Makna wa min (وَمِنْ) adalah : dan di antara. Huruf min (من) di sini menunjukkan bahwa tidak semua kaum Nabi Musa berada dalam keadaan yang sama. Di tengah banyaknya penyimpangan yang dilakukan sebagian Bani Israil, ternyata masih ada kelompok yang tetap istiqamah di atas kebenaran.
Makna qawmi (قَوْمِ) adalah : kaum atau golongan. Sedangkan makna musa (مُوسَىٰ) adalah Nabi Musa alaihissalam.
Ayat ini memberikan pelajaran penting agar kita tidak menggeneralisasi seluruh kaum hanya karena kesalahan sebagian dari mereka. Walaupun dalam banyak ayat Bani Israil disebut melakukan berbagai penyimpangan, Allah SWT tetap menyebut adanya kelompok yang baik dan adil di antara mereka.
Ini juga menunjukkan keadilan Al-Qur’an dalam memberikan penilaian. Tidak semua dihukum dengan satu cap yang sama. Yang baik tetap dipuji, sedangkan yang salah tetap dikritik.
Makna ummatun (أُمَّةٌ) adalah : satu umat, kelompok, atau golongan. Kata ummah tidak selalu berarti seluruh bangsa besar, tetapi bisa juga bermakna sekelompok manusia yang memiliki kesatuan prinsip dan tujuan.
Makna yahduna (يَهْدُونَ) adalah : mereka memberi petunjuk atau membimbing. Kata ini berasal dari akar kata (ه د ي) yang mengandung makna : menunjukkan jalan yang benar.
Sedangkan makna bil-haqqi (بِالْحَقِّ) adalah : dengan kebenaran. Kata al-haqq mencakup segala sesuatu yang benar, lurus, adil, dan sesuai dengan wahyu Allah SWT.
Menariknya, ayat ini tidak hanya mengatakan bahwa mereka berada di atas kebenaran, tetapi mereka aktif membimbing orang lain kepada kebenaran. Ini menunjukkan bahwa orang saleh sejati bukan hanya memperbaiki dirinya sendiri, tetapi juga mengajak orang lain menuju jalan yang benar.
Sebagian mufassir menjelaskan bahwa kelompok ini adalah orang-orang dari Bani Israil yang tetap memegang ajaran Nabi Musa dengan benar dan tidak mengubah agama mereka demi hawa nafsu ataupun kepentingan dunia.
Makna wa bihi (وَبِهِ) adalah : dan dengannya, yaitu dengan kebenaran itu. Makna ya’diluna (يَعْدِلُونَ) adalah : mereka berlaku adil. Kata ini berasal dari akar kata (ع د ل) yang mengandung makna : lurus, seimbang, dan menempatkan sesuatu pada tempatnya.
Ayat ini menunjukkan bahwa kebenaran yang mereka pegang bukan hanya berhenti pada ucapan atau keyakinan, tetapi juga tercermin dalam sikap adil mereka kepada sesama manusia.
Susunan ayat ini sangat indah. Pertama disebut bahwa mereka memberi petunjuk dengan kebenaran, lalu disebut bahwa mereka juga memutuskan dan bersikap dengan adil berdasarkan kebenaran itu. Seolah-olah ayat ini menggambarkan dua sisi kesempurnaan mereka : benar dalam ilmu dan benar dalam amal.
Karena itu para ulama sering menjelaskan bahwa agama yang benar harus melahirkan keadilan. Bila seseorang mengaku membawa kebenaran tetapi perilakunya penuh kezaliman, maka ada yang bermasalah dalam pemahaman ataupun pengamalannya terhadap agama.
Siapakah Mereka Itu?
Sekarang sampailah kita pada sebuah pertanyaan yang menggelitik, yaitu siapakah mereka?
Al-Alusy dalam tafsir Ruh Al-Ma’ani menuliskan bahwa rupanya para ulama berbeda pendapat tentang siapakah kelompok itu.
