Rumah Fiqih Indonesia
Ukuran Teks:
Jilid : 18 Juz : 9 | Al-A'raf : 203
Al-A'raf 7 : 203
Mushaf Kemenag RI hal. 176

وَإِذَا لَمْ تَأْتِهِمْ بِآيَةٍ قَالُوا لَوْلَا اجْتَبَيْتَهَا ۚ قُلْ إِنَّمَا أَتَّبِعُ مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ مِنْ رَبِّي ۚ هَٰذَا بَصَائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Kemenag RI 2019: Jika engkau (Nabi Muhammad) tidak membacakan satu ayat kepada mereka, mereka berkata, “Mengapa tidak engkau buat sendiri ayat itu?” Katakanlah, “Sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. (Al-Qur’an) ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk, dan rahmat bagi kaum yang beriman.”
Prof. Quraish Shihab: Dan apabila engkau (Nabi Muhammad saw.) tidak membawakan suatu ayat kepada mereka (seperti apa yang mereka inginkan), mereka berkata: “Mengapa engkau tidak memilihnya (dari apa yang kami usulkan, atau membuat al-Qur’an yang lain)?” Katakanlah (Nabi Muhammad saw.): “Sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dari Tuhan Pemeliharaku. (Al-Qur’an) ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhan Pemelihara kamu, petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
Prof. HAMKA: Dan, apabila tidak engkau bawakan kepada mereka suatu ayat, mereka berkata, “Mengapa tidak engkau pilihkan dia?” Katakanlah, “Yang aku turuti hanyalah apa yang diwahyukan kepadaku daripada Tuhanku. Ini adalah beberapa pandangan dari Tuhan kamu dan petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”

TAFSIR AL-MAHFUZH

Ayat ke-203 dari surat Al-A’raf ini masih menceritakan modus kaum musyrikin Mekkah dalam rangka menggangu dakwah Nabi Muhammad SAW. Pernah suatu ketika Allah selama beberapa saat tidak menurunkan wahyu dari langit, ternyata momentum itu pun tidak disia-siakan oleh kaum musyrikin Mekkah.

Bahan gorengan mereka adalah  : “Wahai Muhammad, mengapa tidak kamu rangkai sendiri saja wahyu dari langit”. Kesan yang didapat bahwa selama ini semua ayat itu hanyalah hasil karangan Nabi SAW.

Maka Allah SWT mengajari cara menjawab mereka dengan meminta Beliau mengucapkan : Katakanlah, “Sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. (Al-Quran) ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk, dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Tegas sekali bahwa Al-Quran itu datang dari sisi Allah SWT dan bukan hasil karangan Nabi SAW.

***

وَإِذَا لَمْ تَأْتِهِمْ بِآيَةٍ

Makna wa idzaa (وَإِذَا) adalah: dan apabila. Makna lam ta'tihim (لَمْ تَأْتِهِمْ) adalah: kamu tidak membawa kepada mereka. Makna bi-aayatin (بِآيَةٍ) adalah: suatu ayat.

Al-Alusy dalam tafsir mengutip pendapat Mujahid, Qatadah, dan Az-Zajjaj yang menceritakan ada kalanya wahyu Al-Quran agak tersendat turunnya selang selama beberapa waktu. Isilahnya adalah masa tarahki al-wahyi.

Ketika Quraisy kebingungan untuk menghentikan pengaruh Nabi SAW di Mekkah, mereka lalu mengutus delegasi ke ulama Yahudi di Madinah untuk mencari cara menguji kebenaran kenabian Beliau SAW.  Maka orang-orang Yahudi menyarankan untuk menanyakan tiga hal kepada Nabi SAW. Pertama, tentang kisah pemuda Ashabul Kahfi. Kedua, tentang petualang besar Dzulkarnain. Ketiga tentang hakikat Ruh.

Maka kaum Quraisy kembali ke Mekkah bermodalkan tiga pertanyaan untuk mereka tanyakan kepada Nabi SAW. Spontan Nabi SAW menjawab, "Esok hari akan aku jawab," tanpa mengucapkan kalimat "Insya Allah". Ternyata jawabannya tidak segera datang dalam bentuk wahyu. Kejadian ini terjadinya di tengah periode dakwah Makkah yaitu periode pertengahan kenabian.

Konon disebutkan bahwa wahyu terhenti selama 15 hari. Maka selama 15 hari itulah kaum musyrikin Makkah bersorak kegirangan dan melontarkan ejekan yang direkam dalam ayat yang kita bahas sebelumnya. Salah satunya mereka menuduh Nabi SAW telah ditinggalkan oleh Tuhannya.

