Kemenag RI 2019:Wahai anak cucu Adam, janganlah sekali-kali kamu tertipu oleh setan sebagaimana ia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan kepada keduanya aurat mereka berdua. Sesungguhnya ia (setan) dan para pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak (bisa) melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu (sebagai) penolong ) bagi orang-orang yang tidak beriman. Prof. Quraish Shihab:Hai anak cucu Adam! Janganlah sekali-kali kamu ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan ibu-bapak kamu dari surga, ia mencabut dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya aurat mereka berdua. Sesungguhnya ia (setan) dan para pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak (bisa) melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan (sebagai) para pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” Prof. HAMKA:Wahai anak-anak Adam, janganlah sampai menipu akan kamu setan itu, sebagaimana telah dikeluarkannya kedua ibu-bapakmu dari surga, dia tarik dari keduanya pakaian keduanya supaya kelihatan oleh keduanya kemaluan mereka. Sesungguhnya dia itu melihat kamu, dia dan golongannya, dalam pada itu kamu tidak melihat mereka. Sesungguhnya, Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.
Isi pesannya agar jangan sekali-kali merea terjebak oleh tipu daya setan. Hal itu mengingat bahwa setan pernah berhasil menjatuhkan orang tua mereka yang berakibat terpaksa harus keluar dari surga, setelah ia menanggalkan pakaian keduanya dan menyingkap apa yang seharusnya tetap tertutup.
Allah SWT sekali lagi menegaskan bahwa anak cucu keturunan Nabi Adam harus tahu dan menyadari benar, bahwa setan dan bala tentaranya dapat mengamati mereka dari arah yang tidak dapat mereka lihat.
Terakhir Allah SWT menegaskan bahwa setan-setan itu menjadi sekutu dan penguasa bagi orang-orang yang memilih untuk tidak beriman.
يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ
Sapaan ya bani adam (بَنِي آدَمَ) artinya: wahai anak-anak Adam. Sapaan ini menarik untuk diungkap karena Allah tidak menyapa Nabi Adam, padahal rangkaian ayat-ayat ini sedang bercerita tentang Nabi Adam. Sapaan ini seolah keluar sebentar dari konteks kisah Adam, kembali ke masa kenabian Muhammad SAW, dimana Allah SWT menyapa Nabi SAW dan ummat Beliau serta seluruh umat manusia, yang ternyata semuanya memang anak keturunan Nabi Adam alihissalam.
Kata la yaftinan-na kum (لَا يَفْتِنَنَّكُمُ) diawali dengan huruf lam (لَا) yang merupakan la nahiyah mengandung larangan. Kata kerjanya adalah yaftinu (يَفْتِنُ) berasal dari tiga huruf yaitu (فَ تَ نَ). Kata ini dalam bahasa Arab bermakna menguji keaslian emas atau perak dengan cara dipanaskan atau dimasukkan ke dalam api untuk diketahui mana yang murni dan mana yang tercampur kotoran. Dari sini muncul makna dasar: ujian yang keras dan menentukan.
Maka kata yaftinu (يَفْتِنُ) jangan diartikan memfitnah, karena kata itu dalam Bahasa Indonesia punya makna yang amat jauh dari aslinya. Dalam penggunaan sehari-hari, kata fitnah di Indonesia hampir selalu dipahami sebagai tuduhan bohong atau pencemaran nama baik, padahal makna asal kata Arabnya jauh lebih luas dan lebih dalam.
Makna yang lebih mendekati untuk yaftinu (يَفْتِنُ) adalah: menipu, memperdaya, mengelabui, menjerumuskan dengan tipu daya, atau mengguncang keteguhan seseorang dengan cara yang halus dan bertahap.
Kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari’ yaftinu (يَفْتِنُ) ditambahkan dengan huruf nun taukid yang menempel di belakangnya sehingga menjadi yaftinanna (يَفْتِنَنَّ) dan ini membuat maknanya jadi lebih kuat. Kurang lebih : ”benar-benar telah menipu kamu habis-habisan dan mentah-mentah”.
