Kemenag RI 2019:Dialah Penguasa mutlak di atas semua hamba-Nya, dan Dia mengutus kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, malaikat-malaikat Kami mencabut nyawanya, dan mereka tidak melalaikan tugasnya. Prof. Quraish Shihab:Dan Dia-lah Penguasa di atas para hamba-Nya. Dan Dia mengutus kepada kamu (para malaikat yang bertugas sebagai) para penjaga, sampai apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, dia diwafatkan oleh para rasul Kami (para malaikat maut), sedangkan mereka tidak melalaikan (kewajibannya). Prof. HAMKA:Dan Dialah yang sangat Perkasa atas hamba-hamba-Nya dan Dia kirimkan kepada kamu pemelihara sehingga apabila datang kepada seseorang kamu kematian, diambillah akan dia oleh utusan-utusan Kami, dan tidaklah mereka itu leter (terlalai).
Ayat ke-61 dari surat Al-An’am ini menegaskan sekali lagi bahwa Allah SWT adalah Penguasa mutlak atas semua hamba-Nya. Selain itu Allah SWT juga menempatkan para malaikat untuk mencatat semua yang manusia lakukan.
Sampai ketika sudah datang waktunya, manusia akan dimatikan oleh malaikat yang kerjanya benar-benar rajin dan akurat.
وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ
Huruf wa (وَ) artinya : dan. Kata huwa (هُوَ) artinya : Dia. Kata al-qohiru (الْقَاهِرُ) diterjemahkan berbeda-beda. Kemenag RI menerjemahkannya sebagai : “Penguasa mutlak”. Adapun Prof. Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi : “Penguasa”. Sementara Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : “sangat Perkasa”. Kata ini berasal dari kata (قَهَرَ – يَقْهَرُ) yang bermakna mengalahkan, menundukkan, atau menguasai dengan penuh kekuasaan. Sehingga kata al-qahir (الْقَاهِرُ) berarti Yang Maha Mengalahkan, Yang Maha Berkuasa secara mutlak.
Kata fauqa (فَوْقَ) artinya : di atas. Kata ‘ibadihi (عِبَادِهِ) artinya : hamba-hamba-Nya. Penggalan ini bukan sekadar menunjukkan posisi fisik di atas, melainkan menegaskan keunggulan, kekuasaan, dan otoritas mutlak Allah atas hamba-hamba-Nya.
Pesan yang bisa kita dapat bahwa sebagai Penguasa mutlak, maka manusia sebagai hamba sama sekali tidak punya hak apapun untuk protes atas segala apa yang Allah SWT kehendaki. Kesannya bahwa Allah SWT tidak terikat sedikitpun dengan komitmen ini dan itu. Apakah yang Dia kehendaki, like and dislike, sepenuhnya berada di tangan-Nya.
وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً
Kata wa yursilu (يُرْسِلُ) artinya : dan Dia mengutus. Kata ‘alaikum (عَلَيْكُمْ) artinya : atas kamu sekalian. Kata hafazah (حَفَظَةً) artinya : para penjaga. Maksudnya tidak lain adalah para malaikat yang tugasnya menjaga.
Dalam keadaan Allah SWT adalah Penguasa mutlak yang tidak ada sedikitpun hak manusia untuk protes atau pun keberatan atas apa yang Allah kehendaki, diteruskan dengan penjelasan bahwa Allah SWT juga mengirim para penjaga.Namun apa yang dimaksud dengan malaikat penjaga pada ayat ini? Apakah menjaga dari malapetaka dan marabahaya?
Jawabannya tidak selalu, bisa iya dan bisa tidak. Namun yang pasti tugasnya sebagaimana disebutkan di dalam ayat lain, Allah SWT tugaskan malaikat penjaga itu untuk mencatat amal-amal manusia :
Dan sesungguhnya bagi kalian ada para penjaga, para malaikat mulia lagi mencatat, mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan. (QS. Al-Infithar: 10–12)
Al-Qurthubi dalam tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Quran[1] menuliskan bahwa ada dua malaikat pada malam hari dan dua malaikat pada siang hari. Salah satunya menulis kebaikan dan yang lain menulis keburukan.
