Kemenag RI 2019:Maka, Kami selamatkan dia (Hud) dan orang-orang yang bersamanya karena rahmat yang besar dari Kami, dan Kami binasakan sampai akar-akarnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka bukanlah orang-orang mukmin. Prof. Quraish Shihab:Maka, Kami menyelamatkannya (Nabi Hud as.) dan orang-orang yang bersamanya dengan rahmat dari Kami, dan Kami binasakan sampai ke akar-akarnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka tidak pernah merupakan orang-orang mukmin. Prof. HAMKA:Maka, Kami selamatkanlah dia dan orang-orang yang beserta dia, dengan rahmat daripada Kami. Dan Kami putuskanlah akar dari orang-orang yang telah mendustakan ayat-ayat Kami itu karena bukanlah mereka daripada orang-orang yang beriman.
Uniknya cara Allah SWT menyampaikan kisah ini seperti terbalik. Umumnya diceritakan dulu bahwa kaum itu dibinasakan, baru kemudian dibuatkan pengecualian, yaitu mereka yang diselamatkan.
فَأَنْجَيْنَاهُ وَالَّذِينَ مَعَهُ
Ungkapan fa anjaynahu (فَأَنْجَيْنَاهُ) artinya: maka Kami selamatkan dia, yaitu Nabi Hud alaihissalam. Kata ini berasal dari akar kata (ن ج و) yang bermakna selamat atau terlepas dari bahaya. Kata walladzina (وَالَّذِينَ) artinya: dan orang-orang yang. Kata ma’ahu (مَعَهُ) artinya: bersama dia, yaitu Nabi Hud alaihissalam.
Bentuk hukuman yang Allah turunkan kepada kaum ‘Ad adalah angin yang sangat dahsyat dan memusnahkan. Al-Qur’an menyebutnya dengan beberapa istilah. Dalam Surah Al-Haqqah disebut sebagai:
رِيحًا صَرْصَرًا عَاتِيَةً
“angin yang sangat dingin lagi sangat kencang.”
Dan dalam Surah Fushshilat disebut:
رِيحًا صَرْصَرًا فِي أَيَّامٍ نَحِسَاتٍ
“angin yang sangat kencang pada hari-hari yang penuh kesialan.”
Sedangkan dalam Surah Al-Ahqaf disebut:
رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ
“angin yang di dalamnya terdapat azab yang pedih.”
Al-Qur’an juga menyebut durasinya:
سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا
“tujuh malam dan delapan hari terus-menerus.”
Angin itu bukan sekadar badai biasa. Ia mengangkat manusia ke udara, membanting mereka, mencabut bangunan, dan memusnahkan segala sesuatu yang dilaluinya. Kaum ‘Ad yang merasa paling kuat justru dihancurkan oleh sesuatu yang tak terlihat: angin.
Lalu bagaimana Allah menyelamatkan Nabi Hud dan pengikutnya?
Al-Qur’an tidak merinci secara teknis detail mekanismenya, tetapi para mufassir menjelaskan bahwa Allah memisahkan mereka dari lokasi azab atau menjadikan angin itu tidak membahayakan mereka.
Dalam beberapa tafsir disebutkan bahwa Nabi Hud dan orang-orang beriman berada di suatu tempat yang terlindung. Angin itu tetap berhembus, tetapi hanya terasa lembut bagi mereka. Seakan-akan angin yang sama memiliki dua fungsi: menjadi azab bagi yang kafir dan menjadi kesejukan bagi yang beriman.
Ini mirip dengan kisah Nabi Ibrahim ketika api menjadi dingin dan menyelamatkan. Unsurnya sama, tetapi efeknya berbeda sesuai kehendak Allah.
Jadi cara penyelamatannya bukan karena Hud memiliki benteng khusus, bukan karena strategi militer, dan bukan karena kekuatan fisik. Ia selamat karena rahmat dan perlindungan langsung dari Allah.
Ini juga selaras dengan redaksi ayat (بِرَحْمَةٍ مِنَّا) yang artinya :
“dengan rahmat dari Kami.” Artinya keselamatan itu bukan sekadar kebetulan geografis, tetapi intervensi Ilahi.
