Rumah Fiqih Indonesia
Ukuran Teks:
Jilid : 18 Juz : 9 | Al-A'raf : 178
Al-A'raf 7 : 178
Mushaf Kemenag RI hal. 173

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Kemenag RI 2019: Siapa saja yang Allah beri petunjuk, dialah yang mendapat petunjuk dan siapa saja yang Allah sesatkan, merekalah orang-orang yang merugi.
Prof. Quraish Shihab: Barang siapa dianugerahi petunjuk oleh Allah (karena kecenderungan hatinya untuk memperoleh petunjuk-Nya), maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa disesatkan-Nya (karena kecenderungan hatinya untuk sesat), maka mereka itulah orang-orang yang rugi.
Prof. HAMKA: Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka itulah orang yang beroleh petunjuk; dan barangsiapa yang Dia sesatkan, mereka itulah orang-orang yang rugi.

TAFSIR AL-MAHFUZH

Ayat ke-178 dari surat Al-A'raf ini menegaskan bahwa orang itu mendapat petunjuk atau tersesat, pada akhirnya kembali kepada kehendak Allah SWT juga.

Jika Allah SWT menganugerahinya petunjuk, maka dia dapat petunjuk. Otomatis  sebaliknya pun berlaku, jika Allah SWT sesatkan, yaitu tidak beri dia petunjuk, maka dia sesat dan menjadi orang yang rugi.

As-Suyuthi di dalam tafsir Ad-Durr Al-Mantsur [1] meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW sering mengulang makna ayat ini dalam khutbah-khutbah Beliau. Wajar jika kita sering mendengar ayat ini dijadikan sebagai bagian dari khutbah yang disampaikan khatib jumat.

Jika kita rajin, teliti dan cermat, sebenarnya ayat ini punya banyak kembaran yang tersebar di beberapa surat yang berbeda, antara lain : مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا

"Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk. Dan barang siapa disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan menemukan baginya pelindung yang dapat memberi petunjuk." (QS. Al-Kahfi: 17)

وَمَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُضِلٍّ

"Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya." (QS. Az-Zumar: 37)

وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

"Barang siapa disesatkan Allah, maka tidak ada pemberi petunjuk baginya." (QS. Az-Zumar: 23)

وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

"Barang siapa disesatkan Allah, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk." (QS. Ar-Ra'd: 33)

وَمَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِهِ

"Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk. Dan barang siapa disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan menemukan bagi mereka penolong selain Dia." (QS. Al-Isra': 97)

مَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ۚ وَيَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

"Barang siapa disesatkan Allah, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Dan Dia membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka." (QS. Al-A'raf: 186)

Menariknya, ayat yang paling dekat dengan QS. Al-A'raf ayat 178 adalah QS. Al-Kahfi ayat 17, karena keduanya sama-sama menggunakan redaksi:

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ

"Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk." (QS. Al-Kahfi: 17)

dan

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي

"Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk." (QS. Al-A'raf: 178)

@@ )مَنْ يَهْدِ اللَّهُ (

Makna man (مَنْ) adalah: siapa atau siapa saja, atau orang yang. Kedudukannya sebagai isim syarth atau kata syarat. Makna yahdi (يَهْدِ) berasal dari kata hada-yahdi, bermakna: memberi petunjuk, membimbing, atau menganugerahkan taufik. Makna Allahu (اللَّهُ) adalah: Allah sebagai pelaku atau fa'il.

Kata hidayah (هداية) secara bahasa berarti menunjukkan jalan dengan lembut dan penuh perhatian. Orang Arab membedakan antara dalla (دَلَّ) yang berarti sekadar menunjukkan arah dengan kata hada (هدى) yang mengandung makna : mengantar, membimbing, dan memastikan sampai. Maka dari awal katanya sudah mengandung kehangatan dan kesungguhan, bukan sekadar memberi peta, tapi menemani perjalanan.

Hidayah Itu Bertingkat

Para ulama membagi hidayah menjadi beberapa tingkat yang berbeda, dan ini penting untuk dipahami agar tidak rancu:

1.      Hidayah Umum, yaitu petunjuk yang Allah berikan kepada seluruh makhluk, termasuk hewan dan tumbuhan, berupa naluri dan fitrah untuk menjalani fungsinya. Lebah tahu cara membuat sarang, bayi tahu cara menyusu, itu hidayah.

