Kemenag RI 2019:Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai manusia, sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua, Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tidak ada tuhan selain Dia, serta Yang menghidupkan dan mematikan. Maka, berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, (yaitu) nabi ummi (tidak pandai baca tulis) yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya). Ikutilah dia agar kamu mendapat petunjuk.” Prof. Quraish Shihab:Katakanlah (Nabi Muhammad saw.): “Hai (seluruh) manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kamu semua, yang memiliki kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (Yang Kuasa dan berhak disembah) melainkan Dia, yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi (tidak pandai membaca dan menulis), yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab)-Nya dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” Prof. HAMKA:Katakanlah, “Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini adalah rasul Allah kepada kamu sekalian; (Tuhan) Yang mempunyai kerajaan semua langit dan bumi; tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menghidupkan dan yang mematikan. Maka, percayalah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya yang ummi, yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya; dan ikutilah dia, mudah-mudahan kamu mendapat petunjuk-Nya.”
Penekannya bahwa yang mengutusnya adalah Tuhan Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, bukan tuhan lokal dan milik agama dan keyakinan tertentu. Allah SWT tegaskan bahwa tidak ada tuhan selain diri-Nya. Dia adalah Tuhan Yang menghidupkan dan mematikan.
Perintah tegasnya adalah untuk beriman bukan sebatas hanya kepada Allah SWT saja, namun juga harus sekalian juga beriman kepada utusannya, yaitu Nabi Muhammad SAW. Sekali lagi ditegaskan bahwa keadaanya adalah nabi yang ummiy, sekaligus Beliau SAW beriman kepada Allah dan kepada kitab-kitab-Nya.
Lebih detail lagi perintah Allah SWT adalah agar menjadi pengikut Nabi SAW agar dapat petunjuk.
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ
Makna qul (قُلْ) adalah : katakanlah. Perintah ini Allah SWT tujukan langsung kepada Nabi Muhammad SAW agar menyampaikan pesan ini secara terbuka tanpa ragu. Bentuk fi’il amr atau kata perintah ini menunjukkan bahwa apa yang disampaikan Nabi bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan wahyu dari Allah SWT.
Makna ya (يَا) adalah : wahai. Huruf nida’ ini digunakan untuk memanggil atau menyeru. Makna ayyuha (أَيُّهَا) adalah : wahai sekalian atau wahai kalian. Bentuk ini digunakan untuk memberikan perhatian khusus kepada pihak yang dipanggil, sehingga seruan terdengar lebih agung dan lebih kuat tekanannya.
Makna an-nasu (النَّاسُ) adalah : manusia. Kata ini mencakup seluruh umat manusia tanpa membedakan bangsa, warna kulit, bahasa, ataupun kedudukan. Menariknya, ayat ini tidak menggunakan panggilan : “wahai orang-orang beriman”, melainkan langsung memanggil seluruh manusia. Ini menunjukkan bahwa risalah Nabi Muhammad SAW bersifat universal untuk semua manusia.
Pada titik ini terlihat perbedaan mendasar antara Nabi Muhammad SAW dengan banyak nabi sebelumnya. Sebagian nabi diutus hanya kepada kaum tertentu, sedangkan Nabi Muhammad SAW diutus kepada seluruh umat manusia.
إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا
Makna inni (إِنِّي) adalah : sesungguhnya aku. Huruf inna (إِنَّ) berfungsi sebagai penegas, menunjukkan bahwa pernyataan ini sangat penting dan tidak boleh diragukan. Sedangkan ya mutakallim pada akhirnya menunjukkan bahwa yang berbicara adalah Nabi Muhammad SAW sendiri atas perintah Allah SWT.
Makna rasulu (رَسُولُ) adalah : utusan. Sedangkan makna allahi (اللَّهِ) adalah : Allah. Gabungan keduanya bermakna : utusan Allah. Ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW bukan berbicara atas nama pribadi, bukan pula membawa gagasan ciptaannya sendiri, melainkan benar-benar sebagai penyampai wahyu dari Allah SWT.
Makna ilaikum (إِلَيْكُمْ) adalah : kepada kalian. Sedangkan makna jami’an (جَمِيعًا) adalah : seluruhnya atau semuanya. Kata jami’an di sini menjadi penegas bahwa dakwah Nabi Muhammad SAW berlaku untuk semua manusia tanpa pengecualian.
Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini termasuk dalil paling kuat tentang universalitas risalah Nabi Muhammad SAW. Berbeda dengan nabi-nabi sebelumnya yang diutus hanya kepada kaumnya masing-masing, Nabi Muhammad SAW diutus kepada bangsa Arab dan non-Arab, kepada manusia kulit putih maupun hitam, bahkan hingga generasi manusia yang datang setelah beliau wafat sampai hari kiamat.