Menariknya, kaum ‘Ad dihancurkan oleh angin, sesuatu yang tidak bisa dilihat dan tidak bisa dilawan dengan kekuatan fisik. Ini seperti sindiran ilahi terhadap kesombongan mereka yang berkata: “Siapa yang lebih kuat dari kami?” Jawabannya: angin yang tidak terlihat.
Dan di tengah badai itu, Hud dan para pengikutnya berdiri sebagai bukti bahwa keselamatan tidak ditentukan oleh kekuatan jasmani, tetapi oleh iman dan rahmat Allah.
Diselamatkan Dulu Baru Dihancurkan
Kalau direnungkan lebih dalam, pola seperti ini juga sering muncul dalam banyak kisah para nabi. Allah selalu menyebut penyelamatan lebih dulu, sebagai penegasan bahwa rahmat-Nya mendahului murka-Nya.
maka mereka mendustakannya, lalu Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan (QS. Al-A’raf: 64)
Kisah umat Nabi Shalih yang dihancurkan, justru disebutkan dulu keselamatan buat sang nabi dan pengikutnya.
Kami selamatkan Musa dan yang bersamanya semuanya, kemudian Kami tenggelamkan yang lain. (QS. Yunus: 90)
بِرَحْمَةٍ مِنَّا
Kata birahmatin (بِرَحْمَةٍ) artinya: dengan suatu rahmat. Kata ini berasal dari akar kata (ر ح م) yang bermakna kasih sayang, kelembutan, dan kebaikan. Bentuk nakirah menunjukkan besarnya rahmat itu. Kata minna (مِنَّا) artinya: dari Kami. Dhamir “na” menunjukkan kebesaran Allah SWT.
Al-Quran tidak menceritakan teknis bagaimana Nabi Hud alaihissalam diselamatkan, yang jelas hanya disebutkan : dengan rahmat Kami. Namun jika di hari ini ada suatu tempat dilamun angin ribut seperti itu, secara teknologi apa yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi?
Kalau secara fisika bencana, angin ekstrem itu bekerja di permukaan, akan menghantam semua struktur bangunan, meruntuhkan dinding, mencabut pepohonan, merobohkan bangun seberapapun kekuatan strukturnya. Maka tidak ada tempat yang aman di permukaan bumi kala hembusan dahsyat terjadi.
Secara perhitungan fisika, perlindungan paling aman memang bukan berlindung di bangunan biasa di atas tanah, tetapi turun ke bawah tanah. Semakin rendah posisi kita, semakin kecil dampak gaya angin langsung. Itulah sebabnya dalam mitigasi modern, basement lebih aman daripada lantai atas. Ruang bawah tanah lebih aman daripada rumah biasa. Bunker beton bertulang yang tertanam di tanah jauh lebih aman lagi.
Sebab angin bisa merobohkan bangunan, tetapi sulit ’mencabut’ tanah secara menyeluruh kecuali skalanya benar-benar luar biasa.
Di beberapa wilayah di benua Amerika, khususnya di Amerika Serikat bagian tengah dan selatan, ada satu kawasan yang dikenal sebagai “Tornado Alley”. Daerah seperti Oklahoma, Kansas, Texas, dan sekitarnya memang sangat sering dilanda tornado, terutama pada musim semi hingga awal musim panas.
Karena frekuensinya tinggi dan kekuatannya bisa luar biasa, budaya arsitektur di sana pun menyesuaikan. Banyak rumah dibangun dengan basement, yaitu ruang bawah tanah yang memang dirancang sebagai tempat berlindung ketika sirene peringatan berbunyi. Begitu ada peringatan tornado dari badan meteorologi, warga sudah terbiasa segera turun ke ruang bawah tanah itu.
Selain basement biasa, sebagian rumah juga memiliki storm shelter atau safe room, semacam bunker kecil dari beton bertulang atau baja yang ditanam di dalam tanah atau menyatu dengan fondasi rumah. Ruang ini biasanya tanpa jendela, berdinding tebal, dan pintunya dirancang tahan tekanan angin ekstrem serta benda-benda terbang yang bisa menjadi proyektil mematikan.
