Rumah Fiqih Indonesia
Ukuran Teks:
Jilid : 18 Juz : 9 | Al-A'raf : 206
Al-A'raf 7 : 206
Mushaf Kemenag RI hal. 176

إِنَّ الَّذِينَ عِنْدَ رَبِّكَ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيُسَبِّحُونَهُ وَلَهُ يَسْجُدُونَ ۩

Kemenag RI 2019: Sesungguhnya (malaikat) yang ada di sisi Tuhanmu tidak menyombongkan diri dari ibadah kepada-Nya dan mereka menyucikan-Nya. Hanya kepada-Nya mereka bersujud. )
Prof. Quraish Shihab: Sesungguhnya mereka (para malaikat) yang ada di sisi Tuhan Pemeliharamu tidaklah menyombongkan diri (dalam hal menyembah-Nya) dan mereka bertasbih kepada-Nya dan hanya kepada-Nya mereka bersujud.
Prof. HAMKA: Sesungguhnya mereka yang berada di sisi Tuhan engkau, tidaklah mereka menyombong daripada ibadah kepada-Nya; dan mereka pun mengucapkan kesucian atas-Nya; dan kepada-Nyalah mereka bersujud.

TAFSIR AL-MAHFUZH

Ayat ke-206 merupakan ayat paling akhir dari dari surat Al-A’raf. Inti pesannya adalah jangan menyombongkan diri di hadapan Tuhan. Ayat ini mengajak kita membandingkan bahwa para malaikat sebagai makhluk mulia yang berada di sisi Allah SWT, mereka itu tidak menyombong daripada ibadah kepada-Nya; dan mereka pun mengucapkan kesucian atas-Nya; dan kepada-Nyalah mereka bersujud.

Meski secara sekilas ayat ini hanya sekedar menceritakan para malaikat yang bersujud, namun secara makna ayat ini menjadi perintah buat Nabi SAW dan juga kita sebagai umatnya untuk melakukan gerakan sujud juga.

***

إِنَّ الَّذِينَ

Makna inna (إِنَّ) adalah: sesungguhnya. Makna alladziina (الَّذِينَ) adalah: mereka yang.

Fakhruddin Ar-Razi menuliskan dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[1] bahwa yang dimaksud dengan  mereka yang berada di sisi Allah SWT tidak lain adalah para malaikat. Pesannya bhawa dengan kemuliaan mereka yang luar biasa, kesucian mereka yang puncak, keterjagaan mereka dari dosa dan kebebasan mereka dari pendorong hawa nafsu dan amarah, serta dari hal-hal yang dapat memicu rasa dengki dan iri hati, mereka senantiasa tekun dalam peribadatan, sujud, ketundukan, dan kekhusyukan.

Maka manusia meskipun diuji dengan kegelapan alam jasmani serta memiliki kecenderungan terhadap kenikmatan-kenikmatan duniawi dan pendorong-pendorong sifat kemanusiaan tentu lebih patut untuk tekun dalam mentaati Allah.

***

عِنْدَ رَبِّكَ

Makna 'inda (عِنْدَ) adalah: di sisi. Makna rabbika (رَبِّكَ) adalah: Tuhanmu. Secara harfiyah, jika disebut ’di sisi’ umumnya menunjukkan lokasi alias tempat. Namun kita semua tahu bahwa Allah SWT Tidak menempati ruang, maka secara teknis ungkapan ini bukan menunjukkan posisi tempat dimana Allah SWT berada, melainkan menunjukkan kedekatan para malaikat itu di sisi Allah SWT.   

Memang dalam banyak hal, malaikat itu boleh disebut juga sebagai perangkat Allah SWT dalam segala urusan. Urusan terkait penciptaan alam semesta dan pengaturannya, meski Allah SWT adalah penciptanya, namun dalam menjalankan segala sesuatunya, rupanya adalah delegasikan kepada makhluk satu ini, yaitu para malaikat. Dalam terminologi Al-Qur’an, ini merujuk pada firman Allah SWT :

فَالْمُدَبِّرَاتِ أَمْرًا

Demi para malaikat yang mengatur urusan. (QS. An-Nazi'at: 5).

Allah SWT adalah pelaku mutlak, namun Allah menciptakan sistem sebab-akibat, atau biasa disebut dengan sunnatullah yang sangat presisi. Malaikat di sini berfungsi sebagai manajer sistem dari sunnatullah tersebut.