Masa tarakhi ini berakhir dengan turunnya Surat Al-Kahfi yang menjawab pertanyaan mereka, sekaligus Surat Ad-Dhuha sebagai penegasan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan beliau.

***

قَالُوا لَوْلَا اجْتَبَيْتَهَا

Makna qaaluu (قَالُوا) adalah: mereka berkata. Makna laulaa (لَوْلَا) adalah: mengapa tidak. Kata ijtabaita-ha (اجْتَبَيْتَهَا) memiliki makna dasar (ج ب ي), dalam kamus bahasa Arab akar kata ini dibaca jabaa (جَبَى) yang artinya mengumpulkan, menghimpun, atau menarik sesuatu secara selektif. Masyarakat Arab menggunakan kalimat (جبيتُ الماء في الحوض) : aku mengumpulkan air ke dalam bak penampungan." Dari sini, kolam penampung air disebut jabiyah karena fungsinya menghimpun air dari berbagai sumber. Kata ini juga digunakan dalam istilah jibayatul-kharaj (جِبَايَةُ الخَرَاجِ), yaitu aktivitas memungut atau mengumpulkan pajak atau upeti dari rakyat.

Ketika berubah pola menjadi ijtabaa (اِجْتَبَى), maknanya bergeser menjadi memilih yang terbaik dari hasil kumpulan tersebut secara selektif. Ketika Nabi SAW lama tidak membacakan ayat baru, kaum musyrikin mulai memprovokasi. Mereka berkata secara provokatif:  laula ijtabaitaha (لَوْلَا اجْتَبَيْتَهَا) yang artinya kurang lebih: "dari pada lama nunggu ayat tidak turun-turun juga, gimana jika kamu karang dan kumpulkan saja sendiri ayatnya?"

Jelas ini bentuk ejekan, seolah-olah selama ini Nabi SAW hanya mengarang-ngarang ayat Al-Quran. Namun justru di balik peristiwa yang kelihatannya seolah menujukkan kelemahan Nabi SAW, malah ada hikmah yang lebih jauh lagi, yaitu menunjukkan bahwa turunnya wahyu itu 100% merupakan hak prerogratif Allah SWT, sama sekali bukan hasil gubahan dan karangan dari Nabi SAW.

***

قُلْ إِنَّمَا أَتَّبِعُ مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ مِنْ رَبِّي

Menanggapi provokasi dan ejekan kaum musyrikin yang menyuruh Nabi SAW merangkai sendiri ayat Al-Quran tersebut, Allah SWT tidak membiarkan Beliau SAW terpojok. Maka Allah langsung mendiktekan jawaban telak yang mematahkan seluruh tuduhan mereka melalui penggalan berikutnya : (قُلْ إِنَّمَا أَتَّبِعُ مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ مِنْ رَبِّي).

Mari kita bedah struktur kalimat jawaban ini agar kita bisa merasakan ketegasannya. Kata qul (قُلْ) adalah sebuah perintah langsung dari Allah yang artinya "Katakanlah!" Ini adalah benteng pertama yang menegaskan bahwa Nabi SAW tidak berbicara atas kemauan sendiri, melainkan sedang menyuarakan instruksi langsung dari langit.

Kemudian, kalimat itu dilanjutkan dengan perangkat bahasa yang sangat kuat, yaitu innama (إِنَّمَا). Dalam kaidah bahasa Arab, kata ini berfungsi sebagai adatul-qashr atau alat pembatas tunggal, yang artinya hanya atau semata-mata. Melalui kata ini, Nabi SAW diperintahkan untuk menegaskan batas yang sangat kaku dan jelas, yaitu bahwa tugas dan kewenanganku semata-mata hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dari Tuhanku.

Kata attabi’u (أَتَّبِعُ) yang berarti ’aku mengikuti’ menunjukkan posisi Nabi SAW yang pasif dalam memproduksi wahyu. Beliau bukanlah seorang kreator, produsen, apalagi kompilator yang bebas merangkai kata sesuka hati seperti yang mereka tuduhkan dengan kata ijtabaitaha tadi. Beliau adalah seorang pengikut setia yang patuh dan terkunci pada SOP (Standard Operating Procedure) yang dikirim oleh Allah SWT.

