Ayat ke-109 dari surat Al-A'raf ini menggambarkan reaksi awal dari para elit kekuasaan setelah Nabi Musa menampilkan dua mukjizat besar di hadapan Fir'aun. Jika sebelumnya Fir‘aun menantang dan meminta bukti, lalu bukti itu benar-benar ditunjukkan secara nyata, maka kini muncul respons dari kalangan pembesar dan pemuka kaumnya.
Alih-alih menerima kebenaran yang tampak jelas di depan mata, para pemuka itu justru berusaha mengalihkan makna dari peristiwa tersebut. Mereka tidak membantah apa yang mereka lihat, tetapi menafsirkannya dengan cara yang lain, yaitu dengan menyebut Nabi Musa sebagai seorang penyihir yang sangat pandai. Ini adalah bentuk penolakan yang halus namun strategis, karena mereka sadar bahwa mukjizat tersebut terlalu jelas untuk diingkari, sehingga satu-satunya cara adalah menggeser persepsi publik.
Kata qala (قَالَ) berarti: berkata. Kata al-mala’ (الْمَلَأُ) adalah orang-orang yang “memenuhi” majelis, yaitu para pemuka, pembesar, atau elit suatu kaum. Mereka adalah orang-orang yang punya pengaruh, kekuasaan, dan biasanya menjadi penentu arah keputusan.
Huruf min (مِنْ) berarti: dari. Kata qawm (قَوْمِ) berarti kaum. Kata fir‘aun (فِرْعَوْنَ) adalah gelar bagi raja Mesir, bukan nama pribadi. Dalam konteks ini merujuk kepada penguasa yang sedang berhadapan dengan Nabi Musa.
Ungkapan ini menunjukkan bahwa yang berbicara bukan rakyat biasa, tetapi para elit dari kaum Fir‘aun. Ini penting, karena biasanya yang pertama kali bereaksi terhadap kebenaran bukan orang awam, tetapi justru para pemuka yang merasa posisi dan kekuasaannya terancam.
Dalam terjemahan Kemenag RI digunakan ungkapan “para pemuka kaum Fir‘aun”, Quraish Shihab menyebut “para pemuka dari kaum Firaun”, dan HAMKA juga menggunakan “pemuka-pemuka dari kaum Fir‘aun”. Ketiganya sepakat bahwa yang dimaksud adalah kalangan elit, bukan masyarakat umum.
Peralihan dari Fir‘aun kepada para pemuka ini juga memberi gambaran bahwa penolakan terhadap Nabi Musa tidak berdiri sendiri, tetapi didukung oleh sistem kekuasaan di sekelilingnya. Mereka saling menguatkan dalam mempertahankan posisi, dan di sinilah awal dari narasi penentangan yang lebih luas.
Huruf inna (إِنَّ) berfungsi sebagai penegas. Kata haadzaa (هَٰذَا) berarti: ini. Kata tunjuk ini merujuk langsung kepada Nabi Musa AS yang ada di hadapan mereka. Penggunaan kata “ini” memberi kesan merendahkan, seolah-olah hanya menunjuk tanpa penghormatan.
Huruf la (لَ) adalah lam taukid, yaitu huruf penegas tambahan. Jadi di sini ada dua penekanan sekaligus: inna dan la, yang menunjukkan bahwa mereka benar-benar ingin menegaskan tuduhan tersebut. Kata saahir (سَاحِرٌ) berarti penyihir, yaitu orang yang melakukan sesuatu yang tampak luar biasa, tetapi dianggap bukan berasal dari kebenaran, melainkan dari tipu daya. Kata ‘aliim (عَلِيمٌ) yang berarti sangat berilmu atau sangat ahli.
Dalam terjemahan Kemenag RI digunakan ungkapan “penyihir yang sangat pandai”, Quraish Shihab juga serupa, sedangkan HAMKA menggunakan “ahli sihir yang berpengetahuan”.
Ini menunjukkan bahwa mereka sebenarnya mengakui kehebatan yang luar biasa, tetapi tetap memilih untuk menolak kebenarannya.
Menarik untuk direnungkan bahwa Mesir pada masa Fir‘aun adalah peradaban yang mencapai puncak kemajuan dalam banyak aspek kehidupan. Dari sisa peninggalan arkeologis yang masih bisa kita saksikan hari ini, para ahli modern pun tidak berhenti merasa kagum terhadap tingkat kemajuan peradaban Mesir kuno. Struktur bangunan yang masif, presisi yang tinggi, serta kemampuan mereka mengelola material dan tenaga kerja dalam skala besar menunjukkan bahwa mereka bukan masyarakat yang sederhana. Bahkan hingga hari ini, sebagian teknik dan metode yang mereka gunakan masih terus diteliti dan diperdebatkan.
Namun justru di titik inilah muncul lapisan pertanyaan yang lebih dalam. Di satu sisi, kita berhadapan dengan peradaban yang sangat rasional dalam praktiknya, mampu menghitung, merancang, dan mengeksekusi proyek besar dengan tingkat ketelitian yang mengagumkan. Tetapi di sisi lain, Al-Qur’an memperlihatkan bahwa praktik sihir juga mendapat tempat yang sangat menonjol dalam kehidupan mereka.
Apakah ini berarti bahwa yang kita sebut sebagai “ilmu” pada masa itu mencakup sesuatu yang lebih luas dari sekadar sains dan teknik seperti yang kita kenal hari ini? Ataukah sebenarnya ada sisi dari peradaban itu yang belum sepenuhnya terungkap oleh temuan arkeologis semata? Sebab yang tersisa di hadapan kita hari ini hanyalah bangunan dan artefak, sedangkan cara berpikir, sistem keyakinan, dan kerangka ilmu yang melatarinya tidak selalu bisa direkonstruksi secara utuh.
Boleh jadi kita baru melihat “kulit” dari peradaban itu, sementara “isi” sesungguhnya masih tersimpan dalam ruang yang belum sepenuhnya terbuka. Dan boleh jadi pula istilah sihir yang disebut dalam Al-Qur’an menunjuk pada sesuatu yang dalam konteks mereka memiliki makna dan posisi yang berbeda dari pemahaman kita sekarang.
Maka kekaguman para ilmuwan modern terhadap teknologi Mesir kuno tidak serta-merta menutup ruang pertanyaan tentang aspek lain dari kehidupan mereka. Justru sebaliknya, semakin kita kagum pada capaian teknisnya, semakin terasa bahwa masih ada bagian dari peradaban itu yang belum sepenuhnya kita pahami. Di situlah ruang misteri itu tetap terbuka, menantang untuk dikaji lebih jauh di masa mendatang.
Semua kemungkinan itu masih terbuka, dan tidak mudah dipastikan dengan tegas. Yang jelas, Al-Qur’an tidak sedang mengajarkan kepada kita bagaimana sihir itu bekerja, tetapi hanya memperlihatkan bahwa di tengah kemajuan besar suatu peradaban, manusia tetap bisa berhadapan dengan sesuatu yang belum sepenuhnya terungkap hakikatnya.
Maka pada titik ini, pertanyaan tentang hubungan antara kemajuan peradaban Mesir dan berkembangnya sihir mungkin belum menemukan jawaban final. Ia tetap menjadi ruang renungan yang terbuka, menunggu pemahaman yang lebih utuh di masa mendatang.