Kemenag RI 2019:Dialah yang menurunkan air dari langit lalu dengannya Kami menumbuhkan segala macam tumbuhan. Maka, darinya Kami mengeluarkan tanaman yang menghijau. Darinya Kami mengeluarkan butir yang bertumpuk (banyak). Dari mayang kurma (mengurai) tangkai-tangkai yang menjuntai. (Kami menumbuhkan) kebun-kebun anggur. (Kami menumbuhkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya pada waktu berbuah dan menjadi masak. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman. Prof. Quraish Shihab:Dan Dia (Allah) Yang menurunkan air dari langit, lalu dengan itu Kami tumbuhkan segala macam tumbuh-tumbuhan, maka dari tumbuh-tumbuhan itu Kami keluarkan tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak bertumpuk; dan dari mayang kurma muncul tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, zaitun, dan delima, yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak serupa (rasa dan sifatnya). Perhatikanlah buahnya ketika berbuah dan (perhatikanlah pula) kematangannya. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang beriman. Prof. HAMKA:Dan Dialah yang telah menurunkan air dari langit maka Kami keluarkan dengan dia tumbuhan dari tiap-tiap sesuatu lalu Kami keluarkan daripadanya kehidupan, yang Kami keluarkan daripadanya biji-biji yang bertumpun dan dari kurma dari mayangnya (jadi) tandan yang mudah dipetik, dan kebun-kebun dari anggur dan zaitun dan delima yang bersamaan dan yang tidak bersamaan.
Dari tumbuhan-tumbuhan itu muncul butir-butir biji yang tersusun rapi, mayang kurma yang menggantung indah, kebun-kebun anggur yang rimbun, serta pohon zaitun dan delima yang sebagian tampak serupa tetapi sesungguhnya berbeda dalam rasa, bentuk, dan manfaatnya.
Allah mengajak manusia untuk memperhatikan bagaimana buah-buahan itu tumbuh, berkembang, hingga matang, sebagai bukti nyata dari kebesaran dan ketelitian ciptaan-Nya. Semua proses alam yang tampak biasa ini sejatinya merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah yang hanya dapat disadari dan dihayati oleh orang-orang yang beriman.
وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً
Kata wa huwa (وَهُوَ) artinya: dan Dia-lah. Huruf wawu (وَ) di awal adalah harfu 'athf yang menghubungkan ayat ini dengan ayat sebelumnya. Sedangkan dhamir huwa (هُوَ) adalah kata ganti orang ketiga yang artinya : Dia. Maksudnya tidak lain adalah Allah SWT.
Kata alladzi (الَّذِي) artinya: yang. Kata anzala (أَنْزَلَ) artinya: menurunkan. Kata mina (مِنَ) artinya: dari. Kata as sama'i (السَّمَاءِ) artinya: langit. Kata ma-an (مَاءً) artinya : air, maksudnya air hujan.
Di dalam Al-Quran Allah SWT menegaskan bahwa air itu sumber kehidupan.
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ
Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. (QS. Al-Anbiya : 30)
Banyak ilmuwan biologi dan astrobiologi percaya bahwa kehidupan pertama kali muncul di air. Bahkan dalam pencarian kehidupan di luar bumi seperti di Mars atau Europa, bulan Jupiter, ilmuwan selalu mencari jejak air terlebih dahulu, karena di mana ada air, di situ ada potensi kehidupan. Air adalah molekul unik yang menopang semua bentuk kehidupan, dari struktur sel, metabolisme, fotosintesis, hingga keseimbangan ekosistem. Tanpa air, kehidupan biologis tidak mungkin ada.
فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ
Huruf fa (فَـ) di awal kalimat berfungsi sebagai penghubung atau ta‘qib yang menunjukkan urutan kejadian yang bersifat sebab-akibat. Setelah Allah SWT turunkan air hujan, maka akibat langsungnya adalah munculnya berbagai macam tumbuh-tumbuhan.
