Kata wa ‘ala (وَعَلَى) artinya : dan di atas. Kata al-a‘raf (الْأَعْرَافِ) secara bahasa artinya : yang paling tinggi. Namun kebanyakan dipahami oleh banyak mufassir sebagai bagian dari wilayah perbatasan di antara surga dan neraka. Al-A‘raf itu sering dipahami sebagai zona perbatasan yang menghadap ke surga dan neraka sekaligus.
Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi menjelaskan bahwa Al-A‘raf berada pada hijab tersebut atau terkait langsung dengannya. Orang-orang yang berada di Al-A‘raf dapat melihat kedua kelompok, mengenali mereka, dan menyaksikan perbedaan nasib, tetapi tidak menembus hijab itu. Ath-Thabari menegaskan bahwa penyebutan hijab dan Al-A‘raf saling melengkapi, bukan saling meniadakan: hijab adalah pemisah, Al-A‘raf adalah lokasi di sekitar pemisah.
Ringkasnya, hijab adalah sekatnya, sedangkan Al-A‘raf adalah wilayah batas yang berada pada atau di sekitar sekat itu. Keduanya bersama-sama menegaskan pemisahan final antara surga dan neraka, sekaligus menjelaskan struktur perbatasan yang Allah tetapkan di akhirat.
Kata rijalun (رِجَالٌ) artinya : para lelaki. Maksudnya di dalam tempat yang jadi perbatasan antara neraka dan surga, ada lokasi yang memisahkan keduanya, lalu ada para lelaki disitu.
Penyebutan kata rijal ini menimbulkan pertanyaan, kenapa Allah SWT menyebut para lelaki? Kenapa tidak disebut manusia, hamba, makhluk atau yang lain? Kenapa harus laki-laki?
Dalam bahasa Arab, kata rajul dan rijal sering dipakai bukan semata-mata untuk jenis kelamin, tetapi untuk menunjukkan figur yang berdiri, terlihat, dan memiliki peran. Karena itu kata ini juga dipakai Al-Qur’an untuk menyebut tokoh-tokoh yang tampil ke depan, memiliki keberanian, atau berada di posisi publik.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa para rijal di Al-A‘rāf adalah orang-orang yang berada pada posisi antara surga dan neraka, yang amal baik dan buruknya seimbang, atau menurut pendapat lain, mereka adalah orang-orang yang Allah beri kemampuan mengenali kedua golongan. Penyebutan rijal menegaskan bahwa mereka berdiri, melihat, mengenali, dan berbicara, bukan sosok pasif. Mereka bukan “massa”, tetapi figur yang disadari keberadaannya.
Ath-Thabari menambahkan bahwa kata rijal dipakai karena mereka dikenal dengan tanda-tanda khusus, mampu membedakan penghuni surga dan neraka, serta berinteraksi dengan keduanya. Dalam bahasa Arab, penggunaan rijal sering mengisyaratkan ketegasan posisi dan kejelasan identitas. Seolah-olah Al-Qur’an ingin mengatakan: mereka ini bukan makhluk samar, bukan bayangan, tetapi figur yang tampak dan dikenali.
Al-Qurthubi menekankan sisi bahasa dan kebiasaan Arab. Menurut beliau, kata rijal kerap dipakai untuk kelompok campuran, atau kelompok yang di dalamnya terdapat perempuan, tetapi yang ditonjolkan adalah sifat keberanian, kehadiran, dan posisi, bukan jenis kelamin. Karena itu, penyebutan rijal tidak otomatis berarti “hanya laki-laki”, tetapi orang-orang yang menampakkan diri dan memiliki kedudukan di tempat tersebut.
Kata ya’rifuna (يَعْرِفُونَ) : artinya : mereka mengenali. Kata kullan (كُلًّا) artinya : masing-masing atau semua. Maksudnya para lelaki itu mengenali masing-masing dari para penghuni surga dan penghuni neraka.
