| ◀ | Jilid : 15 Juz : 8 | Al-Anam : 153 | ▶ |
| TAFSIR AL-MAHFUZH |
Maka pada ayat ini Allah mengangkat seluruh rincian itu ke tingkat prinsip besar yang menyatukan semuanya. Allah merangkum seluruh wasiat tersebut dalam satu kalimat kunci: “Inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia.” Pada saat yang sama juga ada larangan keras untuk jangan mengikuti jalan-jalan lain, karena jalan-jalan itulah yang akan mencerai-beraikan manusia dari jalan Allah.
Dengan susunan seperti ini, ayat ke-153 menjadi puncak sekaligus penutup rangkaian wasiat Ilahi dalam surat Al-An‘am, yang mengikat detail hukum dengan prinsip tauhid jalan hidup: agama ini satu jalur, satu sumber, dan satu tujuan. Semua wasiat sebelumnya hanyalah penjabaran praktis dari jalan lurus itu.
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا
Hurufwa (وَ) artinya : dan. Hurufanna (أَنَّ) artinya : bahwa sesungguhnya. Katahadza (هَٰذَا) artinya : ini. Katashirathi (صِرَاطِي) artinya : jalan-Ku. Kata mustaqiman (مُسْتَقِيمًا) artinya : yang lurus. Huruf fa (فَ) artinya : maka.
Lebih dari 30 kali kata shirath mustaqim terulang-ulang dalam Al-Quran dengan berbagai variannya. Yang paling awal terdapat dalam surat Al-Fatihah, yaitu :
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (QS. Al-Fatihah : 6)
Al-Mawardi menuliskan dalam tafsir An-Nukat wa Al-Uyun[1] bahwa para ulama berbeda pendapat tentang makna yang dimaksud
§ Pertama, yang dimaksud adalah Kitab Allah yaitu Al-Qur’an. Ini merupakan pendapat Ali dan Abdullah, dan diriwayatkan pula makna semisal dari Nabi SAW.
§ Kedua, yang dimaksud adalah Islam. Ini merupakan pendapat Jabir bin Abdullah dan Muhammad bin al-Hanafiyyah.
§ Ketiga, yang dimaksud adalah jalan yang memberi petunjuk menuju agama Allah SWT, yang tidak ada kebengkokan di dalamnya. Ini merupakan pendapat Ibnu Abbas.
§ Keempat, yang dimaksud adalah Rasulullah SAW beserta orang-orang pilihan dari Ahlul Bait dan para sahabat beliau. Ini merupakan pendapat al-Hasan al-Bashri dan Abu al-‘Aliyah ar-Riyahi.
فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ
Kata fattabi’uhu (فَاتَّبِعُوهُ) artinya : maka ikutilah dia. Dia yang dimaksud tidak lain adalah shirath mustaqim (الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ). Huruf wa (وَ) artinya : dan. Huruf la (لَا) artinya : jangan. Kata tattabi’u (تَتَّبِعُوا) artinya : kalian mengikuti. Kata as subula (السُّبُلَ) artinya : jalan-jalan.
Terdapat tiga penafsiran yang berbeda terkait apa yang dimaksud dengan istilah subul yang berarti : ‘jalan-jalan’ atau ’beberapa jalan’
§ Pertama, yang dimaksud adalah kitab-kitab samawi yang telah terdahulu, yang telah dihapus hukumnya oleh Al-Qur’an. Penafsiran ini dimungkinkan.
§ Kedua, yang dimaksud adalah agama-agama terdahulu, yang telah dihapus hukumnya oleh Islam. Penafsiran ini juga dimungkinkan.
§ Ketiga, yang dimaksud adalah bid‘ah-bid‘ah dan syubhat-syubhat.