Kata akhrajna (أخْرَجْنَا) artinya: Kami keluarkan. Kata bihi (بِهِ) artinya: dengannya, maksudnya dengan air itu. Maksud dari ungkapan ’Kami keluarkan’ di sini berarti Allah-lah yang menumbuhkan dan memunculkan kehidupan dari dalam tanah.
Kata nabata (نَبَاتَ) artinya: tumbuhan, atau secara lebih luas mencakup ’segala yang tumbuh’. Dalam bahasa Arab, kata ini mengandung makna pertumbuhan yang berawal dari ketiadaan menjadi keberadaan yang hidup. Maka, ia menggambarkan proses hidup yang berkembang dan berproduksi.
Kata kullisyai'in (كُلِّ شَيْءٍ) artinya: segala sesuatu. Namun dalam konteks ini bukan berarti segala makhluk secara mutlak, melainkan segala jenis tumbuhan yang menjadi bagian dari kehidupan di bumi, yaitu segala jenis tumbuhan yang Allah ciptakan dari air dan tanah, baik besar maupun kecil, tampak maupun tersembunyi.
Digunakannya ungkapan kullisyai'in (كُلِّ شَيْءٍ) yaitu ’segala sesuatu’ untuk menegaskan keragaman makhluk yang tumbuh dari air, yang menunjukkan kebesaran dan kebijaksanaan Allah dalam menciptakan sistem kehidupan yang saling terhubung.
Kata fa akhrajna (فَأَخْرَجْنَا) artinya: lalu Kami keluarkan. Kata minhu (مِنْهُ) artinya: darinya. Sebagian ulama mengatakan kata minhu yang berarti dari-nya maksudnya dari air. Namun pendapat lain mengatakan maksudnya dari tumbuhan.
Kata khadhiran (خَضِرًا) artinya: tumbuh-tumbuhan hijau. Kata ini berasal dari akar kata (خَضَرَ) yang berarti menjadi hijau. Namun para ulama sepakat bahwa maksud kata ini bukan sekadar warna hijau secara visual, tetapi menggambarkan kehidupan yang segar, subur, dan penuh daya tumbuh. Kata khadhiran (خَضِرًا) adalah simbol kehidupan, kesuburan, dan kemakmuran.
Kata nukhriju (نُخْرِجُ) artinya : Kami keluarkan. Kata minhu (مِنْهُ) artinya: darinya. Maksudnya dari tumbuhan hijau yang telah disebut sebelumnya (khadiran). Setelah tumbuhan hijau tumbuh subur maka akan muncullah hasilnya.
Kata haban (حَبًّا) artinya bulir-bulir bahan makanan, seperti bulir-bulir gandum, bulir-bulir padi, bulir-bulir jagung, bulir-bulir barley, bulir-bulir kacang adas atau lentil, dan lainnya. Bulir-bulir ini menjadi simbol sumber kehidupan, karena darinya tumbuh tumbuhan baru yang terus melanjutkan siklus hidup.
Kata mutarakiban (مُتَرَاكِبًا) artinya: bertangkai. Kata ini berasal dari akar kata rakiba (رَكِبَ) yang berarti menumpuk atau tersusun di atas yang lain. Bentuk mutarakib berarti yang saling bertumpuk, berlapis-lapis, dan tersusun rapi. Kata ini menggambarkan struktur fisik dari biji-bijian yang tumbuh dalam bentuk kelompok atau lapisan, seperti bulir-bulir gandum, butir padi dalam malainya, atau jagung yang tersusun rapat.
Kata wa mina (وَمِنَ) artinya: dan dari. Kata an-nakhli (النَّخْلِ) artinya: pohon kurma. Kata ini berasal dari akar nakhala (نَخَلَ) yang bermakna menyaring atau memisahkan halus dari kasar. Dalam konteks tumbuhan, kata ini digunakan untuk menyebut jenis pohon palma yang menghasilkan buah kurma.
Pohon kurma atau an-nakhli (النَّخْلِ) disebut secara khusus di sini karena ia merupakan tanaman paling penting di Jazirah Arab dan sumber makanan, energi, dan ekonomi utama bagi penduduknya.