Kata asy-syaithanu (الشَّيْطَانُ) artinya : setan. Maksudnya adalah iblis yang telah menipu mentah-mentah Nabi Adam sehingga berujung pada terusirnya dari surga.
كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ
Kata kama (كَمَا) artinya : sebagaimana, kata ini mengaitkan peristiwa yang sedang diperingatkan dengan peristiwa besar di masa lalu. Artinya, godaan setan yang sedang diingatkan kepada anak-anak Adam itu bukan hal baru, tetapi pola lama yang sudah pernah berhasil ia lakukan.
Kata akhraja (أَخْرَجَ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il madhi, asalnya dari tiga huruf yaitu (خرج) yang artinya keluar, namun ketambahan satu huruf alif di awal, sehingga maknanya bergeser menjadi : mengeluarkan. Sebenarnya yang mengeluarkan bukan setan, tetapi Allah SWT SWT. Namun karena ulah setanlah akhirnya Adam terpaksa harus keluar dari surga.
Kata abawai-kum (أَبَوَيْكُمْ) artinya : kedua orangtua kamu. Asalnya dari kata ab (أب) yang artinya : ayah. Lalu dibentuk menjadi dua menjadi abawani (أبوان), namun karena disambungkan dengan dhamir kum (كُمْ) maka huruf nun-nya dihilangkan, menjadi abawakum (أَبَوَاكُم). Namun kenapa menjadi abawai-kum (أَبَوَيْكُم), karena posisinya sebagai maf’ul bihi yang manshub.
Allah tidak menyebut Adam dan Hawa secara nama, tetapi kedua orang tua kalian. Ini membuat peristiwa tersebut terasa dekat dan personal. Seakan Allah berkata: yang dulu terjatuh itu bukan sekadar dua manusia di masa lampau, tetapi orang tua kalian sendiri. Maka konsekuensinya, kalian pun mewarisi potensi yang sama untuk tergelincir jika mengikuti jalan yang sama.
Kata minal-jannah (مِنَ الْجَنَّةِ) artinya : dari surga. Dengan susunan ini, ayat seolah berkata: jangan sampai setan memperdaya kalian sekarang, sebagaimana ia dulu berhasil memperdaya orang tua kalian, hingga mereka harus keluar dari surga. Ini bukan ancaman kosong, tetapi peringatan yang berbasis sejarah nyata manusia itu sendiri.
Kata yanzi‘u (يَنْزِعُ) artinya: mencabut atau melepaskan dengan paksa. Kata ini menunjukkan tindakan yang tidak halus dan tidak wajar, seolah pakaian itu direnggut dari mereka, bukan dilepas dengan kehendak sendiri. Ini memberi isyarat bahwa hilangnya pakaian tersebut adalah akibat langsung dari tipu daya setan, bukan pilihan sadar dari Nabi Adam dan istrinya.Kata ‘anhuma (عَنْهُمَا) artinya: dari keduanya, yaitu Nabi Adam dan istrinya.
Kata libasahuma (لِبَاسَهُمَا) artinya: pakaian keduanya. Pakaian di sini bukan sekadar penutup fisik, tetapi simbol kehormatan, kemuliaan, dan perlindungan. Dengan dicabutnya pakaian itu, hilanglah lapisan penjaga yang selama ini menutupi kekurangan dan menjaga martabat manusia.
Kata li-yuriyahuma (لِيُرِيَهُمَا) terdiri dari huruf lam (لِ) dan kata kerja yuriya (يُرِيَ) yang artinya : membuat jadi terlihat. Kata ini berasal dari fi‘il (أَرَى – يُرِي) yang maknanya menjadikan sesuatu terlihat, memperlihatkan, atau membuat orang lain melihat. Jadi ini bukan sekadar melihat, tetapi membuat orang lain melihat.