2.      Hidayah Akal & Indera, diberikan kepada manusia berupa kemampuan berpikir, melihat, mendengar, dan mempertimbangkan. Ini pun anugerah Allah.

3.      Hidayah Bayan, yaitu penjelasan melalui wahyu, kitab, dan para nabi. Allah mengutus rasul dan menurunkan kitab agar manusia tahu mana yang benar dan mana yang salah. Di sini manusia diberi tahu jalannya.

4.      Hidayah Taufiq, inilah yang paling tinggi dan paling istimewa. Ini bukan sekadar ditunjukkan jalannya, bukan sekadar diberi penjelasan, melainkan Allah menggerakkan hati dari dalam sehingga seseorang benar-benar mau, mampu, dan konsisten berjalan di atas kebenaran. Hidayah jenis keempat inilah yang dimaksud dalam ayat ini.

Ahlus Sunnah vs Mu'tazilah

Di sinilah letak perdebatan besar antara Ahlus Sunnah dan Mu'tazilah yang sebenarnya sudah kita singgung ketika membahas Ar-Razi. Mu'tazilah berpendapat bahwa hidayah Allah adalah hidayah bayan, yaitu Allah sudah cukup menunjukkan jalan, memberi akal, mengutus nabi. Setelah itu terserah manusia sepenuhnya. Allah tidak masuk lebih jauh dari itu ke dalam hati manusia.

Sementara Ahlus Sunnah berpendapat bahwa di atas hidayah bayan itu ada hidayah taufiq yang sifatnya lebih dalam — Allah tidak hanya menunjukkan jalan, tetapi membalikkan hati dan memudahkan langkah. Dan ini adalah anugerah yang tidak diberikan kepada semua orang, melainkan kepada siapa yang Allah kehendaki.

***

فَهُوَ الْمُهْتَدِي

Makna fa-huwa (فَهُوَ) adalah: maka dia atau dialah. Makna al-muhtadi (الْمُهْتَدِي) adalah: orang yang mendapat petunjuk.

Kata al-muhtadi (المُهْتَدِي) adalah isim fa'il dari fi'il (اهتدى) yang merupakan  bentuk kedelapan dari akar (هدى). Dan ini menarik secara morfologis, karena bentuk ini dalam bahasa Arab sering mengandung makna refleksif alias subjek melakukan sesuatu kepada dirinya sendiri, atau menerima sesuatu yang masuk ke dalam dirinya.

Maka al-muhtadi (المُهْتَدِي) bukan sekadar orang yang diberi petunjuk dari luar, tetapi orang yang petunjuk itu sudah masuk dan menyatu dalam dirinya. Ada unsur penerimaan aktif, bukan pasif semata. Hidayah itu tidak hanya datang kepadanya, tapi sudah menjadi bagian dari dirinya.

Lafazh fa huwa (فَهُوَ) diawali dengan huruf fa' (ف) yang dalam bahasa Arab berfungsi sebagai fa' natijah, yaitu fa' yang menunjukkan akibat langsung dan pasti dari apa yang sebelumnya disebutkan. Strukturnya adalah: sebab → maka → akibat yang tidak terelakkan.

Maka siapa yang Allah beri hidayah, maka pasti dan langsung ia adalah orang yang benar-benar mendapat petunjuk. Tidak ada jarak, tidak ada kemungkinan gagal di tengah jalan. Kalau Allah yang memberi hidayah, hasilnya sudah terjamin.

Dalam bahasa Arab, ketika dhamir subjek disebutkan secara terpisah (فَهُوَ الْمُهْتَدِي) dan bukan sekadar (فَالْمُهْتَدِي), maka itu mengandung makna pembatasan dan penekanan yang kuat. Maknanya menjadi: hanya dia dan tidak ada selainnya yang benar-benar mendapat petunjuk.

Ini implikasi yang sangat serius: satu-satunya petunjuk yang hakiki dan yang benar-benar mengantarkan seseorang kepada kebenaran adalah petunjuk yang bersumber dari Allah. Petunjuk yang bukan dari Allah SWT, sekuat apapun argumennya, sebagus apapun tampilannya,  tidak akan pernah sampai ke tingkat ihtida’ (اهتداء) yang sejati.