Maka diaturkan job desc masing-masing mereka. Malaikat Jibril ditugaskan untuk penyampaian wahyu, Mikail untuk rezeki dan ekosistem, Israfil untuk sangkakala, dan malaikat-malaikat yang menjaga keseimbangan hukum fisika serta pergerakan benda langit. Perlu diingat bahwa posisi mereka bukanlah pembantu yang berdiri sejajar, melainkan perpanjangan dari iradah Allah yang bekerja melalui instrumen yang telah diciptakan-Nya.

Malaikat itu sangat patuh pada semua perintah Allah SWT, tidak diciptakan untuk melakukan perintah Allah SWT tapi sambil juga berimprovisasi. Yang diperintahkan mereka jalankan, yang tidak diperintahkan, tidak mereka jalankan. Allah SWT tidak memberi mereka ruang untuk berpikir, berkreatifitas, apalagi melakukan inovasi dan rekayasa. Malaikat tidak diciptakan dengan alogoritma seperti itu.

وَّلَا يَسْبِقُوْنَه بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِاَمْرِه يَعْمَلُوْنَ

Mereka tidak berbicara mendahului-Nya dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. (QS. Al-Anbiya': 27)

عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ 

Di atasnya adalah para malaikat yang kasar dan keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahrim: 6)

 

***

لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ

Secara morfologi, kata yastakbirna (يَسْتَكْبِرُونَ) berasal tiga huruf yang menjadi akar kata (ك ب ر). Lalu ketambahan tiga huruf berubah mengikut wazan (اسْتَفْعَلَ) menjadi (اِسْتَكْبَرَ يَسْتَكْبِرُ) yang dalam bahasa Arab sering kali mengandung makna menuntut atau beranggapan dirinya besar.

Penggalan ini mengatakan bahwa para malaikat itu la yastakbirun (لَا يَسْتَكْبِرُونَ), itu berarti bahwa para malaikat tidak menganggap diri mereka besar. Kata istikbar ini sering kita terjemahkan menjadi sombong, atau takabbur. Walaupun posisinya sangat tinggi, yaitu menjadi pelaksana langsung dari semua pekerjaan Sang Pencipta, namun para malaikat itu tidak lantas jumawa, mereka diri mereka besar dan punya kedudukan langsung dengan ’pusat kekuasaan’.

Lafazh 'an 'ibaadatihii (عَنْ عِبَادَتِهِ) secara harfiyah berarti : dari pengabdiannya. Jika kita ibaratkan malaikat itu seperti para ’abdi dalem’ di sebuah keraton. Namun tidak mentang-mentang punya kedekatan dengan sultan dan menjadi ’orang dalam’ istana, mereka lantas merasa diri mereka sedikit lebih tinggi dari rakyat jelata.

Memang secara teknis ketika Allah SWT menciptakan para malaikat, meski sangat powerfull, namun mereka tidak dibekali dengan nafsu, keinginan, hasrat, kebutuhan dan sejenisnya. Kita bisa ibaratkan mereka semacam robot super cerdas dengan kemampuan yang luar biasa dahsyat. Namun dengan segala kemampuan yang dibenamkan ke dalam dirinya, tidak lantas membuatnya punya keinginan untuk mengambil alih kekuasaan dari tangan manusia.

Malaikat itu bukan robot masa depan yang kita tonton pada film-film fiksi ilmiyah tahun 70-an. Karena merasa terancam dengan manusia, maka mereka bergerak untuk membasmi umat manusia. Itu film jadul dan omong kosong. Di zaman sekarang ini, LLM jauh lebih powerfull,  tetapi kita tidak perlu menuliskan hukum robot seperti Three Laws of Robotics dari Isaac Asimov.

§  Hukum Pertama: Robot tidak boleh melukai manusia atau, melalui kelalaian, membiarkan manusia mengalami cedera.

§  Hukum Kedua: Robot harus mematuhi perintah yang diberikan oleh manusia, kecuali perintah tersebut bertentangan dengan Hukum Pertama.

§  Hukum Ketiga: Robot harus melindungi keberadaannya sendiri selama perlindungan tersebut tidak bertentangan dengan Hukum Pertama atau Hukum Kedua.

Dalam perkembangan literasinya, Asimov kemudian menambahkan Hukum Nol (Zeroth Law) yang menempatkan kepentingan umat manusia di atas segalanya:

§  Robot tidak boleh melukai umat manusia atau, melalui kelalaian, membiarkan umat manusia mengalami bahaya.

