| ◀ | Jilid : 18 Juz : 9 | Al-A'raf : 182 | ▶ |
وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ
Kemenag RI 2019: Orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (menuju kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. )| TAFSIR AL-MAHFUZH |
Setelah bicara tentang umatnya yang mendapatkan dijamin selalu berada dalam kebenaran, ayat ke 182 dari surat Al-A’raf ini kemudian kembali lagi bicara kebalikannya, yaitu tentang orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah SWT.
Disini Allah SWT menjelaskan bahwa mereka dibinasakan, tetapi dengan cara yang tidak tiba-tiba, melainkan mereak dibiarkan berangsur-angsur menuju kepada kebinasaan. Bahkan caranya pun dengan cara yang tidak mereka ketahui.
وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا
Makna walladziina (وَالَّذِينَ) adalah: dan orang-orang yang. Makna kadzdzabuu (كَذَّبُوا) adalah: mendustakan.
Al-Qurtubi dalam tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Quran[1] mengutip pendapat Ibnu Abbas yang menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah tidak lain adalah kaum musyrikin Mekkah, sebagaimana tempat ayat ini diturunkan.
Makna bi'aayaatinaa (بِآيَاتِنَا) adalah: terhadap ayat-ayat Kami. Tidak lain maksudnya adalah Al-Quran Al-Karim.
Mereka memang bukan umat yang mengenal kitab suci samawi, sejak masih di masa leluhur mereka, hingga ke Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail alaihimassalam. Mereka percaya bahwa Allah SWT itu ada, namun mereka tidak pernah mengenal konsep bahwa Allah SWT itu berkata-kata dan berfirman. Dalam tempurung kepala mereka tidak ada konsep turunnya kitab suci sebagai kalamullah.
وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَىٰ بَشَرٍ مِنْ شَيْءٍ
Dan mereka tidak menghormati Allah SWT dengan penghormatan yang semestinya di kala mereka berkata: ’Allah SWT tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia...’” (QS. Al-An’am: 91)
Bahkan konsep kenabian pun mereka tidak kenal. Pikiran mereka malah lebih liar, yaitu kalau pun Allah SWT mau mengirim utusan, seharusnya yang diutus itu malaikat, bukan manusia.
وَقَالُوا مَالِ هَٰذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ
Dan mereka berkata: 'Mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?'" (QS. Al-Furqan: 7)
سَنَسْتَدْرِجُهُمْ
Kata sanastadrijuhum (سَنَسْتَدْرِجُهُمْ) itu merupakah kata yang diperkaya dengan bermacam atribut. Huruf sa (سَ) di awal kata menunjukkan makna masa depan yang dekat. Kata nastadriju (نَسْتَدْرِجُ) berasal dari akar tiga huruf yaitu (د ر ج) yang berarti langkah, tingkatan, atau anak tangga.
Dari akar yang sama lahir kata darajah (derajat), karena seseorang naik sedikit demi sedikit dari satu tingkat ke tingkat berikutnya. Orang Arab mengatakan daraja ash-shabiyyu (درج الصبي) ketika seorang anak mulai berjalan selangkah demi selangkah.
Ketika akar itu masuk ke pola istaf‘ala menjadi istadraja (اسْتَدْرَجَ), maknanya berubah menjadi membawa seseorang berpindah dari satu tingkat ke tingkat lain secara perlahan tanpa ia sadari. Seakan-akan ada seseorang yang digiring menaiki atau menuruni anak tangga setapak demi setapak.
Karena itu para ahli tafsir menjelaskan bahwa istidraj bukanlah hukuman yang datang mendadak. Justru pelakunya tetap diberi kesehatan, kekayaan, kekuasaan, umur panjang, dan berbagai kenikmatan. Ia mengira dirinya semakin dicintai Allah SWT, padahal sebenarnya sedang dibawa selangkah demi selangkah menuju kehancurannya.
Sementara itu dhamir hum (هُمْ) di akhir kata berarti mereka yaitu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah SWT.
Para ulama sering mendefinisikan istidraj sebagai: pemberian nikmat yang terus bertambah kepada seorang hamba yang terus bertambah pula kemaksiatannya. Secara lahiriah tampak seperti karunia, tetapi secara hakikat merupakan bentuk hukuman yang sedang berjalan secara perlahan.
Allah membukakan bagi mereka pintu-pintu rezeki dan berbagai sarana kehidupan di dunia, hingga mereka tertipu oleh keadaan yang mereka nikmati, dan mereka meyakini bahwa mereka berada di atas suatu kebenaran.
Allah SWT tidak selalu menghukum orang yang durhaka dengan petir atau bencana yang tiba-tiba. Kadang Allah membiarkan mereka terus naik, terus sukses, terus kaya, terus berkuasa, hingga mereka merasa benar-benar aman. Ketika mereka sudah berada pada puncak rasa aman itulah, datanglah saat jatuh yang tidak pernah mereka perkirakan.
مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ
Makna min haitsu (مِنْ حَيْثُ) adalah: dari arah yang. Makna laa ya'lamuun (لَا يَعْلَمُونَ) adalah: tidak mereka ketahui.
Yang dimaksud dengan istidraj adalah Allah SWT terus-menerus mengalirkan nikmat kepada seseorang, sementara ia tetap tenggelam dalam kesesatan dan kemaksiatan. Karena itu para ulama mengatakan bahwa apabila seseorang terus memperoleh berbagai kenikmatan padahal ia tidak juga meninggalkan maksiat, maka boleh jadi ia sedang mengalami istidraj. Nikmat yang datang berturut-turut itu bukan selalu tanda keridhaan Allah SWT, tetapi bisa menjadi sarana untuk menjerumuskannya lebih jauh.
Al-Alusi menjelaskan bahwa istidraj dapat dipandang dari dua sisi. Dari sudut pandang pelakunya, ia merasa sedang naik derajat. Kekayaan bertambah, usaha berkembang, kedudukan semakin tinggi, dan pengaruh semakin luas. Ia pun mengira bahwa semua itu merupakan tanda perhatian dan kasih sayang Allah SWT kepadanya. Namun dari sudut pandang hakikat yang sebenarnya, ia justru sedang turun setahap demi setahap menuju kebinasaan. Sebab manusia pada asal fitrahnya diciptakan dalam keadaan siap menerima petunjuk, sebagaimana sabda Nabi SAW bahwa setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Posisi awal manusia sesungguhnya sudah berada pada kesiapan untuk mengenal kebenaran.
Ketika seseorang lebih memilih mengikuti hawa nafsu, tenggelam dalam syahwat, dan terus melakukan maksiat, maka ia mulai turun dari kedudukan fitrahnya. Penurunan itu tidak terjadi sekaligus, melainkan sedikit demi sedikit, hingga akhirnya mencapai tingkat yang paling rendah.
Oleh karena itu, terlepas apakah disebut sebagai pendakian menurut prasangka mereka atau penurunan menurut hakikatnya, inti istidraj adalah proses bertahap yang membawa seseorang semakin jauh ke dalam kemaksiatan sampai ia pantas menerima azab Allah SWT, baik di dunia maupun di akhirat. Adapun limpahan nikmat yang terus mengalir hanyalah sarana yang mengantarkan kepada tujuan tersebut.
[1] Al-Qurtubi (w. 671 H), Al-Jami' li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M)