Kata bi-siimaahum (بِسِيمَاهُمْ) artinya : dengan ciri-ciri mereka. Maksudnya penghuni surga kelihatan perbedaannya dibandingkan dengan penghuni neraka, karena masing-masing memang punya ciri khas yang membuat mereka jadi berbeda.
Menurut Ibnu Katsir, ciri penghuni surga tampak dari wajah mereka yang bercahaya, berseri, dan penuh ketenangan. Wajah mereka menunjukkan kebahagiaan, keamanan, dan kemuliaan. Tidak ada bekas ketakutan, kehinaan, atau penyesalan. Sebaliknya, ciri penghuni neraka tampak dari wajah yang gelap, muram, tertunduk, dan penuh kesedihan, disertai tanda kehinaan dan ketakutan. Ini sesuai dengan banyak ayat lain yang menggambarkan wajah-wajah yang berseri di hari kiamat dan wajah-wajah yang menghitam dan tertunduk. Allah SWT berfirman:
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
Pada hari itu wajah-wajah (orang beriman) berseri-seri. Mereka memandang kepada Tuhannya.(QS. Al-Qiyamah: 22–23)
Ayat ini oleh para mufassir dipahami sebagai gambaran wajah penghuni surga yang bercahaya, segar, dan penuh kenikmatan batin, karena mereka berada dalam keadaan ridha dan diridhai.
Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُّسْفِرَةٌ ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ
Wajah-wajah (orang beriman) pada hari itu berseri-seri, tertawa dan bergembira. (QS. ‘Abasa: 38–39)
Ini menegaskan bahwa kegembiraan batin di akhirat benar-benar tampak secara lahiriah pada wajah mereka.
Sebaliknya, Allah SWT menggambarkan wajah penghuni neraka dengan sangat kontras:
وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ
Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu tertutup debu, diliputi kegelapan.(QS. ‘Abasa: 40–41)
Ayat ini menunjukkan kehinaan, ketakutan, dan penderitaan yang nyata, bahkan sebelum mereka berbicara.
Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:
يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ
Pada hari ketika wajah-wajah menjadi putih berseri dan wajah-wajah menjadi hitam. Adapun orang-orang yang wajahnya menjadi hitam, (dikatakan kepada mereka), “Apakah kalian kafir setelah beriman? Maka rasakanlah azab.”(QS. Ali ‘Imran: 106)
Ayat ini oleh para mufassir dijadikan dalil utama bahwa iman dan kekufuran benar-benar tercetak pada wajah di hari kiamat.
Adapun dari hadits, Nabi SAW bersabda:
إِنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوءِ
Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan wajah dan anggota tubuh mereka bercahaya karena bekas wudhu. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa cahaya pada wajah bukan sekadar simbol, tetapi tanda nyata yang Allah tampakkan sebagai kemuliaan bagi orang beriman.
Ath-Thabari menjelaskan bahwa ciri-ciri itu tidak terbatas pada wajah saja, tetapi juga keadaan dan sikap tubuh. Penghuni surga tampak tenang, percaya diri, dan berada dalam posisi aman, sedangkan penghuni neraka tampak gelisah, terhina, dan diliputi kecemasan. Dengan ciri-ciri inilah para lelaki di Al-A‘rāf mampu mengenali masing-masing golongan tanpa perlu diberi tahu secara verbal.
Al-Qurthubi menambahkan bahwa siima mencakup tanda lahiriah dan keadaan batin yang Allah tampakkan ke luar. Artinya, apa yang dulu tersembunyi di dunia—iman, kekufuran, keikhlasan, atau kedurhakaan—pada hari itu menjelma menjadi tanda yang terlihat. Tidak ada lagi kepura-puraan. Setiap orang membawa “identitas akhirat”-nya sendiri.
Sebagian mufassir juga menyebutkan ciri tambahan berupa arah dan posisi. Penghuni surga menghadap ke arah kenikmatan, cahaya, dan keamanan, sedangkan penghuni neraka berada dalam kondisi terbelenggu oleh azab dan rasa takut. Bahkan cara mereka berdiri dan bergerak pun sudah cukup menjadi penanda.