Jika manusia berjalan, maka salah satu malaikat berada di hadapannya dan yang lain di belakangnya. Ini sebagaimana firman Allah SWT :
Bagi tiap manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya, bergiliran dari depan dan dari belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. (QS. Ar-Ra‘d: 11)
Jika ia duduk, maka salah satu berada di sebelah kanannya dan yang lain di sebelah kirinya, berdasarkan firman Allah :
عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمالِ قَعِيدٌ
Dari kanan dan dari kiri dalam keadaan duduk mengawasi (QS. Qaf: 17).
Al-Qurthubi juga menambahkan penjelasan lain, yaitu bahwa setiap manusia dijaga oleh lima malaikat: dua malaikat pada malam hari, dua malaikat pada siang hari, dan yang kelima tidak pernah berpisah darinya baik malam maupun siang."
[1]Al-Qurtubi (w. 671 H), Al-Jami' li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M)
حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ
Kata hatta idza (حَتَّىٰ إِذَا) artinya : hingga ketika. Terdiri dari :
§hatta (حَتَّىٰ) berarti hingga atau sampai, merupakan huruf penghubung yang menunjukkan batas waktu atau kondisi terjadinya suatu peristiwa. Artinya, peristiwa berikutnya yaitu kematian terjadi setelah atau sampai waktu tertentu.
§idza (إِذَا) berarti ketika, merupakan harfu syarth mengawali kondisi atau syarat yang pasti terjadi di masa depan, yaitukematian sebagai sesuatu yang pasti akan datang kepada setiap manusia.
Kata jaa’a (جَاءَ)adalah kata kerja dalam bentuk fi‘il madhi yang seharusnya berarti : telahdatang. Namun dalam konteks ini, fi’il madhi bukan menunjukkan waktu yang sudah lampau, melainkan menunjukkan sesuatu yang sudah pasti dan tidak bisa dihindari
Kata ahada-kum (أَحَدَكُمُ) terdiri dari kata ahad yang artinya : satu, dan dhamir kum (كُمُ) yang artinya : kamu. Secara harfiah berarti : ”satu per satu dari kalian”. Pesan yang tersirat di balik kata ahadakum bahwa kematian itu adalah peristiwa yang pasti menimpa setiap individu secara personal bukan secara kolektif. Juga bahwa tiap orang punya timing yang berbeda ketika mengalami kematian.
Kata al-mautu (الْمَوْتُ) artinya : kematian. Sebenarnya istilah kematian itu sendiri bukan berarti musnah, hilang, lenyap atau menjadi tidak adasecara begitu saja. Buat manusia, kematian itu hanyalah peristiwa pindah alam, dari alam dunia ke salah satu bagian dari alam akhirat, yaitu yang biasa disebut dengan : alam barzakh.
Alam barzakh sendiri dipahami sebagai alam yang jadi batas antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat yang sesungguhnya. Alam yang menjadi salah satu etape dimana roh tetap sadar dan mengalami konsekuensi dari amal perbuatannya di dunia. Di alam barzakh, manusia akan merasakan keadaan sesuai dengan amal dan iman yang telah dilakukannya.
Bagi orang yang beriman dan bertakwa, alam barzakh menjadi tempat yang tenteram dan damai, sementara bagi yang ingkar atau berdosa, alam ini bisa menjadi tempat sempit dan penuh rasa gelisah.
تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا
Kata tawaffat-hu (تَوَفَّتْهُ) terdiri dari kata tawaffa (تَوَفَّى) yang artinya : mewafatkan. Objeknya adalah dhamir hu (ـهُ) yang berarti : dia, yaitu manusia. Bisa diterjemahkan menjadi : mencabut nyawanya.
Pelakunya adalah kata rusuluna (رُسُلُنَا) yang merupakan bentuk jamak dari bentuk tunggalnya yaitu rasul (رسول). Jika menggunakan kata rusuluna (رُسُلُنَا) artinya : para utusan Kami. Disepakati oleh para mufassir bahwa yang dimaksud bukan nabi atau rasul manusia, melainkan maksudnya adalah para malaikat.
Cukup menggelitik penggunaan kata (رُسُلُنَا) artinya : para utusan Kami yaitu para malaikat. Sebab yang kita tahu selama ini yang mencabut nyawa itu hanya satu saja yaitu Izrail, lalu kenapa disini disebutkan banyak malaikat?
