سَاءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ
Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami. Mereka hanya menzalimi diri mereka sendiri.
Sangat buruklah perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami (karena mereka mengabaikan tuntunan pengetahuannya, bahkan berbuat zalim), dan terhadap diri mereka (sendiri, bukan terhadap orang lain), mereka (terus-menerus) berbuat zalim.
Buruklah perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami itu dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat aniaya.
TAFSIR AL-MAHFUZH
Lihat Referensi Kitab →Ayat ke-177 dari surat Al-A'raf ini merupakan kesimpulan sekaligus vonis teologis yang sangat tegas terhadap perumpamaan buruk pada ayat sebelumnya. Allah menegaskan betapa buruk dan hinanya permisalan bagi kaum yang mendustakan ayat-ayat-Nya. Inti kandungannya menyatakan bahwa ketika suatu kaum menolak kebenaran demi syahwat duniawi, mereka pada hakikatnya tidak sedang merugikan Allah sedikit pun, melainkan sedang menghancurkan dan menzalimi diri mereka sendiri.
Keterpurukan moral ini digambarkan sebagai dampak logis dari pilihan bebas manusia yang merusak fitrahnya sendiri. Dengan mengabaikan petunjuk langit, jiwa mereka mengalami degradasi spiritual hingga mencapai titik terendah. Ayat ini menjadi peringatan universal bahwa kezaliman terbesar adalah ketika seorang hamba menutup mata dari kebenaran wahyu, yang secara otomatis menjerumuskannya ke dalam kehinaan yang absolut.
Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya (ayat 176) sangat erat sebagai penegas skala dampak (scale of impact). Jika ayat 176 memberikan tamsil anjing secara spesifik kepada individu yang berilmu namun budak duniawi, maka ayat 177 ini memperluas tamsil kehinaan tersebut secara kolektif kepada kaum (al-qaum) mana pun yang memiliki mentalitas serupa. Keterkaitan ini menegaskan rumus peradaban: kehancuran suatu bangsa selalu dimulai dari akumulasi kezaliman individu-individu di dalamnya yang mendustakan kebenaran.
Makna sa'a (سَاءَ) adalah: amat buruk, keji, atau sangat hina (merupakan fi'il dzam atau kata kerja yang digunakan untuk menunjukkan kecaman atau pencelaan ekstrem). Makna matsalan (مَثَلًا) adalah: perumpamaannya atau tamsilnya (berkedudukan sebagai tamyiz untuk mempertegas keburukan objek yang disebut). Makna al-qaumu (الْقَوْمُ) adalah: kaum, bangsa, atau sekelompok masyarakat.
Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib[1] menjelaskan bahwa yang buruk bukanlah perumpamaan yang dibuat Allah itu sendiri yang buruk. Sebab perumpamaan tersebut justru sangat benar, sangat tepat, dan berfungsi sebagai pelajaran.
Yang dicela bukan perumpamaannya, melainkan keadaan dan perilaku yang digambarkan oleh perumpamaan tersebut, yaitu sikap mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling dari petunjuk-Nya hingga layak diserupakan dengan anjing yang selalu menjulurkan lidah.
Makna alladzina (الَّذِينَ) adalah: yang atau ’orang-orang yang’. Makna kadzabu (كَذَّبُوا) adalah: mereka mendustakan, mengingkari, atau menolak. Makna bi-ayatina (بِآيَاتِنَا) adalah: terhadap ayat-ayat Kami.
Fakhruddin Ar-Razi menyebutkan dua kemungkinan makna. Pertama, kalimat itu masih menjadi bagian dari sifat orang-orang tersebut, sehingga maknanya adalah mereka telah menggabungkan dua dosa besar sekaligus: mendustakan ayat-ayat Allah dan menzalimi diri mereka sendiri.
Kedua, kalimat itu berdiri sendiri sebagai penjelasan tambahan yang berarti bahwa akibat pendustaan mereka pada akhirnya hanya kembali kepada diri mereka sendiri. Mereka tidak merugikan Allah SWT, tidak pula mengurangi kemuliaan agama-Nya, melainkan justru menghancurkan diri mereka sendiri.
Al-Alusy dalam Ruh Al-Ma’ani[2] memberi catatan bahwa Allah SWT SWT sengaja menyebut kembali sifat mereka sebagai pendusta ayat-ayat-Nya untuk menunjukkan bahwa sumber seluruh keburukan mereka adalah pendustaan terhadap wahyu. Inilah sebab utama yang membuat mereka terjatuh ke dalam kesesatan dan kehinaan.
Makna wa anfusahum (وَأَنْفُسَهُمْ) terdiri dari huruf wa (dan), kata anfus (diri-diri atau jiwa-jiwa), dan kata ganti hum (mereka).
Dalam kaidah bahasa Arab, peletakan objek (maf'ul bih) di depan kata kerjanya berfungsi memberikan pembatasan (al-hasr), sehingga maknanya menjadi: dan hanya kepada diri mereka sendirilah.
Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib[3] menjelaskan bahwa pendahuluan ini berfungsi untuk memberikan makna pengkhususan. Seakan-akan Allah SWT berfirman bahwa orang-orang itu secara khusus telah menzalimi diri mereka sendiri, dan dampak kezaliman tersebut tidak melampaui diri mereka. Kerugian terbesar dari kekafiran dan pendustaan mereka adalah kerugian yang mereka tanggung sendiri.
Al-Alusi menerangkan bahwa mereka telah menggabungkan dua kejahatan sekaligus: mendustakan ayat-ayat Allah dan menzalimi diri mereka sendiri.
Makna kanu (كَانُوا) adalah: mereka dahulu atau mereka senantiasa. Makna yazhlimun (يَظْلِمُونَ) adalah: mereka berbuat zalim atau menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya yang semestinya. Maksudnya, tindakan mereka mendustakan ayat-ayat Allah sama sekali tidak mengurangi keagungan, kekuasaan, dan kemuliaan Allah sedikit pun; melainkan dampak buruk, siksaan, kesempitan hati di dunia, serta kesengsaraan abadi di neraka akibat dosa tersebut, secara mutlak dan mandiri akan kembali menggilas dan membinasakan diri mereka sendiri.
[1] Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H), Mafatih Al-Ghaib, (Beirut, Daru Ihya’ At-Turats Al-Arabi, Cet. 3, 1420 H)
[2] Al-Alusi (w. 1270 H), Ruh Al-Ma'ani, (Beirut, Darul-kutub Al-Ilmiyah, Cet. 1, 1415 H)
[3] Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H), Mafatih Al-Ghaib, (Beirut, Daru Ihya’ At-Turats Al-Arabi, Cet. 3, 1420 H)