Karena itulah syariat beliau menjadi syariat penutup, dan Al-Qur’an menjadi kitab suci terakhir yang berlaku untuk seluruh umat manusia. Penggalan ini sejalan dengan ayat lainnya, antara lain :
وَما أَرْسَلْناكَ إِلاّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ
Dan tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. (QS. Al-Anbiya’ : 107)
“Dan diwahyukan kepadaku Al-Qur’an ini agar aku memberi peringatan kepada kalian dengannya dan kepada siapa saja yang sampai kepadanya.” (QS. Al-An’am : 19).
الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
Makna alladzi (الَّذِي) adalah : yang. Kata ini menjadi sifat bagi lafzhul jalalah pada ayat sebelumnya, yaitu Allah SWT. Artinya, Allah yang mengutus Nabi Muhammad SAW itu adalah Tuhan yang memiliki seluruh kerajaan langit dan bumi.
Makna lahu (لَهُ) adalah : milik-Nya atau kepunyaan-Nya. Huruf lam pada kata ini menunjukkan kepemilikan secara mutlak dan sempurna. Makna mulku (مُلْكُ) adalah : kerajaan atau kekuasaan. Kata ini berasal dari akar kata (م ل ك) yang mengandung makna : menguasai, memiliki, dan mengendalikan sesuatu secara penuh.
Makna as-samawati (السَّمَاوَاتِ) adalah : langit tapi dalam bentuk jamak, sehingga enaknya diterjemahkan menjadi beberapa langit, jangan diterjemahkan menjadi langit-langit, karena maknanya berubah. Bentuk jamak ini menunjukkan banyaknya lapisan langit dan luasnya alam semesta ciptaan Allah SWT.
Makna wal-ardhi (وَالْأَرْضِ) adalah : dan bumi. Penyebutan langit dan bumi secara bersamaan menunjukkan cakupan seluruh alam semesta, baik yang berada di atas maupun di bawah.
Umumnya orang paling berkuasa di suatu negeri adalah raja, bahkan di masa lalu posisi raja diatas hukum. Maka berlakulah aturan kuno, yaitu the king can do no wrong, yaitu bahwa raja dianggap tidak mungkin salah, karena raja lah yang bikin hukum. Apa pun yang diucapkannya menjadi hukum, dan apa pun yang dilakukannya dianggap benar.
Namun Al-Qur’an datang dengan cara pandang yang sangat berbeda, yaitu Allah SWT adalah the owner alias pihak yang jadi pemilik kerajaan dan bukan para raja itu sendiri. Raja hanyalah manusia yang untuk sementara diberi amanah kekuasaan oleh Allah. Hari ini Allah SWT angkat dia jadi penguasa, tapi besok Allah SWT jatuhkan dia dengan mudahnya. Ketika jadi raja dia dipatuhi jutaan manusia, besok namanya bahkan mungkin dilupakan sejarah.
لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ
Makna la ilaha illa huwa (لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ) adalah : tidak ada tuhan selain Dia. Kalimat ini merupakan inti tauhid, yaitu meniadakan semua sesembahan selain Allah SWT dan menetapkan hanya Allah semata yang berhak disembah.
Fenomena bahwa setiap peradaban manusia cenderung bertuhan itu sesuatu yang fitrah, tidak ada peradaban manusia tumbuh tanpa naluri bertuhan. Namun sekedar fitrah saja belum cukup, karena jatuhnya mereka akan menuhankan apa saja, bahkan yang bukan tuhan pun akan mereka sembah juga.
Karena itulah para nabi dan rasul diutus untuk menyelaraskan naluri manusia yang paling dasar, yaitu bertuhan yang memang sudah jadi basic instinct. Para nabi dan rasul itu bertugas mengenalkan siapa tuhan yang berhak disembah. Dan ternyata yang benar tuhan itu hanya satu, tidak ada tuhan-tuhan lain, karena semua itu tuhan palsu, hasil imajinasi liar nalar manusia yang naif dan jahil.
يُحْيِي وَيُمِيتُ
Makna yuhyi (يُحْيِي) adalah : menghidupkan. Sedangkan makna yumitu (يُمِيتُ) adalah : mematikan. Kedua kata ini berasal dari akar kata yang saling berlawanan, yaitu (ح ي ي) dan (م و ت).
Penyebutan kemampuan menghidupkan dan mematikan menunjukkan kekuasaan Allah SWT yang paling agung. Sesuatu yang para raja sekalipun tidak akan mampu melakukannya. Namrudz pernah main akal-akalan dengan Nabi Ibrahim dan mengaku-ngaku bisa menghidupkan dan mematikan. Ternyata boncos dan hanya ’omon-omon’.