Jawabannya bahwa dalam bahasa Arab kadang kata jamak tidak selalu untuk menyebutkan jumlah yang banyak, seringkali juga digunakan untuk menggambarkan kekuatan, kehormatan, atau kesempurnaan suatu tugas, meskipun dalam kenyataannya mungkin hanya satu yang melakukannya.
Namun beberapa mufassir ada juga yang memberi penjelasan bahwa meski Izrail adalah yang utama dalam mencabut nyawa, ada malaikat lain yang bertugas membantu, mengawasi, atau mencatat peristiwa itu. Dengan demikian, penggunaan jamak menunjukkan kerjasama para malaikat dalam menjalankan perintah Allah.
وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ
Kata wa hum (هُمْ) artinya : dan mereka. Mereka yang dimaksud adalah para malaikat itu. Kata la yufarrithun (يُفَرِّطُونَ) artinya : tidak melalaikan. Kata ini berasal dari akar kata (ف ر ط) berarti melalaikan, mengabaikan, lalai, atau tidak menunaikan sesuatu dengan sempurna.
Al-Mawardi dalam tafsir An-Nukat wa Al-‘Uyun[1] menuliskan bahwa penggalan ini memiliki dua penafsiran. Pertama, bahwa para malaikat itu tidak menunda atau mengakhirkan pekerjaan yang diperintahkan. Kedua, mereka tidak menyia-nyiakan pekerjaan itu, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas.
Meski para malaikat yang mencatat amal dan mencabut nyawa itu sibuk sekali, tugas mereka sangat berat karena menyangkut setiap amal perbuatan manusia. Namun begitu para malaikat itu tidak pernah lalai, tidak mengabaikan, dan selalu menjalankan perintah Allah dengan sempurna.
Penggalan ini mengandung informasi penting bahwa pekerjaan para malaikat itu sangat banyak, detail, dan rumit. Dahulu kita sulit membayangkan tugas berat para malaikat. Namun ketika sekarang kita mengenal komputer, khususnya server yang bisa menangani begitu banyak permintaan, maka ada sedikit gambaran.
Bayangkan alam semesta sebagai sistem komputer super-mahakuasa. Setiap manusia, dari lahir sampai meninggal, memiliki data yang harus dicatat secara akurat: setiap perbuatan, perkataan, niat, dan kondisi kehidupannya. Para malaikat dalam konteks ini bisa dianalogikan sebagai CPU dan unit pengolahan yang menangani tugas-tugas berbeda secara paralel.
Satu CPU bisa menangani ribuan hingga jutaan instruksi per detik. Begitu juga para malaikat yang mencatat amal manusia, mereka mencatat setiap perbuatan, baik yang besar maupun kecil, dengan akurasi sempurna. Seperti CPU yang memproses tiap bit data, malaikat memproses tiap “amal” manusia.
Jika satu CPU diibaratkan satu malaikat, maka server lengkap dengan banyak CPU dan memori bisa diibaratkan sebagai sistem malaikat yang bekerja secara terkoordinasi. Ada yang bertugas menjaga, ada yang mencatat, ada yang mengawasi, dan ada yang mengeksekusi perintah Allah seperti mencabut nyawa. Semuanya berjalan paralel dan tanpa ada yang keliru, mirip server yang menangani ribuan permintaan pengguna secara bersamaan.
Dalam server modern, load balancing memastikan tidak ada CPU yang terlalu berat sehingga sistem tetap berjalan lancar. Dalam konteks para malaikat, ayat (وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ) menunjukkan bahwa Allah telah mengatur tugas mereka sedemikian rupa sehingga tidak ada kelalaian, tidak ada kesalahan pencatatan, dan semua tugas berjalan dengan sempurna.
Yang pastiservernya Allah SWTluar biasa sempurna. Tidak kenal istilah hang, crash, atau delay. Setiap permintaan amal manusia diproses dengan akurasi 100%, setiap transaksi dicatat tanpa ada yang terlewat. Bahkan jumlah manusia dan perbuatan yang tak terhitung pun tetap ditangani dengan sempurna, tanpa error sama sekali.
Kalau analoginya dibandingkan dengan komputer dunia, ini seperti membayangkan super komputer raksasa yang bisa memproses seluruh alam semesta dalam satu detik. Namun Allah SWT menjalankannya dengan mudah, tanpa lelah dan tanpa batas.