Imam Ahmad bin Hanbal meruiwayatkan dari dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu terkait dengan ayat ini:
خَطَّ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ خَطًّا بِيَدِهِ، ثُمَّ قَالَ: "هَذَا سَبِيل اللَّهِ مُسْتَقِيمًا". وَخَطَّ عَلَى يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ، ثُمَّ قَالَ: "هَذِهِ السُّبُل لَيْسَ مِنْهَا سَبِيلٌ إِلَّا عَلَيْهِ شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ
Rasulullah SAW menggambar satu garis dengan tangannya, lalu beliau bersabda: Inilah jalan Allah yang lurus. Kemudian beliau menggambar garis-garis di sebelah kanan dan kirinya, lalu bersabda: “Ini adalah jalan-jalan (lain), tidak ada satu pun jalan darinya kecuali di atasnya ada setan yang mengajak kepadanya.” Kemudian beliau membaca ayat:
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.
فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
Huruf fa (فَ) artinya : maka. Kata tafarrqa (تَفَرَّقَ) artinya : ia memecah-belahkan. Huruf bikum (بِكُمْ) artinya : kalian. Huruf an (عَنْ) artinya : dari. Kata sabilihi (سَبِيلِهِ) artinya : jalan-Nya.
Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Quran Al-Azhim[2] mengisyaratkan bahwa perintah kepada orang banyak untuk mengikuti hanya satu jalan yang lurus merupakan perintah untuk berjamaah dan larangan untuk bercerai berai.
Larangan untuk berpecah-belah ini ditegaskan agar jangan sampai terjadi pengulangan sejarah. Sebab di masa lalu, salah satu sebab kenapa Allah SWT sudah tidak lagi memberlakukan agama samawi sebelumnya, karena berbagai perpecahan telah terjadi secara nyata pada agama Yahudi dan Nasrani.
Al-Qur’an sendiri yang menceritakan perpecahan demi perpecahan telah terjadi di dalam tubuh agama Yahudi dan agama Nasrani.
إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ
Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi berkelompok-kelompok, engkau (Muhammad) tidak termasuk golongan mereka sedikit pun. (QS. Al-An‘am: 159)
Ayat ini turun tepat setelah rangkaian ayat yang kita bahas, dan oleh banyak mufassir dipahami sebagai isyarat kuat kepada Yahudi dan Nasrani, yang memecah agama wahyu menjadi sekte-sekte.
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ
Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan yang jelas. (QS. Ali ‘Imran: 105)
فَاخْتَلَفَ الْأَحْزَابُ مِنْ بَيْنِهِمْ
Maka kelompok-kelompok di antara mereka pun berselisih. (QS. Maryam: 37)
Rasulullah SAW bersabda:
افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً
Kaum Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, dan kaum Nasrani terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan. (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah)
Hadits ini menegaskan bahwa perpecahan adalah fakta sejarah, bukan klaim polemis.
A. Sekte-Sekte Besar Dalam Internal Yahudi
Dalam sejarah Yahudi, perpecahan internal tidak terjadi karena penolakan terhadap Taurat, melainkan karena perbedaan cara memahami, menafsirkan, dan menentukan otoritas agama.
Sejak periode Bait Suci Kedua, Yahudi sudah terbagi ke dalam beberapa arus besar yang masing-masing mengklaim diri paling setia kepada ajaran Musa.
1. Farisi
Kelompok yang paling berpengaruh adalah Farisi. Mereka menekankan bahwa Taurat tidak hanya berbentuk teks tertulis, tetapi juga memiliki penjelasan lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi lisan ini kemudian berkembang menjadi sistem hukum rabinik yang sangat rinci.
Dalam pandangan Farisi, kehidupan beragama tidak terbatas pada Bait Suci, tetapi harus meresap ke seluruh aspek hidup. Setelah kehancuran Bait Suci, justru kelompok inilah yang bertahan dan menjadi fondasi Yahudi rabinik modern.
2. Saduki
Berbeda dengan Farisi, Saduki adalah kelompok elit keagamaan yang dekat dengan otoritas politik dan Bait Suci. Mereka hanya menerima Taurat tertulis dan menolak tradisi lisan.