Kebanyakan orang umumnya langsung mengira bahwa huruf lam ini adalah lam at-ta‘lil, yang menunjukkan tujuan atau maksud. Jika demikian cara memahaminya, maka tujuan dicabutnya pakaian mereka memang agar keduanya jadi telanjang bulat terbuka auratnya dan mempertontonkannya.
Namun pendapat lain menyebutkan bahwa ini lam al-’aqibah (لام العاقبة) yang maknanya bukan agar supaya, melainkan maknanya : ”yang akhirnya”, atau ”yang berujung pada”, atau ”sehingga akhirnya”.
Kata huma (هُمَا) artinya mereka berdua, yaitu Nabi Adam dan istrinya. Kata saw-atihima (سَوْآتِهِمَا) adalah bentuk jamak dari saw’ah, yang berarti aurat. Asalnya dari akar makna keburukan dan sesuatu yang membuat malu.
Huruf innahu (إِنَّهُ) bermakna: sesungguhnya dia, fungsinya sebagai penguat. Yang dimaksud dengan dia di sini adalah setan.
Kata yarakum (يَرَاكُمْ) artinya: melihat kalian. Penglihatan setan bersifat aktif dan langsung, sementara objeknya adalah kalian, yaitu seluruh anak keturunan Adam. Ini memberi kesan bahwa manusia selalu berada dalam pengawasan musuh yang tidak terlihat.
Kata huwa (هُوَ) bermakna: dia sendiri. Penyebutan dhamir ini berfungsi sebagai penegasan tambahan. Kata wa qabiluhu (وَقَبِيلُهُ) artinya: dan golongannya. Kata qabil menunjukkan kelompok, pasukan, atau komunitas yang terorganisir. Setan tidak bekerja sendirian, tetapi memiliki sistem, jaringan, dan barisan yang saling membantu dalam menyesatkan manusia.
Kata min haistu (مِنْ حَيْثُ) artinya: dari arah atau posisi yang. Frasa ini menunjukkan sudut pandang, titik pengamatan, dan cara mendekat yang tidak biasa.
Kata la tarauna-hum (لَا تَرَوْنَهُمْ) artinya: kalian tidak melihat mereka. Mayoritas mufassir berpendapat bahwa ayat ini bicara tentang wujud fisik setan yang merupakan makhluk ghaib tak nampak di mata. Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Quran Al-Azhim[1] menjelaskan bahwa Allah sengaja membuka fakta ini agar manusia tidak meremehkan musuhnya. Setan dan golongannya mampu melihat manusia, mengamati geraknya, memahami kecenderungannya, sementara manusia sama sekali tidak dapat melihat mereka.
Jika dibaca dari sudut pandang ilmu sains, maka yang pertama kali harus dipahami adalah keterbatasan dasar indera manusia. Penglihatan manusia hanya bekerja pada rentang cahaya tertentu yang sangat sempit. Di luar rentang itu, ada begitu banyak fenomena fisik yang nyata, berpengaruh, dan bahkan berbahaya, tetapi sama sekali tidak dapat dilihat oleh mata.
Sinar ultraviolet, inframerah, gelombang radio, medan magnet, dan radiasi adalah contoh nyata bahwa realitas tidak identik dengan apa yang kasat mata. Dalam sains, sesuatu tidak dianggap tidak ada hanya karena tidak terlihat, selama ia memiliki efek dan pengaruh yang dapat dirasakan.
Dari sini, konsep “tidak terlihat” yang disebutkan ayat tersebut tidak bertentangan dengan cara kerja sains. Justru sains modern sudah lama mengakui bahwa dunia fisik jauh lebih luas daripada jangkauan pancaindra manusia. Banyak entitas yang baru diakui keberadaannya setelah manusia memiliki alat dan teori untuk mendeteksinya. Sebelum mikroskop ditemukan, manusia tidak mengenal bakteri. Sebelum teori gelombang berkembang, manusia tidak memahami radio dan radiasi. Artinya, ketidaktahuan manusia terhadap suatu entitas sering kali bukan karena entitas itu tidak ada, tetapi karena keterbatasan kemampuan manusia sendiri.