Di daerah pedesaan, bahkan ada keluarga yang memasang bunker terpisah di halaman rumahnya. Bentuknya seperti kapsul beton yang ditanam di tanah, dengan tangga turun dari atas. Dari luar mungkin hanya terlihat pintu besi kecil di permukaan tanah. Saat tornado datang, seluruh keluarga masuk ke dalamnya dan menunggu sampai badai berlalu.
Hal ini bukan berlebihan. Tornado kategori tinggi mampu merobohkan rumah kayu hanya dalam hitungan detik. Atap bisa terangkat, dinding terlepas, dan mobil terlempar. Karena itu, prinsip dasarnya jelas: jangan bertahan di atas tanah, tetapi turun ke bawah tanah.
Menariknya, dalam beberapa riwayat tafsir tentang kaum ‘Ad disebutkan bahwa angin itu bahkan menimbun mereka dengan pasir. Artinya, azab itu bukan hanya di atas permukaan, tetapi sampai mengubur mereka. Ini menunjukkan skalanya bukan sekadar badai biasa.
Jadi secara logika teknis modern, benar bahwa perlindungan dari angin ekstrem adalah dengan menurunkan diri ke level tanah atau di bawah tanah. Namun dalam kisah Nabi Hud, Al-Qur’an tidak menyebut beliau membangun bunker atau menggali perlindungan. Yang disebut hanya satu, yaitu :
بِرَحْمَةٍ مِنَّا
Dengan rahmat Kami
Seolah-olah pesan utamanya bukan teknik bertahan, tetapi sumber keselamatan.
Kata wa qatha’na (وَقَطَعْنَا) artinya: dan Kami memutus. Kata ini berasal dari akar kata (ق ط ع) yang bermakna memotong atau memutus sesuatu hingga terpisah. Dalam konteks ini bermakna memutus keberlangsungan suatu kaum sampai tidak tersisa lagi.
Kata dabira (دَابِرَ) sendiri artinya adalah bagian belakang atau sisa akhir. Kata ini berasal dari akar kata (د ب ر) yang bermakna belakang atau yang datang kemudian. Dalam ungkapan Arab, memutus “dabir” suatu kaum berarti memusnahkan mereka hingga ke akar dan sisa-sisanya.
Kata alladzina (الَّذِينَ) artinya: orang-orang yang. Kata kadzabu (كَذَّبُوا) artinya: mereka mendustakan. Kata bi ayatina (بِآيَاتِنَا) artinya: terhadap ayat-ayat Kami.
Untuk peradaban besar seperti Mesir Kuno, Babilonia, Yunani, Romawi, Maya, atau Inca, bukti arkeologisnya sangat melimpah dan jelas. Kita punya piramida, kuil, prasasti, manuskrip, patung, kota-kota besar yang teridentifikasi, bahkan kronologi sejarah yang relatif tersusun rapi. Ada kesinambungan data antara teks, artefak, dan struktur bangunan.
Berbeda dengan itu, untuk kaum ‘Ad yang disebut dalam Al-Qur’an, hingga saat ini belum ada situs arkeologi yang secara ilmiah dan konsensus akademik dapat dipastikan sebagai “inilah peradaban kaum ‘Ad”. Ada dugaan-dugaan, seperti situs Ubar di Oman atau wilayah Rub’ al-Khali, tetapi itu masih bersifat hipotesis dan tidak diterima sebagai bukti final.
Jadi kalau dibandingkan dengan Mesir atau Babilonia, memang bukti arkeologis yang secara eksplisit mengatasnamakan kaum ‘Ad itu minim dan tidak jelas. Boleh jadi inilah makna tersirat dari ungkapan : (وَقَطَعْنَا دَابِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا), nyaris tidak ada sisanya, bahkan bukti arkelogis pun tidak pernah disepakati, seolah mereka hilang ditelan sejarah.
Al-Baghawi dalam tafsirnya Ma’alim At-Tanzil fi Tafsir Al-Quran[1] menceritakan bagaimana terjadinya penghancuran kaum Ad ini sejak awal. Kaum ‘Ad adalah bangsa yang kuat dan makmur. Mereka membangun bangunan-bangunan besar dan merasa tidak ada yang mampu menandingi kekuatan mereka. Ketika Nabi Hud menyeru mereka agar menyembah Allah saja dan meninggalkan berhala, mereka justru berkata, “Siapa yang lebih kuat dari kami?” Kesombongan itu menjadi awal kehancuran mereka.
