Kata wa lakinni (وَلَٰكِنِّي) artinya: akan tetapi aku. Kata rasulun (رَسُولٌ) artinya: seorang utusan. Kata min (مِنْ) artinya: dari. Kata rabbi (رَبِّ) artinya: Tuhan. Kata al-alamina (الْعَالَمِينَ) artinya: seluruh alam.
Ungkapan min rabbil-alamin (رَبِّ الْعَالَمِينَ) artinya : dari Tuhan semesta alam. Sebenarnya ketika ayat ini menyebut kata ‘alam, kita sering terpengaruh dengan kata ’alam’ dalam Bahasa Indonesia. Kata ’alam’ dalam Bahasa Indonesia ini sumbernya pasti dari Bahasa Arab, tapi begitu terserap, maknanya mengalami pergeseran jauh sekali.
Jika kita menyebut istilah : ‘semesta alam’ atau ’alam semesta’, yang terbayang di kepala kita adalah langit yang penuh dengan bintang, planet, komet, meteor, matahari, bulan, galaksi dan segala macam benda angkasa lainnya. Kurang lebih sama dengan jagad raya.
Lalu jika kita menyebut kata ’alami’ dalam bahasa Indonesia, makna yang terbersit di benak kita adalah sesuatu yang bersifat natural, asli, bukan hasil rekaan.
Sementara dalam bahasa Arab, kata ’alami (العالمي) atau ’alamiyah (العالمية) itu artinya : sesuatu yang bersifat international. Misalnya kita sebut ungkapan fi anha’il-’alam (في أنحاء العالم) maka maknanya adalah : di seluruh dunia, bukan di seluruh alam.
Maka makna rabbil-alamin bukan Tuhan jagad raya, melainkan Tuhannya berbagai macam peradaban umat manusia, baik orang Arab, Eropa, Afrika, Asia dan sebagainya.
Maka diksi rabbul-alamin ini menarik jika bayangkan kondisi ketuhanan di berbagai peradaban umat manusia di masa lalu. Setiap peradaban itu saling membanggakan tuhan sembahan masing-masing. Bangsa Arab itu bangga dengan tuhan-tuhan sembahan mereka dan tidak mengakui tuhan bangsa lain. Bangsa Romawi, Persia, dan berbagai bangsa yang pernah ada di permukaan bumi, rata-rata membanggakan tuhan mereka masing-masing.
Uniknya, masing-masing mereka tidak pernah mengakui bahwa tuhan mereka adalah tuhannya bangsa lain, baik dalam arti penciptaan, pemeliharaan, pemberian rizki dan lainnya. Dalam benak mereka, tuhan itu sekedar sosok sakti yang punya kekuatan ghaib, yang bisa memberikan mereka kebaikan dan keburukan. Tapi tidak jadi masalah jika tiap peradaban punya tuhan masing-masing.