Kata min (مِنْ) artinya: dari. Kata thal'iha (طَلْعِهَا) secara bahasa berarti mayang, yaitu bagian awal dari bunga kurma yang masih tertutup seludang, sebelum mekar dan mengeluarkan bakal tandan. Akar dari kata (طَلَعَ) yang berarti muncul, terbit, atau keluar dari tempatnya. Makna yang sama juga digunakan untuk terbitnya matahari (طلوع الشمس).
Jadi ungkapan min thal‘iha berarti dari mayang pohon kurma itu, yakni dari bakal bunga yang muncul dari puncak pohonnya, keluar tandan-tandan buah yang nantinya akan matang menjadi kurma.
Kata qinwanun (قِنْوَانٌ) adalah bentuk jamak dari qinwun (قِنْو) yang berarti tandan buah kurma, yaitu kumpulan butir-butir kurma yang tumbuh menggantung pada batang pelepahnya. Kata daniyah (دَانِيَةٌ) berasal dari akar dana (دَنَا) yang berarti dekat. Maknanya bukan hanya secara fisik mudah dijangkau, tetapi juga rendah dalam arti tidak jauh dari tangan manusia, menggambarkan kemudahan dan kemurahan rezeki yang Allah berikan.
Imam Al-Tabari menjelaskan bahwa makna daniyah (دَانِيَةٌ) adalah buahnya dekat untuk dipetik, seolah pohon itu merunduk kepada pemetiknya sehingga bisa diambil tanpa kesulitan. Hal itu terjadi karena buah-buahnya banyak dan berat sehingga sampai merunduk.
Al-Qurthubi menyebut dua penafsiran, yaitu rendah secara fisik, yakni tandan-tandan buahnya menjuntai ke bawah. Atau rendah secara makna nikmat, yaitu mudah diambil dan tidak memerlukan usaha keras.
Adapun secara teknis, pada dasarnya pohon kurma itu sendiri tidak pendek, setidaknya di masa kenabian dahulu. Al-Quran juga menyebut tentang pohon kurma yang tinggi.
وَالنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ لَّهَا طَلْعٌ نَّضِيدٌ
Dan pohon-pohon kurma yang tinggi-tinggi, yang mempunyai mayang yang bersusun-susun. (QS. Qaf: 10)
Perhatikan kata basiqat (بَاسِقَاتٍ) yang berarti menjulang tinggi. Itu berarti normalnya di masa kenabian pohon kurma memang tinggi menjulang. Bahkan dalam beberapa riwayat disebut, para pemetik kurma naik ke batang atau menggunakan alat bantu untuk memanen. Kurma yang pendek dan mudah dipetik bukan ciri umum di masa Nabi SAW.
Adapun keberadaan pohon kurma yang pendek dan lebat baru berhasil dikembangkan pada abad ke-20 dan ke-21. Dengan kemajuan di bidang ilmu agronomi, muncul varietas kurma hasil rekayasa dan pemuliaan genetik yang batangnya pendek, cepat berbuah, dan berproduksi lebat. Contohnya varietas ajwa dwarf yang merupakan hasil pembiakan di Madinah, dimana kurma ajwa itu bisa punya batang yang rendah.
Kurma Thailand hasil persilangan modern bisa tumbuh rendah sekitar dua hingga empat meter saja. Bahkan sudah berbuah hanya di usia 2 hingga 3 tahun. Buahnya bisa dipetik tanpa tangga.
Kata wa janatin (وَجَنَّاتٍ) artinya: dan kebun-kebun. Kata min (مِنْ) artinya: dari. Kata a'nabin (أَعْنَابٍ) artinya: anggur. Kata waz zaituna (وَالزَّيْتُونَ) artinya: dan zaitun. Kata war rummana (وَالرُّمَّانَ) artinya: dan delima.
Al-Qurthubi dalam tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Quran[1] menyoroti kandungan simbolik dan spiritual dari tiga jenis buah ini.
