| ◀ | Jilid : 18 Juz : 9 | Al-A'raf : 200 | ▶ |
وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Kemenag RI 2019: Jika setan benar-benar menggodamu dengan halus, berlindunglah kepada Allah. ) Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.| TAFSIR AL-MAHFUZH |
Ayat ke-200 dari surat Al-A’raf ini punya kembaran yang sangat identik, yaitu surat Fushshilat ayat 36 berbunyi : (وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ).
Yang di surat Al-A’raf ini konteksnya adalah ketika Nabi SAW diperintah oleh Allah SWT untuk menantang kaum musyrikin agar memerintahkan berhala-berhala mereka melakukan hal yang sekiranya mencelakakan Nabi SAW : (قُلِ ادْعُوا شُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ كِيدُونِ فَلَا تُنْظِرُونِ). Namun Allah SWT sudah menjamin bahwa Beliau SAW dilindungi : (إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ).
Di ayat ini Allah memberikan trik untuk berlindung kepada Allah SWT jika kaum musyrikin menggunakan kekuatan setan untuk mencelakakan Nabi SAW : (فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ).
وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ
Makna wa immaa (وَإِمَّا) adalah: dan jika atau sekiranya. Kata yanzaghannaka (يَنْزَغَنَّكَ) terbentuk dari tiga komponen, yaitu : fi'il mudhari (يَنْزَغَ) yang diterjemahkan secara berbeda-beda. Kemenag RI menerjemahkannya menjadi : menggoda. Sedangkan Quraish Shihab memaknainya menjadi : dibisikkan atau dirayu. Buya HAMKA menyebut maknanya : gangguan yang mengenai kepada engkau.
Adanya nun taukid (نَّ) menjadikan maknanya sungguh-sungguh atau benar-benar. Adapun yang jadi objek adalah dhamir (كَ) yang berarti kamu, dalam hal ini yang dimaksud tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW.
Al-Alusy menuliskan dalam tafsir Ruh Al-Ma’ani[1] bahwa tiga istilah yaitu al-nazgh (النَّزْغُ), al-nasgh (النَّسْغُ), dan al-nakhs (النَّخْسُ) memiliki makna yang sama, yaitu menusukkan jarum, ujung tongkat, atau benda sejenisnya ke dalam kulit. Diriwayatkan dari Ibnu Zaid bahwa dikatakan: (نَزَغْتُ ما بَيْنَ القَوْمِ) artinya : ”aku merusak hubungan di antara mereka”.
Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[2] menuliskan bahwa makna nazghu asy-syathan (نزغ الشيطان) adalah bisikan dan tusukan setan ke dalam hati melalui apa yang ia hiaskan kepada manusia berupa kemaksiatan.
Namun ada pula yang berpendapat bahwa al-nazgh berarti al-iz'aj (الإزعاج) yaitu mengusik dan mengobarkan emosi ketika sedang marah. Pada dasarnya, makna asli kata tersebut adalah mengusik atau menggerakkan menuju keburukan.
Jika diterjemahkan menjadi 'bisikan setan' maka itu adalah bentuk metafora alias majaz. Hal ini karena bisikan setan yang menghasut manusia untuk melakukan kemaksiatan dan mengusik mereka, diserupakan dengan tindakan seorang penggiring hewan yang menusuk atau mencolok hewan gembalaannya agar bergerak maju.
مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ
Makna mina asy-syaythaani (مِنَ الشَّيْطَانِ) adalah: dari setan. Maksudnya adalah jin atau iblis yang memang punya kemampuan tersendiri, tergantung objek yang mau dijadikan korbannya. Asy-Syaukani menjelaskan bahwa nazgh (نزغ) atau bisikan setan yang dimaksud pada diri Nabi SAW bukan berupa bisikan untuk melakukan maksiat, syirik, atau meragukan wahyu. Sebab Nabi SAW adalah seorang yang ma'shum alias terjaga dari dosa. Nazgh yang mungkin menghampiri Beliau SAW bisa berbentuk dorongan untuk keluar dari sifat kesabaran yang lapang.