Tidakkah engkau memperhatikan orang yang berdebat dengan Ibrahim tentang Tuhannya karena Allah telah memberinya kerajaan? Ketika Ibrahim berkata : Tuhanku adalah Yang menghidupkan dan mematikan. Dia berkata : Aku juga bisa menghidupkan dan mematikan.” (QS. Al-Baqarah : 258)
Namrud lalu menghadirkan dua orang tahanan. Salah satunya dibunuh, sedangkan yang satunya lagi dilepaskan dan dibiarkan hidup. Dengan kesombongannya dia mengklaim : “Lihat, aku bisa mematikan dan menghidupkan.”
Padahal tentu saja itu hanyalah permainan kata dan manipulasi makna. Namrud tidak benar-benar menciptakan kehidupan, dan tidak pula mengembalikan orang mati menjadi hidup. Dia hanya membunuh orang hidup dan membiarkan satu lainnya tetap hidup.
فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ
Makna fa aminu (فَآمِنُوا) adalah : maka berimanlah kalian. Huruf fa’ (ف) di awal menunjukkan hubungan sebab akibat. Seolah-olah ayat ini mengatakan : karena Allah adalah penguasa langit dan bumi, satu-satunya Tuhan yang menghidupkan dan mematikan, maka sudah semestinya kalian beriman kepada-Nya.
Makna billahi (بِاللَّهِ) adalah : kepada Allah. Sedangkan makna wa rasulihi (وَرَسُولِهِ) adalah : dan kepada rasul-Nya.
Menariknya, iman kepada Allah dalam ayat ini langsung digandengkan dengan iman kepada Rasul-Nya. Ini menunjukkan bahwa seseorang tidak dianggap benar imannya kepada Allah bila menolak kerasulan Nabi Muhammad SAW. Sebab menerima Allah sebagai Tuhan berarti juga menerima utusan yang diutus oleh-Nya.
النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ
Makna an-nabiyyi (النَّبِيِّ) adalah : nabi. Kata nabi berasal dari akar kata (ن ب أ) yang mengandung makna : berita besar atau kabar penting. Seorang nabi disebut nabi karena menerima berita dan wahyu dari Allah SWT.
Makna al-ummiyyi (الْأُمِّيِّ) adalah : yang ummi. Para ulama menjelaskan bahwa makna ummi di sini adalah seseorang yang tidak membaca dan menulis. Nabi Muhammad SAW memang tidak belajar membaca ataupun menulis sebagaimana kebiasaan para ahli kitab saat itu.
الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ
Makna alladzi (الَّذِي) adalah : yang. Kata ini menjadi sifat bagi Nabi Muhammad SAW. Makna yu’minu (يُؤْمِنُ) adalah : beriman atau mempercayai dengan penuh keyakinan. Makna billahi (بِاللَّهِ) adalah : kepada Allah.
Sedangkan makna wa kalimatihi (وَكَلِمَاتِهِ) adalah : dan kalimat-kalimat-Nya. Yang dimaksud dengan kalimat-kalimat Allah SWT mencakup wahyu-wahyu-Nya, kitab-kitab-Nya, ketetapan-Nya, dan seluruh firman-Nya.
Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW sendiri adalah orang pertama yang benar-benar beriman kepada wahyu yang beliau bawa. Beliau bukan sekedar penyampai pesan, tetapi juga orang yang paling yakin, paling takut kepada Allah SWT, dan paling taat kepada seluruh perintah-Nya.
Menariknya, Allah SWT menyebut keimanan Nabi Muhammad SAW setelah menyebut status beliau sebagai nabi dan rasul. Ini memberi pelajaran bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang di sisi Allah SWT, seharusnya semakin besar pula keimanan dan ketundukannya kepada Allah SWT.
وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Makna wattabi’uhu (وَاتَّبِعُوهُ) adalah : dan ikutilah beliau. Kata ini berasal dari akar kata (ت ب ع) yang bermakna : mengikuti jejak secara terus menerus.
Perintah mengikuti Nabi Muhammad SAW di sini bukan hanya sekedar mengakui kenabiannya, tetapi benar-benar menjadikan beliau sebagai teladan dalam keyakinan, ibadah, akhlak, dan kehidupan.
Makna la’allakum (لَعَلَّكُمْ) adalah : agar kalian atau supaya kalian. Sedangkan makna tahtaduna (تَهْتَدُونَ) adalah : mendapatkan petunjuk.
Ayat ini menunjukkan bahwa hidayah yang benar tidak cukup hanya dengan akal atau perasaan semata. Hidayah harus ditempuh dengan mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW. Karena itu para ulama sering menegaskan bahwa jalan keselamatan bukan sekedar niat baik, tetapi harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.
Semakin seseorang mengikuti Nabi Muhammad SAW, semakin dekat pula dirinya kepada hidayah Allah SWT. Sebaliknya, ketika manusia menjauh dari sunnah beliau, maka semakin besar pula kemungkinan tersesat dalam keyakinan maupun amal perbuatannya.