| ◀ | Jilid : 18 Juz : 9 | Al-A'raf : 180 | ▶ |
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Kemenag RI 2019: Allah memiliki Asmaulhusna (nama-nama yang terbaik). Maka, bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut (Asmaulhusna) itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. ) Mereka kelak akan mendapat balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.| TAFSIR AL-MAHFUZH |
Seolah-olah Allah SWT mengajarkan bahwa obat bagi penyakit ghaflah adalah dzikrullah yang secara teknis adalah banyak menyebut nama Allah SWT. Bahkan ayat ini memang memerintahkan agar berdoa dan meminta kepada Allah SWT dengan menyebut nama-nama Allah SWT yang indah itu.
Allah SWT juga perintahkan Nabi Muhammad SAW agar meninggalkan kaum musyrikin yang menyalah-artikan nama-nama Allah SWT yang indah itu. Sekaligus menegaskan adanya ancaman bagi mereka atas perilaku yang tidak pantas bagi Allah SWT.
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ
Makna walillaahi (وَلِلَّهِ) adalah: dan milik Allah. Makna al-asmaa'u (الْأَسْمَاءُ) adalah: nama-nama. Makna al-husnaa (الْحُسْنَىٰ) adalah: yang terbaik atau yang terindah.
Setidaknya ada empat kali Allah SWT menyebutkan bahwa diri-Nya memiliki nama-nama yang indah, di empat titik yang berbeda, yaitu :
§ Surat Al-A’raf : 180 (ولِلَّهِ الأسْماءُ الحُسْنى)
§ Surat Al-Isra’ : 110 (قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أيًّا ما تَدْعُوا فَلَهُ الأسْماءُ الحُسْنى )
§ Surat Thaha : 8 (اللَّهُ لا إلَهَ إلّا هو لَهُ الأسْماءُ الحُسْنى)
§ Surat Al-Hasyr : 24 (هُوَ اللَّهُ الخالِقُ البارِئُ المُصَوِّرُ لَهُ الأسْماءُ الحُسْنى)
Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[1] menuliskan bahwa nama-nama Allah SWT disebut al-asma' al-husna yang artinya nama-nama yang paling indah, karena setiap nama menunjukkan suatu makna. Sebuah nama menjadi indah bukan karena bunyinya, melainkan karena makna yang dikandungnya. Adapun dalam hak Allah SWT, keindahan makna itu kembali kepada kesempurnaan sifat-sifat-Nya dan keagungan-Nya.
Al-Alusy dalam tafsir Ruh Al-Ma’ani[2] mengutip Syaikhul Islam Al-Ghazali bahwa yang dimaksud dengan al-asma' (الأسماء) adalah lafaz-lafaz yang disusun untuk menunjukkan berbagai makna tertentu yang mengandung makna dan sifat yang menunjuk kepada Allah SWT.
Adapun al-husna (الحسنى) merupakan bentuk muannats dari al-ahsan (الأحسن), yaitu isim tafdhil yang berarti "yang paling baik" atau "yang paling indah". Karena itu, makna asmaul husna adalah nama-nama yang paling indah, paling mulia, dan paling sempurna dibandingkan seluruh nama lainnya. Keindahan dan kemuliaan itu bukan terletak pada lafaznya semata, melainkan karena nama-nama tersebut menunjukkan makna-makna yang paling sempurna, paling luhur, dan paling agung.
فَادْعُوهُ بِهَا
Makna fad'uuhu (فَادْعُوهُ) adalah: maka serulah Dia atau berdoalah kepada-Nya. Makna bihaa (بِهَا) adalah: dengannya, yakni dengan nama-nama tersebut. Perintah fad'uuhu (فَادْعُوهُ) menurut Al-Alusy dalam tafsir Ruh Al-Ma’ani[3] dapat dipahami dengan dua makna.
Pertama, menamai atau menyebut, sehingga perintah ini berarti: "Sebutlah dan namailah Allah dengan nama-nama-Nya yang indah."
Kedua, ad-du‘a dalam arti memanggil atau menyeru. Maka perintah itu berarti: "Berdoalah dan bermohonlah kepada Allah dengan menyebut Asmaul Husna."
