| ◀ | Jilid : 18 Juz : 9 | Al-A'raf : 179 | ▶ |
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Kemenag RI 2019: Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.| TAFSIR AL-MAHFUZH |
Disebutkan bahwa hal itu karena selama di dunia, meski memiliki hati tapi tidak mereka pergunakan untuk memahami. Punya mata tapi tidak bisa melihat. Punya telinga tapi tidak bisa mendengar.
Allah SWT gambarkan mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka juga disebut sebagai orang-orang yang lengah.
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا
Makna walaqad (وَلَقَدْ) adalah: dan sungguh. Makna dzara'naa (ذَرَأْنَا) diterjemahkan oleh tiga sumber kita menjadi : Kami ciptakan. Padahal kita semua tahu mencipta itu dalam bahasa Arab adalah khalaqa (خلق) atau ja’ala (جعل). Lantas kata dzara’a (ذَرَأَ) itu sendiri meski diterjemahkan menjadi menciptakan, maun pastinya punya berbedaan dalam kedalaman bahasa.
Kata ini berakar dari tiga huruf yaitu (ذ ر أ) yang bermakna asalnya adalah menciptakan sesuatu dengan cara menyebarkan, memperbanyak, dan mengembangbiakkan. Misalnya penciptaan yang menghasilkan keturunan yang tersebar dan berlipat ganda. Ibn Faris dalam Maqayis al-Lughah menuliskan kata (ذَرَأَ) mengandung makna : tampaknya sesuatu dan penyebarannya (الظهور والانتشار). Makna lebih presisinya kurang lebih : "Kami ciptakan lalu Kami sebarkan dan perbanyak"
Makna lijahannama (لِجَهَنَّمَ) adalah: untuk neraka Jahannam. Makna katsiiran (كَثِيرًا) adalah: banyak.
Kalau semua nuansa makna kata ذَرَأْنَا ingin dibawa sekaligus, maka terjemahan bebas yang lebih kaya daripada sekadar "Kami ciptakan" bisa berbunyi:
"Dan sungguh, Kami telah menciptakan, mengembangbiakkan, memperbanyak, lalu menyebarkan begitu banyak jin dan manusia untuk jadi penghuni Jahannam."
Atau bila ingin lebih dekat kepada rasa bahasa Arabnya:
"Dan sungguh, Kami telah menghadirkan, mengembangbiakkan, serta menyebarkan dalam jumlah yang sangat banyak baik dari kalangan jin dan mansia yang pada akhirnya menjadi penghuni Jahannam."
Atau dalam gaya tafsir yang lebih mengalir:
"Dan sungguh, Kami telah menciptakan dan memperbanyak jin dan manusia dalam jumlah besar, lalu mereka tersebar di muka bumi, namun banyak di antara mereka yang berakhir menjadi penghuni Jahannam."
مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ
Makna minal-jinni (مِنَ الْجِنِّ) adalah: dari golongan jin. Makna wal-insi (وَالْإِنْسِ) adalah: dan manusia.
Jika menyebut kata : ’jin’, boleh jadi yang terbersit di kepala kita adalah dunia alam ghaib, makhluk halus, hantu, setan, gendruwo dan berbagai versi cerita horor dan mistis.
Namun sesungguhnya ketika Al-Qur'an bicara tentang jin, sama sekali tidak ada kesan mistis. Bahkan jika kita buka surat Al-Jin di dalam Al-Quran, sama sekali tidak ada kesan horor dan mistis. Al-Quran lebih memandang jin dan manusia dari sudut pandang taklif syariat, yaitu keduanya adalah mukallaf namun wujudnya beda dan hidupnya di dua alam yang berbeda.
Al-Quran lebih menegaskan bahwa jin dan manusia sama-sama ciptaan Allah SWT. Keduanya diberi akal, kehendak, dan kemampuan memilih jalan hidupnya sendiri. Keduanya menerima dakwah para rasul, dibebani perintah dan larangan, memiliki orang-orang saleh dan orang-orang durhaka, bahkan sama-sama akan dibangkitkan, dihisab, lalu dimasukkan ke surga atau neraka. Karena itulah ketika Allah SWT berbicara tentang pahala, dosa, ibadah, atau azab, sering kali jin dan manusia disebut berdampingan.