Saduki juga dikenal menolak keyakinan tentang kebangkitan, malaikat, dan kehidupan akhirat. Karena keberadaan mereka sangat bergantung pada Bait Suci, ketika Bait Suci hancur, kelompok ini pun lenyap dari sejarah.
3. Esseni
Ada pula Esseni, kelompok yang memilih hidup menyendiri dan asketis. Mereka memandang masyarakat Yahudi arus utama telah rusak dan menyimpang, sehingga memilih membentuk komunitas tertutup dengan disiplin spiritual yang ketat.
Banyak peneliti meyakini bahwa manuskrip Dead Sea Scrolls berasal dari lingkungan mereka. Esseni menekankan kesucian moral, ketaatan ketat, dan penantian akan datangnya masa akhir.
4. Zealot
Sementara itu, Zealot muncul sebagai kelompok yang memadukan agama dengan perlawanan politik. Mereka melihat penjajahan Romawi bukan sekadar masalah politik, tetapi penghinaan terhadap kedaulatan Tuhan.
Sikap militan mereka memicu pemberontakan bersenjata yang akhirnya berujung pada kehancuran Yerusalem dan Bait Suci, membawa dampak besar bagi seluruh komunitas Yahudi.
5. Samaritan
Selain itu ada Samaritan, kelompok yang mengklaim diri sebagai pewaris asli ajaran Musa, tetapi hanya mengakui Taurat versi mereka dan menolak otoritas Yerusalem. Mereka menjadikan Gunung Gerizim sebagai pusat ibadah.
Hingga hari ini komunitas ini masih ada, meskipun sangat kecil jumlahnya, menjadi saksi hidup perpecahan lama dalam sejarah Yahudi.
Dari semua dinamika ini, lahirlah apa yang kemudian dikenal sebagai Yahudi Rabinik, yakni bentuk Yahudi yang didominasi oleh otoritas rabbi dan kitab Talmud. Inilah arus utama Yahudi hingga sekarang, hasil dari proses seleksi sejarah setelah berbagai sekte lain melemah atau punah.
Inilah gambaran nyata dari makna firman Allah: “maka jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya”—sebuah peringatan historis agar umat setelahnya tidak mengulangi pola yang sama.
2. Sekte-Sekte Besar Dalam Internal Nasrani
Perpecahan dalam Nasrani terjadi lebih tajam dan lebih struktural dibandingkan Yahudi, karena pusat konflik mereka bukan sekadar hukum, tetapi hakikat Isa dan otoritas agama.
Pada awalnya, para pengikut Isa berada di atas ajaran tauhid yang sederhana. Namun setelah risalah itu berinteraksi dengan filsafat Yunani, kekuasaan Romawi, dan institusi gereja, perbedaan pandangan berkembang menjadi perpecahan permanen.
1. Katolik
Sekte terbesar dan paling berpengaruh adalah Katolik. Gereja Katolik menempatkan Paus sebagai otoritas tertinggi dalam urusan iman dan gereja, dengan klaim kesinambungan langsung dari rasul-rasul, khususnya Petrus.
Selain Kitab Suci, Katolik juga menempatkan tradisi gereja sebagai sumber ajaran. Dalam doktrin, Katolik menetapkan konsep Trinitas dan hakikat Isa sebagai Tuhan Anak melalui konsili-konsili gereja yang diputuskan secara institusional.
2. Ortodoks Timur
Berbeda dengan Katolik, Ortodoks Timur muncul dari perpecahan besar antara gereja Barat dan Timur.
Ortodoks menolak supremasi Paus dan menekankan kepemimpinan kolektif para uskup. Mereka tetap memegang ajaran Trinitas, tetapi memiliki perbedaan dalam teologi, liturgi, dan struktur gereja.
Perpecahan ini bukan hanya teologis, tetapi juga dipengaruhi faktor budaya, bahasa, dan politik Kekaisaran Romawi Timur dan Barat.
