Ayat ke-107 dari surat Al-A'raf ini menggambarkan kelanjutan langsung dari tantangan yang dilontarkan oleh Fir'aun kepada Nabi Musa. Setelah Fir‘aun meminta bukti atas kebenaran risalah yang dibawa, maka pada ayat ini Nabi Musa tidak lagi berbicara dengan kata-kata, tetapi langsung menunjukkan bukti nyata yang diberikan oleh Allah kepadanya.
Peristiwa ini terjadi di hadapan Fir‘aun dan para pembesarnya di lingkungan istana Mesir, dalam suasana yang penuh tekanan dan pengawasan. Nabi Musa, yang sebelumnya hanya menyampaikan klaim kenabian, kini memasuki fase pembuktian dengan menampilkan mukjizat yang tidak dapat dijelaskan secara biasa. Ia melemparkan tongkatnya, dan seketika tongkat itu berubah menjadi ular besar yang tampak jelas dan nyata di hadapan semua yang hadir.
Secara ringkas, ayat ini menegaskan bahwa bukti yang diminta oleh Fir‘aun langsung dijawab dengan mukjizat yang konkret dan kasat mata. Ini bukan sekadar simbol atau kiasan, melainkan kejadian nyata yang menjadi hujjah kuat atas kebenaran Nabi Musa, sekaligus awal dari rangkaian tanda-tanda besar yang akan ditunjukkan dalam menghadapi kekuasaan Fir‘aun.
Huruf fa (فَ) berarti: maka. Huruf ini menunjukkan konsekuensi langsung dari ayat sebelumnya. Begitu Fir‘aun menantang, tidak ada jeda, langsung dijawab dengan tindakan. Kata alqaa (أَلْقَىٰ) berasal dari akar kata (ل ق ي) yang berarti melempar atau menjatuhkan. Dalam bentuk ini menunjukkan perbuatan yang dilakukan secara langsung dan nyata, bukan sekadar ucapan.
Kata ‘ashahu (عَصَاهُ) berarti tongkatnya. Tongkat ini pada asalnya adalah benda biasa, tetapi di tangan seorang nabi, dengan izin Allah, bisa saja berubah menjadi sarana mukjizat. Di sini terlihat bahwa Nabi Musa tidak menjawab dengan argumentasi panjang, tetapi dengan tindakan nyata.
Pertanyaannya, kenapa untuk menampakkan sebuah mukjizat dari Allah SWT harus lewat media : tongkat? ada apa dengan tongkat?
Pertanyaan ini menarik, karena kalau kita perhatikan, Al-Qur’an tidak pernah menyebut sesuatu secara kebetulan. Ketika disebut tongkat, berarti memang ada makna di baliknya. Sebenarnya tongkat itu adalah benda yang paling biasa dalam kesehariannya. Seorang penggembala hampir tidak pernah lepas dari tongkat. Bahkan dalam ayat lain, ketika Allah bertanya kepada Musa tentang tongkatnya :
وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَىٰ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَىٰ
Apakah itu yang di tangan kananmu, wahai Musa? Dia (Musa) menjawab, “Ini adalah tongkatku. Aku bertumpu padanya, aku gunakan untuk memukul (daun) bagi kambing-kambingku, dan bagiku masih ada lagi berbagai keperluan lain padanya. (QS. Thaha : 17–18)
Artinya, tongkat itu bukan benda asing, bukan alat sulap, bukan sesuatu yang dibuat khusus untuk pamer kekuatan. Justru sangat biasa.
Di sini letak pesan halusnya: mukjizat itu tidak butuh alat yang spektakuler. Yang membuatnya luar biasa bukan bendanya, tapi kehendak Allah di baliknya. Tongkat yang sama, yang sehari-hari cuma untuk menggembala, tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang melampaui hukum alam. Jadi yang dihancurkan bukan hanya sihir para penyihir, tapi juga cara berpikir manusia yang mengira kekuatan itu ada pada alat.
Kalau dibandingkan dengan sihir, ini kontras sekali. Para penyihir Fir’aun biasanya membawa alat-alat, persiapan, teknik, bahkan rekayasa visual. Ada unsur settingan. Sedangkan Nabi Musa hanya melempar tongkat yang memang sudah ada di tangannya. Tidak ada persiapan khusus, tidak ada trik. Seolah ingin ditegaskan: ini bukan magic dalam arti manipulasi, tapi sesuatu yang datang dari “atas”.
