Rumah Fiqih Indonesia
Jilid : 18 Juz : 9 | Al-Anfal : 13
Al-Anfal 8 : 13
Mushaf Kemenag RI hal. 178
Kemenag RI 2019: (Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.

Prof. Quraish Shihab: Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah sangat keras pembalasan-Nya.

Prof. HAMKA: Yang demikian ialah karena mereka telah melanggar Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa yang melanggar Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah adalah sangat pedih siksaan-Nya.

TAFSIR AL-MAHFUZH

Ayat ke-13 dari surat Al-Anfal ini menjelaskan kenapa nasib kaum musyirikin di Perang Badar itu sedemikian mengenaskan. Ternyata semua itu disebabkan karena target mereka memang sangat horor, yaitu melenyapkan Islam dari muka bumi.

Pasukan kecil yang hanya terdiri dari 300-an orang itu adalah cikal bakal bangkitnya umat akhir zaman, yang nantinya akan menjadi generasi terbaik. Boleh dibilang mereka adalah bibit yang sedang ditanam.

Namun setan telah membisikkan ke telinga para pemuka Quraisy untuk mencabuti semua bibit tanaman itu, agar jangan sampai hutan besar itu tumbu di kemudian hari.

Maka tindakan kasar dan kejam tanpa ampun harus mereka terima, mengingat begitu besar resikonya. Mereka ingin menghapus sejarah umat akhir zaman.

***

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ شَاقُّوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Makna dzaalika (ذَٰلِكَ) adalah: yang demikian itu. Maksudnya peristiwa bagaimana Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk menebas leher musuh dan memotong ujung jari.

Makna bi-annahum (بِأَنَّهُمْ) adalah: disebabkan karena mereka. Maksudnya hukuman dari Allah SWT lewat para malaikat sedahsyat itu bukan tanpa sebab, melainkan merupakan buah dan hasil dari apa yang selama ini telah mereka kerjakan, yaitu mereka menentang atau memusuhi Allah SWT : syaaqqullah (شَاقُّوا اللَّهَ) dan rasul-Nya : wa rasulahu (وَرَسُولَهُ).

Kata syaaqqullah (شَاقُّوا اللَّهَ) ini merupakan kata kerja berupa fi'il madhi untuk pelaku jamak. Akar katanya dari tiga huruf yaitu (ش-ق-ق). Bentuk fi'il madhi dan mudhari’nya adalah (شَاقَّ يُشَاقُّ) pada wazan مُفَاعَلَة. Mashdarnya adalah al-syaqq (الشَّقُّ) yang berarti membelah, memecah, atau membuat retakan pada sesuatu yang tadinya utuh.

Makna yang dikandung oleh ungkapan syaaqqullaha bukan mereka menentang Allah SWT sebagaimana terjemahan Kemenag RI dan Quraish Shihab. Juga bukan sekedar melanggar Allah SWT sebagaimana terjemahan HAMKA.

Kalau dikaitkan dengan Perang Badar, maksudnya kaum musykirin Quraisy itu datang demi untuk membelah barisan kaum muslimin, mengalahkannya dan tidak hanya sampai disitu, tujuan utamanya adalah untuk memusnahkan dan menghabisi kaum muslimin untuk selamanya.

Ini ada kaitannya dengan istighatsah Nabi SAW sebelum perang, yang terasa begitu menggambarkan suasana yang mencekam :

إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ فَلَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ أَبَدًا

Jika kelompok kecil umat Islam ini musnah, maka Engkau tidak akan lagi disembah di muka bumi ini selamanya.

Maka ditebas leher mereka dan dipotong jemari mereka adalah jawabannya. Dasarnya karena mereka hendak memporak-porandakan tubuh kaum Muslimin yang dengan cara itu Allah SWT tidak akan lagi disembah di muka bumi.

***

وَمَنْ يُشَاقِقِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Makna wa man (وَمَنْ) adalah: dan barangsiapa. Makna yusyaaqiqi (يُشَاقِقِ) adalah: menentang. Makna allaaha (اللَّهَ) adalah: Allah. Makna wa rasuulahuu (وَرَسُولَهُ) adalah: dan Rasul-Nya.

Penggalan ini menjadi semacam quote of the day, dimana Allah menerapkan sebuah pelajaran penting, sebuah kaidah yang harus dipahami dan dicamkan baik-baik. Bunyinya :

Siapa saja yang melakukan berbagai macam trik dan modus yang pada intinya ingin memporak-porandakan barisan iman, maka mereka harus menghadapi hukuman yang keras.

***

فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Makna fa-inna (فَإِنَّ) adalah: maka sesungguhnya. Makna allaaha (اللَّهَ) adalah: Allah. Makna syadiidu (شَدِيدُ) adalah: sangat keras. Makna al-'iqaabi (الْعِقَابِ) adalah: siksaan-Nya atau hukuman-Nya.

Dalam medan Badar, Allah tidak mentoleransi musuh yang datang dengan agenda merusak integritas kaum Muslimin. Mereka yang mencoba membelah barisan iman akan menerima pukulan telak yang melumpuhkan kemampuan mereka untuk terus berbuat kerusakan. Ayat ini menegaskan bahwa integritas barisan adalah harga mati yang dijaga langsung oleh otoritas langit.

Karena itu, bagi mereka yang berani bermain api dengan mencoba merongrong kesatuan umat, hukuman yang keras bukan sekadar balasan, melainkan tindakan preventif untuk menghentikan agresi yang mengancam kehidupan. Ini adalah pelajaran bahwa di mata Allah, upaya untuk memporak-porandakan barisan kebenaran adalah sebuah kejahatan strategis yang tidak bisa dibiarkan begitu saja.

***

REFERENSI KITAB TAFSIR
🔐