Namun Al-Alusi mengisyaratkan bahwa konteks lahiriah ayat lebih dekat kepada makna pertama, yaitu menetapkan dan menyebut Allah dengan nama-nama-Nya yang paling indah.
وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ
Makna wadzaruu (وَذَرُوا) adalah: dan tinggalkanlah. Makna alladziina (الَّذِينَ) adalah: orang-orang yang. Makna yulhiduuna (يُلْحِدُونَ) adalah: menyimpang atau menyeleweng. Makna fii asmaa'ihi (فِي أَسْمَائِهِ) adalah: dalam nama-nama-Nya.
Kata yulhiduuna (يُلْحِدُونَ) berasal dari makna condong, menyimpang, dan berpaling dari jalan yang lurus. Dari akar kata yang sama lahir istilah liang lahad pada kubur, yaitu liang yang dibuat di sisi kubur, berbeda dengan dharih yang berada di tengahnya.
Abu Ubaidah meriwayatkan dari Al-Ahmar bahwa kata alhada (ألحد) dapat bermakna membantah dan berdebat, sedangkan lahada (لحد) bermakna menyimpang dan berpaling.
Al-Alusy dalam tafsir Ruh Al-Ma’ani[4] menjelaskan bahwa orang yang melakukan ilhad adalah memberi nama kepada Allah dengan nama yang tidak memiliki dasar dari syariat, atau dengan nama yang mengesankan makna yang rusak dan tidak layak bagi Allah. Contohnya seperti ungkapan sebagian orang awam: ya abal-makarim (يا أبا المكارم) dimana maknanya menjadi : Wahai Bapak Kemuliaan. Ada juga menyebut Allah dengan sapaan ya abyadhal-wajh (يا أبْيَضَ الوَجْهِ) yang artinya :Wahai Yang Berwajah Putih. Ada juga yang menyebut Allah SWT dengan sapaan ya sakhiyyu (يا سَخِيُّ) yang artinya : wahai Dermawan.
Karena itu, perintah untuk meninggalkanlah orang-orang yang melakukan ilhad terhadap nama-nama Allah SWT berarti menjauhi perbuatan tersebut dan tidak ikut melakukannya.
Para mufassir sepakat bahwa yang pertama kali terpapar tuduhan ilhad dalam nama-nama Allah adalah musyrikin Makkah, khususnya suku Quraisy dan sekutunya dengan tiga wujud perbuatan yang berbeda namun semuanya bermuara pada satu dosa yang sama: memelintir nama-nama Allah untuk kepentingan sesembahan mereka.
1. Pencurian Nama Untuk Berhala
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa mereka mengambil nama Al-'Aziz lalu membentuk darinya kata Al-'Uzza, dan mengambil nama Allah lalu membentuk darinya kata Al-Lat. Ini adalah isytiqaq yang sesat dan merupakan penurunan nama secara linguistik,
Al-Thabari menyebutkan bahwa mereka meminjam nama Allah lalu membuatnya berbentuk feminin sehingga lahirlah Al-Lat, dan dari Al-'Aziz lahirlah Al-'Uzza. Adapun Manat, ia menjadi milik Bani Hilal menurut satu pendapat, dan milik Hudzail serta Khuza'ah menurut pendapat lain, sementara Al-'Uzza adalah berhala kebanggaan Quraisy dan Bani Kinanah.
2. Keberatan Terhadap Nama Al-Rahman
Maqatil dan sejumlah mufassir lain meriwayatkan bahwa ayat ini turun ketika seorang Muslim berdoa dalam shalatnya menyebut "Ya Rahman, Ya Rahim", lalu seorang musyrik Makkah memprotes: "Bukankah Muhammad dan para sahabatnya mengaku menyembah Tuhan yang satu? Mengapa orang ini berdoa kepada dua?"
Protes itu lahir dari kebodohan yang sengaja dipertahankan, mereka menolak mengakui bahwa Allah dan Al-Rahman adalah nama bagi Zat yang sama, karena pengakuan itu berarti meruntuhkan seluruh bangunan penolakan mereka.