3. Protestan
Kemudian lahirlah Protestan, hasil dari gerakan reformasi yang dipelopori tokoh-tokoh seperti Martin Luther dan John Calvin.
Protestan menolak otoritas Paus dan sebagian besar tradisi gereja, serta menekankan prinsip sola scriptura, yaitu Kitab Suci sebagai satu-satunya rujukan iman.
Namun penolakan terhadap otoritas tunggal justru melahirkan fragmentasi baru, sehingga Protestan berkembang menjadi ratusan denominasi dengan tafsir dan praktik yang berbeda-beda.
Selain tiga arus besar tersebut, dalam sejarah awal Nasrani juga terdapat kelompok-kelompok teologis yang kemudian dianggap menyimpang atau sesat oleh gereja arus utama.
Di antaranya adalah Arianisme, yang memandang Isa sebagai makhluk ciptaan dan bukan Tuhan, serta Nestorianisme dan Monofisitisme, yang berselisih tentang hubungan antara sifat ketuhanan dan kemanusiaan Isa. Banyak dari perdebatan ini diputuskan melalui konsili gereja, bukan melalui wahyu baru, sehingga perbedaan pandangan berubah menjadi keputusan politik-keagamaan.
Dari perspektif Al-Qur’an, perpecahan Nasrani ini menunjukkan pola yang sama dengan umat-umat sebelumnya: wahyu yang satu dipecah oleh jalan-jalan pemikiran tambahan. Perbedaan yang awalnya bersifat konseptual kemudian dilembagakan, dipaksakan, dan diwariskan sebagai identitas kelompok. Maka tidak mengherankan jika Al-Qur’an menggambarkan mereka sebagai kelompok-kelompok yang berselisih setelah datangnya petunjuk.
ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Kata dhalikum (ذَٰلِكُمْ) artinya : yang demikian itu untuk kalian. Kata wassakum (وَصَّاكُمْ) artinya : Dia mewasiatkan kepada kalian. Huruf bihi (بِهِ) artinya : dengan itu / tentang itu. Huruf laalla (لَعَلَّ) artinya : agar supaya. Kata kum (كُمْ) artinya : kalian. Kata tattaquna (تَتَّقُونَ) artinya : kalian bertakwa.
Penggalan yang jadi penutup ini mirip persis dengan penutup pada ayat sebelum ini. Bedanya hanya pada harapannya. Di ayat ini disebutkan agar kalian bertaqwa, sedangkan di ayat sebelumnya disebutkan agar kalian yatadzakkarun yaitu mengambil pelajaran.
Jika disebut la’allakum tadzakkarun (لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ), maka itu adalah tujuan kognitif dan kesadaran awal. Allah mengajak manusia berhenti, mengingat, dan menyadari: menyadari kesalahan sosial, ketimpangan moral, dan kerusakan akibat melanggar batas. Tahap ini bekerja di wilayah akal dan ingatan. Manusia diajak berpikir, merenung, dan belajar dari perintah serta larangan yang baru saja disebutkan.
Adapun pada ayat ini, penutupnya naik satu tingkat menjadi la’allakum tattaqun (لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ) yaitu agar kalian bertakwa. Ini bukan lagi sekadar kesadaran intelektual, tetapi transformasi sikap batin dan perilaku.
Taqwa adalah kondisi di mana seseorang menjaga diri secara konsisten, bukan hanya paham mana benar dan salah. Ia sudah memiliki rem internal yang hidup, sehingga tidak mudah tergelincir meskipun tidak diawasi.
 
[1] Al-Mawardi (w. 450 H), An-Nukat wa Al-‘Uyun, (Beirut, Darul-kutub Al-Ilmiyah, Cet. 1)
[2] Ibnu Katsir (w. 774 H), Tafsir Al-Quran Al-Azhim, (Cairo, Dar Thaibah lin-Nasyr wa at-Tauzi’, Cet. 2, 1420 H – 1999 M)