1. Anggur (عنب) : lambang kelezatan dan kenikmatan dunia serta akhirat. Dalam surga pun disebutkan adanya anggur yang melimpah.
2. Zaitun (زيتون) : lambang berkah, kesucian, dan cahaya Ilahi. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat An-Nur.
يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ
dinyalakan dari pohon yang diberkahi, yaitu pohon zaitun. (QS. An-Nur : 35)
3. Delima (رمان) : lambang keindahan, keseimbangan, dan kesehatan. Buah ini memiliki rasa manis dan asam sekaligus, melambangkan keseimbangan antara karunia dan ujian.
Secara ilmu pengetahuan modern, khususnya ilmu tentang makanan dan gizi, ketiga jenis buah ini memang memiliki peran biologis dan kandungan gizi luar biasa
§ Zaitun : mengandung lemak tak jenuh tunggal yang baik untuk jantung. Daunnya mengandung senyawa oleuropein yang bersifat antioksidan dan antibakteri. Minyak zaitun dikenal sejak ribuan tahun sebagai sumber energi alami dan bahan pengobatan.
§ Anggur : Kaya glukosa alami dan polifenol yang membantu regenerasi sel. Mengandung resveratrol, senyawa yang melindungi jantung dan memperlambat penuaan. Anggur juga mudah dibudidayakan di berbagai iklim, menandakan daya adaptasi kehidupan.
§ Delima : Mengandung antioksidan tiga kali lebih kuat dari teh hijau. Dalam ilmu gizi modern, dikenal sebagai buah yang menyehatkan sistem imun dan melindungi jantung. Dalam simbol Qur’ani, kulit keras dan isi lembutnya melambangkan hikmah: kebaikan sejati sering tersembunyi di balik kesederhanaan.
مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ
Kata musytabihan (مُشْتَبِهًا) artinya: serupa. Kata ini berasal dari akar kata syabaha (شَبَهَ) yang berarti menyerupai, mirip, tampak sama. Bentuk musytabih berarti yang tampak mirip atau sulit dibedakan secara lahiriah.
Kata wa ghairamutasyabihin (مُتَشَابِهٍ) artinya tidak serupa, tidak sama, berbeda.
Jadi secara literal ungkapan musytabihan wa ghaira mutasyabih berarti ada yang tampak mirip, namun ada pula yang tidak sama baik dalam rupa, rasa, atau sifatnya.
Ath-Thabari dalam tafsir Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran[2] menjelaskan bahwa sebagian dari buah dan tanaman itu saling mirip satu sama lain dalam penampilan, namun tetap berbeda dalam rasa, aroma, dan manfaat. Misalnya dua buah delima yang warnanya sama, bisa saja yang satu manis dan satunya lagi justru asam.
Dengan kata lain, Allah ingin menunjukkan keragaman di dalam keserupaan, bahwa dari bahan dan unsur yang sama yaitu tanah, air, cahaya matahari, tumbuh ciptaan yang kelihatannya serupa tetapi hakikatnya tidak sama.
Kata unzhuru (انْظُرُوا) artinya: lihatlah, namun dalam bahasa Arab klasik, kata ini bukan sekadar memerintah untuk melihat dengan mata, melainkan anjuran untuk merenungi, memperhatikan dengan penuh kesadaran, dan menimbang-nimbang makna di balik yang terlihat. Perintah ini mengandung makna tadabbur dalam artian perenungan yang mendalam terhadap fenomena alam. Dalam hal ini maksudnya pertumbuhan dan kematangan buah. Bahwa Allah tidak sekadar menyuruh manusia menikmati hasil bumi, tetapi mengajak mereka berpikir tentang kekuasaan dan sistem yang mengatur proses itu.
Kata ila (إِلَىٰ) artinya: kepada. Kata tsamarihi (ثَمَرِهِ) artinya: buahnya. Kata tsamar (ثمر) dalam bahasa Arab mencakup segala hasil tumbuhan yang bisa dimakan, bukan hanya buah manis seperti kurma atau delima, tetapi juga hasil panen seperti gandum dan padi.
