Rumah Fiqih Indonesia
Jilid : 59 Juz : 30 | Ath-Thariq : 3
Ath-Thariq 86 : 3
Mushaf Madinah | hal. 591 | Mushaf Kemenag RI

النَّجْمُ الثَّاقِبُ

Kemenag RI 2019: (Itulah) bintang yang bersinar tajam.

Prof. Quraish Shihab:

Prof. HAMKA:

TAFSIR AL-MAHFUZH
النَّجْمُ

Kata an-najm (النَّجْمُ) secara umum dimaknai sebagai bintang. Hanya saja istilah bintang secara astronomi modern tentu berbeda dengan istilah populer yang selama ini dikenal masyarakat. 

Dalam astronomi modern, bintang didefinisikan sebagai benda langit raksasa yang tersusun terutama dari gas hidrogen dan helium, yang menghasilkan cahaya dan energi melalui reaksi fusi nuklir di intinya. Secara ilmu astronomi modern, sebenarnya Matahari kita ini pada hakikatnya adalah salah satu dari jutaan bintang di angkasa. Termasuk bintang berukuran sedang.

Kalau pun di mata kita, bintang-bintang itu nampak kecil dan seperti berkelap-kelip, sedangkan matahari ini jauh lebih besar, semua itu hanya karena faktor jarak. Jarak antara kita dengan matahari kita hanya rata-rata sekitar 149,6 juta km. Sedangkan bintang terdekat adalah Proxima Centauri yang jaraknya sekitar kira-kira 40 triliun km jauhnya.

Sebenarnya kalau jarak yang terlalu jauh seperti itu, tidak lagi diukur menggunakan kilometer, tetapi menggunakan satuan kecepatan cahaya. Cahaya bergerak di ruang hampa udara dengan kecepatan 300 ribu km per detik. Sebagai perbandingan, cahaya matahari butuh waktu 8 menit sampai ke bumi. Sedangkan cahaya dari Proxima Century butuh waktu 4,24 tahun untuk sampai ke bumi. Saking jauhnya, cahaya yang kita tangkap di bumi sudah kecil sekali, kesannya berkelap-kelip. Kalau bukan pada malam hari, kita tidak bisa melihatnya, karena kalah dengan cahaya matahari.  

Jadi meskipun Matahari hanyalah bintang berukuran sedang (bahkan lebih kecil dibanding banyak bintang raksasa di galaksi, sebenarnya matahari tampak jauh lebih besar dan cemerlang di langit kita karena letaknya sangat dekat. Sementara bintang-bintang lain, meski mungkin ukurannya ribuan kali lebih besar daripada Matahari, tampak hanya seperti titik berkelap-kelip karena jaraknya yang amat jauh.

Namun, dalam pemahaman masyarakat awam di masa lalu, termasuk di era klasik tafsir, “bintang” lebih dipahami sebagai titik-titik cahaya yang tampak di langit malam. Mereka tidak membedakan dengan tegas antara bintang sebenarnya, planet, atau bahkan meteor (bintang jatuh), sebab semuanya dilihat hanya sebagai cahaya yang berkilau di langit.

Maka wajar jika tafsir klasik menyebut “bintang” bisa merujuk pada Pleiades (gugus bintang), Saturnus (padahal planet), atau bahkan meteor (syihab). Semua itu masuk kategori “najm” dalam bahasa dan pemahaman saat itu.

Para ulama berbeda pendapat tentang makna  (النَّجْمُ الثَّاقِبُ): yaitu bintang yang bersinar terang

Sebagian dari mereka berkata: yang dimaksud adalah sekelompok bintang secara umum, maka disebut ath-thāriq, sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian” (QS. Al-‘Ashr: 2).

Yang lain berpendapat: itu adalah bintang tertentu. Lalu Ibnu Zaid berkata: itu adalah bintang ats-Tsurayya (Pleiades). Al-Farrā’ berkata: itu adalah Zuhal (Saturnus), karena ia menembus dengan cahayanya hingga ke lapisan tujuh langit.

Ada pula yang mengatakan: itu adalah bintang-bintang yang dijadikan pelempar setan, berdasarkan firman Allah Ta‘ala:

فَأتْبَعَهُ شِهابٌ ثاقِبٌ
“Maka ia diikuti oleh syihab (cahaya api) yang menembus” (QS. As-Shaffāt: 10).

***

الثَّاقِبُ

Kata ats-tsaqib (الثَّاقِبُ) artinya : yang menembus, atau bercahaya terang. Para ulama mengatakan sifat itu karena beberapa alasan:

  1. Karena ia menembus kegelapan dengan cahayanya, lalu melaluinya. Sebagaimana dikatakan “durriyy” (bercahaya laksana mutiara), karena ia yadra’uhu yaitu mendorong dan mengusir kegelapan.

  2. Karena ia terbit dari arah timur lalu menembus udara, bagaikan sesuatu yang menembus sesuatu lainnya.

  3. Karena dengan bintang itu setan dapat terlihat, lalu bintang itu menembusnya, yakni mengenainya dan membakarnya.

  4. Menurut Al-Farrā’: “an-najmu ats-tsāqib” adalah bintang yang lebih tinggi dibanding bintang-bintang lainnya. Orang Arab menyebut burung yang terbang tinggi hingga mencapai bagian tengah langit dengan istilah: “qad tsaqaba” (قد ثقب) : telah menembus/naik tinggi).

Dalam ruang lingkup astronomi modern, istilah bintang menembus (tsaqib) sebenarnya kurang tepat jika dipahami secara ilmiah. Pada dasarnya bintang di angkasa adalah benda langit yang memancarkan cahaya karena reaksi fusi nuklir. Pada hakikatnya bintang itu tidak “menembus” apapun, melainkan hanya memancarkan cahaya yang sampai ke mata kita setelah menempuh ruang angkasa.

Kalaupun ada benda angkasa yang sifatnya menembus sesuatu, justru lebih cocok dengan gambaran “menembus” langit. Meteor adalah batuan angkasa kecil yang memasuki atmosfer bumi dengan kecepatan tinggi. Saat bergesekan dengan atmosfer, ia berpijar, menampakkan diri seperti garis cahaya yang menembus langit malam. Inilah yang dalam bahasa awam sering disebut “bintang jatuh”.

Jadi, dalam tafsir klasik, kata tsāqib dipahami sesuai persepsi penglihatan: sesuatu yang bercahaya, menembus kegelapan, atau menembus langit. Namun dalam astronomi, sifat “menembus” itu sebenarnya lebih dekat kepada fenomena meteor, bukan bintang.

 
***

*) Tafsir Al-Mahfuzh ini merujuk kepada kitab tafsir utama (tersedia 32 tafsir).
🔐