| ◀ | Jilid : 18 Juz : 9 | Al-A'raf : 202 | ▶ |
وَإِخْوَانُهُمْ يَمُدُّونَهُمْ فِي الْغَيِّ ثُمَّ لَا يُقْصِرُونَ
Kemenag RI 2019: Teman-teman mereka (orang kafir dan fasik) membantu setan-setan dalam kesesatan, kemudian mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan).| TAFSIR AL-MAHFUZH |
Ayat ke-202 dari surat Al-A’raf ini menggambarkan bahwa setan itu tidak sendirian ketika bekerja dalam rangka menyesatkan manusia. Setan punya ikhwan alias saudara-saudara, atau teman-teman, setidaknya tim yang diperkuat dengan banyak pihak.
Tim setan yang terdi dari orang kafir dan fasik sangat efisien dalam langkahnya. Mereka saling membantu satu sama lain dalam usaha. Dan kunci suksesnya adalah mereka tidak kenal istilah capek, bosan, istirahat atau pun pensiun. Setan tetap punya idealisme dan loyalitas tinggi, serta daya tahan yang mencengangkan.
وَإِخْوَانُهُمْ
Makna wa ikhwaanuhum (وَإِخْوَانُهُمْ) adalah: dan saudara-saudara mereka.
Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[1]menuliskan ada dua makna dari kata ikhwanuhum ini :
Pandangan pertama menyatakan bahwa yang dimaksud saudara di sini adalah sesama setan, tapi dari jenis manusia. Jadi, manusia-manusia jahat yang hobi menghasut dan menjerumuskan orang lain ke dalam dosa itu sejatinya adalah rekan kerja atau saudara kandung dari setan jenis jin.
Ketika setan manusia ini sibuk merusak masyarakat, mereka sebenarnya sedang menyetor bantuan dan pasokan energi bagi setan jin untuk memperluas proyek kesesatan di bumi.
Sementara pandangan kedua melihat dari sisi korban. Yang dimaksud saudara setan adalah manusia-manusia yang tidak memiliki benteng takwa di hatinya. Karena mereka pasrah dan berteman dekat dengan kemaksiatan, setan-setan jin pun dengan sukarela memosisikan diri sebagai donatur yang terus menyuplai dorongan, fasilitas, dan ide-ide buruk agar manusia tersebut semakin tenggelam dalam kesesatan.
Kedua pandangan ini bermuara pada satu kesimpulan yang sama: setiap orang yang menjauh dari Tuhan pasti akan dipasangkan dengan satu setan yang menjadi karibnya. Tinggal kita yang memilih, ingin menjadi orang bertakwa yang memiliki alarm otomatis untuk mengusir setan, atau justru membiarkan diri kita menjadi saudara dekat mereka.
يَمُدُّونَهُمْ فِي الْغَيِّ
Kata yamudduunahum (يَمُدُّونَهُمْ) secara harfiyah maknanya adalah: mengulurkan tangan, namun maksudnya membantu mereka atau memberikan pertolongan, setidaknya ikut serta dan saling bekerja sama. Makna fii al-ghayyi (فِي الْغَيِّ) adalah: dalam kesesatan.
Penggalan ini membongkar skandal adanya hubungan gelap kerja sama antara setan dan sekutunya. Setan tidak bekerja sendirian, mereka membentuk tim yang saling bantu, karena pekerjaan mereka sebenarnya bukan hal yang mudah juga, jika dilihat dari sudut pandang mereka.
Ahli bahasa terkemuka, Abu Ali Al-Farisi, membocorkan sebuah kaidah rasa dalam bahasa Al-Quran. Biasanya, jika Al-Quran menggunakan akar kata amadda (أمدّ), seperti dalam bacaan Imam Nafi' yang berbunyi yumiddunahum (يُمدّونهم) itu digunakan untuk tambahan informasi yang sifatnya baik, disukai, atau terpuji, seperti pasokan harta, anak, atau buah-buahan di surga.
Sebaliknya, untuk hal-hal yang buruk dan mendatangkan petaka, Al-Quran menggunakan akar kata madda (مدَّ), seperti dalam ayat ini. Penggunaan kata ini sengaja dipilih untuk memberikan efek rasa bahwa pasokan dan bantuan yang diberikan setan kepada manusia itu sebenarnya adalah investasi palsu yang perlahan-lahan justru menyeret mereka ke jurang kehancuran.
ثُمَّ لَا يُقْصِرُونَ
Makna tsumma (ثُمَّ) adalah: kemudian. Kata laa yuqshiruuna (لَا يُقْصِرُونَ) secara harfiyah adalah : tidak memendekkan. Asalnya dari qashr (قصر) yang artinya membuat sesuatu menjadi pendek, seperti halnya shalat qashr yang asalnya empat rakaat menjadi dua rakaat.
Namun secara konteks, maksud dari la yuqshirun (لَا يُقْصِرُونَ) disini adalah mereka tidak henti-hentinya dari mengerjakan misi dan tujuan mereka. Merkea tidak memendekkan perbuatan itu.
Merkea tidak menahan diri dan tidak akan pernah mengerem laju penyesatan mereka. Istilah aqṣara dalam bahasa Arab biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang memutuskan untuk insaf, angkat kaki, atau berhenti total dari suatu aktivitas. Namun dalam konteks ayat ini, kata tersebut dinegasikan untuk menegaskan satu fakta yang mengerikan: setan tidak punya kamus kata "puas" atau "lelah" dalam menggoda manusia.
Tujuan akhir setan bukanlah sekadar membuat manusia sesekali terpeleset melakukan dosa kecil, lalu selesai. Target utama mereka bersifat totalitas. Setan akan terus memborondong manusia dengan pasokan bisikan dan rayuan tanpa henti, siang dan malam, sampai mereka berhasil menyeret manusia tersebut sepenuhnya ke dalam jurang kekafiran dan kehancuran yang total.
[1] Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H), Mafatih Al-Ghaib, (Beirut, Daru Ihya’ At-Turats Al-Arabi, Cet. 3, 1420 H)