Kemenag RI 2019:Apakah kamu (tidak percaya dan) heran bahwa telah datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu kepada seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu, agar kamu bertakwa, dan agar kamu mendapat rahmat?” Prof. Quraish Shihab:Apakah kamu (tidak percaya dan) heran bahwa telah datang kepada kamu tuntunan dari Tuhan Pemelihara kamu atas seorang laki-laki dari (kalangan) kamu, supaya dia memberi peringatan kepada kamu dan (dengan harapan) kamu bertakwa dan supaya kamu mendapat rahmat? Prof. HAMKA:Apakah kamu tercengang bahwa datang kepada kamu suatu peringatan dari Tuhan kamu dengan perantaraan seorang laki-laki dari antara kamu untuk mengancam kamu supaya kamu bertakwa dan supaya kamu diberi rahmat?”
Apakah kamu tidak percaya dan heran bahwa telah datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu kepada seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu, agar kamu bertakwa, dan agar kamu mendapat rahmat?”
Kata a-wa-‘ajib-tum (أَوَعَجِبْتُم) ini agak unik, karena secara lahiriyahnya seperti sebuah kata tanya. Padahal sebenarnya bukan diniatkan untuk bertanya, tetapi pengingkaran dan kecaman.
Huruf hamzah (ا) di awal kata itu berfungsi untuk mengingkari sikap mereka, seakan-akan Allah mengatakan bahwa tidak pantas bagi mereka merasa heran. Sementara huruf wawu (وَ) yang menyertainya adalah huruf penghubung, dan kalimat yang dihubungkannya justru dihilangkan. Seolah-olah susunan lengkapnya berbunyi: “Apakah kalian telah mendustakan, lalu kalian juga merasa heran karena telah datang kepada kalian sesuatu?”
Kata ’ajibtum (عَجِبْتُمْ) artinya secara harfiyah adalah kamu merasa heran, maksudnya heran atas datangnya peringatan dari Allah SWT yang disebut dengan dzikrun min rabbikum (ذِكْرٌ مِنْ رَبِّكُمْ).
Para ulama tafsir berbeda pendapat tentang makna dzikrun (ذِكْرٌ) tersebut. Menurut Al-Hasan al-Bashri maksudnya tidak lain adalah wahyu yang Allah turunkan kepada Nabi dan disampaikan kepada kaumnya. Dalam pandangan ini, kaum tersebut merasa heran karena Allah memilih seorang manusia dari kalangan mereka sendiri sebagai penerima wahyu.
Pendapat lain menyatakan bahwa “dzikr” yang dimaksud adalah mukjizat, yaitu tanda-tanda luar biasa yang Allah tampakkan melalui diri Nabi sebagai bukti kebenaran risalahnya.
Juga ada pendapat yang mengatakan bahwa makna dzikrun (ذِكْرٌ) adalah kitab yang Allah turunkan kepada Nabi. Kitab tersebut sendiri bersifat melemahkan lawan dan tidak tertandingi, sehingga layak disebut sebagai mukjizat.
عَلَىٰ رَجُلٍ مِنْكُمْ
Kata ala (عَلَىٰ) artinya: kepada. Kata rajulin (رَجُلٍ) artinya: seorang laki-laki. Kata minkum (مِنْكُمْ) artinya: dari kalangan kalian.
Yang dimaksud tentu saja diri Nabi Nuh sendiri, setidaknya untuk ukuran di masa itu. Walaupun penggalan ayat ini juga berlaku untuk semua nabi dan rasul yang ditolak oleh kaumnya.
Memang secara logika sederhana, konsep bahwa Tuhan itu mengutus nabi dan rasul agak sedikit janggal, setidaknya di dalam benak orang awam yang tidak paham. Logika mereka mengatakan kalau Tuhan serius mau menurunkan wahyu, kenapa harus lewat anak manusia biasa seperti mereka?
Kenapa tidak lewat malaikat yang merupakan makhluk super dan ajaib, lalu menampakkan diri di batas cakrawala, sehingga semua penduduk melihat langsung fenomena unik adanya ‘utusan’ Allah yang super-super ajaib. Lalu malaikat itu bicara dengan suara menggelegar dari atas langit memberi aturan hukum sekaligus ancaman akan diporak-porandakan negeri mereka jika tidak mau nurut.
Kira-kira seperti itulah yang terbersit di benak setiap penduduk negeri. Sedangkan jika konsepnya Tuhan diam-diam mengutus malaikat kepada salah satu dari anak manusia sebagai utusan, rasanya kok dianggap kurang berwibawa.
Kata li-yundzira-kum (لِيُنْذِرَكُمْ) artinya: agar ia memberi peringatan kepada kalian. Kata wa-li-tattaqu (وَلِتَتَّقُوا) artinya: dan agar kalian bertakwa. Kata wa-la’alla-kum (وَلَعَلَّكُمْ) artinya: dan semoga atau agar supaya kalian. Kata turhamun (تُرْحَمُونَ) artinya: diberi rahmat.
Tugas seorang nabi itu membawa peringatan dari Allah dan mengajak untuk bertakwa. Namun ujung-ujungnya semua itu pada dasarnya untuk kemaslahatan manusia itu sendiri. Penegasannya datang ketika Allah SWT menyebut : agar supaya kalian diberi rahmat.
Jadi semua perintah dan larangan samawi itu, apapun bentuknya, dan bagaimana pun beratnya, semua akan bermuara kepada rahmat Allah SWT juga.