| ◀ | Jilid : 18 Juz : 9 | Al-A'raf : 201 | ▶ |
إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ
Kemenag RI 2019: Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, jika mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat (kepada Allah). Maka, seketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).| TAFSIR AL-MAHFUZH |
Ayat ke-201 dari surat Al-A'raf ini sebenarnya adalah kelanjutan bimbingan dari ayat sebelumnya. Jika di ayat sebelumnya Allah menjelaskan bahwa level Nabi saja bisa disenggol oleh godaan awal setan yang berupa letupan emosi spontan (nazgh), maka di ayat ini Allah berbicara tentang kita, orang-orang biasa yang bertakwa.
Level godaan yang menimpa manusia biasa tentu lebih berat. Setan tidak cuma menyenggol emosi kita secara sekilas, tapi bisa sampai menempel ketat, mengepung, dan merasuki pikiran kita.
إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا
Makna inna (إِنَّ) adalah: sesungguhnya. Makna alladziina (الَّذِينَ) adalah: orang-orang yang. Makna ittaqau (اتَّقَوْا) adalah: mereka bertakwa.
Al-Qurthubi dalam tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Quran [1] menyebutkan bahwa kata itaqau (اتَّقَوْا) di ayat ini maksudnya menjaga diri mereka dari perbuatan syirik menyekutukan Allah dan dari berbagai perbuatan maksiat lainnya.
Orang-orang yang terbiasa menjaga diri dari perbuatan maksiat, apabila mereka tertimpa atau disusupi oleh gangguan setan, mereka segera berpikir dan merenungkan tentang kemahakuasaan Allah serta betapa banyaknya nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada mereka. Alhasil, mereka pun langsung mengurungkan niat dan meninggalkan kemaksiatan tersebut.
إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ
Makna idzaa (إِذَا) adalah: apabila. Makna massa-hum (مَسَّهُمْ) adalah: menimpa mereka atau menyentuh mereka. Makna thaa'ifun (طَائِفٌ) adalah: godaan atau bisikan yang terlintas. Makna mina asy-syaythaani (مِنَ الشَّيْطَانِ) adalah: dari setan.
Al-Mawardi dalam tafsir An-Nukat wa Al-‘Uyun menuliskan bahwa para ulama punay dua cara membaca kata thaifun (طَائِفٌ) ini. Imam Nafi’, 'Ashim, yang biasa kita gunakan di Indonesia, serta Ibnu Amir, dan Hamzah, mereka membaca dengan lafal (طَائِفٌ). Namun para imam qiraat selain mereka membaca dengan lafal (طَيْفٌ). Namun keduanya secara makna umum mirip-mirip dan sama saja, namun tetap ada perbedaan.
1. Senggolan Bayangan (Al-Lamam)
Ini adalah jenis gangguan yang sifatnya sekilas, mirip seperti ilusi atau bayangan yang mendadak lewat di depan mata. Setan melempar sekelebat pikiran buruk ke otak kita, tidak menetap lama, tapi cukup untuk membuat fokus kita buyar sejenak.
2. Bisikan Halus (Al-Waswasah)
Tokoh bahasa Abu Amr bin Al-Ala berpendapat ini adalah bisikan halus di dalam hati. Dia tidak bersuara, tapi tahu-tahu muncul sebagai dorongan samar di dalam diri untuk menunda salat, malas berbuat baik, atau mulai curiga pada orang lain.
3. Amarah yang Meledak (Al-Ghadhab)
Menurut Imam Mujahid, wujud nyata dari sentuhan setan ini adalah kemarahan. Ketika ego kita tersenggol sedikit, lalu darah kita mendadak mendidih dan rasanya ingin memaki atau merusak sesuatu, ketahuilah saat itu setan sedang sukses menempelkan pengaruhnya pada emosi kita.
4. Kepanikan dan Rasa Takut (Al-Faza’)
Imam Said bin Jubair melihatnya dari sisi psikologis yang lain, yaitu rasa panik yang berlebihan. Setan menakut-nakuti kita tentang masa depan, membuat kita cemas berlebih soal rezeki, atau takut miskin, sehingga kita ragu-ragu untuk bersedekah dan berbuat baik.
Namun pendapat kedua membedakan arti kedua kata tersebut secara spesifik. Mereka bilang jika dibaca (طَيْفٌ) artinya adalah al-lamam, yaitu gangguan psikologis internal yang sifatnya abstrak, seperti lintasan pikiran buruk atau bayangan kegelisahan di dalam dada.
Sedangkan jika dibaca (طَائِفٌ) maka maknanya jauh lebih dinamis. Kata ini sewarna dengan thawaf alias berputar mengelilingi. Artinya adalah segala sesuatu yang mengepung dan berputar-putar di sekitar manusia.
Bayangkan setan seperti segerombolan musuh yang sedang berpatroli mengitari benteng diri kita. Mereka berjalan berputar, mengintip setiap sudut, mencari-cari di mana ada celah jendela yang terbuka, apakah itu lewat celah kemarahan kita, celah hobi kita, atau celah kelengahan kita, agar mereka bisa menyusup masuk dan merusak dari dalam.
تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ
Makna tadzakkaruu (تَذَكَّرُوا) adalah: mereka segera ingat. Makna fa idzaa (فَإِذَا) adalah: maka seketika itu atau maka tiba-tiba. Makna hum (هُمْ) adalah: mereka.
Kata mubshiruuna (مُبْصِرُونَ) berbentuk isim fa’il dari kata dasarnya (أبصر يبصر) yang artinya melihat dengan level lebih tinggi dan berkualitas. Kemenag RI menerjemahkannya menjadi : melihat kesalahan-kesalahannya. Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi : melihat dan menyadari kesalahannya. Sedangkan HAMKA hanya menerjemahkan apa adanya yaitu : melihat.
Begitu disenggol setan untuk berbuat maksiat atau meluapkan amarah, orang bertakwa langsung tadzakkaru, mereka langsung ingat siapa Allah, ingat bahwa Allah sedang memantau mereka, dan ingat betapa malunya jika nikmat dari Allah justru dipakai untuk mendurhakai-Nya.
Dan ketika kesadaran itu muncul, mereka pun langsung melihat konsekuensi buruk di depan mata. Maka mereka langsung mengambil keputusan tegas untuk berhenti total dari rencana maksiat tersebut. Mereka tidak pakai nanti, tidak pakai tapi, langsung rem darurat.
Melalui potongan ayat ini, Al-Quran ingin membocorkan rahasia superpower orang bertakwa kepada kita. Menjadi bertakwa bukan berarti kita hidup di dalam tabung steril yang bebas dari godaan setan. Godaan itu pasti datang, bahkan kadang mengepung rapat pikiran kita.
Namun, senjata utama orang bertakwa adalah kecepatan mereka dalam mengingat Allah. Begitu mereka ingat Allah, semua kabut kegelapan, amarah, dan nafsu yang ditiupkan setan langsung sirna, digantikan oleh cahaya terang yang membuat mereka bisa melihat kembali jalan kebenaran dengan jelas.
[1] Al-Qurtubi (w. 671 H), Al-Jami' li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M)