Kalau manusia memiliki orang-orang beriman, para ulama, ahli ibadah, dan orang-orang fasik, maka di kalangan jin pun demikian. Dalam Surah Al-Jinn diceritakan bahwa sebagian jin beriman setelah mendengar Al-Qur'an, sementara sebagian lain tetap membangkang.
وَأَنَّا مِنَّا الصَّالِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَٰلِكَ كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا
Dan sesungguhnya di antara kami ada yang saleh dan ada pula yang tidak demikian. Kami menempuh jalan-jalan yang berbeda-beda.(QS. Al-Jinn : 11)
Perbedaannya terletak pada asal penciptaannya. Manusia diciptakan dari tanah, sedangkan jin diciptakan dari api yang sangat halus.
وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ
Dan Dia menciptakan jin dari nyala api yang bercampur-campur. (QS. Ar-Rahman : 15)
Karena itu karakter keberadaan keduanya berbeda. Manusia hidup dalam alam yang dapat dilihat dan disentuh. Kita melihat tubuh, rumah, kendaraan, dan seluruh aktivitas manusia dengan mata kepala sendiri. Adapun jin hidup dalam alam yang tidak bisa kita tangkap dengan pancaindra biasa. Mereka dapat melihat manusia, tetapi manusia umumnya tidak dapat melihat mereka.
Perbedaan lainnya adalah usia. Banyak ulama berpendapat bahwa umur jin umumnya jauh lebih panjang daripada manusia. Karena itulah Iblis masih hidup sejak zaman Nabi Adam hingga menjelang hari kiamat. Bagi manusia, rentang hidup seratus tahun sudah dianggap panjang. Namun bagi sebagian jin, rentang itu mungkin hanya sebagian kecil dari perjalanan hidup mereka.
Jin juga memiliki kemampuan yang tidak dimiliki manusia biasa. Dalam kisah Nabi Sulaiman, ada jin yang sanggup berpindah tempat dengan kecepatan luar biasa.
قَالَ عِفْرِيتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ
ifrit dari kalangan jin berkata, 'Aku akan membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu. Dan sungguh aku kuat untuk melakukannya lagi dapat dipercaya.(QS. An-Naml : 39)
Namun jangan dibayangkan bahwa mereka serba hebat. Mereka tetap makhluk yang terbatas. Mereka tidak mengetahui perkara gaib secara mutlak. Bahkan ketika Nabi Sulaiman wafat sambil bersandar pada tongkatnya, para jin yang bekerja untuk beliau tidak mengetahuinya sampai tubuh beliau roboh dimakan rayap. Itu menjadi bukti bahwa pengetahuan jin juga terbatas.
فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَىٰ مَوْتِهِ إِلَّا دَابَّةُ الْأَرْضِ تَأْكُلُ مِنْسَأَتَهُ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَنْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِينِ
Maka ketika Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada
mereka tentang kematiannya selain rayap bumi yang memakan tongkatnya. Maka ketika ia tersungkur, tahulah jin itu bahwa sekiranya mereka mengetahui yang gaib, niscaya mereka tidak akan tetap berada dalam azab yang menghinakan. (QS. Saba' : 14)
Menariknya, kalau manusia sering penasaran dengan dunia jin, sebenarnya jin juga penasaran dengan dunia manusia. Al-Qur'an menggambarkan adanya hubungan, pengaruh, bahkan interaksi antara kedua makhluk ini sepanjang sejarah. Kadang manusia takut kepada jin, kadang justru jin yang mengikuti manusia. Kadang manusia menyesatkan manusia lain, kadang jin menyesatkan manusia. Karena itu Al-Qur'an tidak hanya mengenal "setan dari kalangan jin", tetapi juga "setan dari kalangan manusia".