1. Pendapat Pertama
Mereka adalah sebagian Bani Israil yang hidup pada zaman Nabi Musa AS sendiri. Maksud ayat ini adalah untuk menjelaskan bahwa tidak semua kaum Nabi Musa buruk sebagaimana yang diceritakan dalam ayat-ayat sebelumnya.
Memang ada sebagian yang membangkang, menyembah patung anak sapi, dan melakukan berbagai pelanggaran. Namun tetap ada kelompok yang saleh, adil, dan istiqamah di atas kebenaran.
Karena itu Al-Alusy menjelaskan bahwa ayat ini seakan ingin menolak kesan bahwa seluruh Bani Israil sama buruknya. Tidak semuanya demikian. Di antara mereka tetap ada orang-orang baik yang membimbing manusia dengan kebenaran dan berlaku adil.
Bahkan Al-Alusy mengaitkannya dengan ucapan Nabi Musa alihissalam sebelumnya :
أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا
“Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang bodoh di antara kami?” (QS. Al-A’raf : 155)
Ucapan “orang-orang bodoh di antara kami” menunjukkan bahwa memang ada kelompok lain yang tidak ikut berbuat kesalahan.
2. Pendapat Kedua
Mereka mengatakan bahwa ayat ini berbicara tentang orang-orang Yahudi yang hidup pada zaman Nabi Muhammad SAW lalu beriman kepada beliau. Misalnya seperti Abdullah bin Salam dan orang-orang semisal beliau.
Mereka adalah ahli kitab yang jujur. Ketika menemukan sifat-sifat Nabi Muhammad SAW sesuai dengan yang ada di Taurat, mereka pun beriman dan mengikuti beliau.
Pendapat ini dianggap lebih kuat oleh sebagian ulama seperti Ath-Thibi. Sebab konteks ayat-ayat sebelumnya memang sedang berbicara tentang Nabi Muhammad SAW, tentang sifat-sifat beliau dalam Taurat dan Injil, serta tentang orang-orang yang mengikutinya. Maka sangat cocok bila ayat ini memuji sebagian ahli kitab yang akhirnya menerima kerasulan Nabi Muhammad SAW. Beberapa di antara mereka yang kita dapati dalam kitab sirah antara lain :
1. Abdullah bin Salam : Husain bin Salam adalah nama aslinya sebelum masuk Islam. Ia adalah pemuka Yahudi Bani Qainuqa' yang langsung masuk Islam saat Nabi tiba di Madinah.
2. Mukhayriq : Tokoh sejarah yang nyata. Seorang rabi Yahudi yang berwasiat agar seluruh harta kekayaannya diberikan kepada Nabi Muhammad SAW setelah ia gugur di Perang Uhud.
3. Safiyyah binti Huyayy : Disepakati sebagai Ummul Mukminin. Ia berasal dari Bani Nadhir.
4. Rayhanah binti Zaid : Sejarah mencatat ia menjadi istri Nabi setelah peristiwa Bani Qurayzhah.
5. Zaid bin Sa'nah : Kisahnya cukup populer dalam literatur hadis mengenai ujian terhadap akhlak Nabi dalam urusan piutang yang akhirnya membuatnya masuk Islam.
6. Tsa'labah bin Sa'yah
7. Usaid bin Sa'yah: Keduanya tercatat masuk Islam sesaat sebelum eksekusi hukuman terhadap Bani Qurayzhah karena mereka sempat menegur kaumnya untuk beriman kepada Nabi.
8. Ka'b Al-Ahbar : seorang tokoh Yahudi yang masuk Islam, berasal dari Yaman, masuk Islam pada masa Khalifah Umar bin Khattab, bukan di masa Nabi SAW. Ia tidak pernah bertemu Nabi.
9. Wahb bin Munabbih : juga seorang tabi'in generasi setelah sahabat. Meksi tidak sezaman dengan Nabi SAW namun dikenal karena pengetahuannya yang luas tentang kitab-kitab terdahulu.
10. Tamim Ad-Dari : seorang Nasrani dari Syam yang masuk Islam dan datang menghadap Nabi.