Malaikat tidak membutuhkan hukum dalam pengertian legalistik seperti itu karena ketiadaan ego. Malaikat tidak memiliki nafsu yang jadi sumber dari ambisi, keinginan untuk menguasai, dan kecenderungan untuk membandingkan diri. Malaikat tidak punya ego untuk merasa lebih superior dari manusia, meskipun secara fisik dan kekuatan, mereka jauh melampaui kita.

Selain itu para malaikat diciptakan dengan sifat yang menyatu dengan perintah. Ketaatan mereka bukanlah hasil dari perenungan etis atau pemrograman moral, melainkan esensi keberadaan mereka. Maka algoritma malaikat tidak bisa memilih untuk berkhianat, karena tidak ada opsi untuk itu dalam sistem operasi mereka.

 

***

وَيُسَبِّحُونَهُ وَلَهُ يَسْجُدُونَ

Makna wa yusabbihuunahuu (وَيُسَبِّحُونَهُ) adalah: dan mereka bertasbih kepada-Nya. Makna wa lahuu (وَلَهُ) adalah: dan hanya kepada-Nya. Makna yasjuduuna (يَسْجُدُونَ) adalah: mereka bersujud.

Di bagian penutup ini, Allah SWT menyebutkan bahwa pada intinya para malaikat itu pekerjaan utamanya adalah bertasbih kepada Allah dan bersujud. Ketika pintu wahyu telah tertutup pasca-wafatnya Rasulullah SAW, bukan berarti pekerjaan Malaikat Jibril selesai atau ia lantas menganggur. Semua malaikat itu diciptakan untuk bertasbih kepada Allah SWT dan bersujud, tidak terkecuali malaikat Jibril. Memang Beliau sudah tidak lagi menjalankan perintah membawa wahyu, tetapi bukan berarti tidak ada pekerjaan.

Para mufassir ketika menjelaskan penggalan terakhir ayat ini menyebutkan bahwa meskipun ayat ini hanya berupa kisah bagaimana pekerjaan para malaikat, namun di balik itu pesan halusnya adalah kita diperintah juga untuk mengerjakan apa yang dikerjakan oleh para malaikat, yaitu bertasbih dan bersujud.

Para ahli fiqih menyebutkan bahwa pesan untuk bersujud di ayat ini lebih spesifik adalah sujud tilawah, yaitu sujud yang dilakukan karena kita melakukan tilawah Al-Quran, baik dilakukan di dalam shalat atau pun di luar shalat. Yang dimaksud dengan tilawah adalah membaca ayat-ayat Al-Quran Al-Kariem.

Di dalam Al-Quran Al-Kariem ada beberapa ayat yang disebut dengan ayat sajdah. Setiap kali membaca ayat itu, kita disunnahkan untuk melakukan sujud. Dan nama sujud itu adalah sujud tilawah.

Yang menarik, sujud ini bisa saja dilakukan saat kita sedang shalat dan kebetulan membaca ayat-ayat sujud tilawah. Namun bisa juga dilakukan di luar shalat, yaitu saat membaca Al-Quran dan membaca ayat-ayat tersebut.

إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ اعْتَزَل الشَّيْطَانُ يَبْكِي يَقُول : يَا وَيْلِي - وَفِي رِوَايَةٍ يَا وَيْلَهُ - أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِيَ النَّارُ

Apabila seorang anak Adam membaca ayat sajdah kemudian dia bersujud, setan kecewa dan menangis seraya berkata, "Aduh, anak Adam diperintahkan sujud lalu dia sujud maka dia mendapat surga, sedangkan aku diperintahkan sujud namun aku membangkang, maka aku mendapat neraka."(HR Muslim)

عَن عَبْدِ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا قَال : كَانَ رَسُول اللَّهِ r يَقْرَأُ عَلَيْنَا السُّورَةَ فِيهَا السَّجْدَةُ فَيَسْجُدُ وَنَسْجُدُ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Rasulullah SAW membacakan kami suatu surat, kemudian beliau bersujud dan kami pun bersujud (HR Bukhari dan Muslim)

Hukum Mengerjakan Sujud Tilawah

Berdasarkan dari dalil-dalil di atas dan banyak lagi dalil lainnya, para ulama umumnya mengatakan bahwa sujud tilawah hukumnya sunnah. Namun kalau kita perdalam lagi, sebenarnya ada sedikit variasi hukum yang mereka kemukakan.

1. Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah

Mereka sepakat mengatakan bahwa hukum sujud tilawah adalah sunnah muakkadah. Dalam pandangan mereka, sujud tilawah ini tidak menjadi wajib, karena Rasulullah SAW pernah juga tidak melakukan sujud tatkala membaca atau dibacakan ayat sajdah, yaitu sebagaimana disebutkan di dalam riwayat berikut ini:

عَن زَيْدِ بْنُ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ قَال : قَرَأْتُ عَلَى النَّبِيِّ وَالنَّجْمِ فَلَمْ يَسْجُدْ فِيهَا

Dari Zaid bin Tsabit berkata, "Aku membaca surat An-Najm di depan Nabi SAW namun beliau tidak melakukan sujud. (HR Bukhari dan Muslim)

2. Al-Hanafiyah

Cukup menarik kalau kita pelajari mazhab ini khususnya dalam hal sujud tilawah. Sebab mereka lah satu-satunya mazhab yang mengatakan bahwa hukum sujud tilawah itu wajib.

Untuk itu di antara dalil yang mereka gunakan adalah sabda Nabi Muhammad SAW:

السَّجْدَةُ عَلَى مَنْ سَمِعَهَا

Sujud itu wajib bagi mereka yang mendengarnya (ayat sajdah)

Namun hadits ini menurut Az-Zayla'i adalah hadits yang gharib. Para ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah tentu saja tidak hanya bergantung pada satu hadits ini saja. Ternyata mereka juga menggunakan hadits tentang syetan yang menangis melihat anak Adam bersujud. Di atas tadi kami sudah tuliskan haditsnya.

3. Al-Malikiyah

Para ulama di dalam mazhab ini agak kurang kompak. Sebagian mengatakan bahwa sujud tilawah itu hukumnya sunnah yang bukan muakkadah. Sebagian lainnya mengatakan hukumnya fadhilah (keutamaan).

Yang bilang hukumnya sunnah ghairu muakkadah adalah Ibnu 'Athaillah dan Al-Fakihani. Sedangkan yang mengatakan hukumnya fadhilah adalah Al-Baji dan Ibnu Katib.

Ayat-ayat Sajdah

Ada 15 ayat yang telah disepakati para ulama sebagai ayat sajdah. Lengkapnya ayat-ayat itu adalah sebagai berikut:

إِنَّ الَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ لاَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيُسَبِّحُونَهُ وَلَهُ يَسْجُدُونَ

Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya lah mereka bersujud. (QS. Al-A'raf:206)

 

وَلِلّهِ يَسْجُدُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَظِلالُهُم بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ

Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri atau pun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari (QS. Ar-Ra'd: 15)

وَلِلّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مِن دَآبَّةٍ وَالْمَلآئِكَةُ وَهُمْ لاَ يَسْتَكْبِرُونَ

Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. (QS. An-Nahl: 49)

قُلْ آمِنُواْ بِهِ أَوْ لاَ تُؤْمِنُواْ إِنَّ الَّذِينَ أُوتُواْ الْعِلْمَ مِن قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ سُجَّدًا

Katakanlah: “Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud. (QS.  Al-Isra': 107)

إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَن خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا

Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis (QS. Maryam: 58)

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الأرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِّنَ النَّاسِ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ وَمَن يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِن مُّكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاء

Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohon, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barang siapa yang dihinakan Allah maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. (QS. Al-Hajj: 18)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebaikan, supaya kamu mendapat kemenangan. (QS Al-Hajj: 77)

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًا

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Sujudlah kamu sekalian kepada Yang Maha Penyayang”, mereka menjawab: “Siapakah yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami (bersujud kepada-Nya)?”, dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman) (QS. Al-Furqan: 60)

أَلاَّ يَسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي يُخْرِجُ الْخَبْءَ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُخْفُونَ وَمَا تُعْلِنُونَ

agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan (QS. An-Naml: 25)

 

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لا يَسْتَكْبِرُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri (QS. As-Sajdah: 15)

وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ

Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertobat Surat (QS. Shaad: 24)

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. (QS.  Fushshilat: 37)

فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا

Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia). (QS. An-Najm: 62)

وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ لا يَسْجُدُونَ

Dan apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud (QS. Al-Insyiqaq: 21)

كَلاَّ لاَ تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ

sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan) (QS. Al-'Alq: 19)

***


[1] Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H), Mafatih Al-Ghaib, (Beirut, Daru Ihya’ At-Turats Al-Arabi, Cet. 3, 1420 H)

***

REFERENSI KITAB TAFSIR
🔐