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِنْسِ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الْإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ
Wahai golongan jin, sungguh kalian telah banyak menyesatkan manusia. Dan para pengikut mereka dari kalangan manusia berkata: 'Ya Tuhan kami, sebagian kami telah memperoleh kesenangan dari sebagian yang lain'. (QS. Al-An'am : 128)
Maka bila disederhanakan, manusia dan jin ibarat dua umat yang sama-sama menjadi peserta ujian besar kehidupan. Soal ujiannya sama: apakah mereka mau beriman dan taat kepada Allah SWT ataukah memilih jalan pembangkangan.
Bedanya, manusia menjalani ujian itu di alam yang terlihat, sedangkan jin menjalaninya di alam yang tersembunyi. Namun ketika lembar jawaban dikumpulkan pada hari kiamat, keduanya akan berdiri di hadapan Tuhan yang sama untuk mempertanggungjawabkan pilihan hidup mereka.
Ada yang mengatakan alasan bahwa disebut jin terlebih dahulu dari manusia, karena sebelum manusia diciptakan, Allah SWT sudah terlebih dahulu menciptakan jin. Penegasannya ada di ayat berikut :
وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ
Dan jin telah Kami ciptakan sebelum itu. (QS. Al-Hijr : 27)
لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا
Makna lahum (لَهُمْ) adalah: mereka memiliki. Kataquluubun (قُلُوبٌ) merupakan bentuk jamak dari qalb (قلب). Secara terjemahan kata ini punya beberapa keunikan kata ini jika kita perhatikan.
Pertama : entah bagaimana kata ini sealu diterjemahkan menjadi ’hati’. Pastinya itu bukan terjemahan secara biologis, tetapi terjemahan rasa bahasa belaka. Secara bilogis qalb (قلب) itu artinya jantung bukan hati. Secara biologis, organ hati dalam bahasa Arab adalah kabid (كبد).
Kedua, kata qulub (قُلُوبٌ) itu bentuk jamak, kalau diterjemahkan menjadi : ’hati-hati’, pastinya tidak tepat juga dan malah bikin ribet. Sebab dalam bahasa Indonesia, ’hati-hati’ lain lagi maknanya.
Ketiga, ini terkait dengan lafadz sesudahnya, yaitu laa yafqahuuna bihaa (لَا يَفْقَهُونَ بِهَا) adalah: tidak mereka gunakan untuk memahami. Allah SWT mempertanyakan kenapa orang punya hati, atau jantung, tetapi tidak digunakan untuk memahami.
Padahal memahami itu jika kita kita pahami konsepnya pastinya bukan dengan organ hati atau jantung. Secara biologis, manusia memahami sesuatu melalui otak, atau lebih tepatnya melalui korteks serebral, yaitu bagian terluar otak yang membedakan manusia dari makhluk lain. Ketika mata melihat atau telinga mendengar, sinyal dikirim ke otak dan di sanalah proses pemahaman sesungguhnya terjadi: informasi dipilah, dihubungkan dengan memori lama, ditimbang, lalu menghasilkan sebuah pengertian. Semua itu terjadi di otak, bukan di dada.
Adapun jantung adalah organ yang sejatinya hanyalah pompa darah. Tugasnya adalah memastikan oksigen dan glukosa mengalir ke seluruh tubuh.
Lantas apakah Al-Quran keliru dan tumbang kebenarannya? Kalau kita main paksa bahwa Al-Quran adalah buku biologi kedokteran, maka otomatis dia adalah kitab yang 100% keliru dan menyesatkan. Untungnya kita tidak pernah menjadikan Al-Quran sebagai buku ilmiyah kedokteran. Al-Qur'an berbicara dalam bahasa sastra yang menjadi keunggulan bangsa Arab di abad ketujuh masehi. Pendekatan gaya sastranya amat tinggi. Dan sebagai kitab sastra level paling atas, tentu tidak bisa diadili dengan lewat fakta sains di zaman yang berbeda.
Penulis disini memang agak menyayangkan kalangan modern yang sok ilmiyah dan mengklaim Al-Quran sebagai kitab sains modern.
وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا
Makna walahum (وَلَهُمْ) adalah: dan mereka memiliki. Makna a'yunun (أَعْيُنٌ) adalah: mata-mata. Makna laa yubshiruuna (لَا يُبْصِرُونَ) adalah: tidak mereka gunakan untuk melihat. Makna bihaa (بِهَا) adalah: dengannya.
Ayat ini memilih kata yubshiru (يُبْصِرُ) dan bukan yanzhuru (يَنْظُرُ) meski keduanya sering diterjemahkan sama-sama : ‘melihat’, namun masing-masing memiliki kedalaman makna yang jauh berbeda. Kata (نَظَرَ – يَنْظُرُ) pada dasarnya menunjuk kepada tindakan mengarahkan pandangan kepada sesuatu. Fokusnya ada pada proses memandang. Seseorang bisa saja yanzhuru kepada sesuatu, tetapi belum tentu memahami apa yang dilihatnya.
Sedangkan (أَبْصَرَ – يُبْصِرُ) lebih mendalam lagi, yaitu melihat yang menghasilkan kesadaran, pengenalan, dan pemahaman. Bayangkan ada sebuah kamera CCTV biasa yang dipasang di sudut jalan. Kamera itu bekerja dengan baik. Semua kendaraan yang lewat terekam, semua orang yang melintas masuk ke dalam rekaman. Kamera itu melihat banyak hal, tetapi sebenarnya ia tidak memahami apa yang sedang dilihatnya. Kamera zaman dulu itu hanya mampu menangkap gambar dan menyimpannya. Segitu saja dan tidak lebih.
Sekarang bayangkan sebuah kamera modern yang dilengkapi kecerdasan buatan (AI). Kamera ini tidak hanya merekam, tapi punya kecerdasan buatan untuk mengenali bahwa yang lewat adalah manusia, bukan kendaraan. AI yang ditanamkan itu bisa membedakan antara aktivitas normal dan gerakan yang mencurigakan. Membaca pola, menarik kesimpulan, dan memahami makna dari gambar yang ditangkapnya, tidak akan mampu dilakukan kamewa cctv biasa, harus yang dilengkapi dengan Smart CCTV.
Perumpamaan ini cukup dekat untuk menggambarkan perbedaan antara nazhara dan abshara. Kata nazhara menggambarkan proses memandang atau mengarahkan perhatian kepada sesuatu. Sedangkan abshara menggambarkan penglihatan yang berhasil menangkap makna di balik apa yang dilihat. Mata bukan hanya berfungsi sebagai alat perekam gambar, tetapi juga menjadi pintu masuk menuju pemahaman.
Karena itu seseorang bisa saja melihat banyak hal setiap hari tanpa benar-benar menyadari maknanya. Ia melihat matahari terbit dan tenggelam, melihat pergantian musim, melihat kelahiran dan kematian, melihat sejarah bangsa-bangsa yang bangkit lalu runtuh. Semua itu masuk ke matanya sebagaimana gambar masuk ke dalam kamera CCTV biasa. Namun penglihatan itu berhenti sebagai pemandangan belaka dan tidak pernah berubah menjadi kesadaran.
وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا
Makna wa lahum (وَلَهُمْ) adalah: dan mereka memiliki. Makna aadzaanun (آذَانٌ) adalah: telinga-telinga. Makna laa yasma'uuna (لَا يَسْمَعُونَ) adalah: tidak mereka gunakan untuk mendengar. Makna bihaa (بِهَا) adalah: dengannya.
Pastinya ini merupakan gaya sastra kelas atas. Allah SWT menyebutkan mereka punya telinga tapi tidak bisa mendengar. Kalau mendengar dalam arti menerima gelombang suara, telinga normal itu pastinya bisa.
Secara teknis proses telinga mendengar itu menerima gelombang suara. Gelombang ini masuk ke liang telinga dan menghantam gendang telinga. Gendang telinga lalu bergetar dan meneruskan getaran itu ke tiga tulang kecil di telinga tengah, yaitu martil, landasan, dan sanggurdi.
