-
Karena ia menembus kegelapan dengan cahayanya, lalu melaluinya. Sebagaimana dikatakan “durriyy” (bercahaya laksana mutiara), karena ia yadra’uhu yaitu mendorong dan mengusir kegelapan.
-
Karena ia terbit dari arah timur lalu menembus udara, bagaikan sesuatu yang menembus sesuatu lainnya.
-
Karena dengan bintang itu setan dapat terlihat, lalu bintang itu menembusnya, yakni mengenainya dan membakarnya.
-
Menurut Al-Farrā’: “an-najmu ats-tsāqib” adalah bintang yang lebih tinggi dibanding bintang-bintang lainnya. Orang Arab menyebut burung yang terbang tinggi hingga mencapai bagian tengah langit dengan istilah: “qad tsaqaba” (قد ثقب) : telah menembus/naik tinggi).
Dalam ruang lingkup astronomi modern, istilah bintang menembus (tsaqib) sebenarnya kurang tepat jika dipahami secara ilmiah. Pada dasarnya bintang di angkasa adalah benda langit yang memancarkan cahaya karena reaksi fusi nuklir. Pada hakikatnya bintang itu tidak “menembus” apapun, melainkan hanya memancarkan cahaya yang sampai ke mata kita setelah menempuh ruang angkasa.
Kalaupun ada benda angkasa yang sifatnya menembus sesuatu, justru lebih cocok dengan gambaran “menembus” langit. Meteor adalah batuan angkasa kecil yang memasuki atmosfer bumi dengan kecepatan tinggi. Saat bergesekan dengan atmosfer, ia berpijar, menampakkan diri seperti garis cahaya yang menembus langit malam. Inilah yang dalam bahasa awam sering disebut “bintang jatuh”.
Jadi, dalam tafsir klasik, kata tsāqib dipahami sesuai persepsi penglihatan: sesuatu yang bercahaya, menembus kegelapan, atau menembus langit. Namun dalam astronomi, sifat “menembus” itu sebenarnya lebih dekat kepada fenomena meteor, bukan bintang.