Secara bahasa Arab, biasanya huruf in (إنْ) berarti : "jika", karena merupakan huruf syarthiyah atau huruf kondisi. Namun dalam konteks penggalan ayat ini berubah maknanya menjadi : tidak. Kenapa demikian?
Karena dikaitkan dengan pasangannya yaitu kata la (لا) atau lam (لم) atau lamma (لَمَّا) yang sama-sama berarti : tidak. Maka gabungan keduanya menjadi : "jika tidak".
Lafaz kullu nafsin (كُلُّ نَفْسٍ) artinya : semua yang berjiwa, atau bisa juga dimaknai semua orang. Memang pada dasarnya kata nafs itu sendiri punya banyak makna. Bisa juga berarti semua manusia, bukan hanya yang beragama Islam saja, tetapi termasuk juga orang kafir.
Kata lamma (لَمَّا) itu berarti tidak. Dalam hal ini menjadi pasangan dari huruf in () di awal, yang membuatnya bukan lagi bermakna : jika, melainkan menjadi : tidak. Maka jika kita perhatikan versi terjemahan bahasa Indonesia, menjadi : "tidak ada suatu jiwapun (diri) melainkan ada penjaganya..".
Kata 'alaiha (عَلَيْهَا) berarti : di atasnya. Kata hafizh (حَافِظٌ) artinya : penjaga. Penjaga yang dimaksud disini tidak lain adalah para malaikat, khususnya yang sering disebut sebagai malaikat raqib dan 'atid.