ
Kata wa tammat (وَتَمَّتْ) artinya : dan telah sempurna. Diawali dengan wawu ‘athf untuk menyambungkan ayat ini dengan ayat sebelumnya. Kata tammat (تَمَّتْ) berasal dari akar kata (ت م م) yang berarti sempurna, lengkap, atau mencapai kesempurnaan tujuannya.
Kata kalimatu (كَلِمَتُ) adalah bentuk jamak dari bentuk tunggalnya yaitu (كلمة). Kata ini dalam Al-Qur’an sering punya banyak makna, seperti firman, ketetapan, janji, atau hukum Allah. Dalam konteks ayat ini, para mufasir berbeda pendapat. Ada yang menafsirkannya sebagai Al-Qur’an, yakni firman Allah yang benar dan adil. Namun ada pula yang menafsirkannya sebagai ketetapan Allah dan janji-Nya, baik berupa janji kemenangan bagi Rasul maupun keputusan azab bagi orang kafir.
Kata rabbika (رَبِّكَ) artinya : Tuhanmu. Kata ini menunjukkan hubungan khusus bahwa firman itu datang langsung dari Tuhanmu wahai Muhammad, sehingga ia bersifat pasti, final, dan tak mungkin batal.
Ath-Thabari dalam tafsir Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran[1]“ menjelaskan bahwa penggalan ini maksudnya telah sempurna firman Tuhanmu, telah terlaksana, tampak nyata, tanpa kebohongan dan tanpa kezaliman.
صِدْقًا وَعَدْلًا
Kata sidqan (صِدْقًا) artinya : dengan kebenaran. Dikatakan sebagai kebenaran karena berhubungan dengan berita-berita dalam Al-Qur’an, semuanya benar, tidak ada dusta.
Kata wa-‘adlan (وَعَدْلًا) artinya : dan keadilan. Kata in berhubungan dengan perintah dan larangan ahkam, semuanya adil, tidak zalim.
Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[2]menuliskan :
كل ما في القرآن من أخبار عن الماضي أو المستقبل فهو صدق وكل حكم فيه فهو عدل.
Segala berita dalam Al-Qur’an, baik tentang masa lalu atau masa depan, adalah benar; dan setiap hukumnya adalah adil.
Secara struktur bahasa, posisi kedua kata ini merupakan tamyiz, yaitu penjelas dari kata tammat (تَمَّتْ) yang artinya telah menjadi sempurna. Jadi maknanya bahwa firman Tuhanmu dalam hal kebenaran berita dan keadilan hukum telah sempurna.
وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Kata wa huwa (وَهُوَ) artinya : dan Dia, maksudnya Allah SWT. Huruf wawu (وَ) disini adalah harfu ‘athf yang menyambung penggalan ini dengan penggalan-penggalan sebelumnya. Kata huwa (هُوَ) adalah kata ganti orang ketiga, yang lazim digunakan untuk lafaz Allah SWT. Walaupun secara linguistik huwa umumnya digunakan untuk mudzakkar, namun tidak menghalangi penggunaannya untuk Allah SWT.
Kata as-sami‘u (السَّمِيعُ) artinya : Maha Mendengar. Kata ini berasal dari akar kata (س م ع) yang berarti mendengar, memperhatikan, atau memahami sesuatu melalui pendengaran. Dalam konteks sifat Allah, artinya Allah mendengar seluruh suara, baik yang keras maupun yang paling tersembunyi, tanpa batas ruang, waktu, atau medium.
Kata al-‘alim (الْعَلِيمُ) artinya : Maha Mengetahui. Kata ini berasal dari akar kata (ع ل م) yang berarti mengetahui, memahami, menyadari dengan ilmu. Sifat ini menunjukkan keluasan pengetahuan Allah terhadap seluruh ciptaan, baik yang tampak maupun tersembunyi.
Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[4] dengan lebih menyoroti aspek teologis menuliskan bahwa sifat As-Sami’ dan Al-‘Alim merupakan dua sifat yang menunjukkan kesempurnaan ilmu dari segala sisi. Pendengaran berhubungan dengan hal-hal partikular, sedangkan pengetahuan meliputi hal-hal universal. Maka keduanya digandengkan untuk menunjukkan keluasan ilmu-Nya. Penyandingan dua nama ini menunjukkan pengetahuan Allah yang meliputi seluruh jenis maklumat, baik yang kasat maupun abstrak.
Al-Alusi dalam tafsir Ruh Al-Ma'ani[5] menuliskan bahwa ayat ini ditutup dengan dua nama tersebut sebagai penghiburan bagi Nabi SAW, bahwa Allah mendengar perkataan musuh-musuhnya dan mengetahui keadaan mereka, maka janganlah beliau bersedih karena keingkaran mereka.
Ibnu Asyur dalam tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir[6] juga menegaskan bahwa Allah mendengar apa yang mereka ucapkan ketika meminta hakim selain Allah, dan mengetahui maksud-maksud tersembunyi di baliknya. Dua sifat ini adalah penguat argumentasi ayat: mengapa Allah-lah satu-satunya hakim.
Terkait dengan penyebutan dua nama Allah SWT di bagian penutup ayat ini, memang banyak diamati para ulama, bahwa di balik nama-nama itu ada hubungan erat alias munsabah. Salah satu yang membahas hal itu adalah Al-Biqa‘i dalam tafsir Nuzhum Ad-Durar fi Tanasubi Al-Ayah wa As-Suwar.[7]
Beliau menegaskan bahwa penutup setiap ayat merupakan cermin dari isi ayat itu sendiri. Tidak ada satu pun nama Allah yang disebut pada akhir ayat kecuali menjadi kesimpulan makna yang dikandung oleh ayat tersebut.