Dari sana getaran diteruskan ke koklea atau rumah siput di telinga dalam yang berisi cairan dan ribuan sel rambut mikroskopis. Sel-sel inilah yang mengubah getaran mekanis menjadi impuls listrik. Impuls tersebut kemudian dikirim melalui saraf pendengaran menuju otak.
Yang tiba di otak sebenarnya bukan suara, melainkan sinyal listrik. Otaklah yang menerjemahkan sinyal itu menjadi kata, kalimat, musik, atau makna tertentu. Tanpa proses pengolahan di otak, gelombang suara hanyalah getaran fisik semata.
Menariknya, ilmu saraf modern menunjukkan bahwa manusia sering kali mendengar tanpa benar-benar mendengarkan. Dalam keadaan tertentu, telinga menangkap suara dengan sempurna tetapi otak memilih untuk mengabaikannya. Fenomena ini disebut selective attention atau perhatian selektif.
Contohnya ketika seseorang sedang sangat fokus membaca buku. Namanya dipanggil berkali-kali tetapi ia tidak menyadarinya. Telinganya sebenarnya berfungsi normal. Gelombang suara masuk. Saraf bekerja. Namun otak tidak memberi perhatian sehingga informasi itu seolah tidak pernah didengar.
أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ
Makna ulaa'ika (أُولَٰئِكَ) adalah: mereka itulah. Makna kal-an'aami (كَالْأَنْعَامِ) adalah: seperti hewan ternak. Makna bal (بَلْ) adalah: bahkan. Makna hum (هُمْ) adalah: mereka. Makna adhallu (أَضَلُّ) adalah: lebih sesat.
Membaca penggalan ayat ini sekilas, muncul pertanyaan yang sangat wajar: Bukankah hewan ternak juga bisa melihat, mendengar, dan bahkan juga bisa memahami banyak hal?
Seekor kambing dapat mengenali suara pemiliknya. Seekor sapi tahu jalan pulang ke kandangnya. Seekor kuda mampu memahami perintah yang cukup rumit. Bahkan anjing memiliki kemampuan mengenali ratusan kata yang diucapkan manusia.
Begitu juga dalam hal penglihatan, beberapa hewan justru punya pendengaran yang jauh lebih sempurna dari telinga manusia. Seekor kelelawar, misalnya, mampu "melihat" dalam kegelapan total dengan sistem ekolokasi. Ia mengeluarkan gelombang ultrasonik lalu menangkap pantulannya kembali. Dari pantulan itu kelelawar dapat mengetahui posisi dinding, pohon, serangga, bahkan benda yang sangat kecil di depannya. Kemampuan ini jauh melampaui pendengaran manusia.
Anjing juga memiliki pendengaran yang jauh lebih peka daripada manusia. Manusia umumnya hanya mampu mendengar suara hingga sekitar 20.000 hertz. Anjing dapat menangkap frekuensi yang jauh lebih tinggi. Karena itulah mereka sering mendengar suara yang sama sekali tidak kita sadari keberadaannya.
Kucing pun demikian. Telinganya mampu berputar untuk menentukan arah sumber suara dengan sangat akurat. Seekor kucing dapat mendengar suara tikus yang bergerak di balik dinding atau di bawah lantai yang tidak terdengar oleh manusia.
Burung hantu memiliki kombinasi pendengaran yang luar biasa. Dalam gelap gulita, ia dapat menentukan lokasi mangsa hanya berdasarkan suara kecil yang ditimbulkan oleh gerakan mangsanya. Bahkan bentuk wajahnya yang menyerupai piringan berfungsi seperti antena parabola untuk mengumpulkan suara.
Lumba-lumba menggunakan sistem yang mirip dengan kelelawar. Mereka mengirimkan gelombang suara ke dalam air dan membaca pantulannya untuk mengetahui bentuk, ukuran, dan jarak objek di sekitarnya. Dalam lingkungan laut yang gelap atau keruh, kemampuan ini jauh lebih efektif daripada penglihatan manusia.