Jika dihubungkan kembali dengan kisah yang kita pelajari sejak awal, penggalan ini menjadi sangat tajam. Bal'am adalah orang yang punya semua bekal lahiriah untuk mendapat petunjuk, ilmu, ayat-ayat Allah, kedekatan dengan kebenaran. Tapi karena hidayah taufiq itu tidak hadir atau dicabut darinya, semua bekal itu tidak mengantarkan ke mana-mana.

Maka fa huwa al-muhtadi (فَهُوَ الْمُهْتَدِي) seolah menjadi jawaban diam-diam atas pertanyaan: mengapa ilmu Bal'am tidak menyelamatkannya? Karena ilmu tanpa hidayah dari Allah tidak pernah cukup. Yang menjadikan seseorang benar-benar muhtadi (مُهْتَدِي) bukan ilmunya, bukan usahanya semata, bukan kedekatannya dengan teks,  melainkan apakah Allah menggerakkan itu semua dari dalam hatinya atau tidak.

***

وَمَنْ يُضْلِلْ

Makna wa man (وَمَنْ) adalah: dan barangsiapa. Makna yudhlil (يُضْلِلْ) berasal dari kata adhalla-yudhlillu, bermakna: Dia sesatkan, Dia palingkan, atau Dia biarkan menyimpang dari jalan yang lurus.

Kata yudhlil (يُضْلِلْ) adalah fi'il mudhari' dari (أَضَلَّ), merupakan bentuk keempat yang mengandung makna kausatif: bukan sekadar tersesat, melainkan menyesatkan atau membiarkan tersesat. Allah bukan yang menciptakan kesesatan dalam diri seseorang dari nol, melainkan membiarkan orang itu berjalan dalam kesesatannya tanpa pertolongan dan tanpa taufiq.

Akar katanya dari (ض-ل-ل) yang dalam bahasa Arab menggambarkan sesuatu yang hilang dari jalurnya, seperti unta yang terlepas dari rombongan, atau orang yang tersesat di padang pasir tanpa tanda arah. Tidak ada tujuan, tidak ada orientasi, tidak ada yang menunjukkan jalan.

Ibnu Asyur dalam At-Tahrir wa At-Tanwir [2] mengingatkan bahwa tokoh yang disebut pada ayat sebelumnya juga telah menerima ayat-ayat Allah, mengetahui kebenaran dan mengenal petunjuk. Namun begitu, pada akhirnya dia tergelincir mengikuti hawa nafsunya. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan, dalil, dan ilmu belum tentu identik dengan hidayah. Seseorang bisa mengetahui jalan yang benar tetapi tidak diberi taufik untuk tetap berada di atasnya.

***

فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Makna fa-ula'ika (فَأُولَٰئِكَ) adalah: maka mereka itulah atau orang-orang itulah. Makna hum (هُمُ) artinya mereka juga, namun dhamir ini berfungsi sebagai dhamir fashl untuk mempertegas dan membatasi status. Makna al-khasirun (الْخَاسِرُونَ) adalah: orang-orang yang merugi.

Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib [3] menjelaskan bahwa kerugian yang dimaksud bukan sekadar kehilangan keuntungan duniawi. Mereka kehilangan dunia dan akhirat sekaligus. Mereka gagal memperoleh kebenaran yang dapat membimbing kehidupannya di dunia, dan pada saat yang sama kehilangan keselamatan yang seharusnya mereka peroleh di akhirat.⁷

***


[1] As-Suyuthi (w. 911 H), Ad-Durr Al-Mantsur, (Beirut, Darul-Fikr, Cet. 1)

[2] Ibnu Asyur (w. 1393 H), At-Tahrir wa At-Tanwir, (Tunis, Darut-Tunisiyah li An-Nasyr, Cet-1, 1984)

[3] Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H), Mafatih Al-Ghaib, (Beirut, Daru Ihya’ At-Turats Al-Arabi, Cet. 3, 1420 H)

***

REFERENSI KITAB TAFSIR
🔐