Setan ingin agar Nabi SAW kehilangan kesabaran dalam menghadapi kedegilan kaum kafir, sehingga beliau membalas mereka dengan kemarahan yang destruktif. Bisa juga agar Beliau SAW merasa putus asa atau sedih yang mendalam. Dan juga mungkin saja Setan ingin membuat Nabi SAW merasa terbebani oleh penolakan kaumnya, sehingga mengendurkan semangat dakwahnya.
Kata nazghun (نَزْغٌ) sudah dijelaskan maknanya. Kata ini juga digunakan dalam ayat lain dalam makna memecah-belah di antara sesama saudara Nabi Yusuf alaihissalam :
مِن بَعْدِ أنْ نَزَغَ الشَّيْطانُ بَيْنِي وبَيْنَ إخْوَتِي
Setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku (QS. Yusuf : 100)
namun yang penting untuk diketahui posisinya dalam kalimat ini adalah fa’il yang diakhirkan. Dengan demikian, normalnya kalimat itu berbunyi sebagaimana terjemahan HAMKA :
Dan jika suatu gangguan (nazghun) benar-benar melakukan nazagh dari setan . . .
فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ
Makna fasta'idz (فَاسْتَعِذْ) adalah: maka mohonlah perlindungan. Makna billaahi (بِاللَّهِ) adalah: kepada Allah.
Ibnu Asyur menuliskan dalam tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir[3] bahwa isti’adzah atau memohon perlindungan kepada Allah pada hakikatnya adalah bersandar dan berserah diri kepada-Nya secara tekad di dalam hati, namun ditampakkan melalui lafaz dizkir dan doa agar diberikan penjagaan kema'shuman, seperti lafazh (أعوذ بالله من الشيطان).
Setidaknya menghadirkan kembali batasan-batasan syariat yang telah ditetapkan oleh Allah bagi dirinya. Hal itu mengingat bahwa pada dasarnya setan dibikin tidak mampu jika berhadapan dengan hamba-hamba Allah SWT.
إنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطانٌ عَلى الَّذِينَ آمَنُوا وعَلى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Sesungguhnya ia (setan) tidak memiliki pengaruh terhadap orang-orang yang beriman dan bertawakal hanya kepada Tuhan mereka. (QS. An-Nahl : 99)
Di dalam Kitab Shahih Muslim, diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ لَهُ مَنْ خَلَقَ كَذَا وَكَذَا حَتَّى يَقُولَ لَهُ مَنْ خَلَقَ رَبُّكَ فَإِذَا بَلَغَ ذَلِكَ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ
"Setan akan mendatangi salah seorang di antara kalian, lalu ia membisikkan pertanyaan, 'Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?' hingga akhirnya setan akan bertanya, 'Lalu siapa yang menciptakan Tuhanmu?' Jika bisikan itu telah sampai pada tahapan tersebut, maka hendaklah ia segera memohon perlindungan kepada Allah (membaca isti'adzah) dan hendaknya ia langsung menghentikan pikiran tersebut.(HR. Muslim)
إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Makna innahuu (إِنَّهُ) adalah: sesungguhnya Dia, maksudnya Allah SWT. Makna samii'un (سَمِيعٌ) adalah: Maha Mendengar. Khususnya dalam hal ini Allah SWT mendengar permintaan hamba-Nya yang meminta perlindungan dari setan. Meskipun hanya diucapkan dengan lirih, bahkan setengah berbisik, tidak dengan suara keras apalagi teriak-teriak.
Makna 'aliimun (عَلِيمٌ) adalah: Maha Mengetahui. Khususnya apa yang tersirat di dalam benak dan apa yang terbersit di dalam hati dari pada hamba-Nya. Allah SWT mengetahui juga jalan keluar dari masalah yang sedang menimpanya.
[1] Al-Alusi (w. 1270 H), Ruh Al-Ma'ani, (Beirut, Darul-kutub Al-Ilmiyah, Cet. 1, 1415 H)
[2] Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H), Mafatih Al-Ghaib, (Beirut, Daru Ihya’ At-Turats Al-Arabi, Cet. 3, 1420 H)
[3] Ibnu Asyur (w. 1393 H), At-Tahrir wa At-Tanwir, (Tunis, Darut-Tunisiyah li An-Nasyr, Cet-1, 1984)