3. Nama yang tidak layak bagi-Nya
Az-Zamakhsyari dalam Al-Kasysyaf mencatat bahwa sebagian orang Arab Badui menyeru Allah dengan panggilan seperti "ya aba al-makaarim" (wahai bapak segala kemuliaan), "ya abyada al-wajh" (wahai yang berwajah putih), dan "ya nakhi". Semuanya adalah penggambaran fisik dan relasional yang tidak layak disandangkan kepada Allah.
سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Makna wadzaruu (وَذَرُوا) adalah: dan tinggalkanlah. Makna alladziina (الَّذِينَ) adalah: orang-orang yang. Makna yulhiduuna (يُلْحِدُونَ) adalah: menyimpang atau menyeleweng. Makna fii asmaa'ihi (فِي أَسْمَائِهِ) adalah: dalam nama-nama-Nya.
Makna sayujzawna (سَيُجْزَوْنَ) adalah: mereka akan dibalas. Makna maa kaanuu (مَا كَانُوا) adalah: atas apa yang mereka. Makna ya'maluun (يَعْمَلُونَ) adalah: kerjakan.
Istilah Mulhid dalam Bahasa Arab Modern
Ketika pergeseran besar terjadi ketika dunia Arab bersentuhan dengan Eropa modern, khususnya pada abad ke-19 dan ke-20, muncullah istilah ateisme yang dipadankan dengan kata ilhad.
Kisahnya Eropa waktu itu sedang berada di puncak gelombang sekularisme yang lahir dari dua peristiwa besar: Revolusi Ilmiah abad ke-18 yang menempatkan sains sebagai hakim tertinggi atas realitas, dan Revolusi Industri yang menggeser pusat gravitasi kehidupan dari gereja ke pabrik. Dari dua revolusi itulah lahir gelombang skeptisisme terbesar dalam sejarah Eropa. Sebuah gelombang yang menempatkan materi dan pengalaman inderawi sebagai satu-satunya ukuran kebenaran, dan menawarkan ilmu pengetahuan empiris sebagai pengganti Tuhan.
Ketika para penerjemah Arab pada era Nahdhah, yaitu gerakan kebangkitan intelektual Arab di abad ke-19, berhadapan dengan kata atheism dari bahasa Inggris, mereka mencari padanannya dalam bahasa Arab. Kata atheism sendiri berasal dari bahasa Yunani atheos, yang masuk ke bahasa Inggris pada pertengahan abad ke-16, dan secara harfiah berarti tanpa Tuhan, terdiri dari theism yang berarti keyakinan akan keberadaan Tuhan, dan huruf a yang berfungsi sebagai negasi.
Padanan yang paling dekat secara bunyi dan nuansa yang mereka temukan adalah ilhad, karena keduanya sama-sama mengandung makna penyimpangan dan penolakan. Maka terjadilah apa yang dalam linguistik disebut semantic shift yaitu pergeseran makna, di mana sebuah kata lama dipaksa menanggung beban makna baru yang sebetulnya asing baginya.
Pergeseran ini bukan tanpa konsekuensi. Dalam tradisi klasik, ilhad adalah fenomena individual yang langka dan dianggap menyimpang secara fitrah. Namun di zaman modern, ia telah menjelma menjadi fenomena yang menyebar dan masuk ke dunia Islam dengan membawa wajah baru. Dan karena kini ilhad dipakai untuk dua hal yang berbeda secara fundamental. Pertama, penyimpangan nama-nama Allah dalam konteks Al-Qur'an. Kedua, pengingkaran total akan eksistensi Tuhan dalam konteks modern, maka terjadilah kerancuan isitlah.
[1] Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H), Mafatih Al-Ghaib, (Beirut, Daru Ihya’ At-Turats Al-Arabi, Cet. 3, 1420 H)
[2] Al-Alusi (w. 1270 H), Ruh Al-Ma'ani, (Beirut, Darul-kutub Al-Ilmiyah, Cet. 1, 1415 H)
[3] Al-Alusi (w. 1270 H), Ruh Al-Ma'ani, (Beirut, Darul-kutub Al-Ilmiyah, Cet. 1, 1415 H)
[4] Al-Alusi (w. 1270 H), Ruh Al-Ma'ani, (Beirut, Darul-kutub Al-Ilmiyah, Cet. 1, 1415 H)