| ◀ | Jilid : 18 Juz : 9 | Al-A'raf : 181 | ▶ |
وَمِمَّنْ خَلَقْنَا أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ
Kemenag RI 2019: Di antara orang-orang yang telah Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan (dasar) kebenaran dan dengan itu (pula) mereka berlaku adil.| TAFSIR AL-MAHFUZH |
Ayat ke-181 dari surat Al-A’raf ini bicara tentang keberadaan umat yang Allah SWT ciptakan, dimana mereka itu memberi petunjuk dengan kebenaran dan berlaku adil dengan itu. Posisi ayat ini setelah di ayat sebelumnya Allah SWT bicara tentang orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya dan akan mendapat balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.
وَمِمَّنْ خَلَقْنَا أُمَّةٌ
Makna wa mimman (وَمِمَّنْ) adalah: dan di antara orang-orang yang. Kata khalaqnaa (خَلَقْنَا) artinya : Kami ciptakan. Makna ummatun (أُمَّةٌ) adalah: suatu umat atau kelompok.
Kalau di ayat sebelumnya Allah SWT bicara tentang orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya dan akan mendapat balasan atas apa yang telah mereka kerjakan, maka di ayat ini ini Allah SWT menegaskan bahwa tidak semua ciptaan-Nya seperti itu. Tetap ada sebagian dari mereka yang Allah SWT bukan hanya menerima hidayah, tetapi terus menerus mengajarkan dan mentransmisikan hidayah itu kepada umat manusia, bahkan mereka berlaku adil dengan hidayah itu.
Al-Baghawi dalam tafsir Ma’alim At-Tanzil fi Tafsir Al-Quran[1] meriwayatkan dari Atha' dari Ibnu Abbas bahwa mereka yang dimaksud adalah umat Nabi Muhammad SAW. Dalam hal ini kaum Muhajirin dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan. Qatadah menuturkan ketika Nabi SAW bersabda ketika membaca ayat ini, "Ini adalah untuk kalian, sebagaimana kaum sebelum kalian telah diberikan hal yang serupa”. Yang dimaksud adalah firman Allah SWT di ayat berikut ini :
ومِن قَوْمِ مُوسى أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالحَقِّ وبِهِ يَعْدِلُونَ
Di antara kaum Musa terdapat suatu umat yang memberi petunjuk dengan kebenaran dan dengannya mereka berlaku adil. (QS. Al-A’raf : 159)
يَهْدُونَ بِالْحَقِّ
Makna yahduna (يَهْدُونَ) berasal dari akar kata bahasa Arab (هـ د ي) yang mengandung makna dasar penunjuk jalan, pemandu, atau pemberi arah. Dalam kamus bahasa Arab Mu'jam Maqayis al-Lughah, makna inti dari akar kata ini adalah menunjukkan sesuatu dengan lembut (الدلالة بالرفق) yang berbeda dengan menunjukkan sesuatu dengan paksaan. Kata huda (هدى) selalu berkonotasi pada pemberian petunjuk yang bersifat membimbing agar yang diberi petunjuk sampai ke tujuan dengan selamat.
Makna bil-haqqi (بِالْحَقِّ) seringkali kata ini diterjemahkan sebagai kebenaran. Namun jika dikaitkan dengan konteksnya, yaitu memberi petunjuk, maka bil-haqqi ini artinya bukan : dengan cara yang benar, tetapi mendakwahkan kebenaran. Selanjutnya adalah lantas apa yang dimaksud dengan al-haq alias kebenaran itu sendiri.
1. Menjaga Perintah Allah
Makna yahduna bil-haqqi (يَهْدُونَ بِالْحَقِّ) adalah selalu menjaga agama Allah SWT dengan tetap taat dan patuh pada perintah Allah SWT.
لَا تَزَالُ مِنْ أُمَّتِي أُمَّةٌ قَائِمَةٌ بِأَمْرِ اللَّهِ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلَا مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ
Akan senantiasa ada sekelompok orang dari umatku yang teguh menjalankan perintah Allah. Orang-orang yang menelantarkan atau memusuhi mereka tidak akan mampu mencelakakan mereka hingga datang ketetapan Allah, sementara mereka tetap berada dalam pendirian tersebut.(HR. Bukhari Muslim)
إنَّ مِن أُمَّتِي قَوْمًا عَلى الحَقِّ حَتّى يَنْزِلَ عِيسى ابْنُ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلامُ
Sesungguhnya di antara umatku terdapat suatu kaum yang senantiasa berada di atas kebenaran hingga turunnya Isa bin Maryam. (HR. Ahmad)
2. Tidak Mungkin Sepakat Dalam Kesesatan
Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[2] mengatakan bahwa makna yahduna bil-haqqi (يَهْدُونَ بِالْحَقِّ) adalah tidak mungkin bersepakat dalam kesesatan. Pendapat ini didasarkan pada pandangan Al-Jubba’i bahwa dijamin bahwa umat Islam tidak akan pernah bersepakat di atas kebatilan dalam masa apa pun.
Meski banyak masalah cabang alias furu’iyah di tengah umat Islam, tetapi bagian yang paling fundamental pastinya selalu aman, terlindungi dan terjamin. Umat Islam tidak mungkin di satu masa sampai mengatakan Tuhan ada banyak, atau mengatakan bahwa Nabi SAW adalah anak Tuhan, bahkan tidak mungkin menyembah Nabi Muhammad SAW.
3. Dasar Ijma’
Sebagian ulama menyebutkan bahwa yahduna bil-haqqi (يَهْدُونَ بِالْحَقِّ) adalah dalil yang paling kuat tentang ijma’ di kalangan kaum muslimin, sebagai pondasi dan sumber syariat yang ketiga setelah Al-Quran dan Hadits.
Contoh ijma’ yang paling besar adalah jam’ul quran di masa Abu Bakar, yang awalnya masih berupa tlisan yang berserakan lalu dikumpulkan jadi satu sudah urut surat dan ayatnya dalam satu bundel. Tidak ada satu pun ayat quran ataupun hadits nabi yang memerintahkan itu, bahkan mengisyaratkannya saja pun tidak. Bahkan awalnya Abu Bakar dan Zaid bin Tsabit pun menolak. Namun setelah dijelaskan urgensi dan kedharuratannya, yang setuju bukan hanya satu dua orang, tapi menjadi ijma’ abadi sampai hari ini.
وَبِهِ يَعْدِلُونَ
Makna wabihi (وَبِهِ) adalah: dan dengannya, yakni dengan kebenaran itu. Makna ya'diluun (يَعْدِلُونَ) adalah: mereka berlaku adil.
Ath-Thabari dalam tafsir Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran [3] mengutip pendapat Ibnu Juraij mengatakan bahwa dengan kebenaran itulah mereka memutuskan hukum dan berlaku adil kepada manusia. Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim[4] mengatakan maksudnya mereka mengamalkan dan memutuskan hukum dengannya.
 
[1] Al-Baghawi (w. 516 H), Ma’alim At-Tanzil fi Tafsir Al-Quran, (Beirut, Daru Ihya’ At-Turats, Cet. 1, 1420 H)
[2] Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H), Mafatih Al-Ghaib, (Beirut, Daru Ihya’ At-Turats Al-Arabi, Cet. 3, 1420 H)
[3] Ath-Thabari (w. 310 H), Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran, (Beirut, Muassasatu Ar-Risalah, Cet. 1, 1420 H - 2000M)
[4] Ibnu Katsir (w. 774 H), Tafsir Al-Quran Al-Azhim, (Cairo, Dar Thaibah lin-Nasyr wa at-Tauzi’, Cet. 2, 1420 H – 1999 M)