Ketika seorang muslim hendak tidur, dianjurkan untuk menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah. Doa yang diajarkan Nabi SAW berbunyi:
بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا
Bismika Allāhumma amūtu wa aḥyā
“Dengan nama-Mu ya Allah aku mati dan aku hidup.”
Doa ini mengingatkan kita bahwa tidur adalah “kematian kecil”. Maka, saat memejamkan mata, seorang hamba menggantungkan sepenuhnya hidup dan matinya kepada Allah.
Kemudian ketika bangun dari tidur, doa yang dianjurkan adalah:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
Al-ḥamdu lillāh alladhī aḥyānā ba‘da mā amātanā wa ilayhin-nushūr
“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nyalah kami akan kembali.”
Doa ini mempertegas bahwa bangun tidur ibarat dihidupkan kembali setelah mati. Setiap pagi sesungguhnya adalah kesempatan baru yang Allah berikan, seolah kita dibangkitkan dari kematian untuk melanjutkan amal dan ibadah.
Dengan demikian, doa tidur dan bangun tidur bukan sekadar rutinitas, tetapi sebuah pengingat yang sangat dalam. Ia mengajarkan bahwa hidup dan mati berada sepenuhnya di tangan Allah, dan bahwa tidur yang kita alami setiap hari hanyalah bayangan kecil dari kematian yang kelak akan kita temui.
Kematian Secara Medis
Tentu saja tidur itu bukan kematian, begitu juga dengan pingsan atau koma. Di masa lalu orang dikatakan telah mati jika sudah tidak lagi bernafas atau jantungnya berhenti berdetak.
Namun di masa modern ini, secara medis dan biologis, batasan seseorang dianggap meninggal dunia tidak semata-mata ketika napas berhenti atau jantung tidak berdetak. Dunia kedokteran memiliki standar yang lebih ketat, karena fungsi tubuh bisa berhenti sementara lalu dipulihkan dengan bantuan alat atau tindakan medis.
Dalam kedokteran modern, kematian biasanya dibagi dalam dua kategori utama:
Pertama, kematian kardiopulmoner.
Ini adalah pemahaman klasik tentang mati, yaitu ketika jantung berhenti berdetak dan pernapasan berhenti total. Jika dalam beberapa menit tidak ada sirkulasi darah dan oksigen, jaringan tubuh—terutama otak—akan rusak permanen.
Pada zaman dahulu, ukuran ini cukup untuk menyatakan seseorang mati, tetapi sekarang, dengan teknologi resusitasi dan ventilator, keadaan ini masih bisa dibalikkan.
Kedua, kematian otak (brain death).
Ini adalah standar modern yang banyak dipakai di dunia medis. Kematian otak berarti semua fungsi otak, termasuk batang otak, berhenti secara total dan tidak bisa pulih. Batang otak adalah pusat pengendali fungsi vital seperti pernapasan spontan, denyut jantung, kesadaran, dan refleks dasar. Jika batang otak sudah tidak berfungsi, maka meskipun jantung masih bisa berdetak dengan bantuan mesin, orang itu dianggap telah meninggal dunia secara medis dan hukum.
Untuk memastikan seseorang mengalami kematian otak, dokter melakukan pemeriksaan sangat ketat, antara lain:
-
Tidak ada respons kesadaran terhadap rangsangan apapun.
-
Tidak ada refleks batang otak, seperti refleks pupil terhadap cahaya atau refleks muntah.
-
Tidak ada kemampuan bernapas sendiri ketika dilepas dari ventilator (diketahui lewat apnea test).
-
Hasil pemeriksaan penunjang, seperti EEG (rekaman aktivitas listrik otak) menunjukkan tidak ada aktivitas sama sekali.
Jika semua tanda ini terpenuhi dan tidak ada penyebab lain yang bisa dipulihkan (misalnya obat bius, hipotermia, atau keracunan tertentu), maka pasien dinyatakan meninggal.
Dengan demikian, secara biologis dan kedokteran modern, kematian tidak lagi hanya dipahami sebagai berhentinya napas dan jantung, melainkan berhentinya fungsi otak secara permanen. Hal ini karena otak adalah pusat kesadaran, pusat pengaturan tubuh, dan inti dari “kehidupan manusia” itu sendiri