Bahkan gajah dapat menangkap gelombang infrasonik, yaitu suara dengan frekuensi sangat rendah yang tidak dapat didengar manusia. Dengan cara ini mereka dapat berkomunikasi dengan kawanan lain yang berjarak beberapa kilometer.
Begitu juga dalam urusan penglihatan. Kalau yang dibandingkan adalah kemampuan biologis mata, manusia bukanlah juaranya. Banyak hewan yang memiliki kemampuan melihat jauh melampaui manusia.
Burung elang adalah contoh yang paling terkenal. Dari ketinggian ratusan meter di udara, ia mampu melihat seekor kelinci atau tikus kecil yang bergerak di permukaan tanah. Ketajaman penglihatannya diperkirakan beberapa kali lebih baik daripada manusia. Apa yang bagi manusia hanya tampak sebagai titik kecil, bagi elang sudah terlihat jelas sebagai mangsa.
Burung alap-alap (falcon) bahkan memiliki kemampuan yang lebih mengagumkan lagi. Saat meluncur dengan kecepatan sangat tinggi, matanya tetap mampu mengunci target dengan presisi yang luar biasa. Sistem penglihatannya dirancang untuk tetap tajam meskipun sedang bergerak cepat.
Kucing memiliki kemampuan melihat dalam cahaya redup yang jauh lebih baik daripada manusia. Pada senja hari atau malam yang remang-remang, ketika mata manusia mulai kesulitan membedakan objek, kucing masih dapat bergerak dan berburu dengan cukup efektif. Itulah sebabnya kucing sering tampak begitu percaya diri berjalan dalam kondisi yang menurut manusia sudah gelap.
Burung hantu lebih ekstrem lagi. Struktur matanya memungkinkan ia berburu pada malam hari dengan tingkat ketepatan yang menakjubkan. Dalam kondisi yang hampir gelap total, ia masih mampu mendeteksi gerakan mangsanya.
Lebah memiliki jenis penglihatan yang sama sekali berbeda dari manusia. Mereka dapat melihat spektrum ultraviolet yang tidak terlihat oleh mata manusia. Banyak bunga memiliki pola-pola ultraviolet yang berfungsi seperti landasan pacu bagi lebah, tetapi pola itu sama sekali tidak tampak bagi kita. Dengan kata lain, lebah melihat dunia yang sebagian tidak dapat dilihat manusia.
Udang mantis (mantis shrimp) sering disebut memiliki salah satu sistem penglihatan paling kompleks di dunia hewan. Mata manusia memiliki tiga jenis reseptor warna. Udang mantis memiliki jauh lebih banyak. Dunia visual yang mereka alami kemungkinan sangat berbeda dan jauh lebih kaya dibandingkan yang dapat dibayangkan manusia.
Lantas bagaimana mungkin Al-Quran mengatakan orang yang tidak bisa memahami, melihat dan mendengar dianggap seperti hewan ternak?
Jawabannya bahwa memahami, melihat dan mendengar pada hewan itu hanya bersifat teknis, yang tidak terkait dengan kecerdasan tingkat yang lebih tinggi yang menjadi ciri khas manusia. Hewan melihat untuk mencari makanan, menghindari bahaya, mengenali pasangan, atau menemukan jalan pulang. Hewan mendengar untuk merespons lingkungan di sekitarnya. Hewan memahami dalam batas yang diperlukan untuk mempertahankan hidupnya. Semua itu merupakan bagian dari naluri yang Allah SWT tanamkan dalam diri mereka.
Seekor elang melihat mangsanya dari jarak yang sangat jauh, tetapi penglihatan itu tidak membawanya kepada perenungan tentang siapa yang menciptakan langit tempat ia terbang. Seekor burung hantu mampu mendengar suara yang sangat halus di tengah kegelapan malam, tetapi pendengaran itu tidak mengantarkannya kepada kesadaran tentang tujuan hidupnya. Seekor gajah dapat mengenali anggota kawanannya dan mengingat jalan yang pernah dilaluinya bertahun-tahun sebelumnya, tetapi kemampuan itu tidak membuatnya merenungkan makna keberadaan alam semesta.