Jawaban ini ditutup dengan kalimat yang sangat manis sekaligus menggetarkan: min rabbi (مِنْ رَبِّي) yang artinya dari Tuhanku. Penggunaan kata Tuhanku mempertegas hubungan emosional dan spiritual yang sangat erat antara Allah dan Nabi SAW. Seolah-olah beliau ingin menjawab ejekan mereka dengan berkata:

"Mengapa aku tidak merangkai sendiri ayat-ayat itu saat terjadi jeda? Karena pemilik wahyu ini adalah Tuhanku. Dia-lah yang mengatur ritme hidupku, Dia yang memeliharaku, dan hanya Dia pula yang memiliki hak mutlak untuk menentukan kapan sebuah ayat harus turun dan kapan harus ditahan."

***

هَٰذَا بَصَائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ

Lafazh haadzaa (هَٰذَا) merupakan kata tunjuk untuk sesuatu yang dekat, bisa diartikan menjadi : ini. Kata ini merujuk langsung kepada Al-Quran yang sedang mereka perdebatkan. Bisa juga langsung disebutkan : “Al-Quran ini adalah . . .”

Makna bashaa'iru (بَصَائِرُ) adalah bentuk jamak dari kata bashirah (بصيرة), yang secara bahasa berarti mata hati atau pandangan batin. Namun bisa juga berarti bukti-bukti nyata yang mencerahkan.

Jika mata fisik bashar (بَصَر) digunakan untuk melihat benda-benda materi, maka bashirah (بصيرة) adalah alat untuk melihat kebenaran nilai. Allah ingin menyatakan bahwa Al-Quran bukanlah sekadar tumpukan teks atau susunan kata indah hasil rangkaian manusia, melainkan kumpulan cahaya makrifat yang berfungsi layaknya kacamata medis untuk menyembuhkan kebutaan spiritual. Al-Quran adalah bukti konkret yang langsung merasuk ke dalam logika dan hati nurani, sehingga siapa pun yang membacanya dengan jujur akan bisa melihat dengan jelas mana yang haq dan mana yang bathil.

Makna min rabbikum (مِنْ رَبِّكُمْ) adalah: dari Tuhanmu. Kesengajaan mengulang frasa min rabbikum (من ربكم) yang artinya ’dari Tuhan’ ini menjadi pukulan telak yang kesekian kalinya bagi tuduhan kaum musyrikin. Cahaya mata hati ini diproduksi langsung oleh Tuhan yang memelihara alam semesta, bukan hasil oplosan atau kompilasi manusia.

***

وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Allah melengkapi profil Al-Quran dengan dua fungsi berikutnya yang saling berkaitan, yaitu wa hudan (وَهُدًى) yang berarti : dan sebagai petunjuk, serta wa rahmah (وَرَحْمَةٌ) yang berarti : dan sebagai kasih sayang.

Hubungan kedua kata ini sangat logis dan berurutan. Al-Quran terlebih dahulu hadir sebagai kompas atau peta jalan yaitu hudan, agar manusia tidak tersesat dalam menempuh perjalanan hidup yang penuh dengan jebakan setan. Ketika manusia mau setia mengikuti petunjuk kompas tersebut, maka ujung dari perjalanan itu sudah pasti akan mengantarkan mereka pada pelukan kasih sayang dari Allah yaitu rahmah.

Namun, di penghujung ayat, Allah memberikan sebuah catatan kaki atau syarat mutlak yang sangat penting: li qaumi yu'minun (لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ) yang artinya : bagi kaum yang beriman.

Di sinilah letak keadilan sekaligus rahasia Al-Quran. Mengapa Al-Quran yang posisinya sangat dekat, sampai ditunjuk dengan hadza dan begitu terang bashair, justru terlihat gelap bahkan menjadi bahan ejekan bagi kaum musyrikin Makkah?

Jawabannya adalah karena mereka kehilangan satu kunci utama, yaitu iman. Al-Quran hanya akan memancarkan fungsinya sebagai pembuka mata hati, peta petunjuk, dan sumber kasih sayang secara optimal khusus bagi orang-orang yang mau membuka pintu hatinya untuk percaya terlebih dahulu.

Tanpa adanya iman dan ketundukan jiwa, Al-Quran yang agung ini hanya akan berlalu di telinga mereka sebagai rangkaian kata-kata yang tidak berbekas, persis seperti orang buta yang tidak bisa menikmati indahnya cahaya matahari pagi meskipun matahari itu berada tepat di atas kepalanya.

***

 

   

***

REFERENSI KITAB TAFSIR
🔐