Seruan untuk melihat buahnya berarti mengamati hasil dari proses pertumbuhan: dari biji kecil, tumbuh menjadi pohon, lalu berbuah. Semua itu menjadi rangkaian proses biologis yang sangat kompleks tetapi teratur.
Secara tafsir, ungkapan ini menunjukkan bahwa Allah menampilkan tanda-tanda kekuasaan-Nya dalam urutan proses alam yang penuh hikmah, dari tanah yang gersang sampai munculnya buah yang matang.
Kata idza (إِذَا) artinya: ketika. Kata atsmara (أَثْمَرَ) artinya: ia berbuah. Kata kerja ini berasal dari akar (ثمر) yang berarti menghasilkan buah. Secara biologis, ini menggambarkan tahap reproduksi tumbuhan, mulai dari penyerbukan, pembuahan, hingga munculnya bakal buah.
Dalam pandangan Al-Qur’an, momen ini bukan hanya kejadian alamiah, tetapi bukti adanya pengaturan Ilahi. Tidak ada satu pun makhluk hidup yang bisa mengatur dirinya untuk berbuah tanpa sistem yang telah ditetapkan Allah. Maka ungkapan “ketika ia berbuah” adalah tanda kekuasaan dan kasih sayang Allah SWT, karena dari situlah rezeki manusia bermula.
Kata wa yan'ihi (وَيَنْعِهِ) artinya: dan kematangannya. Kata ini berasal dari akar kata (ن ع ي) yang berarti masak, matang, sempurna dalam rasa dan bentuknya. Kematangan buah menunjukkan puncak kesempurnaan ciptaan Allah dalam tumbuhan, dimana kemudian warna jadi berubah, muncul aroma khas, terbit pula rasa manis sempurna, dan nilai gizinya maksimal.
إِنَّ فِي ذَٰلِكُمْ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Kata inna (إِنَّ) artinya: sesungguhnya. Kata fi dzalikum (فِي ذَٰلِكُمْ) artinya: pada yang demikian itu. Kata ini menunjuk pada sesuatu yang telah disebut sebelumnya, yaitu seluruh proses yang diceritakan dalam ayat-ayat sebelumnya, mulai dari turunnya air hujan dari langit, tumbuhnya berbagai jenis tanaman, munculnya buah-buahan yang serupa tapi berbeda, hingga kematangannya.
Kata la ayatin (لَآيَاتٍ) artinya: benar-benar terdapat tanda-tanda. Huruf lam pada kata la ayatin (لَآيَاتٍ) disebut lam taukid yang memperkuat makna. Sehingga gabungan inna … la … menegaskan dua kali bahwa keberadaan tanda-tanda ini bukan dugaan, melainkan kepastian. Tanda-tanda itu bisa berupa tanda ilmu yang menggambarkan keajaiban sistem biologis dan ekologi, atau tanda hikmah (keteraturan dan manfaat yang saling berkaitan), atau tanda rahmat (rezeki yang dihasilkan untuk manusia).
Kata li qaumin (لِقَوْمٍ) artinya: bagi kaum. Kata yu'minun (يُؤْمِنُونَ) artinya: yang beriman. Penggalan yang jadi penutup ayat ini menunjukkan bahwa tanda-tanda kebesaran Allah hanya dapat ditangkap oleh orang yang memiliki iman. Sebab, orang yang tidak beriman meskipun melihat fenomena alam yang menakjubkan tidak akan memandangnya sebagai tanda kebesaran Tuhan, melainkan hanya sebagai hukum alam biasa. Sedangkan orang yang beriman melihatnya sebagai manifestasi keindahan dan kekuasaan Allah.
[1] Al-Qurtubi (w. 671 H), Al-Jami' li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M)
[2] Ath-Thabari (w. 310 H), Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran, (Beirut, Muassasatu Ar-Risalah, Cet. 1, 1420 H - 2000M)