Selain itu, tongkat juga punya makna simbolik yang kuat. Ia identik dengan otoritas dan kepemimpinan. Seorang nabi yang memegang tongkat seolah membawa mandat. Maka ketika tongkat itu berubah menjadi sesuatu yang dahsyat, itu bukan sekadar pertunjukan, tapi pernyataan bahwa Musa datang dengan kekuasaan yang bukan miliknya sendiri.
Ada juga sisi psikologis yang menarik. Fir’aun menantang dengan gaya arogan, ingin melihat “atraksi”. Musa tidak terpancing dengan debat panjang. Beliau langsung menjawab dengan tindakan yang konkret. Tongkat menjadi media yang sederhana tapi efektif untuk menjawab tantangan itu di level yang dipahami oleh mereka: level visual, langsung terlihat, tidak bisa dibantah.
Jadi kenapa tongkat? Justru karena ia sederhana. Dari situlah mukjizat menjadi paling terasa. Kalau yang dipakai benda canggih atau asing, orang masih bisa beralasan “mungkin ada rahasianya”. Tapi ketika benda yang sangat biasa tiba-tiba melampaui hukum alam, semua alasan runtuh.
Di situlah bedanya: sihir butuh alat untuk terlihat hebat, sedangkan mukjizat justru memperlihatkan bahwa alat itu sendiri tidak punya daya apa-apa.
Huruf fa (فَ) berarti: maka. Kata idzaa (إِذَا) menunjukkan makna tiba-tiba atau seketika. Dalam banyak ayat, kata ini digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang terjadi secara mendadak dan mengejutkan.
Kata hiya (هِيَ) adalah dhamir yang berarti: dia, yaitu tongkat yang tadi dilemparkan oleh Nabi Musa. Kata tsu‘baan (ثُعْبَانٌ) berarti ular besar.
Dalam terjemahan Kemenag memberi tambahan kata “besar” untuk menegaskan makna tsu’ban (ثعبان), sementara Quraish Shihab dan HAMKA hanya menyebut ular saja.
Kata mubiin (مُبِينٌ) berarti jelas atau nyata, memberi penekanan penting: ini bukan ilusi, bukan sihir biasa, tetapi sesuatu yang benar-benar tampak nyata di hadapan semua orang.
Dari sini terlihat bahwa jawaban Nabi Musa terhadap tantangan Fir‘aun bukan sekadar cukup, tetapi melampaui. Tidak hanya menghadirkan tanda, tetapi tanda yang sangat jelas, kuat, dan tidak bisa diingkari.
Kalau kita masuk ke dalam dunia Mesir kuno, kita akan menemukan bahwa ular bukan sekadar hewan biasa. Ular hidup sebagai simbol yang sangat kuat dalam imajinasi dan keyakinan mereka. Di mahkota para raja, selalu ada hiasan kobra yang disebut Uraeus. Kobra itu bukan sekadar ornamen, tetapi lambang kekuasaan dan perlindungan ilahi, seolah-olah Fir‘aun dijaga oleh kekuatan gaib yang siap menyerang siapa saja yang mengancamnya.
Namun menariknya, di sisi lain mereka juga mengenal sosok ular raksasa yang justru menjadi simbol kekacauan dan kehancuran. Dalam mitologi mereka, ada makhluk bernama Apophis, yang digambarkan sebagai musuh besar dewa matahari Ra. Setiap malam, ular ini berusaha menelan matahari dan mengacaukan tatanan alam. Jadi dalam benak masyarakat Mesir, ular itu punya dua wajah sekaligus: simbol kekuasaan, dan pada saat yang sama juga simbol ancaman paling menakutkan.
Di titik inilah kita mulai melihat betapa tepatnya mukjizat Nabi Musa. Ketika tongkat beliau berubah menjadi ular besar, itu bukan sekadar kejadian ajaib yang mengagetkan. Peristiwa itu seperti berbicara langsung kepada sistem simbol yang sudah tertanam dalam pikiran mereka. Di hadapan Fir‘aun yang merasa berkuasa dengan simbol kobra di kepalanya, tiba-tiba muncul “ular lain” yang jauh lebih nyata dan tidak bisa dikendalikan. Seakan-akan pesan yang disampaikan sangat jelas: kekuasaan yang kamu banggakan itu ternyata rapuh di hadapan kekuasaan yang sesungguhnya.
Lebih dari itu, peristiwa itu juga mengguncang sisi psikologis mereka. Mereka terbiasa melihat ular dalam bentuk simbol atau bahkan dalam bentuk tipuan para penyihir. Tapi yang mereka saksikan saat itu bukan simbol dan bukan ilusi melainkan sesuatu yang hidup, nyata, dan berada di luar kendali manusia.