Manusia diberi sesuatu yang jauh melampaui itu semua. Mata manusia bukan hanya untuk melihat benda, tetapi juga untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang tersebar di alam. Telinga manusia bukan hanya untuk menangkap suara, tetapi juga untuk menerima nasihat, ilmu, dan petunjuk. Hati dan akalnya bukan hanya untuk mengingat atau menghitung, melainkan untuk memahami kebenaran, membedakan yang hak dan yang batil, lalu menentukan pilihan hidup berdasarkan pemahaman tersebut.
أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Makna ulaa'ika (أُولَٰئِكَ) adalah: mereka itulah. Makna humul (هُمُ) adalah: mereka. Makna gaafliluun (الْغَافِلُونَ) adalah: orang-orang yang lalai.
Jika kata ghaflah (غافلون) kita terjemahkan sekedar : lalai, memang jadi nampak ringan dan kurang mewakili isi pesan yang ingin disampaikan. Kata ’lalai’ lebih sering kita pakai untuk hal-hal kecil sehari-hari, misalnya lalai mematikan lampu, lalai membawa dompet, atau lupa menghadiri sebuah janji.
Padahal kata ghaflah (غافلون) yang dimaksud ayat ini jauh lebih besar daripada sekadar lupa sesaat. Seorang yang lalai bukanlah orang yang tidak pernah melihat kebenaran, malah sudah melihatnya berkali-kali. Bukan pula orang yang tidak pernah mendengar nasihat, malah sudah mendengarnya berulang-ulang. Bukan pula orang yang tidak pernah mendapatkan tanda-tanda kebesaran Allah SWT, sebab hidupnya memang di tengah-tengah tanda-tanda itu setiap hari.
Namun semua itu lewat begitu saja tanpa pernah benar-benar menguasai pikirannya dan menggerakkan hatinya. Kalau menggunakan bahasa modern, orang yang lalai bukan kekurangan informasi, tetapi kehilangan fokus terhadap hal yang paling penting.
Bayangkan seseorang memiliki komputer yang sangat canggih, layar terbaik, prosesor tercepat, dan koneksi internet tanpa batas. Namun seluruh kemampuannya hanya dipakai untuk permainan-permainan remeh dan hiburan yang tidak ada ujungnya. Bukan karena perangkatnya rusak, tetapi karena ia lupa untuk apa perangkat itu sebenarnya dibuat.
Demikian pula manusia. Allah SWT memberinya hati untuk memahami, mata untuk mengambil pelajaran, telinga untuk menerima petunjuk, akal untuk berpikir, dan umur untuk mencari kebenaran. Namun semua itu habis dipakai untuk urusan yang fana sementara tujuan utama keberadaannya terlupakan.
Itulah hakikat ghaflah. Karena itu ayat ini sebenarnya menjadi kesimpulan dari seluruh rangkaian sebelumnya. Mereka tidak memahami bukan karena hati mereka tidak ada. Mereka tidak melihat bukan karena mata mereka buta. Mereka tidak mendengar bukan karena telinga mereka tuli. Akar masalahnya adalah satu kata, yaitu lalai. Lalai terhadap Allah SWT, lalai terhadap tujuan penciptaan mereka, lalai terhadap hari perjumpaan dengan-Nya, lalai terhadap tanda-tanda yang memenuhi langit dan bumi dan pastinya lalai terhadap pelajaran yang setiap hari lewat di depan mata mereka.
Maka penutup ayat ini seolah mengatakan: setelah semua penjelasan panjang tentang hati, mata, telinga, hewan ternak, dan kesesatan, akar penyakitnya ternyata satu. Bukan kurang cerdas, bukan kurang bukti, bukan kurang informasi, melainkan karena mereka tenggelam dalam kelalaian. Dan ketika kelalaian itu menguasai hati, mata tetap terbuka tetapi tidak melihat, telinga tetap berfungsi tetapi tidak mendengar, dan akal tetap bekerja tetapi tidak sampai kepada kebenaran.