Dalam konteks setan, sains memang tidak memiliki instrumen untuk membuktikan keberadaannya, tetapi sains juga tidak memiliki dasar metodologis untuk menafikannya. Setan berada di wilayah yang oleh sains disebut sebagai realitas non-empiris, yaitu sesuatu yang tidak dapat diuji dengan metode laboratorium, tetapi juga tidak bisa disangkal hanya dengan asumsi. Di sinilah wahyu dan sains tidak saling bertabrakan. Wahyu menyatakan keberadaan setan, sementara sains mengakui keterbatasannya untuk menjangkau seluruh lapisan realitas.
Bukan Masalah Wujud Fisik
Menarik untuk dikaji disini, apakah maksud penggalan ayat ini memang ingin menjelaskan sisi kegaiban fisik setan, ataukah sedang bicara terkait sudut pandang dimana kita memandang setan sebagai teman, tetapi setan memandang kita sebagai korban objek tipu daya mereka?
Fakhruddin ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib[2] menjelaskan bahwa bahwa ayat ini sedang membongkar ketimpangan posisi psikologis dan strategis antara manusia dan setan. Bukan sekadar siapa melihat siapa, tetapi siapa yang menyadari konflik dan siapa yang lengah. Manusia sering menganggap setan sekadar bisikan abstrak, merasa aman karena “tidak melihat apa-apa”, bahkan menganggap setan sekadar simbol kejahatan.
Sementara setan melihat manusia secara aktif, mempelajari kebiasaan, titik lemah, dan pola pikirnya, memposisikan manusia bukan sebagai teman, tetapi sebagai target. Ayat ini seakan sedang berkata, secara maknawi bahwa kalian sering tidak menganggap setan sebagai musuh nyata, sementara setan memandang kalian sebagai objek tipu daya yang terus diawasi.
Manusia sering hidup dalam ilusi simetri merasa setan “jauh”, merasa godaan itu netral, merasa bisa mengendalikan diri kapan saja. Padahal relasinya asimetris yaitu setan mengamati, manusia lengah.
Inilah yang ditegaskan oleh Wahbah Az-Zuhaili, bahwa ayat ini bersifat tarbawi, bukan kosmologis semata. Tujuannya membentuk kewaspadaan eksistensial, bukan sekadar pengetahuan tentang makhluk ghaib.
Kata innaa (إِنَّا) bermakna: sesungguhnya Kami, maksudnya Allah SWT. Bukan berarti Allah SWT itu ada banyak, namun bentuk jamak ini disebut jam‘ut-ta‘zhim yang menunjukkan keagungan dan kekuasaan Allah SWT. Kata ja’al-na (جَعَلْنَا) artinya: Kami menjadikan. Kata asy-syayathin (الشَّيَاطِينَ) adalah bentuk jamak, yang artinya: setan-setan. Seluruh golongan setan dari kalangan jin, dengan berbagai peran dan cara dalam menyesatkan manusia.
Kata auliya’ (أَوْلِيَاءَ) artinya: para pelindung, penolong, atau sekutu yang dekat. Kata wali bukan sekadar teman, tetapi pihak yang diikuti, ditaati, dan dijadikan sandaran. Ini menunjukkan hubungan yang sangat dekat dan intens, bukan hubungan sesaat atau kebetulan.
Ungkapan lilladzina la yu’minun (لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ) artinya: bagi orang-orang yang tidak beriman. Frasa ini menegaskan bahwa hubungan setan sebagai wali bukan terjadi pada semua manusia, tetapi khusus pada mereka yang memilih untuk tidak beriman. Artinya, ketidakimanan itulah pintu masuk utama yang membuka ruang perwalian setan.
[1] Ibnu Katsir (w. 774 H), Tafsir Al-Quran Al-Azhim, (Cairo, Dar Thaibah lin-Nasyr wa at-Tauzi’, Cet. 2, 1420 H – 1999 M)