Sebagai peringatan, Allah menahan hujan selama tiga tahun. Negeri mereka dilanda kekeringan yang parah. Tanah retak, ternak mati, dan manusia mulai kehabisan bekal. Namun alih-alih kembali kepada Nabi Hud, mereka mencari jalan lain sesuai tradisi lama.
Pada masa itu, jika suatu kaum tertimpa musibah, mereka biasa pergi ke Mekah untuk memohon hujan di sekitar Baitullah. Maka kaum ‘Ad mengirim delegasi berjumlah sekitar tujuh puluh orang ke Mekah untuk meminta hujan bagi negeri mereka.
Rombongan itu tiba di Mekah dan disambut oleh Muawiyah bin Bakr, yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan mereka. Mereka dijamu dengan baik. Namun yang terjadi justru sebaliknya dari tujuan awal. Mereka tinggal sebulan penuh dalam jamuan, minum-minum dan menikmati hiburan, sementara kaum mereka di kampung sedang menderita.
Di antara delegasi itu ada seorang bernama Martsad bin Sa’d yang sebenarnya telah beriman kepada Nabi Hud secara diam-diam. Ketika melihat rombongan itu lalai, ia memperingatkan mereka bahwa hujan tidak akan turun selama mereka tetap membangkang. Menurutnya, keselamatan hanya datang jika mereka taat kepada Nabi Hud dan kembali kepada Allah.
Namun peringatannya ditolak. Ia bahkan diminta agar tidak ikut dalam rombongan ke tempat doa karena dianggap telah meninggalkan agama nenek moyang. Rombongan itu tetap pergi berdoa sesuai keyakinan mereka.
Ketika mereka memohon hujan, Allah menampakkan tiga awan: putih, merah, dan hitam. Pemimpin delegasi memilih awan hitam karena mengira itulah yang paling banyak membawa air. Sebuah suara memperingatkan bahwa pilihan itu justru membawa kebinasaan, tetapi keputusan sudah diambil.
Awan hitam itu bergerak menuju negeri ‘Ad. Ketika penduduk melihatnya, mereka bersukacita. Mereka berkata, “Inilah awan yang akan menurunkan hujan bagi kami.” Mereka menyangka rahmat telah datang.
Padahal itu adalah angin dahsyat yang membawa azab. Angin itu bertiup tujuh malam dan delapan hari tanpa henti. Ia mengangkat manusia dan hewan ke udara, membanting mereka, mencabut bangunan, dan memusnahkan segala sesuatu yang dilewatinya.
Disebutkan bahwa pasir ditimbunkan di atas mereka, dan tidak ada yang selamat dari kaum ‘Ad. Semua binasa karena kedustaan dan kesombongan mereka.
Adapun Nabi Hud dan orang-orang beriman bersamanya berada dalam perlindungan Allah. Mereka berada di tempat terpisah, dan angin itu hanya terasa lembut bagi mereka. Keselamatan mereka adalah rahmat dari Allah.
Sebagian tokoh delegasi mendapat nasib berbeda. Martsad yang beriman diberi kebaikan. Ada yang meminta umur panjang dan dikabulkan. Ada pula yang memilih tetap bersama kaumnya dan akhirnya binasa bersama mereka.
Demikianlah akhir kaum ‘Ad. Mereka menyangka kekuatan adalah jaminan keselamatan. Mereka mengira awan hitam adalah pembawa rahmat. Tetapi ketika hati telah tertutup, tanda-tanda pun salah dibaca. Yang datang bukan hujan, melainkan kebinasaan.
وَمَا كَانُوا مُؤْمِنِينَ
Kata wa ma (وَمَا) artinya: dan tidaklah. Kata kanu (كَانُوا) berasal dari akar kata (ك و ن), menunjukkan keadaan yang terus berlangsung di masa lalu.
Kata mu’minin (مُؤْمِنِينَ) artinya: orang-orang yang beriman. Kata ini berasal dari akar kata (أ م ن) yang bermakna aman dan percaya. Iman adalah pembenaran hati yang melahirkan ketenangan.